• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kode Etik dan Peradilan ”Homo Homini Lupus”

Dalam dokumen DI ERA MALAPRAKTIK PROFESI HUKUM (Halaman 114-117)

1. Peradilan diuji Serigala

Ada kekhawatiran mulai menyeruak ke permukaan kalau berkali-kali terjadinya konflik elite penegak hukum antara KPK, Polri, dan Kejaksaan, akan semakin menguras banyak enerji bangsa, yang semestinya bisa digunakan untuk menjawab kemasalahatan publik, namun akhirnya terbuang sia-sia akibat pilar-pilarnya masih ”menikmati” pertarungan, yang jelas-jelas menguras enerji dan emosi.

Konflik elit, apalagi mengibarkan bendera penegakan hukum (law enforcement) itu memang semestinya tidak perlu dilanjutkan, karena jelas energi yang terkurang bukan hanya modal kekuatan citra hukum dan kewibawaan peradilan, tetapi kepentingan keberlanjutan

169

Hukum sebagai panglima kerap menjadi ungkapan sekadar manis di bibir. Kesannya, justru hukum kerap menjadi prajurit yang gampang diatur sesuai selera oknum penegaknya. Dalam sejumlah kasus korupsi, putusan pengadilan sering dirasakan tidak sejalan dengan cita rasa keadilan hukum masyarakat. Pembuktian yang lemah di depan meja hukum menjadi salah satu hal yang konon disebut-sebut mengganjal proses hukum terhadap koruptor di negara kita. Ganjalan ini mendorong lahirnya wacana tentang perlunya dipertimbangkan penggunaan prinsip pembuktian terbalik terhadap kasus korupsi. Pembuktian ini diharapkan dapat mengangkat martabat hukum dalam menjerat koruptor yang telah merampas uang negara untuk kepentingan pribadi, lihat Balipost, 24

pembangunan ekonomi (economic developmentalism) juga terancam terdegradasi dan bahkan bisa gagal total.

Dalam perspektif ekonomi, misalnya pergulatan KPK versus Polri menimbulkan ketidakpastian hukum. Dampak nyatanya, dalam jangka panjang hal itu memengaruhi iklim investasi. Jika kasus itu berlangsung berlarut-larut dan tanpa penyelesaian yang komprehensif, dikhawatirkan investor takut untuk menanamkan dananya di Indonesia. Sejumlah ekonom bahkan memprediksi bahwa akibat kasus itu, investasi bisa berkurang separo. Sebuah penurunan yang cukup tinggi ketika negeri ini butuh dana besar untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Indikator yang paling gampang dibaca untuk memantau arus investasi adalah pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG). Entah kebetulan atau tidak, sejak kasus itu bergulir indeks saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) terus melemah. Padahal, indikator makro seperti inflasi, suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi angkanya sangat mendukung.170

Hal itu semua tak lepas dari peran elite penegak hukum yang belum mau keluar dari zona arogansi diri dan kelompoknya, yang berusaha mengabsolutkan pola klaim kebenaran (truh claims), padahal dibalik itu sebenarnya diri dan kelompoknya terbilang bersalah atau di luar jalur kebenaran, baik dalam kacamata hukum maupun moral keagamaan. Mereka ini terperangkap dalam pola penganimalisasian emosi dan ambisi, sementara kecerdasan moral dan batinnya tertutup..

Dalam realitas kehidupan ini, manusia sudah banyak belajar, bahwa dalam paradigma “pembinatangan diri” (homo homini lupus) seperti yang sudah lama diingatkan oleh Thomas Hobbes itu,171 manusia lebih sering hanya berfikir, berobsesi, dan berperilaku untuk menjadikan orang atau pencari keadilan sebatas menjadi tumbal kebiadaban, sementara manusia tidak menuntut diri sendiri dan kroni-kroni untuk menjadi manusia-manusia yang gemar mengabdi demi membebaskan kesulitan sesama dan mendekonstruksi kultur yang menutup pintu tegaknya keadililan.

Tidak sedikit diantara anggota masyarakat selalu menuntut negara supaya bisa memenuhi dahaga keserakahannya, tapi mereka tidak mencerdaskan nurani sendiri kalau orang lain pun hidupnya bisa serba dalam hegemoni dan akumulasi keprihatinan. Mereka bahkan menjadikan peradilan bergaya homo homini lupus (cermin manusia sebagai serigla) yang terus diberikan ruang menyakiti pencari keadilan.

170Jawa Pos, 10 Nopember 2009, akses 3 Januari 2013. 171

2. Peradilan yang Memanusiakan

Seharusnya setiap segmen bangsa, khususnya elemen penegak hukum di negeri ini mau menunjukkan pengabdianntya untuk komunitas dunia peradilan yang sedang terluka akibat disayat-sayat oleh oknum mafioso peradilan yang membentuk dirinya sebagai sang hegemonis dan ”neo-kolonialis”.

Setiap watak egoisme sektoral elemen peradilan memang harus dikalahkan demi tegaknya nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan universal, karena egoisme ini dapat menghambat dan bahkan menggagalkan terwujudnya masyarakat yang mencita-citakan kedamaian, kesejahteraan, dan keharmonisan.

Di dalam egoisme seseorang dan kelompok itu pastilah tersimpan penyakit psikologis yang membahayakan diri, orang lain, dan negara hukum. Memelihara egoisme sama artinya dengan melestarikan “syahwat” untuk selalu meminta dilayani, dipenuhi segala keinginannya, dan ”miskinnya” jiwa besar untuk mengalah atau menerima ”salah”. Hasratnya lebih superior untuk menumbalkan orang atau institusi lain atau hak-hak publik dibandingkan mengalahkan kepentingan diri sendiri dan kelompoknya.

Kalau bangsa-bangsa dari negara lain rela mereformasi atau mampu membeningkan nuraninya, mengalahkan egoisme globalnya demi pengabdian universalnya kepada Indonesia, tentulah setiap kom-ponen negara hukum juga harus tidak kalah dalam merekonstruksi citra negerinya yang terkoyak ini. Setiap bentuk pengabdian profetis yang didasarkan demi kepentingan negara atau keberlanjutan hidup rakyat (pencari dan pemimpi keadilan) ini merupakan representasi amanat struktural yang bernilai sakral, yang akan dan dapat menyelamatkan rakyat dari kemungkinan ditimpa apa yang disebut Alvin Tofller sebagai

future shock (masa depan gelap). Sayangnya, elemen penegak hukum di negeri ini tidak sedikit yang masih terseret dan terjerumus dalam kezaliman individual dan menjadi mesin penyelingkuhan etik struktural yang mengakibatkan pelanggaran HAM dan pengoyakan keadilan, karena di dalam dirinya ini sedang mengidap kevakuman komitmen untuk menerima dan mengakui kesalahan yang pernah diperbuatnya Kedudukan orang lain atau negara (rakyat) dimata-nya tidak diperlakukan sebagai subyek demokratis dan akuntabilitas, melainkan sebagai obyek yang sah untuk dikalahkan dan ditumbalkannya.

Di negara-negara yang tingkat penegakan hukumnya (law enforcement) sangat baik atau lebih baik dibandingkan di Indonesia, seperti di negara-negara Eropa semisal Inggris, adagium yang digunakan adalah “berikan penegak hukum yang baik, meskipun dengan

produk hukum yang jelek. Keadilan akan lebih mudah ditegakkan di tangan penegak hukum yang baik”172

3. Kode Etik Profesi dan Law Enforcement

Adagium demikian itu merepresentasi realitas bahwa penegakan hukum tak sekedar ditentukan oleh produk hukumnya atau super lengkap sarana peradilannya, tetapi juga faktor di luar hukum, khususnya sepak terjang manusia dan sistem politik yang membingkainya. Adapun posisi penegak hukum yang digolongkan sebagai “faktor istimewa”, diantaranya menentukan bekerjanya produk hukum, adalah ”mesin fundamental” yang memegang dan menentukan kendalinya. Apalah artinya suatu produk dan sistem hukum yang baik di tangan penegak hukum yang kinerjanya buruk dan masih dicengkeram sindikasi mafioso-mafioso peradilan.

Sosiolog hukum kenamaan Soerjono Soekanto juga mengingatkan, bahwa law enforcement bukan hanya ditentukan oleh aspek norma hukumnya, tetapi juga dipengaruhi aspek mentalitas penegak hukum, kondisi masyarakat, sarana-prasarana peradilan, dan kultur yang hidup di masyarakat.173 Artinya, dalam penegakan hukum, “tidak ada yang bekerja dan disalahkan sendirian”, kinerjanya sistematik. Apa yang dilakukan aparat penegak hukum bisa dipengaruhi oleh kevakuman norma hukum, mentalitas yang rendah maupun kultur yang masih menghidupkan dan menyemaikan praktik-praktik pembusukan nilai-nilai (values decay), di samping tentu saja bermainnya kekuatan elite politik yang menjadikan dirinya sebagai hukum tertinggi. Kalau ini yang terjadi, barangkali sulit terwujud kebersamaan atau kompromi dalam kebenaran antar elite penegak hukum.

Dalam dokumen DI ERA MALAPRAKTIK PROFESI HUKUM (Halaman 114-117)