• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mission imposible Mengalahkan Kekuatan Mafioso?

Dalam dokumen DI ERA MALAPRAKTIK PROFESI HUKUM (Halaman 196-199)

BAB VI KODE ETIK PROFESI, LEMBAGA PEMASYARAKATAN

C. Mission imposible Mengalahkan Kekuatan Mafioso?

1. Penegak Hukum versus Kekuatan Mafioso

Saat Satgas Markus dibentuk, banyak kritik muncul. Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana dan Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia Ray Rangkuti menyetbut, bahwa pembentukan Satgas Pemberantasan Mafia Hukum oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dinilai tidak akan berjalan efektif. Karena, kehadiran Satgas itu tidak dibarengi upaya konkret untuk membenahi kondisi internal di tiap-tiap lembaga penegak hukum.248

Sesuai tugasnya, Satgas tersebut berkoordinasi dengan lembaga penegak hukum, seperti Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman, Mahkamah Agung (MA), dan juga KPK. Satgas tersebut bekerja selama dua tahun di bawah kendali Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4). Masalahnya, apakah dengan penyakit sejenis “kanker peradilan”, peran yang dilakukan Satgas penanggulangan Markus tidak tergolongmission imposible?

Waktu 2 (dua) tahun tidak akan cukup untuk memberantas markus (mafia kasus). Jangankan 2 tahun, ditambah bertahun-tahun pun belum tentu Satgas ini mampu menjalankan tugasnya dengan maksimal. Mengapa? Kekuatan mafioso hukum yang sudah mendarah daging atau “seumur negeri ini” tidak akan mudah diberantas, pasalnya yang akan dihabisinya merupakan kekuatan yang saling menjaling kolaborasi sindikasi terorganisir dan berprinsip simbiosis mutualisme (saling menguntungkan dan diuntungkan).

Pertama, dari sisi kolaborasi sindikasi terorganisir saja, Satgas pemberantasan Markus (makelar kasus), menunjukkan, bahwa setiap elemen yang bermain dalam lingkaran ini bukan hanya dikendalikan lewat manajemen profesionalitas atau sangat rapi, tetapi juga dilandasi oleh kemampuan intelektualitas yang tinggi, sehingga siapapun yang berusaha masuk, menembuh, apalagi sampai “menghabisinya”, tidak akan mampu berbuat apa-apa. Bahkan boleh jadi yang berusaha “menghabisinya” ini akan habis dengan sendirinya akibat dilindas atau diterkam oleh kekuatan yang lebih lihai, licin, dan piawai.

Dalam lingkaran sindikasi terorganisir itu, mendeskripsikan tampilnya sosok pelaku yang bergaya kancil yang lincah dan licin, buaya yang ganas, dan gajah yang bisa menginjak-injak mangsa seperti 248Suara Pembaruan, 6 Januari 2010, akses tanggal 29 Januari 2013.

pencari keadilan atau siapapun yang terlibat kasus, tidaklah gampang, apalagi kalau kepintaran kancil berkonvergensi dengan kekuatan buaya dan gajah.

Elemen masyarakat pencari keadilan yang mencoba memasuki dunia peradilan, apa di ranah penyidikan, penuntutan, maupun peradilan, diperlakukannya sebagai target menyukseskan misi sindikasi terorganisirnya, yang tentu saja menguntungkan pihak manapun yang bersindikasi dengannya, baik dari elite yang bersimbol pejuang keadilan maupun kelompok bajingan..

Kedua, prinsip simbiosis mutualisme yang umumnya menjangkiti setiap pihak yang bermaksud mengkhianati norma hukum. Barter kepentingan antara keinginan lepas dari jeratan hukum atau memenangkan kasus yang sedang menimpanya dengan “birahi” mendapatkan keuntungan uang, harta, atau “dividen duniawi” lainnya, dapat membuat Satgas penanggulangan Markus hanya gigit jari dalam menunjukkan perannya. Markus tidak merasa takut menawarkan, menggiring, merekayasa, atau memproduk cara-cara menarik, yang membuat elemen penegak hukum terdesak untuk “tidak bisa membuat pilihan lain” selain mengikuti apa saja yang diminta markusnya.

Dukungan sarana komunikasi yang canggih (melalui telepon seluler) dan mudahnya aparat penegak hukum dalam membuka pintu berelasi dengan siapa saja, khususnya advokat (penasihat hukum) dan siapa-siapa yang berperkara hukum atau pencari keadilan, membuat Satgas penanggulangan Markus akan kesulitan melacaknya, apalagi jika pertemuan dan komunikasi dilakukan di luar jam-jam kerja.

Bisa jadi dalam menyikapi kasus tersebut, Satgas penanggulangan Markus terperangkap dalam sikap praduga bersalah (presumption of guilt), karen di lapangan, yang bisa ditemukannya hanya indikasi-indikasi yang menyuratkan ada hubungan antara Markus dengan penegak hukum, antara penegak hukum dengan penegak hukum lintas lembaga atau antara penegak hukum dengan pencari keadilan dan pihak-pihak yang terlibat kasus, atau relasi ini kesulitan dibuktikannya sebagai model relasi bermuatan suap-menyuap, gratifikasi, dan lainnya.

Ketiga, mentalitas masyarakat kita yang bercorak menerabas, atau tidak menyukai cara-cara menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan berpedoman pada rule of game. Mereka takut kalah beradu cepat dalam menguasai dan “membeli” elemen penegak hukum, sehingga cara apapun digunakan supaya keinginannya terpenuhi, khususnya menjinakkan dan mengimpotensikan kinerja aparat penegak hukum yang hendak menjeratnya.

2. Pembangkangan Moral

Di sisi lain, oknum aparat penegak hukum di negeri ini menggelincirkan dirinya dalam praktik penyelingkuhan etika profesinya atau “pembangkangan” moral (moral discobidience) dengan cara mengondisikan pencari keadilan dan siapapun yang sedang bermasalah hokum, untuk bermain mata secara individual dan kolektif untuk membengkokkan (membusukkan) bekerjanya norma hukum.

Elit penegak hukum yang sangat lancar bertitah pasal dan teori hukum kalau dirinya sekumpulan pilar yang menyangga “timbangan keadilan” itu tidak lebih dari sosok atau pemain panggung kekuasaan yudisial yang terseret menghilangkan dan menihilitaskan jati diri negara hukum (rechtstaat).249 Mereka hanya membanggakan status atau jabatan strategisnya di ranah law enforcement dan penegak criminal justice system, sementara kepentingan sakral dan fundamental pencari keadilan diabaikan, dan bahkan dijadikannya sebagai obyek permainan dan penjarahannya.

Mereka itu tidak merasa malu, tidak menggunakan standar moral, mengeliminasi parameter etika, dan bahkan ”membunuh” komitmennnya untuk menindas dan mendiskriminasi masyarakat. Mereka memang mampu memainkan peran-peran layaknya elite strategis yang pintar berbicara, mengolah nalar, atau memainkan berbagai bentuk alasan yang seolah-olah rasional, yuridis, dan obyektif, padahal yang dimainkannya ini sebenarnya bermuatan “mempermainkan”, membiaskan, dan membusukkan kepentingan rakyat.

Keempat, birokrasi peradilan yang umumnya eksklusif, yang tentu saja membuat Satgas harus berhadapan dengan tembok benteng yang tidak mudah dimasukinya secara transparan. Kalau Satgas tidak bisa memasuki ranah birokrasi peradilan secara lebih leluasa dan “liberal”, rasanya Satgas tidak akan pernah bisa mengenal, apalagi ke tingkat menyembuhkan (menanggulangi)n penyakit yang dibuat dan disebarkan Markus.

Gunnar Myrdal, sosiolog dan peneliti ini pernah menyebut, bahwa suatu negara dusebut lembek, ketika mentalitas kerja birokrat atau pejabat-pejabat negaranya lamban, indisipliner, gampang mengabaikan waktu, suka mempermainkan tatanan, dan sering menyalahgunakan kewenangan atau jabatannya. Mentalitas demikian inilah yang membuat 249

Unsur (elemen) yang harus ada bagi suatu negara hukum (Rule of Law) menurut International Commition of Jurist: (1) negara harus tunduk kepada hukum, (2) pemerintah harus menghormati hak-hak individu, dan (3) hakim harus dibimbing oleh Rule of Law. Menurut Friederich Julius Stahl negara hukum harus memenuhi unsur-unsur: (1) hak-hak dasar manusia, (2) pembagian kekuasaan, (3) pemerintahan berdasarkan peraturan, dan (4) peradilan tata usaha negara, lihat Sunardi, dkk, Op.Cit, hal. 75.

kehidupan negara menjadi carut marut, sehingga rakyat menderita, rentan jadi korban ketidakadilan, atau menjalani kehidupan kesehariannya dengan segala keprihatinan.

Apa yang disebut Myrdal itu sebenarnya tergolong kritik cerdas terhadap setiap pelayan masyarakat, atau birokrat peradilan. Myrdal mengidolakan birokrat yang kuat dalam mengemban layanan kepentingan masyarakat, yang selalu mendahulukan kepentingan masyarakat dibandingkan kepentingan pribadi dan golongan, atau birokrat yang menempatkan etos kerja sebagai nafas utama dalam kinerjanya.

Kalau Satgas ingin bisa melihat atau merasakan hasil kinerjanya, keempat masalah itu harus dibacanya dengan cerdas, sambil menempatkan dirinya secara militan, obyektif, independen dan tidak diskriminatif. Sepanjang keempat masalah serius itu tidak dijadikan obyek bacaannya, Satgas ini bukan hanya akan mandul dalam menjalankan kinerjanya, tetapi bisa dihancurkan oleh kemapanan sistem dan budaya kolaborasi kriminalitas berparadigma “menghancurkan” dan menghabisi siapa saja yang mencoba mengusiknya.

Dalam dokumen DI ERA MALAPRAKTIK PROFESI HUKUM (Halaman 196-199)