Pengembangan perangkat pembelajaran inovatif dalam sub tema Bermain di Lingkungan Rumah mengacu kurikulum 2013 untuk siswa kelas II Sekolah Dasar - USD Repository

160 

Teks penuh

(1)

i

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN INOVATIF DALAM SUB TEMA BERMAIN DI LINGKUNGAN RUMAH MENGACU KURIKULUM 2013 UNTUK SISWA KELAS II SEKOLAH DASAR

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh:

Tri Mardanila Novitasari NIM: 151134084

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)
(3)
(4)

iv

PERSEMBAHAN Karya sederhana ini peneliti persembahkan kepada:

1. ALLAH SWT yang selalu memberikan petunjuk dan hidayah, serta memudahkan saya dalam setiap langkah.

2. Orang tua tercinta, Bapak Abu Bakar dan Ibu Marmiati yang senantiasa memberikan kasih sayang, dukungan, motivasi lewat doanya.

3. Kakak-kakakku tercinta, Dita Meiriska Erawandani dan Franuria Jatra Bayu Hajindra, walaupun sering bertengkar tapi hal itu selalu menjadi warna yang tak akan bisa tergantikan, terimakasih atas doa dan dukungannya selama ini. 4. Keluarga Besarku yang selalu memberi motivasi dan dukungan untuk meraih

kesuksesan.

5. Sahabat-sahabatku yang selalu menghibur, mengingatkan, dan memberikan semangat .

(5)

v MOTTO

Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

(QS Ar Ra’d 11)

Jika kamu belum meraih kesuksesan, jangan pernah berhenti untuk terus mencoba. (William Edward Hickson)

ALLAH SWT selalu memberikan kemudahan dalam setiap kesulitan, jika kita juga ingin berusaha.

(6)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 19 Februari 2019 Peneliti

(7)

vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Tri Mardanila Novitasari

Nomor Mahasiswa : 151134084

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN INOVATIF DALAM SUB TEMA BERMAIN DI LINGKUNGAN RUMAH MENGACU KURIKULUM 2013 UNTUK SISWA KELAS II SEKOLAH DASAR

beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk Pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai peneliti.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal: 19 Februari 2019 Yang menyatakan

(8)

viii ABSTRAK

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN INOVATIF DALAM SUB TEMA BERMAIN DI LINGKUNGAN RUMAH MENGACU KURIKULUM 2013 UNTUK SISWA KELAS II SEKOLAH DASAR

Tri Mardanila Novitasari Universitas Sanata Dharma

2019

Pembelajaran Inovatif adalah pembelajaran yang dirancang oleh guru, yang sifatnya baru dan bertujuan untuk memfasilitasi siswa dalam mengembangkan pengetahuannya sendiri dalam merubah perilaku ke arah yang lebih baik sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh siswa. Namun, pada kenyataannya pembelajaran inovatif belum sepenuhnya dirancang oleh guru di Sekolah Dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas perangkat pembelajaran inovatif sub tema Bermain di Lingkungan Rumah mengacu kurikulum 2013 untuk siswa kelas II Sekolah Dasar dengan menggunakan model Problem Based Learning (PBL) dan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT).

Penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan. Pengembangan perangkat pembelajaran ini menggunakan langkah-langkah pengembangan Borg & Gall yang terdiri dari tujuh tahap yaitu, (1) potensi masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi ahli, (5) revisi produk, (6) uji coba produk, (7) revisi produk hasil uji coba terbatas dan dihasilkan perangkat pembelajaran inovatif dalam sub tema bermain di lingkungan rumah mengacu kurikulum 2013 untuk siswa kelas II Sekolah Dasar.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rata-rata pada model Problem Based Learning (PBL) adalah 4,2 dengan kategori “baik” dan skor rata-rata pada model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) adalah 4,10 dengan kategori “baik”. Hasil uji coba produk perangkat pembelajaran inovatif menunjukkan skor rata-rata 4,3 dengan kategori “sangat baik” pada model Problem Based Learning (PBL) dan skor rata-rata 4,26 dengan kategori “sangat baik” pada model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT). Berdasarkan hasil validasi pakar pembelajaran inovatif, guru kelas II Sekolah Dasar, dan mahasiswa PGSD 2015, diperoleh hasil skor rata-rata akhir yaitu 4,18 dengan kategori “baik”. Dengan demikian, produk yang dikembangkan ini mempunyai kualitas yang baik dan layak untuk digunakan sebagai perangkat pembelajaran inovatif mengacu Kurikulum 2013 untuk siswa kelas II Sekolah Dasar.

(9)

ix ABSTRACT

THE DEVELOPMENT OF INNOVATIVE LEARNING DEVICE IN ‘BERMAIN

DI LINGKUNGAN RUMAH’ SUB-THEME REFERS TO CURRICULUM 2013

FOR 2ND GRADERS OF ELEMENTARY SCHOOL

Tri Mardanila Novitasari Sanata DharmaUniversity

2019

Innovative learning is a learning process designed by teacher, up-to-date, and aimed for facilitating the students in developing their knowledge in order to change to better behavior in accordance with the potential of the students. However, at the fact, the innovative learning has not completely been designed by elementary school teacher. This research was aimed to know the quality of innovative learning device in

‘Bermain di Lingkungan Rumah’ sub-theme which refers to Curriculum 2013 using

Problem Based Learning and cooperative learning model type Numbered Head Together (NHT).

This research was a development research. The development of this learning device used development procedures by Borg and Gall which was consisted of seven steps as follow (1) potential problem, (2) data collection, (3) product design, (4) expert validation, (5) product revision, (6) product trial, (7) product revision of limited trial result in order to design innovative learning device in ‘Bermain di Lingkungan Rumah’ sub-theme which refers to Curriculum 2013 for 2nd graders of elementary school.

The result of this research showed that the average score of Problem Based Learning was 4.2, which was categorized as “good”, while average score of cooperative learning model type Numbered Head Together (NHT) showed 4.10, which was categorized as “good” as well. The product trial result of innovative learning

device showed 4.3 as the average score, which was categorized “very good” in

Problem Based Learning, while the cooperative learning model type Numbered Head Together (NHT) showed 4.26 as the average score, which was categorized as “very

good”. Based on the result of innovative learning expert validation, 2nd graders elementary school teachers, PGSD students batch 2015, it could be obtained the final average score of 4.18 which was categorized as “good”. Therefore, this developed product has good quality and is feasible to be used as an innovative learning device refers to Curriculum 2013 for 2nd graders of elementary school.

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan nikmat dan rahmat-Nya, sehingga skripsi yang berjudul Pengembangan Perangkat Pembelajaran Inovatif dalam Sub Tema Bermain Di Lingkungan Rumah Mengacu Kurikulum 2013 untuk Siswa Kelas II Sekolah Dasar dapat diselesaikan dengan baik. Skripsi ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis tidak lepas dari bantuan, dukungan, bimbingan, nasihat, dan kerjasama dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.

2. Christiyanti Aprinastuti, S.Si., M.Pd. selaku Ketua Program Studi PGSD. 3. Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd. selaku Wakil Ketua Program Studi PGSD. 4. Drs. Puji Purnomo, M.Si. selaku Dosesn Pembimbing I yang telah membimbing dan memberi dukungan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

5. Andreas Erwin Prasetya, M.Pd. dan Brigitta Erlita Tri Anggadewi, M.Psi. selaku dosen penguji yang telah bersedia memberikan waktu pada saya untuk menempuh ujian akhir skripsi.

6. Para Dosen dan Staf PGSD yang telah melayani peneliti dengan baik. 7. MM. Suyatini, M.Pd. selaku Kepala Sekolah SD Negeri Kentungan yang

telah memberikan izin untuk peneliti melakukan validasi uji coba produk penelitian.

8. Paskalis Adi Pristanto, S.Pd. selaku validator Pakar Pembelajaran Inovatif yang telah memberikan bantuan dalam penelitian ini dengan melakukan validasi produk penelitian.

(11)

xi

produk penelitian dan selaku guru kelas IIB SDN Kentungan yang telah membantu peneliti dalam melakukan validasi uji coba produk penelitian. 10. Siswa kelas IIB SDN Kentungan yang dengan senang hati membantu dan

berinteraksi secara aktif selama proses penelitian.

11. Kedua orang tuaku, Abu Bakar dan Marmiati tercinta yang tidak pernah berhenti mendoakan dan memberikan semangat bagi peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini.

12. Kakakku tercinta, Dita Meiriska Erawandani dan Franuria Jatra Bayu Hajindra yang senantiasa memberikan semangat dan doa untuk memotivasi peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

13. Sahabatku terkasih Adit, Dinda, Siska, Elin, Ella, Intan, Dara, Mia, Dipta, Putri, Herlin yang selalu memberikan dukungan, semangat, dan bantuan selama penyusunan skripsi ini.

14. Teman-teman skripsi payung R & D pengembangan perangkat pembelajaran inovatif yang saling memberikan dukungan dan bantuan satu sama lain.

15. Teman-teman angkatan 2015 PGSD yang selaku mengiringi langkah peneliti selama menjalani perkuliahan.

16. Seluruh pihak yang telah membantu baik secara moral maupun material, yang tidak dapat peneliti sebutkan satu per satu.

Peneliti sangat bersyukur karena bantuan dari berbagai pihak akhirnya penulisan skripsi ini dapat terselesaikan. Demikian ucapan terima kasih yang penulis sampaikan kepada semua pihak yang menjadi bagian dalam penyelesaian skripsi ini. Penulis menyadari bahwa masih memiliki banyak kekurangan, walaupun demikian, semoga tetap bermanfaat bagi semua pihak.

Yogyakarta, 19 Februari 2019

Peneliti

(12)

xii DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

E. Batasan Istilah ... 6

F. Spesifikasi Produk yang Dikembangkan ... 7

BAB II LANDASAN TEORI ... 10

A. Kajian Pustaka ... 10

1. Kurikulum SD 2013 ... 10

2. Keterampilan Belajar Dasar Abad 21 ... 13

3. Perangkat Pembelajaran ... 18

4. Pembelajaran Inovatif ... 23

5. Model Problem Based Learning ... 25

6. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together ... 28

(13)

xiii

G. Jadwal Pelaksanaan Penelitian ... 51

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 52

A. Analisis Kebutuhan ... 52

1. Data Hasil Wawancara Analisis Kebutuhan ... 52

B. Deskripsi Produk Awal ... 57

1. Program Tahunan (Prota) dan Program Semester (Prosem) ... 57

2. Silabus ... 58

3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Harian (RPPTH) ... 58

C. Validasi Ahli dan Revisi Produk ... 60

1. Data Validasi Pakar Pembelajaran Inovatif ... 60

(14)

xiv

D. Uji Coba Terbatas ... 69

1. Data Uji Coba Terbatas ... 69

2. Revisi Produk ... 73

E. Kajian Produk Akhir ... 74

F. Hasil Penelitian dan Pembahasan ... 76

1. Hasil Penelitian ... 76

2. Pembahasan ... 76

BAB V PENUTUP ... 84

A. Kesimpulan ... 84

B. Keterbatasan Penelitian dan Pengembangan ... 85

C. Saran ... 85

DAFTAR PUSTAKA ... 86

(15)

xv

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Tahapan Pembelajaran dengan Model Problem Based Learning ... 28

Tabel 3.1 Daftar Pertanyaan Wawancara Analisis Kebutuhan ... 42

Tabel 3.2 Pedoman Instrumen Observasi Guru ... 44

Tabel 3.3 Pedoman Instrumen Observasi Siswa ... 44

Tabel 3.4 Pedoman Validasi Uji Validasi Pakar dan Guru ... 47

Tabel 3.5 Konversi Data Kuantitatif ke Data Kualitatif Skala Lima ... 48

Tabel 3.6 Kriteria Skor Skala Lima ... 50

Tabel 3.7 Jadwal Pelaksanaan Penelitian ... 51

Tabel 4.1 Komentar dan Revisi Pakar Pembelajaran Inovatif model Problem Based Learning (PBL) ... 65

Tabel 4.2 Komentar dan Revisi Pakar Pembelajaran Inovatif model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) ... 67

Tabel 4.3 Komentar dan Saran Guru Kelas IIB Sekolah Dasar saat Uji Coba Produk ... 72

Tabel 4.4 Komentar dan Saran Mahasiswa PGSD 2015 saat Uji Coba Produk ... 73

(16)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Literatur Map Penelitian Yang Relevan ... 33

Gambar 2.2 Bagan kerangka berpikir pada penelitian ini ... 35

Gambar 3.1 Prosedur Pengembangan Produk dari Borg and Gall... 37

(17)

xvii DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Surat Izin Penelitian... 90

Lampiran 2 Surat Keterangan Penelitian ... 91

Lampiran 3 Surat Izin Observasi dan Wawancara ... 92

Lampiran 4 Pedoman Wawancara ... 93

Lampiran 5 Rangkuman Wawancara Survei Kebutuhan ... 94

Lampiran 6 Lembar Instrumen Observasi Analisis Kebutuhan Guru dan Siswa 99 Lampiran 7 Instrumen Validasi RPP... 101

Lampiran 8 Instumen Validasi Uji Coba Produk ... 104

Lampiran 9 Hasil Validasi Perangkat Pembelajaran Inovatif Model PBL Pakar Pembelajaran Inovatif ... 105

Lampiran 10 Hasil Validasi Perangkat Pembelajaran Inovatif Model PBL Guru Kelas IIB SDN Kentungan ... 112

Lampiran 11 Hasil Validasi Perangkat Pembelajaran Inovatif model pembelajaran kooperatif tipe NHT Pakar Pembelajaran inovatif ... 119

Lampiran 12 Hasil Validasi Perangkat Pembelajaran Inovatif model pembelajaran kooperatif tipe NHT Guru Kelas IIB SDN Kentungan ... 126

Lampiran 13 Hasil Uji Coba Produk Model PBL Guru kelas IIB SDN Kentungan... 133

Lampiran 14 Hasil Uji Coba Produk Model PBL Mahasiswa PGSD 2015 ... 135

Lampiran 15 Hasil Uji Coba Produk Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Guru kelas IIB SDN Kentungan ... 137

Lampiran 16 Hasil Uji Coba Produk del Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Mahasiswa PGSD 2015 ... 139

Lampiran 17 Dokumentasi penelitian ... 141

Lampiran 18 Biodata Penulis ... 142

(18)

1 BAB I PENDAHULUAN

Bab I ini berisi mengenai enam hal yaitu latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan istilah, dan spesifikasi produk yang dikembangkan.

A. Latar Belakang Masalah

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 yang berkaitan dengan standar proses mengisyaratkan bahwa guru diharapkan dapat mengembangkan perencanaan pembelajaran, yang kemudian dipertegas melalui Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang standar proses, yang antara lain mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran yang mensyaratkan bagi pendidik pada satuan pendidikan untuk mengembangkan perencanaan pembelajaran. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun perangkat pembelajaran secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Untuk menciptakan peserta didik yang inovatif, kreatif, dan berwatak, kualitas pendidikan haruslah diperhatikan. Kualitas sebuah pendidikan harus sejalan dengan kebutuhan peserta didik dan perkembangan zaman.

(19)

peserta didik. Peraturan terakhir pada sistem pendidikan di Indonesia yaitu dengan ditetapkannya Kurikulum 2013, dengan adanya perubahan kurikulum ini diharapkan kualitas pendidikan di Indonesia dapat meningkat.

Sanjaya (2008: 106) menyatakan bahwa proses pembelajaran harus diarahkan supaya siswa mampu mengatasi masalah dan tantangan dalam kehidupan yang cepat berubah, dengan adanya Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) diharapkan guru dapat membuat proses pembelajaran yang tidak membosankan dan mengedepankan keaktifan peserta didik. Namun hingga saat ini, Kurikulum 2013 masih menjadi perdebatan di kalangan para guru. Masalah yang muncul terletak pada tingkat pemahaman guru yang masih kurang pada kurikulum 2013.

Pada implementasi kurikulum 2013 guru dituntut untuk cerdas dan kreatif dalam menyajikan RPP agar siswa lebih aktif dan dapat mengembangkan kreatifitasnya dalam melaksanakan pembelajaran, sedangkan guru sendiri tidak kreatif dalam mengembangkan RPP sehingga siswa tidak aktif dan cenderung bosan saat pembelajaran. Hal tersebut dikarenakan guru kurang memahami bahwa salah satu karakteristik Kurikulum 2013 yaitu menggunakan pembelajaran inovatif dan guru tidak menerapkannya dalam mengembangkan RPP. Tingkat pemahaman guru yang kurang tidak hanya terdapat pada Kurikulum 2013 saja, namun dapat juga dilihat pada pengetahuannya mengenai pembelajaran inovatif. Kegiatan pada Kurikulum 2013 bertujuan untuk membuat siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang mengacu pada Kurikulum 2013 harusnya tidak menitik beratkan pada aspek kognitif saja, tetapi juga meliputi aspek afektif dan psikomotorik. Guru juga harus menuntun siswa menuju berpikir tingkat tinggi (Pratowo, 2015:3).

(20)

mengobservasi guru kelas II di kedua SD tersebut, guru mengajarkan materi yang terdapat di buku tanpa ada kegiatan pembelajaran yang menarik dan kreatif. Ketika peneliti mewawancarai mengenai pembelajaran inovatif, beliau menyampaikan bahwa beliau belum sepenuhnya memahami pembelajaran inovatif untuk peserta didik kelas rendah. Guru hanya mengajar sesuai dengan pedoman buku tanpa mengerti caranya mengelola kelas yang efektif.

Hasil wawancara dan observasi yang peneliti lakukan menunjukkan bahwa, guru mengalami kesulitan-kesulitan dan kendala saat mengajar dikelas. Kesulitan yang telah dihadapi oleh guru yaitu tentang pembuatan perangkat pembelajaran inovatif, mendesain pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran inovatif dalam Kurikulum 2013. Berdasarkan kesulitan yang dihadapi oleh guru tersebut maka penelitian ini berguna untuk memenuhi kebutuhan guru yaitu tentang mendesain pembelajaran inovatif dalam Kurikulum 2013.

Peneliti mencoba memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan cara membuat contoh perangkat pembelajaran inovatif Model Problem Based Learning (PBL) dan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) sub tema Bermain di Lingkungan Rumah untuk

kelas II mengacu kurikulum 2013. Pentingnya perangkat pembelajaran inovatif dengan menggunakan Model Problem Based Learning (PBL) dan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) dalam sub tema Bermain di Lingkungan Rumah yaitu untuk memberikan kesempatan siswa untuk mengalami atau melakukan sendiri agar siswa dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran dan dapat menyelesaikan permasalahan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Pengembangan contoh perangkat pembelajaran inovatif ini diharapkan mampu membantu guru untuk mendapatkan gambaran dalam melakukan pembelajaran inovatif dikelas.

(21)

guna untuk meningkatkan hasil belajar siswa salah satunya melalui keterampilan proses. Apabila biasanya aktivitas kelas berdominasi kepada guru, maka perlu diubah menjadi berdominasi oleh aktivitas siswa. Peneliti melakukan tindak lanjut untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan melakukan pengembangan terhadap perangkat pembelajaran inovatif dalam sub tema Bermain Di Lingkungan Rumah mengacu kurikulum 2013 untuk siswa kelas II Sekolah Dasar.

Salah satu karakteristik yang harus muncul dari penerapan model pembelajaran inovatif dalam Kurikulum 2013 yaitu dengan penggunaan pembelajaran tematik-terpadu. Dapat dijelaskan bahwa pembelajaran terpadu itu mempunyai beberapa karakteristik diantaranya: (1) Berpusat pada anak, (2) Memberi pengalaman langsung, (3) Fleksibel, (4) Penyajian berbagai konsep mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran, (5) Pemisahan mata pelajaran yang tidak terlihat, (6) Hasil belajar dapat berkembang sesuai minat dan kebutuhan anak karena pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik peserta didik (Kurniawan, 2014 : 92).

(22)

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana kualitas perangkat pembelajaran inovatif dalam sub tema Bermain di Lingkungan Rumah mengacu kurikulum 2013 untuk siswa kelas II Sekolah Dasar?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui kualitas perangkat pembelajaran inovatif dalam sub tema Bermain di Lingkungan Rumah mengacu kurikulum 2013 untuk siswa kelas II Sekolah Dasar.

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti

Peneliti memperoleh wawasan dan pengalaman baru dalam mengembangkan perangkat pembelajaran inovatif dalam sub tema Bermain di Lingkungan Rumah untuk siswa kelas II Sekolah Dasar.

2. Bagi guru

Guru mendapatkan perangkat pembelajaran inovatif dalam sub tema Bermain di Lingkungan Rumah mengacu kurikulum 2013 untuk siswa kelas II yang nantinya dapat digunakan saat melaksanakan pembelajaran di kelas. 3. Bagi sekolah

Sekolah mendapatkan referensi dan pengetahuan dalam mengembangkan rencana pembelajaran inovatif yang mengacu kurukulum 2013.

4. Bagi Prodi PGSD

(23)

E. Batasan Istilah

1. Pembelajaran Inovatif adalah pembelajaran yang dirancang oleh guru, yang sifatnya baru, tidak seperti yang dilakukan biasanya, dan bertujuan untuk memfasilitasi siswa dalam membangun pengetahuan sendiri dalam rangka proses perubahan perilaku ke arah yang lebih baik sesuai dengan potensi dan perbedaan yang dimiliki oleh siswa.

2. Perangkat pembelajaran inovatif adalah perangkat yang digunakan untuk mendukung proses pembelajaran. Salah satu perangkat yang mendukug proses pembelajaran yaitu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sudah disusun secara sistematis. Perangkat pembelajaran RPP yang berisi kompetensi inti, kompetensi dasar, tujuan pembelajaran, indikator, materi pembelajaran, satuan pendidikan, kalas/semester, tema/subtema, pertemuan ke-, alokasi waktu, pendekatan, metode, kegiatan pembelajaran, LKS, sumber belajar, teknik penilaian, instrumen penilaian, dan refleksi.

3. Kurikulum SD 2013 adalah kurikulum yang pembelajarannya dilakukan secara tematik-terpadu dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

4. Model Problem Based Learning (PBL) merupakan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan dan konsep yang esensial dari materi pembelajaran.

(24)

F. Spesifikasi Produk yang Dikembangkan

Spesifikasi produk yang dikembangkan dalam penelitian dan pengembangan ini adalah:

1. Cover

Cover depan produk terdiri dari judul pengembangan perangkat pembelajaran inovatif yaitu pengembangan perangkat pembelajaran inovatif dalam sub tema Bermain di Lingkungan Rumah Mengacu kurikulum 2013 untuk siswa kelas II Sekolah dasar; nama penulis, logo universitas, keterangan yang berisi Program Studi yaitu Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan yaitu Ilmu Pendidikan, Fakultas yaitu Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas yaitu Sanata Dharma Yogyakarta. Cover belakang berisi sinopsis dan biodata singkat penulis.

2. Ukuran kertas

Produk dicetak dalam ukuran kertas A4 dengan berat 70 gram sedangkan sampul dicetak dengan kertas ivory 230 supaya terlihat kokoh.

3. Format tulisan

Produk ditulis menggunakan Theme font “Times New Roman” dengan spasi 1,5 supaya setiap bagian dalam RPP terlihat jelas.

4. Kata pengantar

Kata pengantar terdiri dari ucapan syukur kepada Tuhan Yang MahaEsa, penjelasan kerangka berpikir seputar pembelajaran inovatif; ucapan terimakasih kepada pihak yang membantu dan terlibat dalam penyusun produk, dan kesediaan penulis dalam menerima kritik dan saran terkait dengan produk yang dikembangkan.

5. Daftar isi

Daftar isi terdiri dari garis besar isi buku beserta nomor halaman.

(25)

7. Perangkat pembelajaran program tahunan untuk kelas II SD semester gasal dan genap.

Program Tahunan adalah rencana umum pelaksanaan pembelajaran muatan pelajaran berisi antara lain rencana penetapan alokasi waktu satu tahun pembelajaran. Program tahunan dibuat sesuai dengan kalender pendidikan dari tahun 2018/2019. Komponen-komponen dalam menyusun Program Tahunan: Identitas (antara lain muatan pelajaran, kelas, tahun pelajaran) dan Format isian (antara lain tema, subtema, dan alokasi waktu). 8. Perangkat pembelajaran program semester untuk kelas II SD semester gasal.

Program Semester merupakan penjabaran dari program tahunan sehingga program tersebut tidak bisa disusun sebelum tersusun program tahunan. Program semester dilihat melalui kalender pendidikan dari semester gasal tahun 2018/2019. Program Semester berisikan garis-garis besar mengenai hal-hal yang hendak dilaksanakan dan dicapai dalam semester tersebut. 9. Perangkat pembelajaran silabus untuk kelas II SD semester gasal tahun

2018/2019.

Silabus merupakan salah satu produk pengembangan kurikulum berisikan garis-garis besar materi pelajaran, kegiatan pembelajaran dan rancangan penilaian. Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu atau kelompok mata pelajaran/ tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar.

10. Komponen perangkat pembelajaran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

(26)

11. Mengandung karakteristik Kurikulum SD 2013

Karakteristik pembelajaran terpadu memuat unsur keterpaduan antara mata pelajaran yang akan diajarkan, saintifik yang dikembangakn adalah 5 M yaitu: mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengkomunikasikan yang akan diaplikasikan di dalam kegiatan inti. Kemudian adanya penilaian otentik yaitu penilaian proses dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Kurikulum 2013 terdapat pendidikan karakter pada siswa dan kemamouan berpikir tinggi yaitu menerapkan taksonomi bloom mulai dari C4 sampai C6. 12. Mengembangkan keterampilan dasar abad 21

Mengembangakan empat keterampilan 4C yaitu berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), kerjasama (collaborative), dan

komunikasi (communicative).

13. Sesuai dengan karakteristik pembelajaran inovatif

Karakteristik pembelajaran inovatif yaitu: (1) Pembelajaran,bukan pengajaran; (2) Guru sebagai fasilitator bukan instrastuktur; (3) Siswa sebagai subjek, bukan objek; (4) Multimedia bukan monomedia; (5) Sentuhan manusiawi bukan hewani; (6) Pembelajaran induktif, bukan deduktif; (7) Materi bermakna bagi siswa bukan sekedar dihafalkan; (8) Keterlibatan siswa partisipatif, bukan pasif. Model pembelajaran yang telah dikembangkan dalam membuat perangkat pembelajaran inovatif yaitu; Model Problem Based Learning (PBL) dan Model Pembelajaran kooperatif tipe Numbered

Head Together (NHT). Adanya dua model yang dikembangkan tersebut tiga

RPP menggunakan model pembelajaran kooperatif dan tiga RPP menggunakan model pembelajaran berbasis masalah.

14. Soal Penilaian Post Test mengacu pada panduan penilaian untuk Sekolah Dasar. Terdapat enam soal penilaian Post Test untuk setiap satu subtema yang diberikan pada akhir pembelajaran.

15. Menggunakan Panduan Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)

(27)

10 BAB II

LANDASAN TEORI

Bab II ini akan menguraikan empat bagian yaitu kajian pustaka, penilaian yang relevan, kerangka berpikir dan pertanyaan penelitian. Kajian pustaka membahas tentang beberapa topik yang berkaitan dengan penelitian. Penelitian yang relevan membahas tentang hasil penelitian-penelitian yang berkaitan dan mempunyai relevansi dengan variabel penelitian yang akan peneliti lakukan. Kerangka berpikir membahas tentang rumusan konsep yang didapat dari hasil kajian teori. Bagian terakhir pada bab II ini adalah pertanyaan penelitian.

A. Kajian Pustaka

1. Kurikulum SD 2013

a. Pengertian Kurikulum SD 2013

Daryanto (2014: 1) menyatakan secara konseptual kurikulum ialah suatu respon pendidikan terhadap kebutuhan masyarakat dan bangsa dalam membangun generasi masa depan. Kurikulum secara pedagogis merupakan rancangan pendidikan yang memberi kesempatan untuk peserta didik mengembangkan potensi dirinya dalam suatu suasana belajar yang menyenangkan dan sesuai dengan kemampuan supaya memiliki kualitas yang diinginkan oleh masyarakat sekitarnya. Secara yudiris, kurikulum merupakan suatu kebijakan publik yang didasarkan kepada dasar filosofi bangsa dan keputusan yudiris di bidang pendidikan. Fadlillah (2014: 16) menjelaskan bahwa kurikulum 2013 adalah sebuah kurikulum yang dikembangkan untuk meningkatkan dan menyeimbangkan kemampuan soft skills dan hard skills yang berupa sikap, keterampilan, dan pengetahuan.

(28)

b. Karakteristik Kurikulum SD 2013

Sesuai dengan pengertiannya, Kurikulum SD 2013 memiliki karakteristik sebagai berikut:

1) Pembelajaran Terpadu

Daryanto (2014: 42) menjelaskan bahwa pembelajaran terpadu merupakan suatu model pembelajaran yang mencoba memadukan beberapa pokok bahasan atau bidang studi atau berbagai materi dalam satu sajian pembelajaran keterangan seperti ini disebut juga dengan kurikulum atau pengajaran lintas bidang studi. Senada dengan penjelasan Daryanto, Prastowo (2015: 45) memaparkan bahwa pembelajaran tematik adalah saah satu model dalam pembelajaran terpadu (integrated instruction) yang merupakan sistem pembelajaran yang memungkinkan

siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan secara holistis, bermakna, dan autentik.

2) Pendekatan Saintifik

(29)

merupakan aktivitasdalam mengembangkan keterampilan berpikir untuk mengembangkan rasa ingin tahu siswa.

Berdasarkan teori diatas, peneliti menyimpulkan bahwa pendekatan saintifik adalah pendekatan dimana pembelajarannya menngunakan proses ilmiah untuk memperoleh pengetahuan yang melalui proses mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan. 3) Pendidikan Karakter

Mulyasa (2013: 7) menyatakan pada kurikulum 2013 lebih menekankan pada pendidikan karakter terutama pada tingkat dasar sebagai pondasi bagi tingkat berikutnya. Melalui pengembangan pendidikan karakter di kurikulum 2013 diharapkan siswa dapat menjadi generasi yang bermartabat dan mempunyai nilai tambah. Oleh karena itu, implementasikan kurikulum 2013 ini harus benar-benar diimplementasikan karena dapat mengahasilkan generasi yang produktif, kreatif, inovatif, dan berkarakter. Pendidikan karakter dalam kurikulum 2013 memiliki tujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan. Hal ini dapat membentuk budi pekerti dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang sehingga dapat terwujud dalam perilaku sehari hari. Pendidikan karakter pada kurikulum 2013 ini tertuang pada Kompetensi Inti (KI) 1 mengenai sikap Ketuhanan dan Kompetensi Inti (KI) 2 mengenai sikap sosial. Pada implementasi kurikulum 2013 pendidikan karakter diharapkan mampu diintegrasikan pada pembelajaran disetiap bidang studi.

(30)

Kurikulum 2013 pendidikan tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan saja namun harus memberikan ilmu ilmiah agar peserta didik dapat berpikir logis, inovatif, konsisten, dan adaptif. Pendidikan juga dituntut mampu menanamkan nilai-nilai luhur untuk diterapkan peserta didik dikehidupan sehari-hari. Harapan dari karakteristik kurikulum 2013 ini peserta didik dapat memiliki kemampuan berpikir kritis, dapat memecahkan masalah, memiliki kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama, memiliki kemampuan menciptakan, belajar konstektual, dan memiliki kemampuan informasi dan literasi media. 5) Penilaian Otentik

Daryanto (2014: 113) mengemukakan penilaian otentik merupakan pengukuran yang bermakna atas hasil belajar peserta didik di ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Penilaian otentik dikatakan bermakna karena pada penilaian ini pendidik menerapkan kriteria yang berkaitan dengan kompetensi dasar yang telah dipilih. Fadillah (2014: 179) menyatakan bahwa penilaian otentik merupakan penilaian secara utuh, meliputi kesiapan peserta didik, proses, dan hasil belajar. Penilaian otentik dapat membantu guru dalam mengetahui pencapaian kompetensi peserta didik meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Berdasarkan penjelasan para ahli di atas, Kurikulum 2013 mengembangkan pendidikan karakter melalui aspek sikap spiritual dan sikap sosial yang pengajarannya tidak secara langsung.

2. Keterampilan Belajar Dasar Abad 21 a. Pilar Pendidikan

Pilar pendidikan merupakan soko guru pendidikan. UNESCO memberikan lima pilar pendidikan yang terdiri atas learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together, dan learning to be

believe in god . Tetapi untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, tidak

(31)

1) Belajar untuk mencari tahu (Learning to Know)

Belajar untuk mencari tahu terkait dengan cara mendapatkan pengetahuan melalui penggunaan media atau alat yang ada. Media bisa berupa buku, orang, internet, dan teknologi yang lainya. Implementasinya untuk mencari tahu tersebut di Indonesia sudah berjalan melalui proses belajar membaca, menghafal, dan mendengarkan, baik yang terjadi di dalam kelas maupun dalam kehidupan sehari-hari.

2) Belajar untuk mengerjakan (Learning to Do)

Belajar untuk melakukan atau berkarya, hal ini tidak terlepas dari belajar mengetahui karena perbuatan tidak terlepas dari ilmu pengetahuan. Belajar untuk melakukan atau berkarya merupakan upaya untuk senantiasa melakukan dan berlatih keterampilan untuk keprofesionalan dalam bekerja. Terkait dengan pembelajaran didalam kelas, maka belajar untuk mengerjakan ini sangat diperlukan latihan keterampilan bagaimana peserta didik dapat menggunakan pengetahuan tentang konsep atau prinsip mata pelajaran tertentu dalam mata pelajaran lainnya atau dalam kehidupannya sehari-hari. Dengan demikian peserta didik memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang dapat mempengaruhi kehidupannya dalam mennetukan pilihan kerja yang ada di masyarakat.

3) Belajar untuk menjadi diri sendiri (Learning to Be)

(32)

siapa dan apa pekerjaanya, tetapi yang penting adalah dia menjadi sosok yang pribadi memiliki keunggulan.

4) Belajar untuk bersosial (Learning to Live Together )

Belajar hidup bersama ini sangat penting, karena masyarakat yang beragam, baik dilihat dari latar belakang, suku, ras, agama, etnik, atau pendidikan. Pada pembelajaran, peserta didik harus memahami bahwa keberagaman tersebut bukan untuk dibeda-bedakan, akan tetapi dipahamkan bahwa keberagaman tersebut tergabung dalam suatu lingkungan masyarakat. Oleh karena itu saling membantu dan menghargai satu dengan yang lainya sangat diperlukan agar tercipta masyarakat yang tertib dan aman, sehingga setiap individu dapat belajar dan hidup dalam kebersamaan dan kedamaian.

5) Belajar untuk Memperkuat Keimanan, Ketaqwaan, dan Akhlak Mulia (Learning to believe in God)

Pilar yang ini hanya terdapat dalam secara tersirat dalam pendidikan di Indonesia sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas yang menyatakan bahwa salah satu tujuan pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Implementasi dari pilar tersebut diwujudkan secara langsung dalam mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, dan mata pelajaran PPKn, dan dalam mata pelajaran lain sebagai hasil pembelajaran tidak langsung melalui pencapaian KI-1 (Kompetensi Spiritual).

b. Kecakapan Belajar Abad 21

(33)

pendidikan Pancasila dan UUD 1945 yang berakar pada budaya bangsa yang mengedepankan karakter yang sangat diperlukan dalam menghadapi tantangan Abad 21. Pembelajaran Abad 21 merupakan pembelajaran yang mengintegrasikan kemampuan literasi, kecakapan pengetahuan, keterampilan dan sikap, serta penguasaan terhadap teknologi. Literasi menjadi bagian terpenting dalam sebuah proses pendidikan, peserta didik yang dapat melaksanakan kegiatan literasi dengan maksimal tentunya akan mendapatkan pengalaman belajar lebih dibanding dengan peserta didik lainnya.

Pendidikan Abad 21 merupakan pendidikan yang mengintegrasikan antara kecakapan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, serta penguasaan terhadap TIK. Kecakapan tersebut dapat dikembangkan melalui berbagai model pembelajaran berbasis aktivitas yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan materi pembelajaran. Kecakapan yang dibutuhkan di Abad 21 juga merupakan keterampilan berpikir lebih tinggi Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang sangat diperlukan dalam mempersiapkan

peserta didik dalam menghadapi tantangan global. Hosnan (2014: 87), Pada era abad 21 ini diharapkan peserta didik untuk memiliki kecakapan berpikir dan belajar. Kecakapan tersebut diantaranya adalah kecakapan pemecahan masalah (problem solving skill), kecakapan berpikir kritis (critical thingking skill), kolaborasi (collaboration skill), kecakapan

berkomunikasi (communication skill) dan kecakapan kreativitas (creativity and innovatipn skill).

1) Communication skill

(34)

2) Collaboration skill

Siswa menunjukkan kemampuannya dalam kerja sama kelompok dan kepemimpinan, beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggung jawab, bekerja secara produktif dengan yang lain, menempatkan empati pada tempatnya, menghormati perspektif berbeda. Siswa juga menjalankan tanggung jawab pribadi dan fleksibilitas secara pribadi, pada tempat belajar dan hubungan masyarakat, menempatkan dan mencapai standar dan tujuan yang tinggi untuk diri sendiri dan orang lain, memaklumi kerancuan.

3) Critical thingking and problem solving skill

Siswa berusaha untuk memberikan penalaran yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit, memahami interkoneksi antarsistem. Siswa juga menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk berusaha menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan mandiri, siswa juga memiliki kemampuan untuk menyusun dan mengungkapkan, menganalisis, dan menyelesaikan masalah.

4) Creativity and innovatipn skill

Model dan metode serta keterampilan yang akan digunakan dalam pembelajaran masa kini dituntut untuk lebih bersifat multimodel dan multimetode dan real world problem, sehingga model pembelajaran berbasis proyek lebih banyak dituntut. Proses pembelajaran lebih berpusat pada siswa serta meninggalkan perlakuan yang bersifat menyamakans emua siswa, tetapi lebih bersifat individual.

(35)

3. Perangkat Pembelajaran

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 2016 tentang tandar Nasional Pendidikan salah satu standar yang harus dikembangkan adalah standar proses. Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai kompetensi kelulusan. Standar proses meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran.

Trianto (2010: 96) menyatakan bahwa perangkat yang digunakan dalam proses pembelajaran disebut dengan perangkat pembelajaran. Perangkat pembelajaran yang diperlukan untuk mengelola proses pembelajaran berupa buku, silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), instrumen evaluasi, dan media yang digunakan dalam pembelajaran. a. Program Tahunan dan Semester

Program Tahunan (Prota) berdasarkan kurikulum 2013 merupakan program umum tematik terpadu untuk setiap kelas yang dikembangkan oleh guru. Program Tahunan tersebut sebagai rencana umum pelaksanaan pembelajaran muatan mata pelajaran setelah diketahui kepastian jumlah jam pelajaran efektif dalam satu tahun. Program tahunan perlu dipersiapkan dan dikembangkan oleh guru sebelum tahun pelajaran, karena merupakan pedoman bagi pengembangan program-program berikutnya, yakni Program Semester, Silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

(36)

b. Silabus

Silabus dalam pembelajaran adalah rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Silabus merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas, dan penilaian hasil belajar. Silabus berisikan komponen pokok yang dapat menjawab pertanyaan berikut: 1) Kompetensi yang akan ditanamkan kepada peserta didik melalui suatu

kegiatan pembelajaran;

2) kegiatan yang harus dilakukan untuk menanamkan / membentuk kompetensi tersebut;

3) upaya yang harus dilakukan untuk mengetahui bahwa kompetensi tersebut sudah dimiliki peserta didik.

Silabus bermanfaat sebagai pedoman sumber pokok dalam pengembangan pembelajaran lebih lanjut, mulai dari pembuatan rencana pembelajaran, pengelolaan kegiatan pembelajaran, dan pengembangan sistem penilaian. Dalam pengembangan Silabus, terdiri dari beberapa prinsip, di antaranya:

1) Ilmiah. Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

2) Relevan. Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.

(37)

4) Konsisten. Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian.

5) Memadai. Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.

6) Aktual dan Kontekstual. Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.

7) Fleksibel. Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.

8) Menyeluruh. Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).

c. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Permendikbud Nomor 22 (2016: 6) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih, RPP dilaksanakan unruk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD), RPP disusun berdasarkan KD atau subtema yang dilaksanakan sekali pertemuan atau lebih.

Trianto (2010: 108) menyatakan bahwa rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang berisi prosedur dan manajemen pembelajaran dalam mencapai satu kompetensi dasar yang telah ditetapkan menurut kompetensi inti. Murganayasa, Arini, dan Japa (2014: 46) mengemukakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya untuk mencapai Kompetensi Dasar (KD).

(38)

yang telah dibuat untuk mencapai Kompetensi Dasar (KD) yang telah ditetapkan.

Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 memaparkan bahwa dalam menyusun RPP harus memperhatikan beberapa komponen yang ada didalam RPP, komponen RPP terdiri dari:

1) Identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan; 2) Identitas mata pelajaran atau tema/subtema; 3) Kelas/ semester;

4) Materi pokok;

5) Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan utuk mencapai KD dan bebab belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai;

6) Tujuan pembelajaran dirumuskan berdasarkan KD dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur. Kata kerja operasional mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan;

7) Kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi;

8) Materi pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator ketercapaian kompetensi;

9) Metode pembelajaran, digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang akan dicapai;

10) Media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran;

11) Sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar, atau sumber lain yang relevan;

12) Langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti, dan penutup; dan

(39)

Majid (2014: 126-131), memaparkan komponen-komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebagai berikut:

1) Mencantumkan identitas

2) Mencantumkan tujuan pembelajaran

Tujuan pembelajaran dapat dirumuskan dengan mengacu pada rumusan yang terdapat dalam indikator. Tujuan pembelajaran mengandung unsur:

a) Audience (A)

Peserta didik yang menjadi subjek dari tujuan pembelajaran. b) Bahavior (B)

Kata kerja yang mendeskripsikan kemampuan peserta didik setelah mengikuti pembelajaran.

c) Condition (C)

Situasi pada saat tujuan pembelajaran telah diselesaikan. d) Degree (D)

Standar yang harus dicapai oleh peserta didik sehingga dapat dinyatakan telah tercapai tujuan pembelajaran.

3) Mencantumkan Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran merupakan materi yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

4) Mencantumkan Model/Metode Pembelajaran

Penetapan model/metode pembelajaran bergantung pada karakteristik pendekatan atau strategi yang dipilih serta bergantung pada jenis materi yang akan diajarkan kepada peserta didik.

5) Mancantunkan Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran 6) Mencantumkan Media/Alat/Bahan/Sumber Belajar 7) Mencantumkan Penilaian

(40)

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa komponen-komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) terdiri dari:

1) Identitas (Satuan pendidikan, kelas/semester, tema/subtema, mupel yang terkait, alokasi waktu, hari/tanggal);

2) kompetensi dasar;

3) indikator hasil belajar yang akan dicapai peserta didik yang diturunkan dari Kompetensi Dasar (KD);

4) tujuan pembelajaran yang disusun menggunakan kata kerja operasional dan mengandung unsur ABCD (Audience, Behavior, Condition, Degree).

5) langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup yang disertai alokasi waktu pada masing-masing kegiatan berdasarkan sintaks yang digunakan; 6) metode/model, alat/bahan, media dan sumber belajar;

7) penilaian (soal, teknik penilaian, dan intrumen penilaian). 4. Pembelajaran Inovatif

a. Pengertian Pembelajaran Inovatif

(41)

Pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang dirancang oleh guru, yang sifatnya baru, tidak seperti biasanya dilakukan, dan bertujuan untuk memfasilitasi siswa dalam membangun pengetahuan sendiri dalam rangka prosees perubahan perilaku ke arah yang lebih baik sesuai dengan potensi dan perbedaan yang dimiliki siswa. Tujuan dari pembelajaran inovatif yaitu memfasilitasi siswa dalam membangun pengetahuan sendiri dalam rangka proses perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.

b. Karakteristik Pembelajaran Inovatif

Suyatno (2009: 7) Paradigma pembelajaran inovatif diyakini mampu memfasilitasi siswa untuk mengembangkan kecakapan hidup dan siap terjun di masyarakat. Dengan begitu, pembelajaran inovatif ditandai dengan prinsip-prinsip berikut : (1) Pembelajaran,bukan pengajaran; (2) Guru sebagai fasilitator bukan instrastuktur; (3) Siswa sebagai subjek, bukan objek; (4) Multimedia bukan monomedia; (5) Sentuhan manusiawi bukan hewani; (6) Pembelajaran induktif, bukan deduktif; (7) Materi bermakna bagi siswa bukan sekedar dihafalkan; (8) Keterlibatan siswa partisipatif, bukan pasif. c. Keunggulan Pembelajaran Inovatif

Mulyasa (2016) menyatakan bahwa keunggulan dari pembelajaran inovatif adalah sebagai berikut :

1) Membangun pengalaman belajar peserta didik dengan berbagai keterampilan proses sehingga mendapatkan pengalaman, pemahaman, keterampilan, dan pengetahuan baru.

2) Menciptakan peserta didik yang aktif (melakukan pengalaman, melakukan penyelidikan, melakukan percobaan, mengidentifikasi, menganalisis, merefleksikan, dsb).

3) Menciptakan peserta didik yang kreatif (mencari hal-hal yang baru, melakukan percobaan, menuliskan kesimpulan, melaporkan hasil kreativitas).

(42)

5) Menciptakan pembelajaran yang menyenangkan (belajar sambil bermain, tidak merasa tertekan, lebih akrab dengan guru, belajar diluar kelas, belajar sambil menyanyi).

5. Model Problem Based Learning (PBL)

a. Pengertian Model Problem Based Learning (PBL)

Model Problem Based Learning (PBL) adalah model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik sehingga siswa dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuhkembangkan keterampilan yang lebih tinggi, memandirikan siswa dan meningkatkan kepercayaan diri sendiri (Arends, dalam Hosnan 2014: 295). Ibrahim (dalam Hosnan, 2014: 295) juga berpendapat, bahwa model Problem Based Learning meliputi pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan pada keterkaitan anrardisiplin, penyelidikan autentik, kerja sama dan menghasilkan karya serta peragaan. PBL tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya pada siswa. Pembelajaran berbasis masalah, antara lain bertujuan untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan pemecahan masalah. Menurut Nurhadi (2004): 109) model Problem Based Learning merupakan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilam pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa model Problem Based Learning merupakan sebuah model pembelajaran yang dapat

digunakan dalam kegiatan pembelajarannya menggunakan masalah dunia nyata untuk dipecahkan dengan berpikir kritis dan menggunakan kecerdasan pada suatu meta pelajaran.

b. Karakteristik Model Problem Based Learning (PBL)

(43)

mencari penyelesaian dari masalah nyata; (d) menghasilkan produk atau karya yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan.

Trianto (2009: 93) menjelaskan bahwa terdapat lima karakteristik model Problem Based Learning, yaitu: (a) adanya pengajuan pertanyaan atau masalah; (b) berfokus pada keterkaitan antar disiplin; (c) penyelidikan autentik; (d) menghasilkan produk atau karya dan mempresentasikannya; dan (e) kerja sama.

c. Tujuan Model Problem Based Learning (PBL)

Secara terperinci Ibrahim dan Nur (dalam Rusman, 2010: 242) menyebutkan tujuan dari model Problem Based Learning yaitu: (a) membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir dan memecahkan masalah; (b) belajar berbagai peran orang dewasa melalui keterlibatan mereka dalam pengalaman nyata dan; (c) menjadikan para siswa yang otonom atau dapat mandiri.

d. Kelebihan dan Kelemahan Model Problem Based Learning (PBL)

Model Problem Based Learning juga memiliki kelebihan dan kelemahan. Warsono dan Harianto (2012: 152) memaparkan kelebihan dari model Problem Based Learning sebagai berikut: (a) siswa akan terbiasa menghadapi

masalah (problem posing) dan tertantang untuk menyelesaikan berbagai masalah tidak hanya terkait dengan pembelajaran di kelas tetapi juga menghadapi masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari (real word); (b) memupuk solidaritas sosial dengan terbiasa berdiskusi dengan teman-teman; (c) semakin mengakrabkan guru dengan siswa; (d) membiasakan siswa melakukan eksperimen.

(44)

e. Langkah-Langkah Pelaksanaan Model Problem Based Learning

Langkah-langkah menggunakan model Problem Based Learning dalam pembelajaran menurut Ibrahim dan Nur (dalam Rusman, 2010: 243) adalah sebagai berikut:

1) Orientasi siswa pada masalah. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang diperlukan, dan memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah.

2) Mengorganisasi siswa untuk belajar. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.

3) Membimbing pengalaman individual/kelompok. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan ekperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.

4) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, dan membuat mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.

5) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses yang mereka lakukan.

(45)

Tahap Pembelajaran Perilaku Guru Tahap 1:

Mengorganisasikan siswa pada masalah

Guru menginformsdiksn tujusn-tujuan pembelajaran, mendeskripsikan kebutuhan-kebutuhan logistik penting, dan memotivasi siswa agar terlibat dalam kegiatan pemecahan masalah yang mereka pilih sendiri.

Tahap 2:

Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Guru membantu siswa menentukan dan mengatur tugas-tugas belajar yang

merencanakan dan menyiapkan hasil karya yang sesuai seperti laporan, rekaman vidio, dan model, serta membantu mereka

berbagi karya-karya yang telah mereka buat.

Tahap 5:

Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membantu siswa melakukan refleksi atas penyelidikan dan proses-proses yang merela gunakan.

Tabel 2.1 Tahapan Pembelajaran dengan Model Problem Based Learning

6. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) a. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head

Together (NHT)

(46)

Berdasarkan teori diatas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang melibatkan siswa dalam memahami suatu pembelajaran atau dapat mengukur pemahaman siswa dengan cara menggunakan nomor yang diberikan pada masing-masing anggota kelompok agar dapat mencapai suatu tujuan pembelajan.

b. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT)

Menurut Aris Shoimin (2014: 108-109) menjelaskan bahwa kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) antara lain:

Kelebihan:

1) Setiap murid menjadi siap;

2) Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh;

3) Murid yang pandai dapat mengajari murid yang kurang pandai; 4) Terjadi interaksi secara intens antar siswa dalam menjawab soal;

5) Tidak ada murid yang mendominasi dalam kelompok karena ada nomor yang membatasi.

Kekurangan:

1) Tidak terlalu cocok diterapkan dalam jumlah siswa banyak karena membutuhkan waktu yang lama;

2) Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru karena kemungkinan waktu yang sangat terbatas.

c. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT)

(47)

Langkah 1: Persiapan

Guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat rancangan program pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT).

Langkah 2: Pembentukan Kelompok

Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok, kemudian membagikan nomer kepada setiap siswa dalam kelompok.

Langkah 3: Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan Guru membagikan pertanyaan berupa Lembar Kerja Siswa (LKS) kepada setiap kelompok. Kemudian masing-masing kelompok diminta untuk mendiskusikan pertanyaan tersebut secara bersama-sama.

Langkah 4: Diskusi Masalah

Guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum.

Langkah 5: Memanggil nomor anggota dan pemberian jawaban

Guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.

Langkah 6: Pemberian Kesimpulan

(48)

B. Penelitian yang Relevan

Penelitian pengembangan perangkat pembelajaran inovatif yang mengacu Kurikulum 2013 untuk siswa kelas II Sekolah Dasar merupakan hal yang baru sehingga sedikit yang dapat digunakan sebagai sumber penelitain yang relevan. Berikut ini tiga penelitian yang relevan yang sesuai dengan penelitian pengembangan perangkat pembelajaran inovatif.

Penelitian yang pertama dilakukan oleh Mijahamuddin, Alwi (2013). Penelitian yang dilakukan adalah Research and Development (R&D) dengan

judul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Inovatif Berbasis Konstektual

pada Mata Pelajaran IPA Kelas V Sekolah Dasar”. Penelitian ini mengahasilkan produk perangkat pembelajaran inovatif berbasis kontekstual yang ditinjau dari komponen buku model, komponen buku guru, komponen buku siswa, komponen RPP, dan komponen LKS. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan Borg and Gall. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran inovatif berbasis konstektual yang dikembangkan oleh peneliti tergolong sangat baik dan layak digunakan dalam pembelajaran dikelas V. Hal ini ditunjukkan dari presentase rata-rata 93,83 % siswa senang terhadap pembelajaran berbasis kontekstual yang termasuk dalam kategori “baik”. Penelitian yang dilakukan Mijahamuddin, Alwi dinyatakan memiliki relevansi dengan penelitian yang dilakukan peneliti karena penelitian yang dilakukan adalah penelitian R & D untuk perangkat pembelajaran inovatif. Penelitian yang kedua adalah penelitian yang dilakukan oleh Maria Sriharyani (2012) yang berjudul “Peningkatan Minat dan Prestasi Belajar Menggunakan Model Cooperative Learning Tipe NHT Pada Pelajaran IPS

Siswa Kelas IV SD Kanisius Wirobrajan Semester Genap Tahun Ajaran

(49)

56,67%. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwapenggunaan model pembelajaran cooperative learning tipe NHT dapat meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa kelas IV SD Kanisius Wirobrajan tahun ajaran 2011/2012 dalam mata pelajaran IPS.

Penelitian yang ketiga adalah penelitian yang berjudul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Mengacu Kurikulum SD 2013 Pada Sub Tema Aku dan

Teman Baru untuk Siswa Kelas I Sekolah Dasar”. Penelitian ini dilakukan oleh

Metubun, Evi Anastasia (2015) dan penelitian ini menggunakan prosedur pengembangan Jerold E. Kemp dan prosedur penelitian pengembangan yang dikemukakan oleh Borg and Gall. Penelitian ini menghasilkan suatu produk berupa perangkat pembelajaran yang mengacu pada Kurikulum SD 2013 dan menggunakan pendekatan tematik integratif, pendekatan saintifik, pemdidikan karakter, serta penilaian otentik pada kegiatan pembelajaran. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran tersebut memperoleh rerata skor 4,24 dan termasuk dalam kategori “sangat baik”. Penelitian ini memiliki relevansi dengan penelitian yang dilakukan peneliti karena penelitian ini memfokuskan penelitian pada perangkat pembelajaran sub tema aku dan teman baru mengacu kurikulum SD 2013 untuk siswa Sekolah Dasar.

Berdasarkan ketiga penelitian diatas, dapat diketahui bahwa penelitian-penelitian yang dilakukan tersebut berfokus pada perangkat pembelajaran yang mengacu Kurikulum 2013 untuk siswa Sekolah Dasar dan peneliti beranggapan bahwa pentingnya perangkat pembalajaran untuk menjunjung keberhasilan dalam penerapan pembelajaran inovatif di kelas II khususnya Pendekatan Problem Based Learning (PBL) dan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT). Oleh karena itu peneliti akan membuat penelitian yang berjudul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Inovatif Dalam Sub Tema Bermain di Lingkungan Rumah Mengacu Kurikulum 2013

(50)

Gambar 2.1 Literatur Map Penelitian Yang Relevan

Tri Mardanila Novitasari (2019) melakukan penelitian dengan judul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Inovatif dalam

(51)

C. Kerangka Berpikir

Pengembangan pelaksanaan pembelajaran inovatif di Sekolah Dasar yaitu dengan adanya tuntutan kreatifitas dan inovatif guru dalam mengembangkan perangkat pembelajaran. Peneliti masih melihat guru Sekolah Dasar belum menguasai perbagai pembelajaran-pembelajaran inovatif, khususnya model Problem Based Learning (PBL) dan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe

Numbered Head Together (NHT). Peneliti juga menemukan permasalahan

bahwa guru hanya mengajar dan mengacu pada langkah-langkah yang terdapat di buku guru. Guru belum sepenuhnya mengembangkan langkah-langkah pembelajaran sendiri saat merancang perangkat pembelajaran inovatif. Setelah peneliti melakukan wawancara dengan guru kelas II Sekolah Dasar yang sudah menerapkan Kurikulum 2013, kenyataannya guru masih sangat membutuhkan contoh perangkat pembelajaran inovatif.

(52)

Gambar 2.2 Bagan kerangka berpikir pada penelitian ini.

D. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan uraian teori diatas, maka dapat dirumuskan beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. a. Bagaimana kualitas perangkat pembelajaran inovatif dalam Sub Tema Bermain di Lingkungan Rumah Mengacu Kurikulum 2013 untuk Siswa Kelas II Sekolah Dasar menurut pakar Kurikulum 2013?

b. Bagaimana kualitas perangkat pembelajaran inovatif dalam Sub Tema Bermain di Lingkungan Rumah Mengacu Kurikulum 2013 untuk Siswa Kelas II Sekolah Dasar menurut guru SD berdasarkan hasil uji coba terbatas?

Kurikulum 2013

Pembelajaran di SD menggunakan pembelajaran Inovatif

Perangkat pembelajaran inovatif Program Tahunan (Prota), Program Semester (Prsem), Silabus, dan RPP dengan menggunakan model Problem Based Learning (PBL) dan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT).

Guru masih sangat membutuhkan contoh perangkat pembelajaran inovatif yang baik mengacu Kurikulum SD 2013.

Peneliti mengembangkan perangkat pembelajaran inovatif sub tema Bermain di Lingkungan Rumah mengacu Kurikulum 2013 untuk

(53)

36 BAB III

METODE PENELITIAN

Bab III akan membahas mengenai jenis penelitian, prosedur pengembangan, setting penelitian, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data,

dan jadwal pelaksanaan penelitian. A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian R & D (Research and Development) atau penelitian pengembangan. Penelitian (R & D) adalah sebuah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut (Sugiyono, 2012: 297). Senada dengan pendapat diatas, (Sukmadinata, 2011: 164) mengemukakan bahwa penelitian R & D adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggungjawabkan. Peneliti memilih jenis penelitian ini karena peneliti akan mengembangkan produk berupa perangkat pembelajaran inovatif dalam sub tema Bermain di Lingkungan Rumah Kelas II yang mengacu kurikulum 2013 pada jenjang Sekolah Dasar. Jenis penelitian R&D atau penelitian pengembangan bertujuan menghasilkan suatu produk yang handal melalui tahap-tahap pengujian dan revisi, produk yang dihasilkan sesuai kebutuhan lapangan, sesuai dengan analisis kebutuhan, proses pengembangan produk dilakukan secara ilmiah dan menganalisis produk secara emperis.

(54)

B. Prosedur Pengembangan

Prosedur pengembangan produk yang digunakan dalam penelitian Research and Development (R & D) ini adalah menggunakan langkah-langkah pengembangan Borg and Gall . Menurut Borg and Gall dalam Sugiono (2013: 407), penelitian R & D terdiri dari 10 langkah utama, yaitu:

Gambar 3.1 Prosedur Pengembangan Produk dari Borg and Gall Berdasarkan gambar 3.1 di atas, penelitian pengembangan dimulai dari adanya potensi masalah yang terjadi di lapangan berupa data-data yang telah peneliti temukan secara langsung atau dokumentasi. Data-data yang telah diperoleh dikumpulkan sebagai bahan perencanaan pembuatan produk pengembangan. Berdasarkan data-data yang telah terkumpul, produk lalu didesain dalam bentuk perangkat pembelajaran inovatif. Produk yang sudah didesain kemudian divalidasi oleh pakar ahli yang sudah berpengalaman dalam menilai suatu produk untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan dari produk yang sudah dibuat (Sugiyono, 2012: 302). Setelah melakukan validasi produk, maka akan diketahui kelemahan produk yang telah dibuat. Kelemahan produk dijadikan dasar untuk memperbaiki desain produk dan selanjutnya produk dapat diuji cobakan secara masal.

Figur

Gambar 3.2   Langkah-langkah Pengembangan Produk  .......................................
Gambar 3 2 Langkah langkah Pengembangan Produk . View in document p.16
Tabel 2.1 Tahapan Pembelajaran dengan Model Problem Based
Tabel 2 1 Tahapan Pembelajaran dengan Model Problem Based . View in document p.45
Gambar 2.2 Bagan kerangka berpikir pada penelitian ini.
Gambar 2 2 Bagan kerangka berpikir pada penelitian ini . View in document p.52
Gambar 3.1 Prosedur Pengembangan Produk dari Borg and Gall
Gambar 3 1 Prosedur Pengembangan Produk dari Borg and Gall . View in document p.54
Gambar 3.2 Langkah-langkah Pengembangan Produk
Gambar 3 2 Langkah langkah Pengembangan Produk . View in document p.55
Tabel 3.1 Daftar Pertanyaan Wawancara Analisis Kebutuhan.
Tabel 3 1 Daftar Pertanyaan Wawancara Analisis Kebutuhan . View in document p.59
Tabel 3.2 Pedoman Instrumen Observasi Guru
Tabel 3 2 Pedoman Instrumen Observasi Guru . View in document p.61
Tabel 3.4 Pedoman Validasi Uji Validasi Pakar dan Guru.
Tabel 3 4 Pedoman Validasi Uji Validasi Pakar dan Guru . View in document p.64
Tabel 3.5 Konversi Data Kuantitatif ke Data Kualitatif Skala Lima
Tabel 3 5 Konversi Data Kuantitatif ke Data Kualitatif Skala Lima . View in document p.65
Tabel 3.6 Kriteria Skor Skala Lima
Tabel 3 6 Kriteria Skor Skala Lima . View in document p.67
Tabel 3.7 Jadwal Pelaksanaan Penelitian
Tabel 3 7 Jadwal Pelaksanaan Penelitian . View in document p.68
gambar ilustrasi, kegiatan
gambar ilustrasi, kegiatan . View in document p.82
gambar dan
gambar dan . View in document p.84
Tabel 4.3 Komentar dan Saran Guru Kelas IIB Sekolah Dasar
Tabel 4 3 Komentar dan Saran Guru Kelas IIB Sekolah Dasar . View in document p.89
Tabel 4.4 Komentar dan Saran Mahasiswa PGSD 2015
Tabel 4 4 Komentar dan Saran Mahasiswa PGSD 2015 . View in document p.90
tabel sebagai berikut:
tabel sebagai berikut: . View in document p.93

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (160 Halaman)