BAB VI KODE ETIK PROFESI, LEMBAGA PEMASYARAKATAN
B. KPK, Tebang Pilih dan Kode Etik
1. Keistimewaan KPK
Ketika Orde Baru, Kriminolog JE. Sahetapy, pernah menyatakan, bahwa potret penegakan hukum di Indonesia diwarnai oleh praktik-praktik pembusukan hukum (legal decay).228 Para penegak hukum bukannya gigih memegang teguh etika jabatannya, tetapi terperangkap dalam praktik-praktik yang membuat hukum jadi mandul, berbelok arah, dan serba memihak pada seseorang atau sekelompok orang yang menguntungkannya secara ekonomi dan politik.
Potret pembusukan hukum yang berjalan puluhan tahun di orde baru tersebut, ternyata tidak mudah menghapuskannya di era reformasi sekarang. “Kumpulan najis” di lingkaran dunia peradilan masih gampang ditemukan dimana-mana, meski negara telah memproduk banyak lembaga atau komisi baru, yang diberi gaji besar dengan tugas berat, diantaranya menjadi “Mr clean” yang berperan membersihkan kotoran atau berbagai bentuk penyakit penyimpangan jabatan (abus of power).
Salah satu jenis lembaga yang sudah dipercaya oleh negara adalah KPK. Lembaga ini dilahirkan oleh negara (pemerintah) antara lain untuk 228
membersihkan beban berat penyakit yang bersarang di tubuh negara atau dunia peradilan. KPK diproduk dengan misi mulia yang berelasi dengan realitas historis perjalanan kehidupan masyarakat yang dinodai oleh elit-elit kekuasaan yang bermandi basah dengan kejahatan kerah putihnya.
Sebagai elemen penegak hukum berwajah istimewa (khusus), KPK memang sudah berusaha unjuk kekuatan dengan cara mengepakkan sayap-sayap perannya, khususnya dalam memasuki lembaga-lembaga yang ketika Orba dinilai paling sakral atau punya hak imunitas dari sentuhan tangan-tangan penegak hukum. Kementrian, Dirjen, Gubernur, dan seterusnya, akhirnya menjadi bagian dari targetnya (KPK) setelah KPK menerima audit keuangan dari BPK atau dinilainya ada keganjilan.
Akibat keberanian KPK itulah, banyak yang menilai kalau KPK lebih tepat disebut “tukang sapu” yang tidak kenal patah semangat, penuh keberanian, atau selalu maju tak gentar saat berhadapan dengan penjahat krah putih. KPK pun akhirnya diperlakukan oleh masyarakat sebagai institusi penegak hukum yang mengangkut gerbong besar kepentingan makro bangsa, teristimewa penyelamatan kekayaan rakyat.
Logis kalau kemudian rakyat tidak tinggal diam saat KPK diusik oleh lembaga penegak hukum lainnya, apalagi kalau elemen KPK disinyalir terlibat dalam perilaku bercorak “malapraktik moral dan yuridis”. Terbukti, KPK pernah dibela habis-habisan oleh rakyat dalam kasus cicak versus buaya. Pembelaan rakyat ini berhasil mengantarkan KPK sebagai pemenangnya, sementara korp kepolisian tercoreng.
Tentu saja, berkat dukungan tersebut, rakyat harus “membayar”-nya secara mahal, diantaranya dengan mempercepat proses pengusutan kasus Bank Century. Kredibilitas yang diberikan oleh rakyat kepada KPK yang membuat KPK lebih punya pamor dibanding korp institusi penegakan lainnya, seperti kepolisian, adalah tidak lepas dari peran publik yang sangat besar dalam membela peran-perannya.
KPK dituntut punya keberanian untuk meningkatkan status hukum kasus Century ke tingkat penyidikan, dan misalnya memanggil Boediono dan Sri Mulyani.229 Jika tidak berani, pimpinan KPK, yang sudah sering dibela oleh rakyat, rasanya kurang pantas memimpin KPK atau se-tidaknya, mereka tidak layak menjaga dan menegakkan integritas KPK.
229
Memang pada akhirnya Boediono dan Sri Mulyani diperiksa oleh KPK, akan tetapi pemeriksaan yang dilakukan tidak bersifat memanggil keduanya untuk datang ke kantor KPK, tetapi elemen KPK-lah yang mendatangi keduanya atau melakukan pemeriksaan di tempat keduanya. Hal inilah yang kemudian disesalkan oleh publik
2. Bukan Subordinasi Kekuasaan
Wakil Koordinator Badan PekerjaIndonesia Corruption Watch(ICW) Emerson Yuntho misalnya, mengatakan, saat ini, masyarakat masih percaya kepada KPK. Karena itu, pimpinan KPK jangan menyia-nyiakan kepercayaan publik tersebut. Peningkatan status hukum pengusutan kasus Bank Century akan mematahkan tudingan bahwa KPK sudah dijadikan alat penguasa, untuk menyeret politisi-politisi dari lawan-lawan pemerintah yang kini tersangkut kasus korupsi.Adapun yang dituntut oleh masyarakat saat ini adalah proses yuridis, khususnya implementasi sistem peradilan pidana (criminal justice system) yang bukan hanya bernafaskan prinsip kecermatan dan kecepatan, tetapi juga egalitarian (tidak tebang pilih) atau setiap orang yang terlibat dalam suatu perkara hukum, harus diperlakukan sederajat di depan hukum.
Pihak yang seharusnya menjadi pengamal (pengimplementasi) di garis depan dalam penegakan prinsip hukum “non tebang pilih” adalah KPK, mengingat lembaga ini sudah diperlakukan oleh masyarakat sebagai institusi yang punya keberanian dan jiwa militansi dalam penegakan hukum secara obyektif, dan bukan diskriminatif.
KPK menjadi pusat perhatian (kritik keras) setelah Pansus Hak Angket DPR tentang Bank Century menyatakan kalau kasus (Century) tersebut diselesaikan melalui proses hukum. Sayang, pernyataan ini tidak dibuktikan dengan aksi maksimal atau kinerja cerdasnya. lembaga hukum independen ini dinilai bekerja sangat lamban, dan tidak memprioritaskan penyelesaian kasus Century, serta ada kesan kuat terperangkap dalam gaya tebang pilih atau atmosfir kepentingan politik.
Kalau kemudian KPK memilih jalur “aman” dengan cara memberlakukan politik penegakan hukum tebang pilih (diskriminatif), maka ini sebenarnya keluar dari latar belakang historis KPK yang sejak awal berdirinya merumuskan misi mulia. Diantara misi mulia yang dijualnya pada masyarakat adalah penegakan hukum tanpa memandang atau memilah strata sosial, politik, agama, dan kepangkatan seseorang. Siapapun yang bersalah, diseret dan dipertanggungjawabkan secara yuridis. Hukum diperlakukannya jadi panglima yang mengadili siapa saja yang berdasarkan bukti-bukti awal dinyatakan melanggar (melakukan
straafbaarfeit).
3. KPK bukan Komisi Pelindung Kesalahan
Dibaca oleh publik, bahwa tindakan KPK yang mengutamakan kasus seperti suap pemilihan Deputi Gubernur BI Miranda Gultom, mengindikasikan telah terjadi tebang pilih, Indikasi tebang pilih lainnya adalah tenggelamnya kasus yang melibatkan orang-orang di lingkaran Istana, seperti kasus hibah kereta api. Kasus-kasus demikian
seharusnya menyadarkan KPK, bahwa rakyat sekarang semakin cerdas dan pintar mengagendakan kasus-kasus yang terjadi di negeri ini. Masyarakat sekarang tidak boleh lagi diperlakukan sebagai obyek yang dianggap telat dan tidak perlu informasi, karena dimana-mana sekarang mudah ditemukan jaringan informasi seperti internet, yang membuatnya gampang mendapatkan (mengakses) informasi dengan cara mudah, di samping informasi merupakan hak istimewa masyarakat.
Kalau KPK menggunakan paradigma tebang pilih dalam menyikapi kasus Century diantara kasus-kasus dugaan penyimpangan jabatan lainnya, maka KPK ibarat menggali liang kuburnya sendiri. KPK nantinya bukan hanya akan kehilangan kredibilitas rakyat, tetapi dapat disikapi atau divonis oleh masyarakat sebagai institusi yang menempatkan koruptor atau penyimpang kekuasaan dari zona strategis dalam ranah perlindungannya, atau KPK distigma oleh masyarakat sebagai “Komisi Pelindung Kesalahan”.