Bidang Perumahan dan Permukiman
4.1. Latar Belakang
Etika merupakan bagian dari filsafat ilmu yang membahas mengenai kewajiban-kewajiban manusia dan tingkah lakunya, yang ditinjau dari baik dan buruknya dampak dari perilaku manusia tadi, sehingga etika pada level ini membahas mengenai norma-norma yang berlaku dan diterima secara konvensi.
Sifat etika tersebut menuntut manusia untuk bersikap rasional. Sehingga melalui etika kita dapat memisahkan antara yang benar dan yang salah, antara yang hak dan yang batil, antara yang sah dan tidak sah, antara yang legal dan tidak legal. Pada konteks pembahasan ini etika profesi arsitek adalah untuk membuka tabir secara rinci dari tindakan seorang arsitek profesional berkaitan dengan tindakan yang dibenarkan dan tindakan yang tidak dibenarkan di dalam menjalankan keprofesiaannya.
Perkembangan etika dalam arsitektur sudah sejak lama diungkapkan oleh para filsuf, catatan awal yang mengungkap pemikiran mengenai etika diawali sejak abad keempat sebelum masehi. Seperti disampaikan oleh Barry Wasserman pada pengantar menuju etika dalam arsitektur, dimulainya dari pemikiran seorang filsuf Yunani Socrates. Bahwa Socrates telah melemparkan sebuah isu menantang pada era tersebut, yakni mengenai kepuasan diri sendiri dan kenyamanan melalui kebiasaan, yang dibangun melalui standar-standar yang cocok dengan kebiasaan hidup manusia. Menuju kehidupan manusia secara utuh, yaitu kehidupan yang paripurna, hidup dengan beretika. Selanjutnya pada abad modern perdana menteri Inggris Winston Churchill, pada saat pembangunan kembali kantor parlemen melalui pernyataannya “We shape our buildings, and afterwards, they shape us”. Pernyataan Socrates dan pengamatan Churchil tersebut membawa pada sebuah padangan bahwa antara arsitektur dan etika merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, bahwa seorang
arsitek perlu menjujung etika dalam mewujudkan bangunan yang baik dan benar.
Etika dalam arsitektur di Indonesia saat ini, sedikitnya diatur melalui Kode Etik Arsitek yang dikeluarkan oleh Ikatan Arsitek Indonesia, namun kekuatan hukumnya sampai saat ini kurang menggigit. Disampaikan dalam kode etik tersebut, disadari atau pun belum oleh para arsitek di tanah air, untuk pelaku pembangunan bangunan gedung saat ini kita sudah memiliki Building Code, yaitu Peraturan Menteri PU No. 29 tahun 2006, yang mengacu pada Undang- undang Bangunan Gedung No. 28/2002 beserta turunannya dalam bentuk Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri teknis terkait, yaitu Kementerian Pekerjaan Umum, sedangkan dalam aspek penyelenggaraan jasa konstruksi Undang-undang Jasa Konstruksi telah terlebih dahulu hadir ditengah-tengah kehidupan konstruksi saat ini dengan No.18/1999. Nilai positifnya dari kedua undang-undang tersebut telah mencantumkan sangsi bagi yang melanggar, dengan sangsi yang cukup berat, hal ini berarti bahwa kedua undang-undang tersebut akan memiliki kekuatan di masyarakat. Dalam konteks tulisan ini akan ditelaah sejauh mana etika harus dibawa oleh seorang arsitek di tengah-tengah ancaman sangsi undang-undang, manakala kita lalai atau bahkan melanggar, belum lagi tekanan globalisasi yang semakin deras.
Secara umum etika kita kenal sebagai tata atur hubungan antara manusia yang menyangkut hubungan yang berkaitan dengan hak dan kewajiban di dalam berbagai lini kehidupan, baik dalam sebuah rumah tangga, dalam lingkungan perumahan, dalam lingkungan kerja maupun dalam lingkungan bernegara.
Etika yang menjadi fokus dalam telaah ini adalah etika yang berkaitan dengan profesi seorang arsitek. Lingkup pengaturan ini berupa hubungan antara arsitek dengan owner, arsitek dengan sesama arsitek, arsitek dengan profesi lain yang memiliki keterkaitan pekerjaan. Sedangkan menyangkut kode etik arsitek saat ini tidak hanya dipantau oleh lembaga IAI (Ikatan Arsitek Indonesia), juga negara mulai memasuki pada wilayah ini sejak diberlakukannya Undang- undang Jasa Konstruksi (UUJK) No. 18 tahun 1999 dan Undang-undang Bangunan Gedung (UUBG) No. 28 tahun 2002, serta beberapa peraturan pemerintah dan petujuk operasionalisasi kedua Undang-undang tersebut, saat ini turut mengatur kode etik secara tidak langsung. Serta harapannya ke depan bahwa Undang-Undang Arsitek dapat mengimbangi pada sisi lain. Karena bila melihat pada kedua undang-undang tadi maka lebih memfokuskan kewajiban dari seorang arsitek dan belum mengatur hak-hak arsitek. Tentunya kondisi perundangan yang demikian saat ini merupakan sebuah kelemahan perlindungan terhadap seorang perencana.
Beberapa amanat dalam kedua Undang-undang tersebut memiliki konsekuensi terhadap profesi seorang arsitek, khususnya pada UUBG, bahwa seorang arsitek harus menjamin bangunan yang dirancangnya memiliki tingkat
[60]
kehandalan. Untuk mencapai kehandalan tersebut tentunya seorang arsitek harus secara total bertanggung-jawab terhadap kualitas bangunan, bentuk pertanggung jawaban tersebut berkonsekuensi pada bentuk etika seorang arsitek. Ketika ketentuan dalam perundangan di atas secara tidak sengaja atau tidak sengaja dilanggar oleh perencananya, maka seorang perencana dalam hal ini dapat dituntut atas tindak pidana dan perdata, dengan kurungan, penjara dan denda yang nilainya tidak sedikit, bahkan lebih besar dari prosentase pembayaran seorang arsitek. Akibat kesalahan dalam proses perencanaan seorang arsitek harus membayar lebih dari apa yang dia dapatkan dari hasil perencanaannya.
Pada pasal 9 Pedoman Hubungan Kerja antara Arsitek dan Pemberi Tugas, menyatakan bahwa arsitek bertanggung-jawab atas kerugian akibat kesalahan- kesalahan yang dibuat arsitek, hal ini diberikan ancaman juga pada UUBG Bab VIII, Pasal 44, bahwa kesalahan yang diperbuat tersebut merupakan kesalahan yang disebabkan oleh kelalaian maka akan terkena sangsi sebesar-besarnya 1 tahun kurungan dan 1% dari harga bangunan bila kelalaiannya tersebut mengakibatkan kerugian harta benda, dan kurungan 2 tahun dan/atau 2% dari nilai bangunan bila akibat kelalaiannya mengakibatkan cacat seumur hidup, serta 3 tahun kurungan dan/atau 3% nilai bangunan bila mengakibatkan korban jiwa. Namun bila kesalahan tersebut diakibatkan karena kesengajaan maka dikenai sangsi sebesar-besarnya 5 tahun penjara dan/atau 20% dari nilai bangunan bilamana akibat kesalahannya tersebut mengakibatkan korban jiwa.
Melihat pada sangsi-sangsi tersebut, manakala kita amati peristiwa menara Jamsostek dan gedung ITC di Jakarta, yang telah mengakibatkan korban jiwa akibat terjunnya sebuah mobil dari tempat parkir pada lantai atas bangunan tersebut. Bila terdapat kesalahan perencanaan dinding pengaman lantai parkir tersebut, hal ini merupakan indikasi dari kesalahan perencana dalam merencanakan dinding pengaman yang tidak sesuai dengan standar keamanan lantai parkir bangunan. Atau cerita seorang bocah yang terjatuh dari lantai sebuah pusat perdagangan dikarenakan celah antara railing dengan mesin escalator terlalu besar, atau terjatuhnya seorang bocah dari sebuah apartemen akibat mekanisme pembukaan jendela yang tidak memenuhi standar keselamatan. Melihat pada peristiwa-peristiwa di atas, peran dan tanggung- jawab seorang arsitek semakin besar dan memerlukan tingkat kehati-hatian yang lebih besar dengan memperluas pengetahuan dan keterampilan dalam merancang.
Kondisi demikian sudah selayaknya setiap individu yang berprofesi sebagai seorang perencana bangunan, lebih berhati-hati, dan membutuhkan sebuah kekuatan yang lebih memberikan pemantauan, pembinaan, pengelolaan dalam menjalankan profesinya. Proses pembinaan, pengelolaan, serta pemantauan tersebut layaknya digerakkan oleh sebuah asosiasi yang dibentuk oleh
kumpulan arsitek tersebut dalam suatu wadah yang kita kenal dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Saat ini sangat tepat bilamana kita melakukan strangtening terhadap lembanga IAI dalam mengantisipasi tuntutan perlindungan konsumen arsitek yang diwujudkan dalam UUBG di atas, serta membangun kesadaran untuk segera menggulirkan Undang-undang Profesi Arsitek, yang mampu mengimbangi tuntutan berupa Hak pengguna bangunan melalui UUBG.
Pengertian etika menurut KBBI adalah “kumpulan azas atau nilai yang berkenaan akhlak atau nilai-nilai yang benar atau salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat”. Maka dalam kehidupan setiap orang diatur oleh aturan-aturan yang membentuk sebuah tatakrama, aturan tersebut dapat berupa aturan tertulis maupun tidak tertulis. Yang tertulis dalam bentuk Undang- undang, Peraturan Pemerintah, dsb, sedangkan peraturan tidak tertulis seperti adat istiadat. Pelanggaran terhadap sebuah aturan tertulis maka akan dikenakan sangsi dalam bentuk hukuman badan sesuai dengan peraturan yang ada sedangkan pelanggaran pada peraturan tidak tertulis biasanya sangsinya berupa sangsi sosial, dalam bentuk keterkucilan bagi yang melanggarnya.
Sangsi sosial berlaku juga pada pelangaran-pelanggaran pada tingkat kemasyarakat yang diatur melalui paraturan tidak tertulis yang berlaku di masyarakat. Bagaimana dengan peraturan tertulis seperti diuraikan pada uraian di atas, maka yang menjadi pertanyaan adalah sejauh mana peran IAI dalam perlindungan arsitek, dalam mengatur kode etik dan tata perilaku profesi.
Bahwa sangat disayangkan tata atur dan kode profesi yang disusun oleh IAI hampir tidak memiliki kekuatan terhadap perilaku perencanaan di Indonesia, bahkan sekalipun oleh para anggotanya. Dan bagaimana membangun kekuatan kode etik serta tata perilaku arsitek dapat mengatur seluruh arsitek baik yang terdaftar sebagai anggota IAI maupun yang berada di luar keanggotaan IAI.
Sebagaimana amanat UUBG yaitu dalam menjamin terbit administrasi dan tertib teknis berupa kehandalan bangunan, maka dalam suatu proses penyelenggaraan bangunan gedung harus dibentuk Tim Ahli Bangunan Gedung (TABG), selanjutnya petunjuk oprasionalisasi dari TABG tersebut dituangkan dalam Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 26/PRT/M/2007, tentang Pedoman Tim Ahli Bangunan Gedung, walaupun pedoman ini lebih ditujukan kepada Pemerintah Daerah, namun dalam pembentukannya dipersyaratakan unsur swasta harus mengisi keanggotaan sebanyak 50% nya, yang diantaranya berasal dari unsur profesi, masyarakat ahli dan unsur perguruan tinggi.
Ketersediaan slot unsur profesi merupakan pembuka jalan bagi IAI untuk mengkaitkan kode etiknya dengan regulasi yang berlaku secara nasional tersebut.
Dalam TABG azas kode etik yang diusung ada 8, yang meliputi : azas kepastian hukum, azas tertib penyelenggaran negara, azas kepentingan umum,
[62]
azas keterbukaan, azas profesionalisme, azas akuntabilitas, azas efisiensi dan azas efektifitas. Dari kedelapan azas tersebut bagaimana kita mengsingkronkan kembali kode etik IAI, agar peran IAI ke depan dapat betul-betul menjadi sebuah wadah yang memiliki peran besar terhadap sistem pembangunan gedung-gedung di Indonesia.
Hal ini sejalan dengan Barry Wasserman dalam memberikan pegangan bagi para arsitek dan praktisi dalam membuat disain arsitektur yang baik, yaitu melalui proses perancangan yang beretika, secara tegas Wasserman menyatakan being “good” at designing sebagai acuan awal dalam etika dalam ber-arsitektur dan sebagai aktivitas utama dalam arsitektur. Ada tahap awal seorang arsitek akan berurusan dengan client yang telah membawa beberapa keinginan dan ide tentang bangunan dan tempat yang akan didisainnya. Hal tersebut harus dapat dirumuskan oleh arsitek bagaimana menerjemahkan keinginan dan ide-ide tersebut menjadi dokumen pelaksanaan yang siap dilaksanakan oleh kontraktor.
4.2. Pengertian Dasar Etika