Dalam kasus Century yang berkepanjangan ini, ada banyak kejadian yang perlu mendapatkan tanggapan. Salah satu pola berpolitik yang tidak bisa
155
diabaikan adalah lobi dikalangan politisi dalam relasinya dengan pertanggungjawaban yuridis kasus Century.
1. Lobi untuk Menodai
Lobi politik untuk mempengaruhi kinerja aparat atau proses hukum tampaknya dianggap oleh sebagian orang sebagai cara wajar. Misalnya lobi politik dalam rangka membelokkan arah kinerja atau produk obyektif dari suatu kasus yang menyita perhatian masyarakat. Lobi di kalangn orang yang sedang terkena kasus akhirnya jadi kata yang identik dengan “politisasi”.
Dalam kacamata hukum, hal itu tidak bisa dianggap sebagai segmentasi tradisi bernegara atau kebiasaan yang lazim harus diterima oleh elemen strategis negara, tetapi harus ditempatkannya sebagai ancaman serius yang bisa membahayakan atau mendistorsi citra negara hukum.
Identitas negara hukum (rechtstaat) itu tidak sekedar terbunuh, tetapi terjagal menjadi sekian banyak serpihan atau potongan akibat ulah elite kekuasaan yang tidak menerima kemenangan dan kejayaan kebenaran. Kebenaran yuridis tidak diberinya tempat bernafas dan menyejarah melukis negeri ini.
Negara yang terjagal atau tercabik-cabik tersebut digambarkan sebagai negara yang sebenarnya masih tertulis dalam konstitusi, akan tetapi sudah sulit dikenali wajahnya. Dalam anatomi tububnya sebagai negara, ia masih mempunyai kepala, tangan, kaki, tubuh, dan elemen lainnya, akan tetapi unsur-unsur anatominya ini telah kehilangan daya fungsionalnya akibat terlepas dari raganya atau tidak lagi menjadi satu kesatuan yang bisa menggerakkan tatanan.
Potret negara yang tercabik-cabik itu (akan) dapat dengan mudah terbaca dalam kasus lobi politik yang digalakkan oleh elite politik atau kekuasaan yang tidak siap menerima kebenaran. Mereka berlari kencang melakukan lobi pada anggota atau elite fraksi yang gigih membeberkan dugaan penyimpangan kebijakan dana talangan Century.
Oportunis politik itu tidak menginginkan kebenaran yang terungkap atau adanya bukti permulaan menjadi informasi publik. Mereka dilanda ketakutan kalau temuan awal menjadi fakta hukum yang akan semakin menyulitkan, jika pilar penegakan hukum (law enforcement) bergerak menjaringnya.
Hal itu menunjukkan, mereka takut proses hukum lebih menggiring-nya menjadi bersalah. Dalam ranah publik, elite yang terlibat atau bertanggung jawab terhadap skandal Century memang sudah dihukumi
dan dihakimi oleh publik sebagai komunitas bersalah dan ”terpidana”156, akan tetapi mereka yang terlibat ini tidak menginginkan dirinya semakin terpinggirkan lagi seiring dengan gencarnya tuntutan proses penegakan hukum yang berbasis keadilan.
Populeritas yang semakin menurun akibat ”hukuman publik” yang sudah menvonisnya bersalah dan kegagapan menghadapi proses hukum, mencoba dihentikan lewat mesin-mesin politiknya yang dianggap andal atau kapabel dalam melobi, mempengaruhi dan menjinakkan pejuang kebenaran yang masih bersuara lantang.
Lobi politik yang dilakukan untuk menjinakkan vokalitas pejuang kebenaran itu pernah diingatkan oleh Mao Tze Tung, bahwa politik merupakan perang tak berdarah, sementara perang merupakan politik berdarah. Apa yang disebut Mao Tze Tung ini menunjukkan, bahwa politik merupakan pentas adu strategi (perang) antara seseorang atau sejumlah orang yang berusaha mempertahankan dan merebut kekuasaan (kedaulatan).
Dalam ranah perebutan kekuasan tersebut, kekuatan politik yang mendukung kebenaran kebijakan dana talangan Century menganggap bahwa kekuasaan politik yang digerakkannya menjadi ”hukum” yang menentukan. Mereka ini berusaha mempertahankan koalisi atau membangun kekuatan mayoritas, diantaranya dengan membangun lobi pada sejumlah pejuang kebeneran atau siapapun yang bisa mempengaruhi (menjinakkan) elite bermoral yang vokal, yang strategi ini ditargetkan mampu menghancurkan kelompok yang berusaha menegakkan jati diri negara hukum.
2. Machiavelli dan Politisi
Lobi politik model seperti itu sebenarnya merupakan ”karakter” dari doktrin politik yang juga diajarkan oleh Nicollo Machiavelli, yang populer menyebut ”het doel heiling de middelen” atau cara apapun berhak digunakan (dihalalkan), asalkan segala tujuan bisa tercapai.157
Kedaulatan hukum atau identitas republik sebagai negara hukum ini akan tergusur akibat praktik ”mutilasi” yang dilakukan oleh kekuatan politik yang mengikuti jejak Machiavelli. Gaya Machiavelli ini dijadikannya sebagai opsi privilitas untuk menghalangi dan 156
Istilah terpidana yang benar adalah terdakwa yang telah diputus oleh pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap. Istilah ini kemudian berkembang secara sosiologis sesuai dengan kasus yang terjadi di masyarakat. Masyarakat menjatuhkan putusan lebih awal, meski proses hukum belum atau masih sedang berjalan.
157
Sunardi, dkk, OP.Cit, hal. 73 dan lihat dalam Abdul Wahid, dkk,Op.Cit,hal. 35. ”istilah
penghalalan segala cara untuk mencapai tujuan banyak dijumpai di berbagai tulisan. Hal ini mengindikasikan besarnya perhatian terhadap doktrin Machiavelli, yang banyak diadopsi oleh elit–elit kekuasaan.
menghilangkan norma yuridis dari anatomi negara dan konstruksi kehidupan kemasyarakatan.
Slogan yang dikampanyekan oleh pengikut dan pemuja doktrin tersebut diantaranya ”jangan dengarkan auman serigala hukum, jangan hiraukan suara kebenaran, jangan ikuti nurani kemanusiaan, hancurkan segala cara yang mengarah pada pembelaan dan penegakan keadilan, dan sebaliknya gunakan segala cara seperti penindasan, adu domba, kekacauan, dan pembunuhan dimana-mana”.
Doktrin tersebut sudah sangat akrab digunakan oleh kekuatan politik atau elite rezim yang tidak menginginkan rezimnya jatuh di tengah jalan, elemen rezim yang sedang bermasalah secara hukum, yang tidak ingin kesalahan atau kejahatan yang diperbuatnya menjadi virus yang mempengaruhi (merusak) populeritasnya, apalagi sampai potensial
memakzulkandirinya dari ranah kursi kekuasaannya.
Menurunnya populeritas dan ancaman pemakzulan dalam realitasnya, telah mengundang oportunis politik untuk mengerahkan segala kemampuan yang dimilikinya. Mereka bergerilya untuk mencari amunisi politik yang diharapkan mampu memenangkan laga. Kemenangan kejahatan politik (political crime) dalam pertarungan ini berpengaruh besar dalam mengubah wajah negeri ini menjadi negeri yang memberikan tempat superioritas bagi kejahatan.
Gaya simbiosis mutalisme (saling menguntungkan dan diuntungkan) merupakan bagian dari gaya pelobi yang tampaknya ”dijual” secara gencar untuk mengubah wajah negeri ini. Mereka terus berlari kencang mencari siapa saja yang bisa diajak berkompromi untuk menodai gelar terhormat yang digariskan oleh konstitusi, yakni negara hukum.
Lebih fatalistik lagi ketika nurani membela yang benar dan obyektif semakin redup dalam diri elite politik. Artinya mereka ini dapat terbaca dengan mudah ketika kebenaran yang semula dibelanya dengan gigih, ternyata kemudian diingkari atau dibiaskannya kemana-mana, sehingga kebenarannya semakin temaram dan bahkan mati.
3. Kode Etik Profesi dan Pedagang Kekuasaan
Pembiaran kemenangan dan kejayaan sindikasi politik akan menjatuhkan negeri ini tidak ubahnya sebagai negerinya mafioso atau pedagang-pedagang kekusaan, yang hanya mengkapitalisasi untung rugi demi kepentingan diri sendiri dan kroni, dan bukan demi kepentingan makro bangsa. Sindikasi politik158 bisa menjadi semakin 158
Sindikasi politik seringkali terkonstruksi di tengah masyarakat yang sebagian elemennya berusaha menegakkan rambu-rambu hukum. Ketika rambu-rambu hukum berusaha diimplementasikan, maka muncul gerakan bersifat perlawanan, yang gerakan ini berpola jaringan. Lihat, Farida Hilman,Op.Cit, hal. 23.
berjaya ketika kekuatan lain seperti kode etik tidak diberikan kesempatan mengawal dan memberikan sanksi.
Identitas negara hukum sudah dipercayakan oleh rakyat kepada elemen penegak hukum atau elite politik yang diberi amanat membuka tabir malversasi kekusaaan di ranah penyelenggara pemerintahan, sehingga pertaruhan model apapun, termasuk kursi dan nyawa harus dilakukannya demi tegaknya kebenaran, kejujuran, dan terjaganya citra negara hukum.
Kalau sudah demikian, berarti pilar penegak hukum diuji kode etik profesinya. Independensi atau kemandirian menjaga citra profesi yang harus dikedepankan ataukah sebatas mengikuti kemana angin politik bertiup. Jika angin bertiup yang diikuti, berarti kode etik profesi diabaikannya. Pengabaian kode etik berarti melumpuhkan amanat kekuasaan (jabatan), yang tentu saja membuat negara hukum tidak ubahnya “rumah tanpa pilar”.