BAB VI KODE ETIK PROFESI, LEMBAGA PEMASYARAKATAN
C. Peradilan Tanpa Kasta?
1. Tidak ada pelapisan
Siapa berani lawan jenderal? Siapa berani mengusik jenderal? Siapa berani mencari borok jenderal? Siapa berani mencari masalah dengan jenderal? Mampukah hukum kita memidakan jenderal? atau bisakah jenderal diperlakukan oleh hukum sebagai tersangka, terdakwa, terpidana, hingga menjadi narapidana?
Pertanyaan tersebut jika dikembalikan pada prinsip konstitusi, tentulah jawabannya gampang, bahwa siapapun orangnya dan bagaimanapun kedudukannya, serta dari kalangan manapun, wajib dipertanggungjawabkan secara hukum, sehingga ketika seseorang atau sekelompok orang ini berpangkat jenderal, mereka tidak berbeda
213
dengan yang berpangkat kopral, yakni secara egalitarian (kebersederajatan) dituntut pertanggungjawaban hukum.
UUD 1945 secara tegas telah memberikan jaminan bahwa “segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya (Pasal 27 ayat (1). Dalam pasal 7Universal Declaration of Human Rights (UDHR) juga disebutkan, bahwa semua orang sama di depan hukum dan berhak atas perlindungan hukum yang sama tanpa diskriminasi.214
Pertanggungjawaban hukum menjadi kata kunci yang bisa menentukan nasib jenderal. Sistem peradilan pidana (criminal justice system) merupakan jalur legal yang menentukan salah tidaknya jenderal. Dugaan keterlibatan dalam ”rekening gendut” menjadi terbukti atau tidak, bukan semata ditentukan lewat proses internal di institusinya, tetapi juga dalam ranahcriminal justice system.
Dalam ranah criminal justice system, sudah diatur diantaranya dalam undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang KItab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dan Undang-Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara, yang menggariskan tentang per-tanggungjawaban hukum, yang mengandung prinsip egalitarian, baik untuk menangani ”wong cilik” maupun jenderal yang sama-masa melakukan pelangaran hukum.
2. Diskursus Bukti Permulaan
Stigma ”tersangka” untuk para jenderal yang memiliki ”rekening gendut” sebenarnya tidak berlebihan. Dalam pasal 1 butir (14) disebut-kan, bahwa tersangka adalah seseorang yang karena perbuatannya atau keadaannya, berdasarkan bukti permulaan patut diduga sebagai tindak pidana.
Memang istilah bukti permulaan tersebut masih menimbulkan perdebatan dikalangan pakar hukum, akan tetapi secara umum sudah sampai pada kesimpulan, bahwa yang menentukan suatu temuan penyelidikan sebagai bukti permulaan atau tidak, dipercayakan sepenuhnya pada kinerja penyelidik dan penyidik (polri).
Mantan hakim, Amirudin Zakaria menyebutkan, bahwa dalam pasal 44 (2) Undang Undang Nomer 30 tahun 2002 tentang Komisi Pem-berantasan Tindak Pidana Korupsi diatur bahwa “bukti permulaan yang cukup dianggap telah ada apabila telah ditemukan sekurang-kurangnya dua alat bukti”. Tanpa terpenuhinya minimal dua alat bukti tersebut
me-214
nyebabkan kasus tersebut (korupsi) belum dapat ditingkatkan ke tahap penyidikan karena belum adanya bukti permulaan yang cukup.
Pakar hukum lainnya, Moh. Hidayat215menyebut substansi berbeda, bahwa bukti permulaan yang disebutkan dalam pasal 1 UU Nomor 8 Tahun 1981 terfokus pada tahap kelengkapan penyidikan. ”Cukup ada satu alat bukti”, diantara lima alat bukti lainnya (keterangan terdakwa, keterangan saksi, petunjuk, keterangan ahli, dan surat), tindakan hukum sudah bisa dilakukan (dilanjutkan). Antara bukti permulaan dalam mengawali kinerja penyidik dengan bukti permulaan dalam pemeriksaan perkara pidana yang dilakukan hakim berbeda.
Selain itu, satu alat bukti keterangan tersangka dengan alat bukti petunjuk umumnya bergandengan, sehingga satu alat bukti yang ditemukan di locus delictie atau tempat kejadian perkara, melekat padanya bukti-bukti lainnya, yang bisa dijadikan ”investasi” untuk membuka tabir kebenaran materiil dari tindak pidana (straafbaarfeit).
Diskursus soal makna bukti permulaan yang cukup rasanya tidak perlu diperpanjang, karena dalam realitas, pembahasaan atau penafsiran dalamlaw in actionyang dilakukan oleh aparat penyidik lebih progresif. Kalangan penyidik yang peran utamanya bergulat dengan jagat pencarian, perburuan, dan rekapitulasi barang bukti, sudah diberikan ”hak veto” dan opsi untuk menentukan suatu temuan di lapangan patut dijadikannya sebagai alat bukti apa tidak.
Temuan tentang ”rekening gendut” pun bisa diposisikan sebagai bukti permulaan, yang dari bukti permulaan ini dapat dijadikan sebagai pijakan untuk melakukan langkah-langkah hukum selanjutnya, seperti melakukan pemeriksaan intensif, upaya paksa berbentuk penangkapan, penahanan, penggeledekan, larangan meninggalkan suatu wilayah/negara, dan lain sebagainya.
Kondisi yang seringkali terjadi, adalah penodaan terhadap implementasi criminal justice system. Ketika yang menjadi tersangka berasal dari kalangan akar rumput atau ”wong cilik”, pertanggung-jawaban hukum yang diberlakukan kepadanya bersifat maksimal, sementara ketika pertanggungjawaban hukum diberlakukan pada golong-an elit, berduit, atau berkedudukan mapan di masyarakat, bekerjanya hukum menjadi setengah hati atau bahkan teramputasi.
3. Kode Etik Profesi dan ”Asal Ada Bukti”
Implementasi pertanggungjawaban hukum pada jenderal dapat dicerna dari awal pemberlakuan criminal justice system, khususnya dalam tahap penentuan tersangka, pasalnya “gelar perdana” dalam 215
Moh. Hidayat,Upaya Membuktikan Tindak Pidana Korupsi, Tiara Media, Jakarta, 2009, hal. 34.
proses hukum ini menentukan perjalanan atau keberlanjutan hidupnya. Ketika memang yang digunakan memproses seseorang secara umum, adalah ”asal ada bukti” sudah ditafsirkan dan digunakan menjadi bukti permulaan untuk melakukan tindakan hukum, maka meski temuannya berbentuk ”rekening gendut”, tetapi ia bisa distatuskan sebagai ”asal ada bukti” yang bisa digunakan pijakan menyeret (mempertanggung-jawabkan) atau memidanakan jenderal.
Lili Rasjidi, seorang penulis buku-buku filsafat hukum menyatakan bahwa; yang terpenting adalah bagaimana hukum itu dapat diterap-kan/ditegakkan dalam kenyataan, hukum yang sebenarnya merupakan hukum yang dijalankan, bukanlah apa yang tertulis dengan indah dalam undang-undang, melainkan apa yang dilakukan oleh aparat penyelenggara hukum, polisi, jaksa, hakim, atau siapa saja yang melakukan fungsi pelaksanaan hukum.216
Memang Susno (yang jenderal) sudah memasuki ranah pemidanaan sebagai pesakitan, akan tetapi kasus yang menimpa Susno ini berbeda dengan ”rekening gendut” jenderal lainnya. Susno dihadapkan dengan realitas tindak pidana yang dituduhkan atau diancamkan kepadanya setelah membongkar kasus mafia pajak, sementara ”rekening gendut” berhubungan dengan laporan ICW.
Kasus yang sudah dilaporkan itu dapat dijadikan sebagai salah satu bukti petunjuk atau alat bukti lain, yang bisa menyeret jenderal yang jadi pemilik rekening sebagai seseorang yang bermasalah secara hukum. Keterlibatan dalam masalah hukum ini dapat dikaitkan dengan irasionalitas antara jumlah uang dalam rekening yang dimilikinya dengan penghasilan (gaji) bulanan sebagai elitis di Polri. Dalam ranah ini, jenderal yang berposisi tersangka mempunyai hak untuk ”membuktikan balik” kalau uang yang tersimpan dalam rekeningnya bukanlah uang yang diperoleh dari cara-cara ilegal.
Masalahnya, beranikah para penyidik yang pangkatnya dibawah jenderal melakukan penyidikan secara inklusif dan transparan, serta egaliter. Rasanya hanya polri yang bisa menjawabnya. Polri dituntut bernyali dalam mempertanggungjawabkan secara pidana terhadap koleganya sendiri (jenderal) yang diduga melawan hukum atau melakukan tindak pidana. Dalam ranah inilah independensi polri dieksaminasi secara internal.
216