• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oktober 2006 – Agustus 2008

Dalam dokumen Merangkai Kata Damai (Halaman 178-183)

165 bebas dari korupsi. Dari berbagai pemberitaan di media cetak dan elektronik

menggambarkan sejumlah kasus dakwaan korupsi terhadap sejumlah pejabat dan mantan pejabat publik di Aceh dengan tuduhan korupsi.

Pemerintahan Aceh kini tengah menghadapi banyak persoalan seperti masalah penyaluran dana reintegrasi dan program rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pascatsunami. Sebenarnya, dana pembangunan dan rehabilitasi Aceh sangat melimpah namun tidak ditunjang dengan proyek yang jelas. Kurang berpengalamannya aparat menjadikan administrasi kacau serta tidak transparan, serta tujuan yang tidak terarah. Kondisi ini mengakibatkan tumbuh suburnya korupsi. Hal ini diperparah dengan maraknya aksi makelar proyek dan broker politik yang diperankan oleh sejumlah kalangan yang terlembagakan dalam sejumlah tim bentukan kepala daerah terpilih, yang notabene berasal dari kelompok yang didukung oleh mantan GAM. Sejumlah petinggi KPA di beberapa daerah, disinyalir memainkan peran yang juga dahulu diperankan oleh TNI yaitu menjadi pemerintah bayangan bagi pemerintahan daerah di Aceh yang banyak memainkan peran dan penentu dalam berbagai kebijakan, khususnya dalam memperoleh tender proyek dan bagi-bagi kekuasaan.

Berhasilnya kandidat GAM yang meraih kursi kekuasaan di beberapa wilayah melahirkan harapan bahwa mereka akan mendapatkan balas budi berupa peningkatan kesejahteraan, pengendalian proyek serta penguasaan atas dana pembangunan yang ada. Untuk tujuan tersebut, maka posisi strategis di tingkat pemerintahan lokal harus diisi oleh orang-orang dari kelompoknya. Harapan tersebut rupanya banyak yang tidak tercapai. Para pemimpin yang dahulu didukung dianggap berkhianat karena telah memilih orang-orang diluar kelompoknya. Para pemimpin KPA bersikeras agar keputusan pemerintah, termasuk pemilihan posisi jabatan penting, harus dikonsultasikan kepada mereka terlebih dahulu. Dari segi internal, para pemimpin KPA juga dinilai sebagai sosok yang kini anti kritik. KPA telah menjadi pemerintah bayangan.6 Paradigma berpikir seperti itu menunjukkan ketidakdewasaan dalam berpolitik serta tidak demokratis. Beberapa kantor

6 lihat laporan Bank Dunia mengenai Pemantauan Konflik Aceh bulan september dan Oktober

MERANGK AI K ATA DAMAI

166

pemerintahan saat ini banyak dikuasai oleh orang-orang yang tidak jelas status dan posisi kedudukannya. Perilaku dan tindakan tersebut dapat menggerogoti dukungan politik yang dapat menghambat kinerja para bupati.

Secara pribadi, Irwandi-Nazar mungkin saja bersih. Tetapi banyak kebijakannya dipertanyakan, terutama pembentukan tim ahli atau asistensi yang bertugas membantu Kepala Pemerintahan Aceh.7 Banyak kalangan menilai tim-tim ini dibentuk hanya untuk mengakomodasi orang-orang dekat Irwandi dan Nazar yang dahulu berjasa dalam mengantarkan mereka ke tampuk kekuasaan. Banyaknya pembentukan tim oleh sebagian orang justru dinilai sebagai ciri ketidakprofesionalan di mana banyak persoalan penting dipercayakan kepada orang-orang yang tidak memahami persoalan dan tidak memiliki kapasitas. Kordinator GeRAK, Akhiruddin Mahyuddin mengatakan bahwa pembentukan berbagai tim tersebut merupakan bentuk ketidakpercayaan Irwandi terhadap Satuan Kerja Pemerintahan Daerah (SKPD) yang ada, juga cerminan ketidakpercayaan terhadap kemampuan diri sehingga perlu bantuan orang lain dan sebagai kado terimakasih terhadap para tim suksesnya.8 Selain itu, di tingkat kabupaten/kota, jalannya roda pemerintahan juga tidak optimal. Di beberapa daerah dijumpai kesenjangan antara bupati dan wakil bupati, seperti terlihat di Aceh Barat, Aceh Timur, Aceh Besar, Bireuen, Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe. Permasalahan umum yang dihadapi pemerintahan di daerah ini, selain karena tekanan partai dan hubungan yang tidak harmonis dengan wakilnya, juga karena adanya tekanan dari mantan kombatan di wilayah tersebut. Kelompok mantan kombatan selalu memaksakan diri untuk dilibatkan khusus.9

Korupsi dan Ancaman Perdamaian

Adakah berbagai permasalahan tersebut di atas dapat mengancam perdamaian Aceh? Kemungkinan itu kecil, tetapi bukan mustahil terjadi apabila persoalan tidak

7 lihat Modus Aceh, Minggu I, Mei 2008

8 Modus Aceh, Minggu I, Mei 2008, hlm. 8

9 “Ada Kelompok Penekan?” Kontras, Tabloid Berita, No.455, th.X, 18-24 September 2008, hlm.5

167 segera diatasi. Memang permasalahan korupsi, dan mismanajemen pemerintahan

bukan monopoli Aceh tetapi terjadi di semua wilayah di Indonesia. Problem ini menjadi unik karena Aceh adalah wilayah yang tengah healing dari derita konflik yang membuatnya masih rentan dari letupan-letupan konflik.

Konflik sosial akan timbul manakala sebuah masyarakat merasakan kondisi seperti ada perasaan berbeda dari yang lainnya, adanya berbagai keluhan atau kekecewaan, adanya upaya peredusiran kekecewaan yang dialaminya yang menimbulkan dampak terhadap masyarakat lain, dan adanya keyakinan dalam masyarakat yang merasa kecewa bahwa perubahan hanya dapat dilakukan dengan prilaku antagonis.10 Diskriminasi dapat menjadi sebab timbulnya pemberontakan yang menciptakan solidaritas kuat diantara kaum pemberontak.11 Dengan demikian, perbedaan identitas fisik Aceh dengan wilayah lain hanyalah sebuah justifikasi dari persoalan sebenarnya, yaitu ketidakadilan sosial.

Karena itu, siapapun yang berkuasa di Aceh, apakah GAM maupun non-GAM, selama korupsi tidak mampu diberantas, selama itu pula potensi konflik dapat terjadi. Berbagai gejala yang terjadi menunjukkan ke arah itu. Ini sesuai dengan teori Ted Robert Gurr yang menjelaskan bahwa selain eksplanasi kultural, pemberontakan dapat terjadi apabila masyarakat merasakan adanya ketidakadilan kolektif yang menimpa mereka dalam bidang ekonomi dan pembangunan, diskriminasi politik, kontrol negara yang represif atau hal-hal yang berkaitan dengan

basic needs.12 Maslow, Burton dan Gurr percaya bahwa selama kebutuhan dasar manusia tidak terpenuhi, maka selama itu pula potensi konflik akan tetap besar. Tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia, terutama yang berkaitan dengan identitas dan keamanan kelompoknya, akan melahirkan hambatan bagi resolusi

10 Louis Kriesberg. Constructive Conflict; From Escalation to Resolution, (Lanham: Rowman and Littlefield Publ., 1998), pp.58-59

11 I. William Zartman. “Mediating Conflicts of Need, Greed and Creed”, Orbis, Vol.44, No.2, (Spring 2000), hlm.256

12 Ted Robert Gurr. “Minorities, Nationalistist, and Ethnopolitical Conflict”, dalam Chester A. Crocker, et.al. (eds.). Sources of and Responses to International Conflict, Washington DC, USIP, 1996, hlm. 63

MERANGK AI K ATA DAMAI

168

konflik.13 Apabila sebagian masyarakat Aceh merasa perdamaian yang ada tidak memberikan perubahan kesejahteraan yang signifikan dalam kehidupan mereka, selama itu pula gejolak akan terjadi.

Penutup

Korupsi di manapun selalu melahirkan dampak negatif bagi masyarakat. Dalam konteks Aceh, dampak ini bukan hanya pada sebatas hadirnya ketidakadilan dalam bidang ekonomi, tetapi memiliki implikasi yang lebih luas, yaitu gangguan terhadap persoalan perdamaian. Beberapa teori konflik menyebutkan bahwa bahwa salah satu cara untuk mempertahankan stabilitas perdamaian adalah dengan menciptakan keadilan ekonomi dan sosial. Ini berarti, ketidakadilan dan diskriminasi ekonomi merupakan potensi ancaman bagi perdamaian. Selama benih korupsi masih tersebar, selama itu pula potensi konflik ada.

Apabila perilaku korupsi terjadi secara terus menerus tanpa ada tindakan konkrit dari Pemerintah untuk memberantasnya, maka gelombang kekecewaan akan tercipta. Gelombang itu kemudian berubah menjadi sebuah pemberontakan. Pemberontakan pasti akan dihadapi dengan kekuatan bersenjata dari pemerintah. Ini berarti konflik kekerasan dan bersenjata yang menghadirkan penderitaan bagi rakyat kembali hadir di Aceh.***

13 Herbert C. Kelman. “The Interactive problem-Solving Approach”, in Chester A. Croker, et.al. (eds.) Managing Global Chaos: Sources of and Responses to International

Beberapa hari terakhir ini, isu tentang akan hilangnya status Sabang sebagai pelabuhan bebas dan kawasan bebas ekonomi sangat mencuat. Tidak kurang pimpinan daerah, baik eksekutif maupun legislatif menyampaikan kekecewaan dan keprihatinannya bila rencana UU kawasan ekonomi khusus terwujud. Pasalnya, bila UU itu menjadi hukum baru, maka segala impian tentang Sabang akan sirna. Setidaknya, sebagian besar akan sirna.

Kekecewaan terhadap ancaman itu sesungguhnya tidak hanya datang secara personal dari kedua petinggi Aceh itu. Ungkapan itu sesungguhnya lebih mencerminkan perasaan dari hampir seluruh masyarakat yang mengimpikan tentang kemajuan, pembangunan, dan terobosan untuk mempercepat kemakmuran Aceh dan bagian barat wilayah nusantara. Seandainya status Sabang sekarang benar-benar akan tergusur, maka mimpi buruk tentang pencabutan free

port Sabang pada akhir tahun 80-an oleh rezim Orde Baru kini terjadi lagi. Kali ini,

implikasi dari pencabutan status itu menjadi sangat serius, karena prospek mesin pertumbuhan ekonomi Aceh pascaera gas dan minyak bumi hampir tidak ada.

Kecuali kucuran dari dana DAU, dan remah sisa dana migas yang semakin

Ahmad Humam Hamid

Sosiolog, dosen Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala

Dalam dokumen Merangkai Kata Damai (Halaman 178-183)