Pameo ”ubi societas ibi ius” (dimana ada masyarakat manusia, di sana ada hukum) sebenarnya mengungkapkan, bahwa hukum adalah suatu gejala sosial yang bersifat universal. Dalam setiap masyarakat manusia, mulai dari yang paling modern sampai pada masyarakat yang primitif, terdapat gejala sosial yang disebut hukum, apapun namanya. Bentuk dan wujudnya berbeda-beda, bergantung pada tingkat kemajemukan dan peradaban masyarakat yang bersangkutan.86
Istilah-istilah yang bermunculan di masyarakat pun tidak berbeda dengan apa yang dialami dengan istilah hukum, yakni seiring dengan perkembangan (dinamika) yang terjadi dalam realitas kehidupan masyarakat, maka istilah yuridis terus mengisi dimensi pertanggungjawaban. Di tengah masyarakat terdapat pelaku-pelaku sosial, politik, budaya, agama, ekonomi, dan lainnya, yang bisa saja melahirkan istlah-istilah atau makna varian sejalan dengan tarik menarik kepentingan.
Perkembangan istilah-istilah yang diadaptasikan dengan dinamika sosial budaya masyarakat kerapkali menyulitkan kalangan ahli-ahli bahasa, terutama bila dikaitkan dengan penggunaan bahasa yang dilakukan di lingkungan jurnalistik media cetak. Perkembangan pers yang mengikuti target-target globalisasi informasi, industrialisasi atau bisnis media, dan transformasi kultural, politik dan ekonomi yang berlangsung cepat telah memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap pertumbuhan dan pergeseran serta pengembangan makna, istilah, atau kosakata.
Misalnya kata “profesi” cukup gampang diangkat dan dipakai oleh bermacam-macam pekerjaan, perbuatan, perilaku dan pengambilan keputusan. Kata “profesi” mudah digunakan sebagai pembenaran terhadap aktifitas tertentu yang dilakukan seseorang atau sekumpulan orang.
Istilah itu bahkan dalam beberapa kasus asal digunakan, seperti ada seorang perempuan kampus yang menjadi “gadis panggilan” (call girl) disebutnya berprofesi sebagai “ayam kampus” atau berprofesi PSK (pekerja seks komersial) elite dan spesial. Ada seorang yang biasanya dipinjam dan disewa untuk menjadi tukang tagih disebutnya berprofesi sebagai “dept
86
B. Arief Sidharta, “Hukum, Efektifitas, dan Kultur Hukum, Tinjauan tentang Efektifitas Hukum dalam Perspektif Antropologi Sosial”, dalam AF. Elly Erawati, dkk, Percikan Gagasan tentang Hukum, Citra Adtya Bhakti, Bandung, 1993, h. 9.
collector”atau pekerjaannya di bidang menagih seseorang yang mempunyai tanggungan utang atau melakukan pengingkaran terhadap kesepakatan (perjanjian).
Realitas itulah yang secara sosial filosofis perlu dipahami, bahwa suatu aktifitas yang bercorak menghasilkan uang, sesuatu barang, jasa, atau memenuhi target tertentu yang paradoksal dengan moral, ada yang menggolongkan atau memberikan stigma sebagai “profesi”.
Kata pekerjaan itu sebagai ”hak” (right) secara yuridis juga dapat ditemukan dalam Pasal 38 Undang-undang Nomor 39 tahun 1999 sebagai berikut:
1) Setiap orang, sesuai dengan bakat, kecakapan, dan kemampuan, berhak atas pekerjaan yang layak.
2) Setiap orang berhak dengan bebas memilih pekerjaan yang disukainya dan berhak pula atas syarat-syarat ketenagakerjaan.
3) Setiap orang, baik pria maupun wanita yang melakukan pekerjaan yang sama, sebanding, setara atau serupa, berhak atas upah serta syarat-syarat perjanjian kerja yang sama.
4) Setiap orang, baik pria maupun wanita, dalam melakukan pekerjaan yang sepadan dengan martabat kemanusiaannya berhak atas upah yang adil sesuai dengan prestasinya dan dapat menjamin kelangsungan kehidupan keluarganya.87
Hal itu sejalan dengan yang terumus dalam UDHR (Universal Declaration of Human Rights) pasal 23 ayat 1, 2, 3, dan 4 disebutkan:
1) Setiap orang berhak untuk memperoleh pekerjaan, bebas memilih pekerjaan, syarat-syarat yang adil, dan menyenangkan dari suau lingkungan pekerjaan dan mendapat perlindungan dari pengangguran. 2) Setiap orang tanpa dibeda-bedakan berhak memperoleh upah yang
sama atas pekerjaan yang sama.
3) Setiap orang yang bekerja berhak akan imbalan yang adil dan menyenangkan, yang menjamin dirinya sendiri dan keluarganya sesuai dengan kemuliaan martabat manusia dan ditambah pula bila perlu dengan bantuan-bantuan sosial lainnya.
4) Setiap orang berhak untuk membentuk dan bergabung dengan serikat-serikat pekerja untuk melindungi kepentingan-kepentingannya.
Secara umum, soal pekerjaan itu diatur juga dalam agama. Sahabat Abu Hurairah RA pernah berkata, ’’Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, seseorang yang keluar mencari kayu bakar (lalu hasilnya dijual) untuk bersedekah dan menghindari ketergantungan kepada manusia, itu lebih baik dari seseorang yang meminta-minta kepada orang lain, baik diberi 87
Lihat selengkapnya Undang-undang Republik Indonesia Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi manusia
atau pun ditolak. Karena sesungguhnya tangan yang di atas (memberi) itu lebih baik daripada tangan di bawah (meminta).’’ (HR Muslim).88
Ada dua hikmah yang dapat dipetik dari cuplikan hadis di atas. Pertama, keutamaan bekerja. Islam tidak memandang jenis pekerjaan, tapi lebih menitikberatkan pada semangat bekerja, etos kerja, dan kegigihan untuk mengais rezeki yang halal. Karena memang jenis pekerjaan seseorang itu berbeda-beda.
Dalam sejarah para Nabi, kita temukan contoh keanekaragaman jenis pekerjaan mereka. Nabi Nuh sebagai ahli perkayuan, Nabi Daud sebagai ahli logam (QS Al-Anbiya (21): 80), Nabi Idris sebagai ahli jahit, Nabi Syu’aib sebagai ahli pertanian, Nabi Yusuf sebagai menteri hasil bumi, Nabi Musa sebagai buruh dan ahli bangunan, dan Nabi Muhammad SAW sebagai pengusaha dan penggembala.89
Islam berulang kali menganjurkan umatnya agar giat bekerja dan terus meningkatkan etos kerja, baik sebagai buruh, karyawan, pegawai negeri, atau wiraswasta. ’’Dan Katakanlah, Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.’’ (QS At-Taubah (9): 105). Imam Al-Ghazali dalam Ihya ’Ulumuddin mengatakan, ’’Ada dua cara mendapatkan harta. Pertama, keberuntungan tanpa harus memeras keringat, seperti warisan atau menemukan harta karun. Kedua, bekerja baik berdagang, buruh, dan lainnya.90
Di dalam al-Qur’an terdapat 360 ayat yang berbicara tentang “al-amal”, 109 ayat tentang “al-fi’il”, belum lagi tentang “al-kasb” sebanyak 67 ayat dan “al-sa’yu” sebanyak 30 ayat. Semua ayat-ayat tersebut mengandung hukum-hukum yang berkaitan dengan kerja, menetapkan sikap-sikap terhadap pekerjaan, memberikan motivasi, bahkan contoh-contoh konkret tanggung jawab kerja.
Apabila kita cermati ayat-ayat al-Qur’an maupun Sunnah Nabawiyyah, maka pemakaian kata “al-amal” tidak hanya memberi konotasi pada amal ibadah makhdloh saja tetapi juga amal-amal yang berbobot iqtishodiyah
(ekonomis) danijtima’iyah(sosial), seperti: “Agar mereka memakan buahnya dan barang hasil kerja (keterampilan) tangan mereka sendiri, apakah mereka tidak bersyukur” (Yaasiin: 34). “Kalian kaan dimintai pertanggungan jawab tentang semua yang kalian kerjakan” (al-Nakhl: 93), “Jika selesai menjalankan shalat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi dan (bekerja)
88
Risyan Nurhakim,Bekerjalah, Republika, 18 Mei 2006, diakses tanggal akses 12 Pebruari 2013.
89 Ibid 90
mencari rizki (anugrah) Allah dan perbanyaklah mengingat (berdzikirlah) kepada Allah, mudah-mudahan kalian beruntung” (al-Jumu’ah: 10).
Hal itu berarti Allah SWT sangatlah menghargai orang-orang yang punya etos kerja yang tinggi. Keberhasilan seseorang, baik muslim maupun bukan muslim ikut ditentukan oleh produktifitas kerja yang dilakukannya. Hal inilah yang membuktikan, bahwa ajaran Islam sangat menghormati pekerja-pekerja keras atau seseorang yang mau berkreasi dan berobsesi meraih prestasi besar dalam kehidupannya.
Manusia memenuhi kebutuhan hidup untuk kelangsungan hidupnya di dunia. Untuk itu manusia perlu bekerja, sebab dengan bekerja manusia akan memanusiakan dirinya sebagai makhluk Allah yang paling sempurna dari seluruh ciptaan-Nya. Bekerja merupakan hak setiap manusia dewasa sebagai upaya menjaga derajat kemanusiaan dan memenuhi kebutuhan hidup. Negara dan masyarakat harus menjamin hak setiap manusia atau warga negara untuk bekerja dan tidak membedakan hak tersebut antara satu dengan lainnya.91
Hal itu menunjukkan, bahwa dalam hidup ini manusia membutuhkan pekerjaan. Dengan pekerjaan yang dilaksanaan, manusia dapat memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Sebab, dari pekerjaan yang dilakukan itu, manusia mendapatkan penghasilan. Sebagai hak manusia, maka pekerjaan dapat menentukan penghasilan. Sedangkan penghasilan ini juga menjadi hal yang harus dimilikinya setelah menjalankan pekerjaan. Sayangnya, masyarakat di Indonesia masih digolongkan sebagai salah satu bangsa di dunia yang etos kerjanya rendah. Manusia Indonesia belum memberdayakan dirinya dengan maksimal, sehingga potensi yang dimiliki oleh bangsa ini, seperti kekayaan alam yang melimpah belum bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Bahkan tidak jarang, kekayaan alam yang kita anggap tidak ada nilainya di negeri ini, justru kemudian dimanfaatkan oleh negara atau bangsa lain.
Cendekiawan kenamaan Norcholis Majid pada tahun 1992-an sudah pernah mengingatkan, bahwa Indonesia tidak dapat menjadi negara maju dalam waktu dekat ini, karena Indonesia mempunyai etika kerja yang cacat dan korupsi yang gawat (Indonesia has lously work ethis and serious corruption).92
Perkembangan masyarakat dan kondisi ekonominya telah merangsang terjadinya pergeseran-pergeseran di berbagai sektor penting dan mendasar dalam kehidupannya, diantaranya terhadap pemaknaan secara filosofis suatu pekerjaan, kegiatan, aktifitas, dan keahlian-keahlian lainnya. Adanya 91
Baharuddin Lopa,Al-qur’an dan Hak Asasi Manusia, Dhana Bhakti Prima Yasa, Jakarta, 1996, hal. 91.
92
Bambang Darmawan,Profesi dalam Ujian Mafia Peradilan, Publikasi, Jakarta, 2005, hal. 14.
pernyataan yang menyebutkan, bahwa mencari dan menciptakan pekerjaan di Indonesia secara benar jauh lebih sulit dibandingkan jika dilakukan dengan cara melanggar norma moral dan yuridis, adalah pernyataan yang menunjukkan, bahwa diperlukan filosofi dan aktualisasi etis terhadap pekerjaan atau profesi.
Thomas Aquinas menyatakan, bahwa setiap wujud kerja mempunyai empat tujuan sebagaimana berikut:
1) Dengan bekerja, orang dapat memenuhi apa yang menjadi kebutuhan hidup sehari-harinya.
2) Dengan adanya lapangan pekerjaan, maka pengangguran dapat dihapuskan/dicegah. Hal ini juga berarti, bahwa dengan tidak adanya pengangguran, maka kemungkinan timbulnya kejahatan (pelanggaran hukum) dapat dihindari pula.
3) Dengan surplus hasil kerjanya, manusia juga dapat berbuat amal bagi sesamanya.
4) Dengan kerja, orang dapat mengontrol atau mengendalikan gaya hidupnya.93
“Profesi” merupakan salah satu kata yang gampang sekali disampaikan dan dibenarkan untuk suatu pekerjaan atau kegiatan yang melekat dengan diri dan aktifitas seseorang. Stigma profesi itu diajukan dengan tolok ukur bahwa yang dilakukan seseorang itu telah melekat, setidak-tidaknya yang paling sering dilakukan, menjadi kebiasaan dan keahliannya.
Profesi-profesi dalam sistem sosial okupasi (pekerjaan) pada masyarakat modern menempati kedudukan yang sangat strategis, sebagaimana kata Talcott Parson, “the profession occupy a position of importance in our society which is, .... in unique in history, atau dikategorikan pada“it is difficult to imagine how it could get along without basic structural changes if they were seriously impaired.94
Pandangan Parson itu menunjukkan tentang posisi istimewa dan pentingnya suatu profesi dalam kehidupan masyarakat. Karena merupakan suatu posisi penting, otomatis tidak setiap pekerjaan dan kegiatan yang bisa dilakukan oleh seseorang disebutnya sebagai suatu profesi. Profesi dalam isyarat Parson itu menuntut kekhususan-kekhususan atau keistimewaan-keistimewaan. Jadi tidak setiap orang yang mempunyai pekerjaan atau aktifitas lantas disebutnya sebagai profesi, kecuali pekerjaan ini didasari oleh keistimewaan yang melekat pada pekerjaan itu.
93
E. Sumaryono, Etika Profesi Hukum: Norma-norma Bagi Penegak Hukum, Kanisius, Yogyakarta, hal. 25.
94