Telaah Fakta dan Data
3.3. Tinjauan Sejarah Teori Sosial dan implikasinya terhadap Arsitektur
3.3. Tinjauan Sejarah Teori Sosial dan implikasinya terhadap
[44]
Seluruh pemikiran tersebut telah juga membawa pengaruhnya pada peradaban manusia yang secara berangsur memengaruhi perwujudan arsitektur seperti disampaikan oleh teori bentuk dari Mark Gelenter, bahwa wujud arsitektur dipengaruhi oleh kondisi sosial budaya pada zamannya. Dengan demikian objek utama wujud arsitektur adalah fungsi yang dipengaruhi oleh kondisi sosial-budaya dan ekonomi yang berlaku pada masa-nya. Fenomena tersebut sebagai cerminan dari sebuah semangat yang berlaku pada zaman-nya. Bila menelaah lebih dalam, maka kondisi sosial-budaya dan ekonomi yang berlaku merupakan unsur utama dalam pembentukan wujud arsitektur. Demikian juga suatu fungsi ditentukan oleh kondisi sosial-budaya dan ekonomi, artinya bahwa fungsi sebagai wadah dari sebuah atau beberapa aktifitas manusia tidak terlepas dari kondisi sosial-budaya dan ekonomi manusianya.
Kondisi sosial-budaya merupakan cerminan pola pikir yang memengaruhi cara hidup seseorang, atau sebuah masyarakat, dan menjadikan kebiasaan-kebiasaan yang mentradisi pada individu atau masyarakat. Pada kondisi sosial budaya tertentu, akan terbentuk aktifitas tertentu pula, pada kelompok masyarakatnya.
Sebagai contoh pada masyarakat suku Batak, yang memiliki tingkat kekerabatan yang cukup erat dan memiliki jumlah keluarga yang relatif besar.
Mereka senantiasa kerap melakukan aktivitas pertemuan dan kumpul keluarga.
Sistem kekerabatan tersebut merupakan cerminan sistem sosial sebuah suku yang ada di Indonesia. Selanjutnya sistem sosial tersebut diwujudkan dalam fungsi ruang kumpul keluarga, sehingga dalam perwujudan arsitekturnya terlihat, bahwa pada umumnya rumah masyarakat Batak memiliki ruang tamu dan ruang keluarga yang menyatu. Dengan ukuran yang cukup luas untuk menampung pertemuan keluarga besarnya.
Dari Karl Mark sampai Posmodernism
Rasionalisme yang diusung oleh Rene Descrates seorang filsuf abad modern (1595 – 1650) adalah aliran filsafat yang sangat mementingkan rasio, dimana dalam rasio terdapat ide-ide yang memungkinkan ilmu pengetahuan itu berkembang, dalam hal ini Descrates menyampai dua masalah utama yaitu:
masalah substansi dan masalah hubungan antara jiwa dan tubuh. Dia merupakan filsuf yang mengkritisi filsafat abad pertengahan yang didominasi oleh sinkretasi antara akal dan wahyu, antara rasio dan agama, yang menguatkan unsur dogmatis.
Penentangan abad pertengahan yang telah membawa Copernicus mengakhiri hidupnya di tiang gantungan akibat pernyataanya bahwa bumi ini bukan sebagai pusat alam semesta dan Bumi itu berputar mengelilingi Matahari, pernyataanya telah mengganggu dogma agama, sehingga dikawatirkan akan menyesatkan kaum muda. Hal ini juga terjadi pada Gelileo Galilei yang harus menderita di tahanan akibat mendukung pemikiran dari Copernicus. Pada abad pertengahan ini Eropa dikuasai oleh kaum negarawan dan kaum Agamawan.
Pemikiran Descrates sebenarnya berkiblat pada Copernicus dan Gelileo tentang perputaran bumi yang bukunya tidak diterbitkan demi menjaga kewibawaan agama dengan judul Le Monde, selanjutnya dia terkenal dengan dalilnya Cogito ergo sum yang artinya saya menyadari bahwa saya sangsikan, kesangsian langsung menyatakan saya ada. Pemikiran era pencerahan (reinaissance) yang dipelopori oleh Descrates, Immanuel Kant, John Locke, Voltaire, dsb telah membawa pada peradaban dunia agar tidak saja menerima begitu saja kebenaran tersebut sebelum kebenaran itu dapat dibuktikan. Hal ini merupakan titik balik pemikiran abad pertengahan kembali pada kejayaan Yunani dan Romawi Kuno, berpikir, rasional, atau pikiran menjadi identitas kesadaran akan eksistensi manusia.
Hal ini sejalan dengan beberapa ayat dalam kitab suci seperti “Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir (QS : Al Jaatsiyah 45 : 13)”. Pemikiran-pemikiran para filsuf Islam pada abad VII telah masuk ke Eropa melalui Al Andalus (Spanyol), rasionalitas para pemikiran tersebut telah melahirkan al Kindi, al Farabi, Ibnu Siena di bidang kedokteran, atau pemikiran Islam lain sebelum Descrates yaitu Al Ghazali yang mengedepankan rasionalitas tanpa mengabaikan unsur keberadaan Tuhan.
Rasionalisme merupakan paham yang mengatakan bahwa sumber dari segala kebenaran adalah pikiran manusia, dimana rasio menjadi acuan dalam kebenaran, rasionalismen telah memberikan pencerahan kembali dari abad pertengahan, dan meninggalkan norma-norma yang membelenggu dalam bentuk dogma dan manusia mulai mencari nilai-nilai baru, sehingga dalam waktu singkat pengetahuan yang besifat rasional berkembang pesat dengan metoda positivistik.
Perkembangan pesat kota-kota di Eropa terjadi pada masa abad pertengahan sedangkan kota-kota yang saat ini sebagai negara berkembang pada saat itu masih dalam kolonilaisme, yang selanjutnya negara-negara berkembang tersebut mengadopsi teknologi pada abad XX. Perkembangan industrialisasi telah mendorong perkembangan penduduk di perkotaan, dimana sejumlah tenaga kerja diperlukan dalam jumlah besar, hal ini telah mendorong arus urbanisasi.
Pertumbuhan penduduk perkotaan yang sangat pesat pada era tersebut tidak dapat diimbangi dengan penyediaan perumahan dan infrastruktur yang layak, sehingga penduduk perkotaan semakin padat dan tidak diimbangi dengan penyediaan infrastruktur yang memadai sehingga menimbulkan persoalan baru, yaitu tumbuhnya kawasan-kawasan kumuh, pertumbuhan kawasan perkotaan tersebut tidak dapat terelakkan. Hal itu disebabkan oleh pertumbuhan industri
[46]
yang sangat pesat, hingga pada akhirnya kota-kota industri mengalami surplus kapital, surplus teknologi, sumber daya dan pemasaran. Akibat berbagai surplus tersebut, merupakan tahap awal terbentuknya kota-kota global (Global City), seperti New York, Tokyo, Paris, London.
Terbentuknya kota-kota global tersebut telah memengaruhi wujud arsitektur, yang tidak lagi menekankan pada elemen-elemen estetika, akan tetapi aspek fungsional yang menjadi penekanan, sehingga banyak wujud arsitektur akibat perkembangan kota-kota global ini menjadi kehilangan identitas dan jati diri.
Wujud arsitekur pun turut menggelobal, pada periode ini telah melahirkan arsitektur modern yang sangat fungsional.
Demikian hal nya dengan arsitektur perumahan, bangunan-bangunan perumahan dibangun secara masal dengan tujuan mengejar target merumahkan masyarakat urban yang bekerja di sektor industri, dan sebagian besar adalah kaum buruh. Pembangunan rumah besar-besaran tersebut tidak lagi mempertimbangkan aspek sosial dan budaya, akan tetapi rumah menjadi sangat fungsional, tempat untuk tinggal dan tidur, sedangkan kebutuhan manusia sebagai mahluk sosial mulai terabaikan.
Keadaan perumahan pada periode ini dibangun dalam bentuk blok-blok sangat besar dengan tingkat kepadatan yang sangat tinggi, sebut saja konsep perumahan di Perancis yang diusung oleh Le Corbusier dengan Grande Ensemble, yang pada akhirnya, ketika memasuki era akhir tahun 60-an dan awal 70-an telah menimbulkan persoalan sosial yang tidak dapat dielakkan, munculnya kriminalitas, vandalisme, dsb pada bangunan tersebut.
Target-target pembangunan perumahan di negara-negara industri pada periode awal industrialisasi, khususnya di belahan Eropa dibuat target secara boombastis oleh pemerintah saat itu tentunya didorong oleh tingkat kebutuhan yang sangat besar akibat ledakan penduduk di perkotaan yang sebagian besar adalah kaum buruh. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan potret Indonesia pada saat ini, target-target boom bastis dengan gerakan nasional pengembangan satu juta rumah (GN-PSR), yang dicanangkan pada era Reformasi tahun 2003.
Selanjutnya pada tahun 2007 pemerintah juga mencanangkan pembangunan 1000 Tower, kebijakan yang tampak tergesa-gesa, kurang mengambil pembelajaran dari negara-negara yang pernah mengalami hal serupa pada periode sekitar empat puluh tahun yang lalu atau lebih.
Berbagai persoalan mendasar telah diputuskan dalam bentuk berbagai keputusan pemerintah, dengan sedikit pertimbangan aspek sosial budaya yang berkembang pada saat ini maupun di masa mendatang, serta keengganan menggali terlebih dahulu aspek-aspek sosial yang mungkin akan mencuat dalam program dan kebijakan tersebut. Kondisi demikian tidak jauh berbeda
dengan kepanikan bangsa Eropa di awal perkembangan industri yang sangat pesat.
Persoalan bangsa ini tidak terlepas hanya sebatas kebijakan perumahan saja, akan tetapi pada era globalisasi serta liberalisasi saat ini, tidak saja dengan mudah kita mengadopsi pendekatan dan teori-teori yang pernah dilakukan di belahan Eropa (negara-negara Barat). Akan tetapi kita harus mau menyadari, bahwa pada politik liberalisasi dan kapitalisasi ini, masyarakat hanya berperan dominan sebagai konsumen. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana negeri ini yang kaya dengan sumber daya alam, tidak mampu mengelola dengan baik.
Dan ironisnya lagi, beberapa negara yang mengelola sumber daya alam negeri ini pada akhirnya menjadikan bangsa ini sebagai target konsumen utama.
Ambil saja contoh pabrik baja terbesar Korea Selatan, yaitu Posco, industri ini merupakan salah satu pabrik baja terbesar di dunia, pabrik ini mengolah bahan baku baja yang didatangkan lebih dari 70% bahan baja mentah dari Indonesia sisanya dari negara-negara berkembang lainnya, selanjutnya energi untuk menggerak industri ini diambil dari Indonesia hampir 90%, dan pada akhirnya pasar terbesar dari Posco adalah masyarakat Indonesia, dalam bentuik baja olahan seperti plat baja, baja tulangan atau dalam bentuk bahan jadi seperti mobil, kapal, dan barang-barang elektronik.
Kondisi ini seharusnya dapat kita jadikan alat untuk pembelajaran dalam sektor perencanaan kota maupun perencanaan bangunan khususnya bangunan perumahan, karena pada aspek fungsi rumah terdapat fungsi sosial yang dapat memengaruhi perkembangan bangsa ini di masa depan, sebagaimana kita ketahui rumah merupakan tempat berinteraksi antara orang tua dan anak, rumah tempat pembentukan karakter anak sebelum sekolah dan lingkungannya, bila tempat anak berkembang dan tumbuh tidak mampu mewadahi perkembangan tersebut, maka ada kemungkinan perkembangan anak akan terhambat, dan anak-anak adalah generasi penerus yang menjadi tulang punggung kemajuan negeri ini di masa depan. Dalam penanganan perumahan seharusnya aspek sosial budaya menjadi unsur-unsur utama yang memengaruhi disain serta kebijakan di sektor perumahan nasional.
Dari Revolusi Guthenberg sampai Revolusi Informasi
Untuk menelaah permasalahan tersebut, dapat dimulai dari perjalanan sejarah perubahan-perubahan sosial-budaya yang cukup ekstrim, diantaranya ditandai oleh perjalanan revolusi yang dimulai dari revolusi Gutenberg, Revolusi Industri dan mungkin Revolusi Informasi saat ini. Dimulai pada abad ke –15 merupakan tanda dimulainya satu revolusi Gutenberg, dengan dimulainya penemuan mesin pencetakan tulisan ke dalam bentuk buku, Johannes Gutenberg dianggap sebagai pelopornya. Revolusi Gutenberg ini membuka peluang baru dalam penyebaran ilmu pengetahuan, banyak ilmu pengetahuan
[48]
yang telah ditemukan sebelumnya telah diterbitkan dalam bentuk buku partai banyak untuk disebar luaskan.
Penyebarluasan ilmu pengetahuan telah memungkinkan ilmu pengetahuan itu dibaca dan dikembangkan oleh orang lain, karena ilmu pengetahuan itu sendiri telah berkembang jauh sebelum revolusi Gutenberg, seperti buku aljabar pertama ditulis oleh Diophantus di Alexandria pada tahun 250 M, bahkan ketinggian matahari telah dihitung di Cina sebelum kelahiran Nabi Isa.
Dengan penemuan mesin cetak ini, telah mempercepat perkembangan ilmu pengetahuan sehingga penemuan-penemuan baru lainnya banyak ditemukan, sehingga akhirnya banyak mesin-mesin baru ditemukan dan digunakan dalam produksi untuk industri.
Abad ke–18 merupakan masa yang memisahkan cara dan gaya kehidupan, pemisahan tersebut diawali di Inggris yang selanjutnya diikuti oleh daerah- daerah lain, tepatnya pada abad ke-18. Pada tahun 1769 tersebut, telah ditemukan mesin uap sebagai awal dari Revolusi Industri. Sebelum revolusi industri, manusia mengerjakan pekerjaannya dengan alat-alat sederhana yang merupakan kepanjangan dari anggota tubuhnya. Setelah revolusi industri semua pekerjaan dikerjakan oleh mesin, yang mampu melakukan pekerjaan dengan lebih efisien dan efektif.
Dampak sosial yang paling menonjol akibat dari revolusi Industri adalah ledakan penduduk. Sehingga pada saat itu dibangun kota-kota industri sarana sirkulasi yang memadai untuk pengangkutan hasil produksi merupakan faktor penting dalam menunjang kegiatan industri. Urbanisasi merupakan dampak yang sangat menonjol dari periode revolusi indutri, akibat adanya jaringan- jaringan jalan baru, umumnya pelaku urbanisasi ini adalah para buruh, mereka tinggal di pusat-pusat kota yang padat penduduk. Sehingga banyak melahirkan kawasan slum dipusat kota yang dihuni oleh kelompok buruh.
Perubahan lain yang paling menonjol adalah perubahan sistem perekonomian, dari sistem perekonomian agraris menjadi sistem ekonomi industrial yang memiliki karakteristik produksi masal, termasuk dalam pengadaan komponen arsitektural. Dibidang arsitektur, revolusi industri juga amat berpengaruh.
Tampak dari gaya arsitektur yang selama itu dianut mulai berubah, arsitektur menjadi suatu karya mesin, dengan produksi masal yang mementingkan kecepatan dalam produksi.
Kondisi ini menimbulkan kejenuhan suatu kota maupun karya arsitektural, dimana segala sesuatu halnya menjadi tidak manusiawi yang memperlihatkan penurunan kesehatan, kesenjangan sosial, kenyamanan dari kehidupan buruh pada umumnya. Hal ini telah menimbulkan beberapa reaksi keras. Yaitu terhadap munculnya perumahan kumuh, perumahan buruh yang mengkhawatirkan, tidak tersedianya taman-taman/ruang terbuka, buruknya
jaringan jalan di lingkungan permukiman buruh, jarak antara tempat tinggal dan tempat kerja serta kemiskinan moral para buruh. Kritik-kritik ini telah melahirkan berbagai konsep arsitektur kota yang anti revolusi indutri, dimana konsep-konsep ini pada awalnya masih bersifat utopia.
3.4. Tinjauan Isu-isu Sosial Budaya