• Tidak ada hasil yang ditemukan

Membaca Kekalahan Keadilan

Dalam dokumen DI ERA MALAPRAKTIK PROFESI HUKUM (Halaman 157-160)

BAB VI KODE ETIK PROFESI, LEMBAGA PEMASYARAKATAN

D. Membaca Kekalahan Keadilan

1. Meragukan Kedaulatan Hukum

Mohammad Yamin dalam Proklamasi dan Konstitusi menyebutkan bahwa di negara kita (Indonesia), undang-undanglah yang memerintah atau ”berkuasa”, dan bukannya manusia yang harus memerintah. Undang-undang yang memerintah ini haruslah Undang-undang yang adil bagi rakyat. Masalahnya, apakah benar produk hukum ini masih punya kedaulatan memerintah?

Apa yang disampaikan Yamin itu sejatinya mengingatkan setiap elemen kekuasaan atau pilar strategis negara seperti komunitas penegak hukum, bahwa yang paling berdaulat di negeri ini adalah hukum. Norma yuridis ini harus dijadikan pijakan oleh setiap warga negara untuk mengatur diri, keluarga, kolega, rakyat, dan negara ini supaya tetap berjalan di jalur yang benar, terlebih supaya keadilan tetap terjaga kesakralannnya di bumi pertiwi ini.

Keadilan memang berada di tangan komunitas elite penegak hukum, baik yang jadi aparat kepolisian, kejaksaan, Kehakiman, Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial, KPK, maupun elite institusi strategis lainnya. Mereka ini bertanggung jawab secara moral dan teknis dalam mewujudkan proses peradilan atau terimplementasikannya norma yuridis demi tegaknnya dan membuminya keadilan. Mereka ini bukan hanya menjadi ”mulut hukum” (la bauche de laloi), tetapi juga kekuatan utama yang menentukan potretlaw enforcement

Ketika mereka bisa menunjukkan kinerja maksimal dan teguh pada prinsip moralitas profetisnya, bisa dipastikan keadilan yang memihak rakyat, citra negara, dan kredibilitas hukum dan institusinya, akan bisa diraihnya, karena di tangan mereka ini produk hukum bisa menunjukkan kekuasaannya. Kalau kedaulatan hukum demikian bisa terjaga, barangkali sosok seperti Anggodo atau lainnya tidak akan berani melecehkan, apalagi ”menggunduli” keadilan.

Sebagai pelajaran: Anggodo yang di dunia komunitas konglomerat tidak seberapa populer217, ternyata di lingkaran komunitas peradilan bisa menjadi sosok yang sangat priviles atau pemain piawai yang tampak sangat berkuasa, yang kekuasaannya melompati demarkasi norma yuridis atau membuat buram dunia peradilan, yang tentu saja mengakibatkan keadilan menjadi semakin temaram.

Suatu pernyataan atau gugatan yang sering dikedepankan di tengah citra peradilan yang ternoda oleh berbagai bentuk perilaku tidak bermoral atau kurang terpuji, serta tergolong pelanggaran kode etik

217

profesi hukum, yang dilakukan oleh aparat penegak hukum yang berkolaborasi dengan seseorang yang sedang bermasalah hukum, adalah masihkah Indonesia ini sebagai republik yang memiliki kedaulatan hukum? atau masih pantaskah prinsipequality before the law

melekat dalam diri republik Indonesia? atau belum lunturkah negeri ini disebut sebagai negara yang penyelenggaraan kekuasaannya didasarkan atas peraturan perundang-undangan?

I Putu Gelgel sudah lama mengkritisi, bahwa sepanjang hari, panggung hukum Indonesia terus dikritik sebagai hukum terburuk di dunia, membingungkan, menjengkelkan, tidak dapat dipercaya dan seterusnya (2005). Hal ini semua tidak lepas dari kinerja aparatnya yang memberi ”ruang berkolaborasi” atau berkolusi dengan elite ekonominya. Penjahat ekonomi ini merupakan sosok telah diberi ruang untuk menginvasi dan menghegemoni kesakralan supremasi hukum.

2. Dikalahkan Oportunis

Filosof kenamaan Aristoteles218 pernah mengingatkan “semakin tinggi penghargaan manusia terhadap kekayaan, maka semakin rendahlah penghargaan manusia terhadap nilai-nilai kesusilaan, kebenaran, kejujuran, dan keadilan”. Dalam diri seseorang yang larut menjadi pemuja atau pengultus kekayaan seperti aparat peradilan yang ”digunduli” oleh kriminal atau pemain-pemain ekonomi semacam ”konglomerat hitam”, berarti dirinya rela dikerangkeng oleh kekuatan kekayaan atau kapitalisme status sosial, yang mengakibatkan kecerdasan batinnya lemah atau mengidap krisis moral profetis. Profesinya tidak diabdikan demi kepentingan humanitas dan kebangsaan.

Kecerdasan batin yang melemah merupakan salah satu akar utama kriminogen terjadinya penyalahgunaan atau pengebirian moral profetis. Kecerdasan batin akan tetap hidup dan menyala sepanjang manusia bersungguh-sungguh membebaskannya dari beban kecenderungan mencintai kekayaan atau dimensi ekonomi secara berlebihan. Kecerdasan ini akan semakin menyala terang, jika pesan keadilan, yang jelas-jelas menjadi nyawa rakyat ini terus dijadikannya sebagai spirit utama kinerjanya.

Apa yang diingatkan oleh Aristoteles layak dijadikan refleksi kita, bahwa manakala manusia sudah terjebak dalam pengultusan kekayaan atau sumber-sumber status sosial-ekonomi, maka sosok ini telah menjatuhkan opsi pada “pelecehan dan pengabaian secara sistemik panduan moral profetisnya.

218

Peran-peran yang dimainkannya hanya cenderung memanfaatkan jabatannya untuk mencari dan mengumpulkan pundi-pundi kekayaan dengan mengorbankan komitmennya terhadap loyalitas kerakyatan atau menggunduli pengabdiannya di ranahlaw enforcement.

Moral profestis seperti yang disebutkan oleh Frans Magnis Suseso sebagai kekuatan utama dan pondasi normatif yang ”bernyawa” dan menyangga kehidupan kemasyarakatan dan kebangsaan, akhirnya sebatas diberlakukan jadi aksesoris, melodi merdu paduan suara, dan nyanyian kultural yang enak didengar akibat sepak terjang elite negara seperti penegak hukum yang larut dalam buaian pembusukan norma atau pembangkangan hukum (legal discobidience).

Pejabat negara yang memperlakukan jabatannya seperti itulah yang membuat lahirnya stigma “negara tanpa negarawan” atau ”negara tanpa keadilan” (state without justice) di negeri ini. Memang senyatanya, bangsa ini kaya pejabat bergelar tinggi yang intelektual, namun gelar yang disandangnya tidak diikuti dengan menegakkan tingginya komitmen moral. Komitmen pribadi secara eksklusif berupa nafsu memperkaya diri dan keluarga jauh lebih ditinggikan dibandingkan tanggung jawab memperkaya (baca: menyejahterakan) kehidupan rakyat.

Rakyat sudah demikian berat, susah, payah menanggung beban arogansi penyimpangan kekuasaan yang “hanya” dilakukan segelintir elite pejabat yang berkolaborasi dengan oknum konglomerat, namun berdampak hancur leburnya sumberdaya publik. Rakyat tinggal menerima ampas atau sisa-sisa berupa sampah yang menumpuk dan membunuh, lumpur yang menggenangi, memarjinalisasi, dan kian tidak terkendali.

3. Memperkaya Pengkhianatan

Lebih dari itu, label buruk yang melekat pada negeri ini sebagai “negara tanpa hukum” (state without law) atau meminggirkan keadilan merupakan cermin, bahwa tidak sedikit aparat penegak hukum yang kebiasannya atau kegemarannya mempermainkan hukum, yang memperlakukan dunia peradilan tidak ubahnya toko swalayan, yang menyerahkan dan meliberalisasikan komunitas pencari keadilan atau orang-orang yang sedang terlibat dalam suatu kasus hukum untuk berbelanja atau merekaysa pemberlakuan hukum sebagai obyek yang dikonsumsi sesuka hati. Sementara itu, mereka yang terkena kasus menilai, bahwa dunia hukum tidak ubahnya pasar yang bisa dijadikan ajang jual beli sesuka hati sesuai dengan kemampuan pembeli dan pihak yang menjualnya.

Ketika keinginan nmemperkaya diri itu yang dimenangkan dan dipanglimakan, otomatis kepentingan publik atau rakyatlah yang menjadi korbannya. Saat pejabat negara layaknya robot yang mengikuti irama keinginan rekanan dan dikuasai hati nuraninya, maka jelas pejabat demikian ini sulit diharapkan kecerdasannya untuk membaca dan mengapresiasi aspirasi rakyat. Bagaimana mungkin pikirannya masih bening dan kecerdasannya masih istimewa, kalau kalkulasi hadiah dan upeti lebih mendominasi dan “memperbudak” dirinya.

Rakyat akhirnya menjadi obyek yang didiskriminasikan, dan menjadi tumbal berlanjut, karena ada sebagian dari hak rakyat yang dijadikan sebagai ongkos mahal atau berkesinambungan dan membudaya oleh dan untuk pejabat negara (penegak hukum). Jabatan sebagai aparat penegak hukum tidak lagi bernilai sebagai amanat membumikan keadilan, melainkan kendaraan untuk memproduksi atau memperkaya pengkhianatan kekuasaan (abus of power).

Dalam dokumen DI ERA MALAPRAKTIK PROFESI HUKUM (Halaman 157-160)