Salah satu solusi yang ditawarkan ketika di tengah masyarakat banyak terjadi kerusakan atau problem berat yang dikaitkan dengan tingkah laku manusia adalah penegakan etika. Jika etika tidak berhasil ditegakkan, maka bisa dibaca dengan mudah tentang fenomena kerusakan dan bahkan kecenderungan masyarakat menuju kehancuran.40
Mengapa seluruh sektor kehidupan, aktifitas, pola hidup, berpolitik, dan berperadaban dalam lingkup mikro maupun makro haruslah berlandaskan pada nilai-nilai etika (moral)?
Sejarah Agama menunjukkan bahwa kebehagiaan yang ingin dicapai dengan menjalankan syariah agama itu hanya dapat terlaksana dengan adanya akhlak yang baik. Kepercayaan yang hanya berbentuk pengetahuan tentang keesaan Tuhan, ibadah yang dilakukan hanya sebagai formalitas belaka, muamalah yang hanya merupakan peraturan yang tertuang dalam kitab saja, semua itu bukanlah merupakan jaminan untuk tercapainya kebahagiaan tersebut.
Timbulnya kesadaran akhlak (moral) dan pendirian manusia kepadaNya adalah pangkalan yang menetukan corak hidup manusia. Akhlak, atau moral, atau susila adalah pola tindakan yang didasarkan atas nilai mutlak kebaikan. Hidup susila dan tiap-tiap perbuatan susila adalah jawaban yang tepat terhadap kesadaran akhlak, sebaliknya hidup yang tidak bersusila dan tiap-tiap pelanggaran kesusilaan adalah menentang kesadaran itu.
40
Kesadaran akhlak adalah kesadaran manusia tentang dirinya sendiri, dimana manusia melihat atau merasakan diri sendiri sebagai berhadapan dengan baik dan buruk. Disitulah membedakan halal dan haram, hak dan bathil, boleh dan tidak boleh dilakukan, meskipun dia bisa melakukan. Itulah hal yang khusus manusiawi. Dalam dunia hewan tidak ada hal yang baik dan buruk atau patut tidak patut, karena hanya manusialah yang mengerti dirinya sendiri, hanya manusialah yang sebagai subjek menginsafi bahwa dia berhadapan pada perbuatannya itu, sebelum, selama dan sesudah pekerjaan itu dilakukan. Sehingga sebagai subjek yang mengalami perbuatannya dia bisa dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya itu.41
Orang yang tidak mampu mengendalikan diri pasti akan berbuat sesukanya. Ia tidak pernah memikirkan akibat dari perbuatannya. Ada kalanya melakukan pembohongan kepada publik atau menggunakan uang untuk meraih jabatan dan kedudukan (money politic). Hal itulah perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak pernah berpuasa dengan menghayati makna dan hakikatnya. Berbagai masalah yang menimpa bangsa kita saat ini, seperti ekonomi, pendidikan, budaya, politik, dan bahkan akhlak, disebabkan ketidakmampuan kita dalam mengendalikan diri. Jadi, hal tersebut membiarkan hawa nafsu sebagai panglima kehidupan dan merendahkan fungsi serta peran hati nurani dan akal yang sehat.42
James J. Spilane Sj mengungkapkan, bahwa etika itu memperhatikan atau mempertimbangkan tingkah laku manusia dalam pengambilan keputusan moral. Etika mengarahkan atau menghubungkan penggunaan akal budi individual dengan objektivitasnya untuk menentukan kebenaran atau kesalahan dan tingkah laku seseorang terhadap orang lain.
Pandangan Spilane tersebut menunjukkan mengenai urgensi etika dalam tata kehidupan antar manusia di tengak masyarakat. Kehadiran seseorang dalam pergaulan atau interaksi sosial ekonomi, politik, budaya dan lainnya adalah diarahkan atau “dikawal” oleh kode etik, norma-norma moral, sehingga apa yang diperbuat dan disepakatinya itu tidak bertentangan dengan etika dan merugikan orang lain dan ketentraman hidup di masyarakat.
Etika bermaksud membantu manusia untuk bertindak secara bebas dan dapat dipertanggungjawabkan, karena setiap melakukannya selalu lahir dari keputusan pribadi yang bebas dengan selalu bersedia untuk mempertanggungjawabkan tindakannya itu karena memang ada
alasan-41
Supan Kusumamihardja, dkk. Studia Islamica. Giri Mukti Pasaka. Jakarta. 1978, hal. 307.
42
alasan dan pertimbangan-pertimbangan yang kuat mengapa ia bertindak begitu.43
Sebagai bahan refleksi misalnya: Manusia Indonesia tewas satu ataupun ratusan ribu sepertinya tidak berjejak dan tidak berbekas. Konflik etnis dan agama di Kalimantan Barat (1996, 1997, dan 1999) menyisakan ribuan orang tewas. Konflik Poso (1998-2002) dan Maluku (1999-2002) ataupun DOM di Aceh (1989-1998) meninggalkan ribuan warga tak berdosa sebagai korban, ribuan kaum ibu dan anak-anak sebagai janda dan yatim piatu. Namun bangsa ini begitu mudah mengalami amnesia sejarah dan kehilangan memori akan semua tragedi tersebut. Kecuali mungkin, bagi mereka yang mengalami langsung penderitaan tersebut. Maka, tidak dapatkah kita belajar mengenang bencana yang telah terjadi dan mempersiapkan diri untuk menyongsong ’bencana-bencana’ berikutnya?44
Dua negara yang memiliki pengalaman cukup baik dalam mengenang dan menyongsong bencana adalah Jepang dan Amerika Serikat (AS). Jepang, sama seperti Indonesia, adalah negeri yang sarat dengan bencana alam, utamanya gempa bumi. Dua di antara gempa bumi yang sampai saat ini masih dikenang oleh negeri ini adalah Great Kanto Earthquake (sekitar Tokyo area) pada 1 September 1923 yang menewaskan kurang lebih 142.000 jiwa dan Great Hanshin Awaji (lebih dikenal sebagai gempa Kobe) pada 17 Januari 1995 yang menewaskan 6400 jiwa.
Sampai saat ini, di kedua tanggal tersebut (1 September dan 17 Januari) diperingati warga Jepang sebagai hari bencana alam. Bahkan, sejak 1 September 1960 melalui persetujuan kabinet, pemerintah Jepang mengukuhkan tanggal tersebut sebagai Disaster Prevention Day. Kemudian, pada tahun 1982 kabinet Jepang juga menetapkan bahwa tanggal 30 Agustus-5 September setiap tahunnya sebagaiDisaster Management Week. Pada pekan pencegahan bencana tersebut kegiatan yang umumnya dilakukan adalah latihan pencegahan bencana, seminar, dan festival penanganan bencana.
Latihan pencegahan bencana telah dilakukan secara komprehensif di seluruh Jepang sejak tahun 1971. Tujuannya adalah untuk mengetahui dan memverifikasi kesiapan aparat, lembaga terkait dan masyarakat dalam penanganan bencana. Latihan ini dilakukan baik secara nasional (setiap tanggal 1 September) yang dipimpin langsung oleh perdana menteri Jepang dan diikuti semua komponen penanganan bencana terkait. Di tingkat prefektur (setingkat propinsi), maupun city pelatihan pencegahan dilaksanakan dengan melibatkan pemerintah lokal, perusahaan swasta, dan 43
Burhanudin Salam,Op.Cit. 44
Heru Susetyo, “Mengenang dan Menyongsong Bencana”,Republika, 28 September 2006, akses 14 Maret 2013.
penduduk sekitar. Total partisipan yang terlibat setiap tahunnya sekitar 1, 9 juta jiwa.45
Peran-peran individu di antara sesamanya ditentukan baik-buruknya oleh landasan atau konstitusi moral yang diakui bersama atau bersumber dari Tuhan sebagai pengendali dan penyelamat kehidupan. Substansi dalam konstitusi etika menunjuk pada kekuatan orientasi kontrol atau pengawasan perilaku supaya tidak terjadi praktik-praktik (perbuatan) yang mengacaukan perikehidupannya. Salah satu bentuk perbuatan yang dapat mengacaukan adalah “tidak berbuat”, seperti mengabaikan atau membiarkan orang lain menghadapi masalah beratnya.
Sejak zaman Aristoteles, urgensi etika itu mendapatkan tempat dalam pembahasan utama. Terbukti dia menulisnya dalam “Ethika Nicomachela”. Dia berpendapat tentang tata pergaulan dan penghargaan seorang manusia, yang tidak didasarkan oleh egoisme atau kepentingan individu, akan tetapi didasarkan kepada hal-hal yang altruistik, yaitu memperhatikan orang lain.46.
Pandangan Aristoteles itu jelas, bahwa urgensi etika berkaitan dengan kepedulian dan tuntutan memperhatikan kehidupan orang lain. Dengan berpegang pada etika, manusia tidak terseret pada pola hidup yang mementingkan kepentingan pribadinya, ego-ego dan ambisi-ambisinya, tetapi dapat hidup sebagai “zoon politicon”. Dengan beretika, kehidupan manusia menjadi bermakna, jauh dari keinginan untuk melakukan peru-sakan dan kekacauan-kekacauan. Apalagi ada suatu peringatan dari Napoleon Banoparte, bahwa di tengah masyarakat yang serba kacau, hanya kaum bajinganlah yang bisa mememperoleh keuntungan besar.
Menurut Paul Scholten, moral (etika) itu pengaturan perbuatan manusia sebagai manusia, ditinjau dari segi baik buruknya, dipandang dari hubungannya dengan tujuan akhir hidup manusia berdasarkan hukum kodrati.47.
Aspek yang dikemukakan oleh Scholten tersebut adalah tentang urgensinya etika sebagai tata aturan mengenai baik buruknya suatu perbuatan yang dikaitkan dengan tujuan hidup manusia itu sendiri. Baik buruknya perbuatan manusia adalah berhubungan dengan apa yang menjadi keinginan akhir atau tujuan hidupnya. Ketika tujuan hidupnya
45 Ibid. 46
Suhrawardi K. Lubis,,Op.Cit. 47
A. Gunawan Setiarja, 1990,”ukuran baik buruk memang tidak sulit dikenal atau dipelajari
manusia, namun ketika standar ini ditengok dalam realitas kehidupan manusia, ternyata yang ditemukan adalah wajah paradoksal. Menemukan sikap dan perbuatan baik jauh lebih sulit dibandingkan menemukan dan berakrab-akrab dengan perilaku-perilaku tercela atau
berlawanan dengan norma”, lihat Bambang S, makalah dalam Seminar Regional “Etika Hidup Berbangsa, Sesulit mencari Jarum dalam Lautan”, Malang, 12 Mei 2006. hal. 2
ternyata lebih menginginkan kebahagian di bidang ekonomi, maka ada kecenderungan tampilan perilakunya gampang menyimpangi norma-norma yang berlaku, termasuk norma moral dan hukum.
Etika memberikan manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu kita untuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan.48
Oleh karena itu, jika dikonsklusikan, maka urgensinya etika itu adalah
pertama, diharapkan terjawujud pengendalian, pengawasan dam penyesuaian perilaku manusia sesuai dengan panduan etika yang wajib dipijakinya,kedua, terjadinya tertib kehidupan bermasyarakat, ketiga, dapat ditegakkannya nilai-nilai dan advokasi kemanusiaan, kejujuran, keterbukaan, dan keadilan, dan keempat, dapat ditegakknya tujuan (keinginan) hidup manusia, serta kelima, dapat dihindarkan terjadinya free fight competition
danabus competition.
Fenomena persaingan yang tidak sehat, curang, tidak jujur dan jahat di tengah masyarakat dapat mengakibatkan kerugian mikro maupun makro dan baik bersifat privat maupun publik. Sebab, melalui persaingan demikian itu, ada pihak yang menjadi korban, sementara pihak lain berada dalam posisi dikorbankan. Hal ini tidak lepas dari kegagalan manusia dalam mengendalikan dirinya.
Betapa tidak, secara empiris kita melihat orang yang berhasil dalam hidupnya, adalah orang-orang yang mampu mengendalikan diri dalam menyikapi dan merespons segala sesuatu dengan baik. Orang yang mampu mengendalikan diri pasti tidak akan menggunakan dan menghalalkan segala cara untuk meraih sesuatu yang diinginkannya, seperti jabatan dan harta.49
Hal itu terkait dengan praktik kotor, tipu muslihat dan konspirasi yang pada intinya mengingkari ketentuan hukum positif maupun norma-norma moral. Ketika norma moral disimpangi, maka ada hak-hak yang seharusnya dapat terjaga, akhirnya hilang, lenyap atau berpindah ke tangan pihak lain yang bukan pemiliknya. Semakin banyak pihak yang melakukan penyimpangan moral, maka akan membuat kondisi abnormalitas pemberlakuan norma di tengah masyarakat semakin menguat dan sulit disembuhkan.
Urgensinya moral yang terdeskripsikan itu dapat terlihat nyata ketika dikaitkan dengan fenomena kasus-kasus yang terjadi di tengah masyarakat. Makin banyak kasus-kasus yang kategorinya merugikan, merampas dan melenyapkan hak-hak orang lain, maka hal ini dapat dijadikan indikasi 48
Burhanudin Salam,Op.Cit. 49
tentang banyaknya pelanggaran etika. Ketidakberdayaan supremasi etika dapat terbaca melalui realitas kehidupan kemasyarakatan. Ketika masyarakat ini dituding tidak berdaya menghadapi berbagai bentuk perilaku yang mengancam dan membahayakan keselamatan ekologis (lingkungan hidup), maka hal ini menunjukkan, bahwa terjadi problem reduksi dan bahkan degradasi etis dalam diri manusianya.