• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konstruksi Teladan Profesi Hukum

Dalam dokumen DI ERA MALAPRAKTIK PROFESI HUKUM (Halaman 180-183)

BAB VI KODE ETIK PROFESI, LEMBAGA PEMASYARAKATAN

D. Konstruksi Teladan Profesi Hukum

1. KPK dan Rekayasa Hukum

Bersama dengan kawan-kawan, punulis mengadakan diskusi terbatas sambil bermain ”kuis” mengenai siapa kelak yang akan dipilih tim seleksi KPK untuk menjaring pimpinan lembaga strategis KPK. Kawan-kawan berkesimpulan, bahwa pimpinan KPK nantinya sulit mendobrak, apalagi mengalahkan koruptor, khususnya mengalahkan koruptor kelas kakap atau yang berelasi dengan jaringan kekuasaan elitisme, bahkan bukan tidak mungkin akan membuat koruptor justru kian menjadi jawara dalam dunianya di masa mendatang.

Pertama, banyak pendaftar yang berasal dari advokat atau pengacara yang sebelumnya banyak membela kalangan koruptur.231 Dalam realitas empirik model pembelaan yang dilakukannya selama ini, bukan membela kebenaran norma yuridis yang dilakukannya, tetapi melakukan advokasi untuk membebaskan atau menyelamatkan koruptornya supaya terbebas dari jeratan hukum.

Dalam ranah tersebut, mereka secara general merupakan praktisi yang sudah mempunyai jaringan luas, yang bisa membuat atau memproduk atmosfir yang semula dinilai imposible dilakukan, menjadi serba mungkin, serba bisa diatur, direkayasa, atau meminjam istilah Nicollo Machiavelli ”serba menghalalkan segala macam cara” (het doel heiling de midelen).232

Sudah seringkali terdengar istilah rekayasa hukum (legal engineering) saat bertemu atau menggunakan jasa pengacara.

231

Pengacara, penasihat hukum, atau advokat, masih dikesankan sebagai bagian dari elemen

penegakan hukum yang jusrru “menghalangi” atau membuat “duri” bagi penanagan

kasus-kasus hukum. 232

Pengacara ini bukannya menasihati atau menunjukkan pada klien tentang posisi hukum dalam relasinya dengan kasus yang sedang dialaminya, tetapi mengarahkan pada upaya memenangkannya.

Terbukti, saat suatu kasus sudah kalah di pengadilan tingkat pertama (PN) yang sebenarnya secara legal position memang rasional, obyektif, dan legalistik, namun penasihat hukum masih menjanjikan kalau di tahapan berikutnya (pengadilan banding, kasasi, dan Peninjauan kembali), ”perkaranya masih bisa diatur” atau dibawa ke ranah kerjasama bertemakan sindikasi (kriminalisasi) dengan hakim-hakim di pengadilan lanjutan itu.

Menurut Ali Zaidan233, percuma membicarakan hukum, jika keadilan menjadi barang langka dan mahal. Banyak contoh yang telah terjadi tentang hal ini. Pencari keadilan dengan susah payah telah berjuang di pengadilan, tetapi putusan hukum terkadang tidak berpihak kepadanya.

Tidak salah kalau publik meragukan kemungkinan kapabilitas pimpinan KPK yang berasal dari elemen advokat (pengacara), karena pengacara ini sudah lama bermitra dengan koruptor. Bagaimana sosok ini demikian akan mampu memerankan diri sebagai nahkoda lembaga strategis dengan pikiran bening, berjiwa independen, atau berintegritas tinggi, kalau dirinya sebelumnya sudah terjun dalam jagad legal engineering.

Kedua, dari jumlah pendaftar yang mencapai ratusan orang, selain dihuni pendaftar dari advokat, juga dihuni oleh mantan pejabat atau pensiunan lembaga-lembaga negara. Memang praduga baik tetap harus dialamatkan kepada pendaftar kalau mereka ingin menjadikan KPK benar-benar sebagai kendaraan melawan koruptor atau membersihkan negeri ini dari penyakitabus of power, tetapi rapor pejabat atau birokrat negeri ini sangat lekat dengan berbagai bentuk ”korupsi birokrasi”.

Sudah demikian sering kita baca dan dengar kasus korupsi yang berembrio dan berelasi dengan lemahnya tatanan dan kinerja elemen birokrasi. Pejabat-pejabat yang sedang mengendarai, mulai dari yang memondasi hingga menahkodai, serta mengawasi, yang sama-sama terlubat dalam praktik-praktik penyimpangan kekuasaan, khususnya dalam membuat sulitnya pemerintahan negeri ini menjadi pemerintahan yang bersih dan berwibawa.

Daryl Koehn dalam bukunya The Ground of Professional Ethics

menyebut bahwa birokrasi bukanlah ciptaan asal-asalan masyarakat atau pelaku yang berburu kekuasaan, melainkan merupakan praktik

233

Ali Zaidan, Mengurai Karut Marut Hukum, http://www.ahmadheryawan.com/opini-media/hukum/5304-mengurai-karut-marut-hukum.html, diakses tanggal 23 Januari 2011.

yang dengan teliti disusun untuk mengabdi pada kepentingan klien atau masyarakat secara legal.234

2. Antara Sumpah dengan Sampah

Standar yang diberikan oleh Koehn tersebut dapat dipahami, bahwa dunia birokrasi merupakan dunia kaum profesional, yang kinerjnya harus mencapai maksimalitas dengan ukuran pertanggungjawaban moral, ada inovasi, kreasi, produktifitas kerja, dan evaluasi kerja, yang kesemuanya ini ditujukan demi kepuasan layanan publik (public service), serta masyarakat sejahtera. Oleh birokrat yang “disumpah” sebagai profesional, rakyat wajib dijadikan “proyek loyalitasnya”. Sayangnya, birokrat di negeri ini, meski sudah disumpah dengan suara lantang menyanggupi tidak akan menerima sesuatu yang bukan haknya dan tidak akan menyalahgunakan jabatan, tetapi faktanya, mereka masih giat melanggengkan kultur kleptokrasi elitismenya atau terjerumus menjadi “sampah masyarakat”.

Gunnar Myrdal235, sosiolog dan peneliti ini pernah menyebut, bahwa suatu negara disebut lembek seperti Indonesia, ketika mentalitas kerja birokrat atau pejabat-pejabat negaranya lamban kerja, indisipliner, gampang mengabaikan dan memboroskan waktu, dan sering menyalahgunakan kewenangan atau jabatannya. Mentalitas yang demikian inilah yang membuat kehidupan negara menjadi carut marut, sehingga rakyat menderita atau menjalani kehidupan kesehariannya dengan segala keprihatinan..

Apa yang disebut Myrdal itu sebenarnya tergolong kritik cerdas terhadap setiap pelayan masyarakat, atau birokrat. Myrdal mengidolakan birokrat yang kuat dalam mengemban layanan publik, yang selalu mendahulukan kepentingan masyarakat dibandingkan kepentingan pribadi dan golongan, atau birokrat yang menempatkan etos kerja sebagai nafas utama dalam kinerjanya, dan bukannya birokrat yang akrab mengkhianati amanat rakyat.

Dalam ranah birokrat itu, rakyat akhirnya terposisikan atau tergiring menempati kantong ketidakberdayaan dan kesengsaraannya, dan semakin teralinasikan dari mimpi hidup sejahtera. Yang terwujud bukannya welfare society, tetapi kesejahteraan negara (werlfare state) dan sekelompok orang. Yang makmur hanya birokrat dan keluarganya, sementara rakyat menjalani hidup sekarat dan serba berstigma ”darurat”. Dalam hubungannya dengan sosok pimpinan KPK, mental birokrat seperti itu jelas bukanlah modal tepat. Kalau modal yang selama ini ditanam saat jadi birokrat digunakan mengepalai KPK, maka KPK 234

MIF Rahman Hakim,Op.Cit, hal. 9. 235

akhirnya bukan sebagai lembaga pembersih anatomi pemerintahan dari kotorran, melainkan sekedar jadi tong sampah yang terus menerus menerus memberi tempat bagi berjaya dan jawaranya koruptor. KPK dari elemen ini akan membuat koruptor bisa lebih legalistik, sistemtis, terorganisir, dan liberalistik dalam menjalankan aksinya.

Ketiga, kekuatan jaringan koruptor terbukti sudah mampu membuat KPK belakangan ini kehilangan sikap konsistensinya dan egalitarianisme dalam menegakkan hukum. Semakin tenggelamnya atau tersingkirnya kasus Century dari zona penegakan hukum berbasis egalitarianisme, telah mengakibatkan wajah KPK karut marut. KPK yang dulunya dikenal sebagai lembaga sakral menjadi kehilangan kesakralannya akibat independensinya terkoyak oleh model penanganan yang ”meng-ambangkan” keadilan substantif.

3. Kemandirian dan Totalitas Perlawanan

Sikap dan pola kinerja KPK tersebut membuat masyarakat gampang menilai, bahwa koruptor lebih terorganisir dan ”konsisten” dengan kejahatannya dibandingkan elemen KPK. KPK belum menunjukkan model kinerja yang teguh, independen, dan berintegritas saat berhadapan dengan koruptor atau kasus besar, sementara penjahat yang dihadapinya bisa membentuk dirinya secara hegemonik dan sistemik.

Kalau sudah begitu, audisi memilih pimpinan KPK sampai kapanpun, rasanya berat akan bisa menghasilkan sosok yang benar-benar independen, jujur, obyektif, dan egaliter. Jikapun ada dari pucuk pimpinan lembaga strategis, sosok ini masih diragukan mampu menunjukkan kapabilitasnya, kecuali sosok ini berani ”murtad”236 dari lembaga yang menghidupi dan membesarkannya atau jaringan koruptor yang bermitra dengan dirinya, atau berani menunjukkan totalitas perlawanan dengan siapapun yang diduga berbau korupor.

Dalam dokumen DI ERA MALAPRAKTIK PROFESI HUKUM (Halaman 180-183)