BAB VI KODE ETIK PROFESI, LEMBAGA PEMASYARAKATAN
E. Polisi, Arsitek Berkeringat Harum
1. Kinerja di Belantara Empirik
Guru Besar Universitas Diponegoro yang juga sosiolog kenamaan Satjipto Rahardjo219 pernah mengeluarkan statemen, bahwa polisi itu penegak hukum jalanan, sedangkan jaksa dan hakim itu penegak hukum gedongan. Polisi dalam menunaikan tugasnya memasuki wilayah kehidupan masyarakat secara empirik, sementara jaksa dan hakim dalam menjalankan profesinya hanya duduk di belakang meja, cukup menerima produk kerjanya, lantas mengolah dan menyelesaikannya.
Faktanya, polisi memang hidup dalam dunia profesi yang lebih menantang dan membahayakan. Polisi menjemput kasus lewat investigasi yang berpijak pada indikasi yang bersifat konkret. Baik perilaku yang didasarkan atas hukum maupun diskresi yang diambil, polisi diwajibkan menempatkan realitas konkret sebagai muatan istimewa kinerjanya.
Realitas konkret yang menjadi pijakan itulah yang membuat polisi layak distigma sebagai penegak hukum jalanan, karena paradigma yang dibangun dan apa yang diperbuatnya tidak boleh menegasikan atau menghilangkan dari kondisi kebenaran obyektif. Misalnya ada bukti permulaan dari kasus yang ditanganinya yang benar-benar merupakan embrio perbuatan seseorang atau korporasi yang berkategori illegal
219
Kalimat ini dikutip oleh sejumlah pengamat atau pengkaji dan peneliti masalah-masalah kepolisian. Identitas polisi sebagai penegak hukum jalanan menjadi populer akibat sebutan yang dilontarkan oleh Satjipto Rahardjo. Lihat dalam Mustofa, dkk, Abdul Wahid, Marwan Mas, dan seterusnya.
seperti kejahatan pajak, yang kemudian kejahatan ini dijadikannya sebagai “proyek” politik penegakan hukumnya..
Dalam tataran itulah, polisi dituntut berbuat benar, jujur, dan manusiawi. Secara hukum, apa yang dikerjakan oleh polisi harus benar menurut hukum. Sepanjang hukum memerintahkan polisi untuk menjalankan tugas investigasi, maka polisi telah menjadi bagian dari pelaku law enforcement yang benar menurut hukum. Norma hukum wajib dijadikannya sebagai supremasi dan pondasi yang menjustifikasi gerak dinamika profesinya.
2. Menjadi Mujahid Profesi
Kebenaran obyektif menurut hukum tersebut merupakan tuntutan untuk menegakkan citra idealisme law in books. Artinya ketika norma-norma telah menggariskan tugas dan kewenangan polisi untuk “berbuat” dan menjadi mujahid, maka garis norma inilah yang wajib dipijakinya, tidak boleh disimpangi, apalagi sampai dimanipulasi dan diamputasinya. Misalnya seperti digariskan di dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI yang sudah menyebutkan, bahwa polisi dalam menjalankan tugasnya wajib berpijak pada peraturan per-undang-undangan yang berlaku, menunjukkan peran sebagai penegak HAM, dan militant dalam melawan (menanggulangi) berbagai bentuk kejahatan.
Sisi yuridis itu sudah jelas menunjuk profesi polisi yang berkewajiban mengedepankan norma hukum sebagai pilar sejati pekerjaannya. Pilar normatif ini idealnya menjadikan polisi bisa terbentuk kepribadiannya sebagai “duta progresif” rakyat atau meminjam istilah penyair kenamaan A. Syauqy Bey sebagai “arsitek masyarakat berkeringat harum”, karena peran-peran yang dilakukannya bisa mengharumkan masyarakat.
Norma hukum idealnya merupakan pelita atau petunjuk jalan bagi polisi dalam mengemban amanatnya. Perilaku yang ditunjukkan diharapkan merupakan deskripsi konkret dari perintah hukum. Secara filosofis, polisi idealnya adalah hukum itu sendiri, karena gerak makro yang dimainkan ibarat gerak hukum itu sendiri. Ketika polisi menunaikan tugasnya, tidak bisa disalahkan jika masyarakat mengibaratkannya sebagai wajah kebenaran hukum itu sendiri.
Sebagai “arsitek berkeringat harum”, karena yang dilaksanakan dan dibudayakan oleh polisi adalah kebenaran hukum dan jati diri diri negara hukum. Diingatkan Ralf Dahrendorf220, bahwa Negara Hukum yang Demokratis (NHD) mensyaratkan empat perangkat kondisi sosial, yaitu, 220
Abdul Hakim Garuda Nusantara, www.komnasham.go.id/.../AHGN-Menuju _Negara_Hukum_Indonesia.diakses tanggal 27 Pebruari 2013.
pertama, perwujudan yang nyata atas persamaan status kewarganegaraan bagi semua peserta dalam proses politik; kedua, kehadiran kelompok-kelompok kepentingan dan elite di mana tak satupun mampu memonopoli jalan menuju ke kekuasaan; ketiga, berlakunya nilai-nilai yang boleh disebut sebagai kebajikan publik; keempat, menerima perbedaan pendapat dan konflik kepentingan sebagai sesuatu yang tak terhindarkan dan elemen kreatif dalam kehidupan sosial.
Sedangkan hukum itu sendiri merupakan nyawa yang mengindikasikan sejatinya negeri dengan benderarechtstaatini. Tatkala polisi mampu menunjukkan keberanian dan kemampuan moral untuk menjalankan hukum secara konsekuen berarti ia telah memposisikan dirinya sebagai penyebar kebajikan dan penyubur kebahagiaan di hati rakyat. Penyebaran dan penyuburan ini tidak bedanya dengan penyejarahan misi suci negara yang mensupremasikan kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan.
3. Paedagog profesi
Di negara yang menghidupkan kebenaran, keadilan, dan kemanusia-an itu sama maknanya dengan negara yang berbingkaikan keharuman. Rakyat yang hidup di negara berpilar dan bertaburkan keagungan nilai itu merupakan rakyat yang beruntung, karena rakyat memperoleh jaminan keamanan, kenyamanan dan kesejahteraan (lahir dan batin). Dalam ranah demikian, jelas polisi menjadi teladan yang menentukan, karena selain jadi prajurit yang berani “pasang badan”, juga sebagaipaedagogbagi masyarakat..
Pengaruh keteladanan kebenaran yang ditunjukkan oleh polisi akan jauh lebih efektif dibandingkan dengan kampanye kebenaran. Seribu kali ucapan yang disampaikan oleh polisi tentang kebenaran hukum masih kalah dengan satu kali teladan kebenaran empirik yang ditunjukkan oleh polisi.
Rakyat tidak butuh polisi yang banyak bicara, tetapi “miskin” bukti pengabdian profetisnya. Rakyat sudah kenyang dengan janji, tetapi dahaga dengan realisasi amanat polisi. Gerakan pimpinan Polri dalam ranah “bersih-bersih” oknum petinggi Polri yang terlibat skandal pajak dengan pengusaha memang harus diakui sebagai langkah maju, akan tetapi konsistensi pembersihan harus ditunjukkan.
Sayangnya seringkali kampanye penegakan hukum yang disampaikan oleh polisi belum diikuti oleh gerakan-gerakan simpatik dan empatik yang mengarahkan masyarakat ke tataran sadar hukum dan menghormati citra aparat penegak hukum, karena masyarakat yang menjadi “obyek makro” kinerja polisi banyak dihadapkan dengan realitas
yang bertolak belakang dengan idealisme hukumnya. Antara norma hukum di dalam law in books misalnya terjadi distorsi pemaknaan di realitas sebagai imbas dari perilaku aparat yang secara individual maupun kolektif terjerumus mereduksi dan mengamputasi kesakralan hukum.
Posisi hukum lebih sering dikebiri makna keberpihakan kerakyatan atau humanistiknya oleh tangan-tangan kekuasaan polisi sendiri yang terbius dalam pengultusan atau pembelaan korp dan zona-zona eksklusif strukturalnya. Mereka kemudian mengemas tugas dan wewenangnya tidak lagi dengan “bahasa hukum dan bahasa rakyat”, tetapi mendisainnya dengan “bahasa kekuasaan” eksklusif atau pesan sponsor politik yang menghegemoninya.
Deepak Copra221 dalam Freeman Potential Movement menuturkan “kepada siapa saja yang masih menginginkan kedamaian, kejayaan, dan kesejahteraan di republik ini”, kita katakan “your attitudes create the world, atau “sikap mental andalah yang akan mengubah dunia”. Oleha karena itu, Polisi di negeri ini jelas dituntut menunjukkan sikap demikian, jika mengidealkan dan mengidolakan perubahan besar di tengah maraknya gurita kejahatan.