• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kode Etik, Penjara Dan Toko Swalayan

Dalam dokumen DI ERA MALAPRAKTIK PROFESI HUKUM (Halaman 136-139)

Negara akan langgeng dalam hegemoni mafioso kekuasaan, dalam kolonialisasi kleptokrasi borokrasi,

dalam dehumanisasi politik, dalam cengkeraman oportunis, dan dalam balutan budaya diskriminasi,

ketika hukum gagal ditegakkan, ketika hukum dijadikan alat pengkhianatan, dan ketika hukum digunakan membenarkan kejahatan.194

193

http://www.antaranews.com/berita/1266410091/kpk-beberkan-empat-kelemahan-lapas-dan-rutan/, diakses tanggal 24 Pebruari 2011.

194

1. Penjara dan Mafia

Sajak dengan judul “Nyanyian Negara” itu mengandung kritik keras terhadap bangunan kehidupan negara hukum yang sedang rapuh-rapuhnya akibat hegemoni kalangan mafia di berbagai sektor kehidupan berbangsa. Salah satu bukti kerapuhan negara hukum ini dapat terbaca dengan pola manajemen Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) atau penjara yang diselimuti kabut mafia. Kabut mafia ini sebenarnya sudah menjadi penyakit lama atau borok konvensional yang mengidap di tubuh Lapas, akan tetapi baru terungkap setelah dibentuk Tim yang dipercaya mengungkapnya.

Kondisi itu sepertinya semakin menunjukkan, bahwa kalau tidak ada Tim yang berusaha atau dibayar oleh negara untuk mengungkapnya, maka kasus (borok) di Lapas akan tetap berjaya sepanjang masa.

Di negeri ini, tidak sulit ditemukan ragam praktik mafia yang mengakibatkan jalannya rule of game yang benar bisa diingkari atau disalahfungsikan, dan didegradasinya. Logis kalau kemudian Tim 8 yang pernah di bentuk SBY memberikan titik tekan dalam rekomendasinya bertemakan berantas tuntas mafia peradilan. Mafia peradilan disimpulkannya sebagai penyakit yang sudah sekian lama mendarah-daging menggerogoti citra pertiwi. Penyakit yang menggerogoti ini diantaranya menjangkiti Lapas (LP) kita.

2. Kunci dipegang Mafioso

Tidak ada gunanya negeri ini menyandang prediket sebagai negara konstitusi, yang di dalamnya menggariskan identitas negara hukum atau berdoktrin siapapun wajib dipertanggungjawabkan secara hukum tanpa diskriminasi, kalau saja dalam realitasnya, negeri ini berada dalam genggaman erat mafia-mafia yang bisa “membuka dan mengunci” pintu peradilan secara leluasa dan liberal.

Begitu pun apa gunanya Lapas, kalau di dalamnya berjaya kekuatan mafia yang membuat Lapas gagal menjalankan perannya dengan benar. Peran Lapas diantaranya membina manusia-manusia yang tersesat jalan hidupnya menuju jalan kebenaran. Jika peran ini kemudian dibelokkan oleh kekuatan mafioso, anak-anak binaan Lapas bukannya menjadi baik, tetapi bisa jadi semakin buruk dan jahat.

Kebenaran dan kejujuran hanya sebagai nyanyian usang yang dikalahkan oleh praktik-praktik pembangkangan yang mendapatkan tempat longgar. Kaum pembangkang merasa mendapatkan lisensi untuk mencari keuntungan pribadi dan kroni sebanyak-banyaknya.195 Pengkhianatan norma atau penyelingkuhan etika jabatan seperti yang

195

dilakukan petugas Lapas seolah sebagai keharusan yang bisa mendatangkan keuntungan berlaksa.

Pengkhianatan norma yuridis seolah memang menjadi “kewajiban” di kalangan oportunis di Lapas. Mereka galang kekuatan, kerjasama sistemik, atau jaringan terorganisir untuk membuka dan mengamankan kran guna mengalirkan uang berlimpah di Lapas. Mereka menjadi semacam kekuatan raksasa yang tidak gampang didekonstruksi oleh kekuatan lain. Mereka telah memproduk budaya yang dapat merangsang kaum idealis atau pejuang hukum menjadi prustasi akibat budaya bobrok yang masih dipertahankannya.

Katakanlah (barangkali) aparat Lapas yang tersuap tetap bisa tertawa menikmati kemenangan dan punya imunitas (kekebalan) hukum ketika berhadapan dengan napi atau keluarga napi yang menyuap, akan tetapi secara moral, apa yang dilakukan oleh elemen penegak hukum ini tetaplah penyelingkuhan profesi. Perilaku aparat Lapas yang berposisi tersuap ini sama artinya dengan memperlakukan institusi peradilan, meminjam istilah Antony F. Susanto layaknya “toko swalayan”, karena elemen peradilan terjerumus menjadikan institusi yang diamanatkan kepadanya sebagai toko yang berjualan hukum yang diserahkan kepada konsumen atau pasar untuk membeli dan menghancurkannya.196

Apa yang dilakukan oleh aparat Lapas itu mencerminkan perilaku kamuflase yang dibenarkan sebagai regulasi tidak tertulis yang mendorong setiap napi atau keluarga untuk mengkiblatinya. Rekayasa di Lapas merupakan bagian dari carut marutnya dunia peradilan yang sarat dengan manusia-manusia yang berkolaborasi dalam jarngan pebisnis hukuman atau pemenjaraan.

3. Manusia Palsu dan Kode Etik Profesi

Budayawan kenamaan Mochtar Lubis pernah mengkritisi berbagai mental manusia Indonesia yang tergolong tidak realistik, karena mempertahankan sikap-sikap buruknya. Diantara mental buruk yang melekat dalam diri manusia Indonesia adalah mental hipokrit, menerabas, dan lemah etos kerjanya. Mental hipokrit merupakan gambaran dari manusia palsu, suka ambivalensi atau berpribadi ganda (split of personality).197

Gambaran mental palsu itu terbentuk dalam suatu idiom tidak satunya ucapan dengan perbuatan, senjangnya suara hati dengan 196

Abdul Wahid,Op.Cit, hal. 54. 197

Farida Hilman, Op.Cit, hal. 4. “sebutan manusia palsu banyak ditemukan juga dalam tulisan pakar, yang dikaitkan dengan soal mental seseorang atau sekelompok orang yang pura-pura sebagai orang baik, namun dalam kenyataannya seabagai manusia yang suka melakukan perbuatan menipu, membodohi orang lain, ataumerugikan bangsa dan negara”, lihat dalam Muhammad Khoirul HD,Op. Cit,hal 24.

realitas aksi-aksi, atau antara yang tampak sebagai produk aktifitas dengan hakikat kebenarannya terjadi paradoksal. Kelihatannya obyektif, padahal realitasnya disobyektif, tampak adanya kebenaran dan kelebihan, padahal sebaliknya tersirat pesan penipuan, kecurangan, dan kepalsuan.

Kepalsuan dipanglimakan seseorang atau sekelompok orang sebagai atribut dan aksesoris gaya hidup yang disembah-sembah, dan kepalsuan inilah yang hingga kini masih menjadi cerita yang mengisi hari-hari elite penegak hukum, khususnya penegak hukum yang mengawal berfungsinya Lapas di negeri ini. Mereka yang sudah bersumpah menjadi pejabat yang setia dan teguh menjaga etika jabatan atau kode etik profesinya, ternyata tergelincir dalam perbuatan yang tidak bermoral dan melanggar norma hukum.

C. Lembaga Penyanderaan Menyandera

Dalam dokumen DI ERA MALAPRAKTIK PROFESI HUKUM (Halaman 136-139)