• Tidak ada hasil yang ditemukan

Elemen-Elemen Hunian

Dalam dokumen arsitektur - perumahan (Halaman 170-176)

Sebagai Solusi Perumahan Rakyat

10.2. Elemen-Elemen Hunian

[150]

Pada komponen arsitektur perumahan, yang menjadi fokus telaah adalah proses pemaknaan ruang oleh penghuni, yang nantinya berimplikasi pada modifikasi disain, untuk memenuhi kebutuhan aktifitas dalam sebuah hunian, sesuai dengan persepsi yang dibawa dari pengalaman tinggal sebelumnya.

Isu Pemaknaan Ruang

Proses pemaknaan ruang oleh individu maupun keluarga atau masyarakat, terhadap sebuah hunian, merupakan sebuah peristiwa sosial yang berlangsung secara almiah. Di situ seseorang akan selalu mempertahankan atau membentuk ruang individu, sampai dengan ruang sosial dalam sebuah kelompok. Mulai pada tingkat keluarga, sampai dengan pada tingkat komunitas. Pembentukan komunitas tersebut dilakukan melalui penentuan wilayah, yang disampaikan melalui pembentukan teritorialitas, yang berupa batas fisik maupun batas psikologis.

Pada tingkat keluarga dalam satu unit hunian, terjadi pula pembentukan batas- batas ruang. Sebagai perwujudan pemaknaan ruang individu, yang memiliki sifat private. Dan ruang komunitas, yang memiliki sifat public. Hal tersebut merupakan sebuah tuntutan dari sebuah kehidupan manusia, yang merupakan unsur sebuah keluarga.

Namun bagaimana upaya-upaya tersebut terwujud, ketika sebuah unit hunian memiliki keterbatasan luas ruang, dalam menampung aktifitas keluarga?.

Bagaimana keberadaan ruang dalam sebuah blok, dan satuan unit rumah susun, dimaknai oleh penghuni menjadi ruang-ruang minimal yang tetap dapat memenuhi kebutuhan dasar akan ruang?. Apakah upaya-upaya tersebut dapat menghasilkan elemen ruang arsitektur sebagaimana seharusnya? Lalu bila tidak, tentunya terdapat elemen arsitektur yang hilang dalam sebuah hunian di Rusunami?

Unit hunian tetap dimaknai oleh penghuni secara simbolis dan membangun persepsi pada tingkat individu, maupun kelompok masyarakat. Hal tersebut akan membangun kebiasaan baru penghuni rumah susun. Tentunya sebagai konsekuensi dari dinamika pemaknaan ruang, yang dipengaruhi oleh pengetahuan tentang tempat tinggal sebelumnya (environmental cognition dan environmental perception). Kemudian dikondisikan pada disain rumah susun itu sendiri. Proses selanjutnya adalah interaksi antara manusia dengan bangunan sebagai bentuk penyatuan lingkungan spasial hunian baru.

Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan hidup, oleh John S Nimpoeno (1992) didefinisikan sebagai “life space” yang memperlihatkan bagian-bagian sebagai sistem, yaitu; “sistem lingkungan hidup, sebagai sistem biofisik atau sistem ekologik; sistem sosial, yaitu keseluruhan tata kehidupan masyarakat termasuk hubungan-hubungan eksternal dan internal; sistem konsep, ataupun orientasi budaya berikut kondisi rasionalitas yang ada pada masyarakat di suatu wilayah, sebagai unsur-unsur imperatif maupun normatif yang sudah berlaku turun temurun”. Selajutnya ketiga sistem tersebut terjalin saling ketergantungan yang membentuk jalur adaptasi, pengembangan dan integratif.

Sedangkan Soekanto (1982) membedakan lingkungan hidup berdasarkan kategori-kategori yang meliputi tiga bagian yaitu; “lingkungan fisik, yaitu semua benda mati yang berada di sekeliling manusia; lingkungan biologis, yaitu segala sesuatu di sekeliling manusia yang berupa organisme yang hidup di luar manusia itu sendiri; dan lingkungan sosial yang terdiri dari orang- orang baik individu maupun kelompok sosial yang berada di sekitar manusia”.

Terjadi proses interaksi antara manusia dengan lingkungan, yang merupakan rangsangan pada manusia, guna melakukan proses adaptasi terhadap lingkungannya dan lingkungan memiliki kemampuan untuk melakukan akomodasi terhadap perubahan alam.

Adaptasi menurut Soekamto (1982), adalah suatu proses ketika mahluk-mahluk hidup menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekitar, agar dapat tetap mempertahankan diri. Sedangkan akomodasi, adalah suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa harus menghancurkan pihak lawan, sehingga lawan tidak kehilangan kepribadiannya. Akomodasi juga merujuk pada suatu keadaan untuk mencapai keseimbangan kembali.

Elemen-elemen arsitektur perumahan terdiri dari bentuk, fungsi dan makna.

Elemen bentuk diterjemahkan dalam tata lingkungan, dan tata bangunan, termasuk di dalamnya tata ruang unit satuan rumah tinggal di dalam rumah susun. Sedangkan elemen fungsi seperti diuraikan dalam Undang-undang perumahan dan permukiman, bahwa “rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga, sedangkan perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana lingkungan”.

Selanjutnya permukiman memiliki fungsi bagian dari lingkungan hidup, di luar kawasan lindung. Baik yang berupa kawasan perkotaan, maupun perdesaan. Yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal, atau lingkungan hunian, dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.

Dengan demikian, ketiga komponen lingkungan tempat tinggal manusia tersebut, tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Mulai dari rumah,

[152]

perumahan, sampai dengan permukiman. Sedangkan ketiga komponen tempat tinggal manusia tersebut, tidak terlepas dari makna. Makna dalam hal ini tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai yang dianut oleh seorang individu, ataupun sebuah komunitas. Sebagai bentuk pemahaman terhadap lingkungannya (environmental cognition). Yang juga tidak terlepas dari aspek sosial budaya.

Sebuah bentukan arsitektur perumahan akan memberikan makna yang baik, ketika bentukan perumahan tersebut memiliki tingkat kecocokan (unsuitable) dengan nilai-nilai yang dikandung. Kualitas lingkungan yang dapat diterima sebagai suatu kebaikan dan kebenaran tersebut, pada akhirnya akan dituangkan dalam bentuk sebuah norma. Dalam bentuk peraturan tertulis maupun tidak tertulis. Peraturan tertulis, di dalamnya termasuk peraturan teknis maupun peraturan non teknis (kelembagaan, keuangan, dsb).

Quality of life

Tercapainya kondisi masyarakat yang sejahtera, sejalan dengan tujuan nasional bangsa Indonesia dituangkan dalam undang-undang dasar. Kesejahteraan sosial adalah tercapainya sebuah kondisi kualitas hidup individu, kelompok dan masyarakat dalam kondisi baik, menurut UU No. 6/1974, tentang ketentuan- ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial “suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial, material maupun spiritual yang diliputi rasa keselamatan, kesusilaan, dan ketentraman lahir dan batin, yang memungkinkan setiap warga negara untuk mengadakan usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmani, rohaniah dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri, keluarga serta masyarakat dengan menjunjung tinggi hak-hak atau kewajiban manusia sesuai dengan Pancasila”.

Menurut Lessy yang dikutip oleh Suisyanto (2007), kesejahteraan sosial diartikan sebagai kondisi sejahtera. Yaitu suatu keadaan terpenuhinya segala bentuk kebutuhan hidup, khususnya yang bersifat mendasar. Seperti makanan, pakaian, perumahan, pendidikan, dan perawatan kesehatan. Hal-hal tersebut digunakan sebagai indikator keberhasilan sebuah disain rumah tinggal, dalam memenuhi tingkat kualitas hidup yang lebih baik, di dalam sebuah hunian.

Hubungan rumah dengan penghuninya memiliki kekuatan simbolis, yang diwujudkan ke dalam susunan elemen-elemen ruang bangunan. Standar kualitas kehidupan mengacu pada tingkat pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Yang meliputi kebutuhan psikologis dalam bentuk sandang, pangan dan papan.

Tingkat kebutuhan setiap manusia berbeda, seperti diuraikan oleh Abraham Maslow (id.wikipedia.org). Dia percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya tentang Hierarchy of Needs, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki hirarki, yang meliputi : Kebutuhan fisiologis/ dasar; Kebutuhan akan rasa aman dan tentram;

Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi; Kebutuhan untuk dihargai; dan Kebutuhan untuk aktualisasi diri.

Melalui telaah fungsi hunian, maka dari kelima hirarki tersebut, dua urutan pertama sangat erat kaitannya dengan pembentukan aspek mendasar dari fisik hunian. Yaitu menyangkut pemenuhan kebutuhan fisiologis dan rasa aman/tentram. Secara fisiologis kebutuhan yang harus dipenuhi meliputi;

ketersediaan air, makanan, pakaian, dan selter (perlindungan) sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan tidur, istirahat, biologis, dsb. Sedangkan kebutuhan akan rasa aman dan tentram juga didapat dari rumah dan lingkungannya, rasa aman dari ancanam yang datang dari lingkungan luar maupun dalam rumah.

Menurut Oscar Newman (1978) menguraikan keselamatan tersebut melalui teori defensible space, yaitu “defensible space is surrogate term for the range of mechanisms – real and symbolic barriers, strongly defined area of influence, and improved opportunities for surveillance – that combine to bring an environment under the control of its residents. A defensible space is living residential environment which can be employed by its inhabitants for the enhancement of their lives while providing security for their families, neighbors and friends”.

Selanjutnya menurut Newman, untuk menghasilkan defensible space, diperlukan kejelasan hirarkis dari teritorial. Yang menyangkut ruang-ruang publik, semi-publik, semi-privat dan privat. Sejalan dengan itu, Maslow menggarisbawahi bahwa security adalah kebutuhan yang sangat mendesak.

Walaupun pada tingkat kebijakan nasional saat ini security tersebut juga dikaitkan dengan aspek teknis (seperti keamanan terhadap ancaman bencana khususnya gempa), namun kebutuhan akan rasa aman, juga harus diterjemahkan terhadap rasa aman dari ancaman kejahatan dan vandalisme, yang berasal dari manusia.

Dengan demikian, kualitas hidup yang berkaitan dengan lingkungan dan bangunan, berimplikasi terhadap manusia secara normatif. Segala ukuran sangat ditentukan oleh norma-norma yang diatur dan disepakati dalam bentuk kebijakan teknis.

Namun demikian, secara konseptual, rumah merupakan simbol privacy penghuni, sebagaimana hal tersebut dikemukakan oleh Madanipour (2003)

Home is the spatial unit that combines a number of traits of private sphere,

…. . it provide personal space, a territory, a place for being protected from the natural elements, ….. it provide a small group with territory, which has historically been essential for the reproduction of the species, to accommodate biological life processes, as well as a place which is meaningful and satisfying to the psychological needs of individuals”.

[154]

Rumah merupakan sebuah tempat yang memberikan nilai-nilai sosial, serta memberikan makna kuat terhadap individu penghuni. Rumah sebagai sebuah unit yang memberikan nilai privacy terhadap keluarga dan individu. Privacy merupakan sebuah kebutuhan dasar dari setiap manusia.

Kualitas kehidupan tercapai ketika seseorang atau keluarga dapat memenuhi kebutuhan psikologis dan rasa aman dari rumahnya. Kondisi tersebut tercapai ketika tingkat privacy dari sebuah rumah tercapai. Tingkat ke-privacy-an sebuah rumah sangat tergantung pada kemampuan proteksi tempat tersebut terhadap keadaan crowding dari lingkungan dimana tempat tersebut terletak.

Melalui telaah sejarah, perumahan pada abad pertengahan di Jazirah Eropa.

Rumah pada saat itu, memiliki konsep sebagai wadah sosial dari sebuah komunitas yang sangat besar. Di situ tidak terdapat batasan yang kuat antara tempat kerja, dengan kehidupan private pemiliknya. Bekerja dan tinggal dalam rumah, tanpa pembagian ruang yang jelas. Yaitu tinggal dalam sebuah ruang besar, dengan sedikit perabotan, yang menampung seluruh aktifitas keluarga, termasuk aktifitas kerja.

Pada saat itu juga rumah menjadi sebuah public space menurut Madanipour (2003). Sampai akhirnya terjadi tuntutan perubahan konsep rumah. Hal itu disebabkan oleh adanya perubahan sikap dari anak-anak pada masa tersebut.

Ketika keberadaan anak-anak bercampur dengan orang dewasa, mengakibatkan anak-anak lebih cepat dewasa sebelum waktunya. Bahkan hubungan antara orang tua dan anak menjadi lebih jarang, sehingga pembentukan moral dan sosial tidak terjadi dalam rumah. Kondisi tersebut berlangsung sampai dengan abad ke-17, dimana kondisi anak-anak yang sangat memprihatinkan menjadi perhatian dalam kehiduopan berkeluarga. Terutama yang menyangkut;

kesehatan, pendidikan, dan kehidupannya di masa depan.

Hal tersebut telah mendorong perubahan konsep rumah. Fungsi rumah dari pusat kehidupan publik , menjadi pusat pengembangan kehidupan private dari individu dan keluarga inti.

Namun, fenomena kehidupan pada unit hunian rumah susun, khususnya rumah susun milik, saat ini tidak terlepas dari analogi kondisi perumahan di Eropa pada abad pertengahan tadi. Ketika unit-unit rumah susun kehilangan fungsi rumah sebagai simbol ruang private. Kualitas privasi dari sebuah rumah saat ini banyak yang menurun, karena menjadi ruang publik. Rumah-rumah tersebut, selain menjadi tempat berkumpulnya sebuah komunitas, juga menjadi tempat kerja oleh sebagian penghuninya.

Bila ditelaah kembali, bahwa sejarah perumahan di Eropa telah mencatat dampak sosial yang sangat berat. Keberadaan anak-anak di rumah susun saat ini, tampak juga terabaikan. Anak-anak telah kehilangan hak hidup-nya,

padahal perubahan signifikan perumahan di Eropa difokuskan pada penguatan keberadaan anak-anak tersebut.

Menjadi catatan penting dalam telaah ini, adalah fokus konsep hunian didudukkan kembali pada eksistensi anak-anak yang tinggal di dalam-nya.

Ketika kesehatan, pendidikan, serta masa depan menjadi perhatian utama, agar supaya proses kedekatan hubungan antara orang tua dan anak lebih baik.

Artinya bahwa kesehatan anak tergantung orang tua. Tentang pendidikan anak, orang tua juga menentukan, walau pendidikan formal turut membentuk.

Namun jumlah waktu yang dilewati anak-anak, nota bene justru sebagian besarnya adalah di rumah. Ini menjadi sebuah dasar dan alasan kuat, mengapa rumah memiliki peran begitu penting, dalam proses pendidikan. Khususnya melalui learning by doing. Selain itu peran orang tua dalam menyiapkan masa depan anak sangat besar sekali.

Pada bangunan atau rumah, aspek kesehatan berkaitan erat dengan sistem air bersih dan sistem sanitasi. Di samping juga penting kebutuhan akan pencahayaan, udara, serta suara-suara gaduh yang dijamin berada minimum, sesuai dengan standar yang telah ditentukan.

Peran pendidikan tentunya tidak hanya dibebankan pada pendidikan formal yang disampaikan oleh sekolah. Pendidikan dalam hal ini peran orang tua dalam berinteraksi dengan anak-anak. Bahwa interaksi yang baik, merupakan proses pendidikan dalam pembentukan karakter anak-anak. Yang pada akhirnya, ketika kedua aspek tadi tercapai, maka orang tua secara tidak langsung telah mempersiapkan masa depan anak dengan baik. Seluruh aktifitas tadi terjadi dalam rumah, oleh karena itu fungsi rumah sebagai simbol privacy menjadi sangat penting.

Kualitas Lingkungan Fisik

Pola disain rumah susun yang dikembangkan saat ini adalah pola linier dengan sistem koridor tunggal (single loaded). Dengan tata masa dua buah blok yang saling berhadapan, pola tata masa tersebut diberi istilah twin block. Sehingga pada bagian koridor yang saling berhadapan akan membentuk ruang yang membatasi antara dua koridor tersebut. Akibatnya antara kedua koridor tersebut masih dimungkinkan terjadi interaksi visual, namun tidak dimungkinkan terjadi interaksi fisik.

Hal ini sedikit berbeda dibandingkan dengan pola lingkungan permukiman sebelumnya (landed house), dimana koridor sebagai ruang publik mengalami pergeseran kualitas ruang sebagai ruang interaksi sosial secara fisik maupun non fisik.

Koridor sebagai ruang publik, memiliki fungsi utama sebagai ruang sirkulasi.

Yang menghubungkan akses terhadap unit-unit hunian. Dan merupakan satu-

[156]

satunya akses yang dimiliki penghuni bangunan. Ini berbeda dengan pola sirkulasi pada perumahan yang dibangun di atas tanah, yang memiliki beberapa alternatif pencapaian.

Akibatnya kualitas ruang sirkulasi pada koridor bangunan rusuna lebih memiliki nilai private dibandingkan dengan ruang sirkulasi pada perumahan di atas tanah. Ketika ruang publik menjadi lebih private, maka akan sangat mudah diintervensi oleh ruang private, hal ini didorong juga oleh keterbatasan ruang private yang dimiliki oleh sistem hunian.

Rumah sebagai sistem hunian merupakan simbol privacy, perlu dipahami pada tingkat individu, keluarga, maupun komunitas. Dalam mengkonstruksikan ruang privacy diperlukan proses pemahaman terhadap ruang-ruang dari sebuah unit hunian, yang meliputi: halaman, ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dapur, ruang tidur orang tua, ruang tidur anak, ruang tidur tamu, kamar mandi, gudang, ruang cuci, ruang jemur, halaman belakang.

Keterbatasan ruang pada sistem hunian vertikal rusunami, menjadi faktor utama yang menurunkan kualitas lingkungan fisik dari sebuah sistem hunian.

Hal ini disebabkan oleh upaya-upaya penghuni untuk mempertahan kehidupan, dengan melakukan beberapa modifikasi lingkungan, disertai pembentukan pemaknaan ruang yang dipersepsikan oleh penghuni secara kolektif.

Dalam dokumen arsitektur - perumahan (Halaman 170-176)