• Tidak ada hasil yang ditemukan

Urgensi Norma Hukum dalam Kehidupan Manusia

Dalam dokumen DI ERA MALAPRAKTIK PROFESI HUKUM (Halaman 35-40)

Di dalam norma-norma yang diperbincangkan manusia, ada norma moral dan yuridis yang keduanya memiliki tempat sangat terhormat di tengah-tengah kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan. Keduanya bukan hanya menjadi simbol kelangsungan dan kejayaan hidup warga bangsa, tetapi juga menentukan bagaimana kehidupan warga bangsa atau rakyat dalam suatu negara dapat terkabul cita-citanya.50 Sikap moral itulah yang pada umumnya dijadikan pedoman bagi manusia ketika mengambil suatu keputusan atau tindakan.51 Tindakan dalam ranah ini bisa termasuk tindakan yuridis atau praktik-praktik penanganan perkara hukum dalam dunia peradilan.

Manusia seringkali diajak melacak, merefleksi dan mendialogkan sebuah mobilitas yang cukup heterogen, memiliki orientasi dan visi yang berbeda, karakter yang beragam, tuntutan yang tidak selalu sama, asal-usul kultur yang tidak homogen dan cara-cara menerjemahkan dan menyikapi kejadian-kejadian, perubahan-perubahan, kemandekan-kemandekan dan berbagai kebijakan politik pembangunan dan pembangunan politik yang berkaitan dan berdekatan dengan hukum positif yang berdampak pada kehidupan dan masa depan bangsa, khususnya rakyat Indonesia.

Ada diantara anggota masyarakat yang berlaku egois, mementingkan dan memprioritaskan kebutuhan-kebutuhan pribadi, kolega (kroni-kroni), keluarganya, serta pertimbangan-pertimbangan rasionalitasnya lebih difokuskan pada tuntutan perolehan status sosial, jabatan, kemapanan ekonomi dan pola kerjanya (profesinya) yang diarahkan pada sebuah model pekerjaan yang mengharuskan mutlak adanya pendapatan dan

50

Muhammad KH, Indonesia yang Memanusiakan Rakyatnya, Pencahrian Jati Diri, Visipres, Surabaya, 2008, h. 7. “di dalam norma, manusia menentukan dan ditentukan aktifitasnya dalam kehidupan individual, struktural, dan kolektifnya. Manusia dikendalikan oleh tatanan yang membuat dirinya bisa tetap mampu mempertahankan harkat dirinya sebagai manusia. Ketiadaan norma berarti memasuki tahapan nihilitas dalam sejarah

kehidupannya”.

51

penghargaan, meskipun syarat-syarat profesionalitasnya ditanggalkan atau kurang dipedulikan.52

Sementara itu, ada sekelompok masyarakat intelektual yang masih konsisten dengan idealitas luhur profesinya, setidak-tidaknya menganggap bahwa pekerjaan itu bersubstansi pada keagungan yang difokuskan pada pengabdian. Pengabdian ini ditujukan kapada masyarakat yang tidak selalu dikalkulasikan atau diperhitungkan secara seksama yang berpuncak pada kompensasi ekonomi, politik dan karier, melainkan sebagai manifestasi profesi untuk mendapatkan kepuasan batin, seperti dapat memperjuangkan dan memenangkan (menegakkan) nilai-nilai kebenaran dan keadilan yang hendak dikalahkan oleh kekuatan ekonomi dan politik yang berpihak pada kejahatan atau pelanggaran norma-norma hukum.

Sampai ada pula yang menyebutkan bahwa bangsa Indonesiaa saat ini sedang sakit parah, memiliki banyak elemen masyarakat deviatif (suka dan menyenangi perbuatan menyimpang) atau gampang terlibat dalam berbagai bentuk pelanggaran norma-norma baik agama, budaya, politik, ekonomi maupun hukum. Norma-norma ini sepertinya tidak pernah dikenalnya sebagai pelajaran dan konstitusi moral yang menjadi bagian fundamental kehidupannya.

Disitulah kemudian muncul berbagai tuntutan agar dilakukannya pemaknaan ulang (redefinisi) tentang apa, bagaimana fungsi, orientasi dan manfaatnya perilaku manusia harus sejalan (seirama) dengan norma-norma yang berlaku, khususnya di bidang moral dan hukum, atau bagaimana suatu perilaku manusia itu dapat disebut sebagai perilaku yang pantas disebut bermoral dan menjunjung tinggi hukum yang berlaku dalam suatu negara?

Ahli hukum Belanda J.Van Kan mendefinisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan kehidupan yang bersifat memaksa, yang melindungi kepentingan-kepentingan orang dalam masyarakat. Pendapat ini mirip dengan pendapat Rudolf von Lhering, yang menyatakan bahwa hukum adalah keseluruhan norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara.53

W. Luypen menyatakan bahwa ada empat unsur etis dalam hukum, yaitu a) hukum mengatur relasi-relasi antar orang, b) hukum memasukkan hubungan timbal balik ke dalam relasi-relasi yang dilakukan antar pribadi dalam masyarakat, c) hukum menuntut kesetiaan dan janji, d) hukum menciptakan kebebasan.

52

AM. Rahman, Etika, Manusia, dan Budaya (Pergulatan Manusia dalam Semesta Kehidupan, Nirmana Media, Jakarta, 2005, hal. 5.

53

Dardji Darmodihardjo dan Shidarta, Pokok-pokok Filsafat Hukum, Apa dan bagaimana Filsafat Hukum di Indonesia, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2002.

Hans Kelsen mengingatkan, bahwa hukum positif itu pada kenyataannya dapat saja menjadi tidak efektif lagi, karena adanya kepentingan yang diatur dalam masyarakat sudah tidak ada lagi, dan biasanya dalam keadaan demikian, penguasa pun tidak akan memaksakan penerapannya.54

Tiap manusia mempunyai sifat, watak, dan kehendak sendiri-sendiri. Namun di dalam masyarakat manusia mengadakan hubungan antara yang satu dengan lainnya, mengadakan kerjasama, tolong menolong, dan lainnya untuk memperoleh keperluan hidupnya. Keperluan atau kepentingan manusia kadang-kadang baru bisa dipenuhi oleh manusia lainnya Peran manusia lain akan menjadikan terjadinya hubungan sosial yang lebih baik dan saling menguntungkan.55

Tujuan hukum adalah mengatur pergaulan hidup secara damai (L.J. Van Apeldoorn, 1986). Dalam setiap kehidupan manusia sebagai mahluk sosial akan selalu berinteraksi dengan manusia yang lain. Dengan adanya interaksi ini akan timbul kepentingan perseorangan dan kepentingan golongan yang kadang menimbulkan pertikaian, akan tetapi dengan interaksi juga memberikan manfaat dengan menambah pengetahuan serta informasi lainnya.

Dalam pandangan Satjipto Rahardjo56, norma hukum adalah sarana yang dipakai oleh masyarakat untuk mengarahkan tingkah laku anggota masyaakat pada saat mereka berhubungan antara yang satu dengan lainnya. Apabila di sini disinggung tentang “mengarahkan tingkah laku”, barang tentu pertanyaan dalam diri kita, “mengarahkan kemana?” ke mana norma itu mengarahkan tingkah laku manusia merupakan prioritas yang ada pada masyarakat sendiri. Masyarakatlah yang menentukan arah-arah tersebut dan oleh karena itu kita bisa melihat norma itu sebagai pencerminan dari kehendak masyarakat. Kehendak masyarakat untuk mengarahkan tingkah laku anggota-anggota masyarakat itu dilakukan dengan membuat pilihan antara tingkah laku yang disetujui dan yang tidak disetjui yang kemudian merupakan norma dalam masyarakat itu. Oleh karena itu, norma hukum itu merupakan persyaratan dari penilaian-penilaian.

54

Saifullah,Refleksi Sosiologi Hukum, Refika Aditama, Bandung, 2007, hal. 69. 55

CST. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 2000, hal. 11.

56

Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Citra Adtya, Bandung, 2000. ” Tingkah laku manusia

menjadi pijakan utama setiap norma-norma yang dirumuskan dalam produk hukum yang berlaku. Hal ini dapat terbaca dalam politik pembaharuan hukum yang dilakukan secara

Menurut E.Utrecht, hukum dapat diartikan sebagai berikut, yakni hukum itu adalah himpunan peraturan-peraturan (perintah-perintah dan larangan-larangan) yang mengurus tata tertib suatu masyarakat dan karena itu harus ditaati oleh masyarakat itu. Tata tertib yang tidak dihormati akan membuat tata tertib ini akan kekurangan atau kehilangan fungsinya.57

Hukum dirumuskan sebagai berikut “kumpulan peraturan-peraturan yang terdiri dari norma dan sanksi-sanksi itu disebut hukum dan tujuan hukum itu adalah mengadakan ketatatertiban dalam pergaulan manusia, sehingga kemanan dan ketertiban terpelihara” (S.M. Amin). Hukum itu ialah peraturan-peraturan yang bersifat memaksa, yang menentuka tingkah laku manusia dalam lingkungan masyarakat yang dibuat oleh badan-badan resmi yang berwajib, pelanggaran mana terhadap peraturan-peraturan tadi berakibat diambilnya tindakan yaitu dengan hukuman tertentu (JCT Simorangkir dan Woerjono Sastro Pranoto) Hukum ialah semua aturan (norma) yang harus diturut dalam tingkah laku tindakan-tindakan dalam pergaulan hidup dengan ancaman mesti mengganti kerugian -jika melanggar aturan-aturan itu akan membahayakan diri sendiri atau harta, umpamanya orang akan kehilangan kemerdekaannya, didenda dan sebagainya (MH.Tirtaamijaya).58

Demikian pula Soerjono Soekanto memberikan pengertian hukum sebagai berikut, bahwa:

a) Hukum sebagai ilmu pengetahuan, yakni pengetahuan yang tersusun secara sistematis atas dasar kekuatan pemikiran.

b) Hukum sebagai disiplin, yakni suatu sistem ajaran tentang kenyataan atau gejala-gejala yang dihadapi. Gejala-gejala yang ada di masyarakat dijadikan sebagai kenyataan yang diatur.

c) Hukum sebagai kaidah, yakni pedoman atau patokan sikap tindak atau perikelakuan yang pantas atau diharapkan.

d) Hukum sebagai lembaga sosial (social institution) yang merupakan himpunan dari kaidah-kaidah dari segala tingkatan yang berkisar pada kebutuhan pokok didalam kehidupan masyarakat.

e) Hukum sebagai tata hukum, yakni struktur dan proses perangkat kaidah-kaidah hukum yang berlaku pada suatu waktu dan tempat tertentu, serta berbentuk tertulis.

f) Hukum sebagai petugas, yakni pribadi-pribadi yang merupakan kalangan yang berhubungan erat dengan penegak hukum.

57

CST. Kansil, Op.Cit.hal. 9 58

Mariyadi, dkk, Perang Sebagai Pelanggaran Hak Asasi Manusia, Visipres, Surabaya, 2003, hal. 3-4

g) Hukum sebagai keputusan penguasa, yakni hasil proses diskresi yang menyangkut pengambilan keputusan yang didasarkan pada hukum, akan tetapi yang didasarkan juga atas penilaian pribadi.

h) Hukum sebagai proses pemerintahan, yaitu proses hubungan timbal balik antara unsur-unsur pokok dari sistem kenegaraan.

i) Hukum sebagai sarana sistem pengendalian sosial yang mencakup segala proses baik direncanakan maupun tidak, yang bertujuan untuk mendidik, mengajak atau bahkan memaksa warga masyarakat (dari segala lapisan) agar mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai.

j) Hukum sebagai sikap tindak atau perikelakuan yang runtut, yaitu perikelakuan yang diulang-ulang dengan cara yang sama, yang bertujuan untuk mencari kedamaian.

k) Hukum sebagai jalinan nilai-nilai baru, yaitu dari konsepsi-konsepsi abstrak dalam diri manusia tentang apa yang dianggap baik (sehingga harus dianuti atau ditaati) dan apa yang dianggap buruk (sehingga harus dihindari).

l) Hukum sebagai seni.59

Satjipto Rahardjo menyatakan, bahwa hukum melindungi seseorang dengan cara mengalokasikan suatu kekuasaan kepadanya untuk bertindak dalam rangka kepentingan orang tersebut. Pengalokasian kekuasaan ini dilakukan secara terukur, dalam arti ditentukan keluasan dan kedalamannya. Kekuasaan yang demikian itulah yang disebut sebagai “hak”.

Suatu kepentingan merupakan sasaran dari hak, bukan hanya karena ia dilindungi oleh hukum, tetapi juga karena adanya pengakuan

terhadapnya. Hak itu ternyata tidak hanya mengandung unsur perlindungan dan kepentingan, melainkan juga kehendak. Apabila misalnya seseorang memiliki sebidang tanah, maka hukum memberikan hak kepada orang tersebut untuk mempergunakan, memeafaatkan, atau menikmati tanah tersebut sesuai dengan kepentingan dan kehendaknya, dan untuk semua hal itu ia akan mendapatkan perlindungan hukum (rechtsbescherming).

Seseorang yang oleh hukum sudah digariskan mempunyai hak-hak dalam kehidupan individual, kolektif, dan struktural, akan terlindungi dari perilaku menyimpang dan jahat yang dilakukan oleh orang lain atau korporasi. Hak-haknya menjadi lebih aman dari gangguan tangan-tangan jahat atau kotor yang berusaha merusak atau mengambil alihnya secara paksa (dengan atau tanpa kekerasan).

Hukum bisa membuat kehidupan anggota masyarakat lebih tertib dan terdapat pertanggungjawaban terhadap setiap orang atau korporasi yang 59

melakukan perbuatan bermodus merugikan hak-hak masyarakat. Melalui alat-alat bernama penegak hukum, idealitas norma-norma yuridis bisa dirasakan oleh masyarakat, khususnya komunitas pencari keadilan.

Dalam dokumen DI ERA MALAPRAKTIK PROFESI HUKUM (Halaman 35-40)