Sebagai Solusi Perumahan Rakyat
10.3. Pembentukkan Ruang pada Rumah Susun
[156]
satunya akses yang dimiliki penghuni bangunan. Ini berbeda dengan pola sirkulasi pada perumahan yang dibangun di atas tanah, yang memiliki beberapa alternatif pencapaian.
Akibatnya kualitas ruang sirkulasi pada koridor bangunan rusuna lebih memiliki nilai private dibandingkan dengan ruang sirkulasi pada perumahan di atas tanah. Ketika ruang publik menjadi lebih private, maka akan sangat mudah diintervensi oleh ruang private, hal ini didorong juga oleh keterbatasan ruang private yang dimiliki oleh sistem hunian.
Rumah sebagai sistem hunian merupakan simbol privacy, perlu dipahami pada tingkat individu, keluarga, maupun komunitas. Dalam mengkonstruksikan ruang privacy diperlukan proses pemahaman terhadap ruang-ruang dari sebuah unit hunian, yang meliputi: halaman, ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dapur, ruang tidur orang tua, ruang tidur anak, ruang tidur tamu, kamar mandi, gudang, ruang cuci, ruang jemur, halaman belakang.
Keterbatasan ruang pada sistem hunian vertikal rusunami, menjadi faktor utama yang menurunkan kualitas lingkungan fisik dari sebuah sistem hunian.
Hal ini disebabkan oleh upaya-upaya penghuni untuk mempertahan kehidupan, dengan melakukan beberapa modifikasi lingkungan, disertai pembentukan pemaknaan ruang yang dipersepsikan oleh penghuni secara kolektif.
waktu singkat, akhirnya setelah menemukan orientasinya, laba-laba tersebut membangun sarang laba-laba yang tidak berbeda dengan di bumi.
Bagaimana proses pembentukan pemaknaan manusia terhadap sebuah ruang, tidak dapat dilepaskan dari proses pengalaman. Pengalaman individu memengaruhi persepsi pada diri manusia. Pengalaman sangat erat kaitannya dengan dunia spiritual yang berkaitan dengan nilai-nilai yang dianutnya kelak.
Dunia spiritual sangat erat hubungannya dengan hal-hal gaib yang diyakini oleh manusia, sebagai contoh hubungan manusia dengan Tuhan-nya (pada sisi positif) atau hal-hal yang tidak berwujud seperti kehidupan mahluk halus, roh nenek moyang, dsb (sisi negatif). Juga pengalaman horizontal berkaitan dengan masa lalu dan masa kini yang erat kaitannya dengan dunia fisik. Seperti bentukan ruang artifisial masa lalu, yang telah berubah dengan ruang artifisial saat ini.
Contohnya ketika kelompok masyarakat memaknai ruang halaman rumah sebagai ruang milik yang memungkinkan diintervensi oleh ruang private. Maka ketika persepsi tersebut dibawa kedalam hunian vertikal, maka batas-batas hunian sebagai ruang private tidak dapat dikembangkan lagi. Atas alasan tersebut, penghuni pada rusun melakukan intervensi ruang privat pada ruang- ruang publik, seperti koridor, tangga, atau hall.
Pengalaman berbeda pada setiap waktu akan memberikan/membentuk persepsi yang berbeda pada setiap manusia yang berbeda generasi. Sehingga generasi selanjutnya akan memaknai ruang-ruang publik tersebut menjadi ruang private.
Pembentukan persepsi pada manusia tahap demi tahap, akan membentuk nilai- nilai yang dianut sebagai nilai-nilai kebenaran. Sehingga tidak heran, ketika seorang anak yang lahir dan dibesarkan di kawasan padat dan kumuh, kelak setelah besar dia akan merasakan bahwa nilai-nilai sosial dan kesehatan yang berada pada kawasan padat dan kumuh tersebut merupakan hal yang normal.
Dalam proses tersebut telah terjadi pergeseran nilai baik yang terukur (standar) maupun nilai-nilai yang tidak terukur. Hal ini sejalan dengan tingkatan unsur- unsur budaya yang disampaikan oleh Koentjaraningrat. Bahwa ketika teknologi merupakan unsur budaya yang paling mudah berubah, dibandingkan dengan nilai-nilai agama yang merupakan unsur budaya paling sulit berubah.
Nilai privacy dapat menjadi sebuah petunjuk dari sebuah kepemilikan atau penguasaan ruang, yang berlaku pada tingkat individu, keluarga, atau kelompok yang lebih besar. Pada sebuah rumah tinggal di atas tanah, rumah menjadi simbol privacy. Maka ketika penghuni akan melakukan pengembangan ruang privacy tersebut, masih dimungkinkan dilakukan secara horizontal, pada daerah halaman maupun pada arah vertikal.
[158]
Berbeda pada rumah susun, ruang privacy tidak dimungkinkan untuk dapat dikembangkan lagi. Dalam kondisi demikian, penghuni harus dapat mempertahankan kehidupannya sesuai dengan tata nilai yang dianut. Ketika nilai-nilai kehidupan tidak terwadahi oleh sistem hunian yang ada, maka penghuni akan melakukan modifikasi ruang, untuk memastikan keberlangsungan hidup manusia dapat dilaksanakan.
Pada tahap ini, tumbuh makna-makna baru terhadap ruang yang ada dalam sistem rumah susun. Bagaimana koridor dimaknai oleh penghuni sebagai ruang private, dengan menempatkan sebuah sofa, yang merupakan sebuah penandaan penguasaan ruang public menjadi private. Tentunya kondisi demikian dapat menimbulkan konflik pada ruang public.
Begitu juga bagaimana penghuni melakukan pemaknaan ruang-ruang public menjadi ruang-ruang servis. Misalnya seperti memfungsikan atap teritis sebagai tempat jemur pakaian, menempatkan gudang pada bagian langit-langit dari koridor. Atau daerah utilitas bangunan seperti ruang panel listrik, meter air, dan tempat box hidrant yang dianggap tidak bertuan, menjadi ruang yang diperebutkan untuk digunakan sebagai gudang.
Demikian juga pada unit hunian, bahka konflik ruang private – public juga terjadi. Hal tersebut lebih disebabkan oleh peran individu-individu dalam sebuah keluarga, juga membutuhkan ruang private.
Unit hunian merupakan sebuah wadah sosialisasi keluarga, untuk itu membutuhkan ruang-ruang bersama yang tidak mengganggu ruang private.
Yang memiliki intensitas penggunaannya dari sisi kualitas waktu lebih lama, namun ketersediaannya sangat minim. Keterbatasan ruang interaksi keluarga ini, yang menyebabkan kontak sosial antara orang tua dan anak intensitasnya menjadi sangat rendah. Anak-anak cenderung tak betah di rumah, lalu mencari kenyamanan udara dan ruang di luar rumah. Dan menjadi unsur utama yang mendorong persoalan sosial dalam hunian vertikal, seperti vandalisme, kriminalitas, yang akhirnya menurunkan produktifitas penghuni.
Dengan demikian telaah ini merupakan sebuah langkah menuju pembuktian bahwa melalui penguatan fungsi rumah sebagai simbol privacy, maka akan menciptakan sebuah bangsa yang kuat dan produktif.
Pembentukan ruang yang dilakukan oleh penghuni ditandai/disimbolkan melalui penempatan perabot, menggunakan partisi sederhana dalam bentuk tirai atau dinding kayu lapis. Juga dengan membedakan bahan dan warna pada dinding, lantai maupun plafond. Fenomena yang cukup dominan pola pembatasan ruang-ruang tersebut, banyak menggunakan perabot. Selain itu juga, penempatan perabot pada ruang public dianggap sangat jitu dalam upaya untuk menyatakan kepenguasaan yang cederung pada kepemilikan secara tidak formal.
Makna Ruang
Dalam pembentukan ruang, seorang perencana akan menentukan terlebih dahulu bagaimana ruang itu digunakan. Dalam sebuah perencanaan kebutuhan ruang, dimensi ruang serta hubungan ruang, dipertimbangkan terhadap aktifitas pengguna. Hal tersebut terjadi pada kondisi ideal, ketika seorang perencana tidak dibatasi oleh persoalan keterjangkauan dari pengguna. Ketika perencana sangat dibatasi oleh biaya, maka ruang-ruang diupayakan memiliki fungsi ganda (multy functions). Dengan harapan pengguna akan melakukan adaptasi terhadap ketersediaan ruang.
Hal ini adalah fenomena proses disain rumah susun saat ini, dan telah mendorong pengambil kebijakan untuk menetapkan luasan satuan unit rumah susun, yang berada di bawah kebutuhan ruang minimum untuk hidup layak.
Gap yang belum ditemukan penyelesaiannya.
Adanya keterbatasan ruang pada satuan unit rumah susun, tidak menjadikan begitu saja dengan mudah penghuni akan kehilangan makna rumah. Makna rumah tetap kuat pada penghuni yang menempatkan rumah sebagai fungsi sosial, yaitu wadah untuk melakukan sosialisasi antara anggota keluarga, rumah juga sebagai ungkapan jati diri di samping sebagai tempat berlindung dari gangguan ekternal.
Makna dalam arsitektur merupakan komunikasi non verbal, sehingga objek yang dimaknai oleh perencana dapat saja mengubah makna yang diterima oleh pengguna bangunan. Kemungkinan tersebut sangat tinggi, ketika terdapat perbedaan latar belakang antara perancang dan pengguna. Hal tersebut mengakibatkan perbedaan sudut pandang, sehingga menghasilkan persepsi yang berbeda. Dengan demikian terdapat keterkaitan yang sangat kuat antara kutub makna dan kutub persepsi. Antara makna dan persepsi berada pada dua kutub yang berbeda, makna disampaikan oleh tampilan arsitektural (transmiter) dan persepsi disusun oleh penghuni (receiver). Komunikasi yang benar bila antara makna dan persepsi memiliki nilai yang sama, maka proses komunikasi itu dianggap benar.
Dalam rumah susun , proses komunikasi yang terjadi tidak seperti apa yang diharapkan. Berangkat dari spatial cognition dari penghuni, yang dibawa dari pengalaman ruang sebelumnya, kemudiabn dibawa ke dalam rumah susun.
Namun setelah melalui identifikasi dan melakukan relevansi, tata nilai ruang yang dianut sebelumnya tidak dapat ditemukan secara utuh dalam lingkungan hunian barunya. Pada level ini, penghuni secara kolektif akan membangun nilai-nilai baru, melalui proses adaptasi dengan melakukan modifikasi aktifitas, yang bermuara pada perubahan sosial-budaya, maupun modifikasi ruang-ruang fisik.
[160]
Apakah sama antara makna dengan nilai dalam arsitektur? Makna merupakan pesan-pesan arsitektur yang sarat dengan nilai. Yakni nilai yang memengaruhi psikologis si penerima pesan. Pesan yang baik akan menghasilkan respon yang baik, hal ini lah yang melahirkan karya-karya yang besar dan abadi. Karena dalam karya tersebut sarat dengan muatan pesan-pesan nilai yang luhur.
Dalam konteks ini karya arsitektur tidak jauh berbeda dengan karya puisi atau sastra, yang dapat menyentuh perasaan manusia penerima pesan terhadap batinnya. Hal tersebut belum dapat diwujudkan dalam arsitektur rumah susun saat ini.
Sebuah karya sastra yang sarat dengan nilai, senantiasa selalu dikumandangkan dan dikenang sepanjang masa. Walaupun kondisi psikologis penyairnya berbeda dengan kondisi psikologi masyarakat penikmat sastra, tentunya kondisi psikologi masyarakat penikmat sastra tersebut sangat heterogen.
Keberhasilan mengkondisikan suasana psikologi masyarakat heterogen terhadap penerimaan yang sama terhadap karya sastra tersebut, menjadi sangat penting dikuasai oleh seorang perencana bangunan.
Makna itu penting, tapi yang lebih penting adalah kemampuan mengenali makna yang dianut oleh calon penghuni untuk dileburkan ke dalam sebuah rancangan. Tentunya dengan mempertimbangkan kondisi psikologis pengguna yang heterogen. Untuk itu seorang perencana harus memahami nilai-nilai makna yang dianut oleh calon penghuni, yang menjadi bagian pertimbangan dalam penyelesaian disain hunian. Tentunya telaah ini diharapkan akan membantu perencana dalam memahami nilai-nilai sebuah hunian.
Simbolisasi Ruang
Untuk mulai memahami pengertian simbol, kita perlu mengupas beberapa pendapat ahli dalam mendefinisikan simbol. Salah satu definisi symbolism menurut A.N. Whitehead dalam bukunya “Symbolism”, sebagai berikut
“pikiran manusia berfungsi secara simbolis manakala beberapa komponen pengalamannya menggugah kesadaran, kepercayaan, perasaan, dan gambaran mengenai komponen komponen lain dari pengalamannya.
Perangkat komponen yang awal adalah simbol dan perangkat komponen yang selanjutnya membentuk/memberikan makna simbol. Keberfungsian organis yang menyebabkan adanya peralihan dari simbol kepada makna itu dinyatakan sebagai referensi”. Makna merupakan pesan yang akan disampaikan dalam setiap simbol, dengan demikian terdapat unsur persepsi manusia terhadap sesuatu yang bersifat benda maupun bukan kebendaan.
Deskripsi Simbol sementara dapat disimpulkan sebagai sebuah kata atau benda, yang mewakili atau mengingatkan pada suatu identitas yang lebih besar. Ketika sebuah keluarga menempatkan sebuah keset pada sisi depan pintu masuk utama ke dalam unit hunian, maka penampatan keset itu merupakan sebuah simbol
terhadap wilayah penguasaan. Demikian juga ketika menempatkan sebuah kursi pada koridor, maka kursi digunakan juga sebagai simbol penguasaan wilayah. Dengan demikian simbol-simbol sebagai penanda batas penguasaan ruang dalam rumah susun menjadi sangat penting.
Bagaimana fenomena pembentukan simbol yang membedakan antara ruang private dan ruang publik di dalam unit hunian? Penghuni biasanya membedakan, dengan simbolisasi bahan yang digunakan. Misalkan untuk menandai daerah private sebagai ruang tidur pada ruang utama, menggunakan bahan karpet halus seperti karpet berbulu. Sedangkan pada ruang publik cukup dengan menggunakan karpet plastik, atau dibiarkan bahan apa adanya, sesuai dengan spesifikasi lantai yang disediakan pengembang. Fenomena ini pun menunjukkan bahwa untuk membangun ruang private menggunakan bahan- bahan yang dianggap mahal dan memiliki nilai prestisius.
Demikian juga makna dapat dihadirkan oleh tanda atau simbol. Simbol dapat terlihat melalui ruang maupun tempat. Dalam unit hunian, manusia pada umumnya sangat peduli terhadap pemaknaan ruang-ruang dan tempat yang dihadirkan dengan membangun simbol. Beberapa hal yang menjadi syarat pembentukan ruang dan tempat adalah adanya batas-batas, yang dapat dibentuk secara fisik maupun non fisik. Setelah kehadiran batas dari ruang tersebut, ruang selanjutnya didefinisikan berdasarkan fungsi dan pemakainya, yang ditandai oleh ruang personal, ruang sosial, dan ruang komunitas.
Bahwa sebuah ruang hunian bagi penghuninya harus dapat memberikan stimulus, keamanan serta identitas . Hal ini yang memberikan kejelasan akan perlunya teritorial dari penghuni maupun individu. Bagaimana sebuah ruang memberikan stimulus bagi penghuni untuk melakukan, mendapatkan dan merasakan satu kehidupan yang lebih baik. Di samping itu, bahwa unit hunian juga dapat memberikan rasa aman bagi penghuninya dari ganguan lingkungan.
Selanjutnya sebuah hunian juga mampu menunjukkan identitas dari penghuni dan individu penggunanya.
Upaya-upaya untuk menerjemahkan sebuah hunian, banyak dilakukan oleh penghuni rumah susun dengan berbagai keterbatasan ruang, dan ketersediaan tempat dari sebuah hunian ideal. Upaya-upaya tersebut telah melahirkan berbagai bentuk yang diterjemahkan dalam wujud simbol keberadaan ruang.
Walaupun berbagai konflik pada awalnya dapat terjadi. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan persepsi ruang, yang dibawa oleh setiap keluarga, terdapat perbedaan dalam proses pemaknaan.
Dengan demikian setiap benda atau susunan benda, setiap kata dan kalimat, dapat memberikan makna kepada setiap manusia. Namun apakah setiap manusia dapat menangkap setiap makna sebuah atau susunan kata atau benda dengan makna yang sama? Seperti pendapat Whitehead, bahwa dalam
[162]
pemaknaan tersebut ada unsur experience component, dan setiap suku bangsa, setiap masyarakat akan memiliki pengalaman yang berbeda-beda.
Makna akan hunian yang diperjuangkan oleh penghuni untuk mendapatkan kualitas ruang hidup dari sebuah hunian, akan meliputi beberapa proses pencarian/pengenalan. Proses tersebut adalah: Liveablity, yaitu upaya menciptakan ruang yang relatif nyaman bagi setiap penghuninya. Indentity and control, yaitu upaya membangun identitas dari batas-batas kepemilikannya, serta kontrol yang mana miliknya dan yang mana bukan bagiannnya, atau bagian bersama; Access to opportunities, imagination, and joy, yaitu upaya mencari peluang-peluang dalam pengembangan keluarga dan individunya, serta mendapatkan kesenangan dari tempat tinggalnya; Authentical and meaning, yaitu penghuni segera mencari dan mengenali rumah dan lingkunganya terhadap hal-hal apa saja yang dapat memberikan peluang untuk dikembangkan; Private life, yaitu upaya untuk menciptakan rumah sebagai simbol privacy dan ruang-ruang di dalamnya, yang mampu mewadahi privacy setiap anggota keluarga.
Persepsi Ruang
Rumah merupakan sebuah simbol privacy sebuah keluarga, termasuk individu- individu di dalam-nya. Rumah merupakan tempat tumbuh dan berkembangnya seorang manusia, sejak lahir, menjadi balita, anak-anak, remaja, dewasa, sampai dengan tua. Seseorang membutuhkan tempat dimana di dalamnya mendapatkan rasa aman, nyaman, terlindung akan kepentingan-kepentingan pribadinya. Rumah menjadi identitas tempat bagi seseorang terhadap keberadaannya di dunia ini. Keberadaan rumah bagi masyarakat Indonesia secara umum sangat kuat, hal ini yang telah mendorong suatu fenomena pulang kampung halaman. Ketika musim hari raya keagamaan, hari besar nasional, bahkan pada saat pencontrengan dalam pemilihan anggota legislatif yang lalu, fenomena pulang kampung halaman sangat melekat pada sebagai besar masyarakat Indonesia.
Sebuah keluarga atau individu, memiliki kebutuhan mendasar untuk sekedar
‘tarik nafas’ (dalam satu ruang dan waktu privacy ) di antara kesibukan dan kesehariannya. Hal ini berarti menikmati ‘kebebasan’ merdeka diantara aktifitasnya menjalani hidup. Utamanya berupa ruang (dan waktu), dimana seseorang bisa menemukan ‘kebebasan’. Merasa merdeka dalam keleluasaan, istirahat yang nyaman, dan ‘kebebasan’ ini bisa ditemukan di rumah sendiri.
Kebutuhan tadi cukup vital dan mendasar, sebagai alat refreshing psikologis dan fisik. Penting bagi sesosok individu dan keluarga, sebagai unsur masyarakat, dan sumber daya manusia.
‘Kebebasan’ tersebut hanya dapat di peroleh dari ruang-ruang pribadi dan waktu di rumah sendiri. Ketika seorang individu keluar dari rumah, maka
kebebasan itu akan hilang, dan dia harus patuh pada aturan sosial yang berlaku secara normatif, untuk itu fungsi rumah sebagai tempat dan ruang yang memberikan kebebasan yang seluas-luasnya bagi seorang individu ini menjadikan rumah sebagai simbol dari kemerdekaan, simbol dari privacy.
Ketika nilai-nilai kebebasan dan privacy tersebut terganggu maka kualitas kemerdekaan dan privacy tersebut secara otomatis berkurang.
Rumah yang merupakan private space akan berhubungan dengan dunia luar yang merupakan public space. Dunia luar yang terdiri dari kelompok- kelompok hunian yang dibangun oleh manusia yang heterogen. Sebuah hunian saling berhubungan, yang dihubungkan oleh jalan, ruang terbuka, dan sarana serta prasarana yang ada dalam lingkungan permukiman. Hal tersebut membentuk sebuah layout lingkungan permukiman, yang memungkinkan terbentuknya tingkat kualitas ruang private-public yang tegas.
Rumah dapat dilihat sebagai ruang khusus, tempat setiap individu bergabung bersama membangun hubungan yang lebih dekat. Lalu melakukan kendali terhadap ruang untuk mendapatkan privacy dan kenyamanan. Kontrol ruang privat sebuah keluarga dilakukan oleh keluarga itu sendiri. Sedangkan kontrol ruang privat individu dikontrol oleh individu bersangkutan. Seperti pada ruang tidur orang tua, kontrol privasi tersebut dilakukan oleh orang tua itu sendiri.
Sementara kontrol ruang privat anak, dalam hal ini ruang tidur anak, dilakukan oleh anak itu sendiri. Semakin dewasa seorang anak semakin besar peran kontrol ruang tersebut. Jadi kontrol privacy sebuah ruang sangat tergantung pada tingkat usia pengguna-nya.
Kontrol ruang public private menurut Madanipour (2003) sangat tergantung dari budaya dan pola perilaku dari keluarga tersebut. Selanjutnya, syarat rumah agar memiliki fungsi sebagai tempat hunian, yang mampu membangun keluarga menuju kehidupan yang lebih baik, maka haruslah memiliki tingkatan hirarki teritori, sebagaimana Newman nyatakan, yaitu:
1. Pembentukan Ruang Publik, ruang publik dalam rumah susun meliputi sarana dan prasarana yang dimiliki bersama mulai dari jalan menuju bangunan, lahan tempat bangunan itu berdiri serta prasarana yang menyangkut fasilitas sosial.
2. Pembentukan Ruang Semi-publik, pembentukan ruang semi publik pada rumah susun , adalah ruang-ruang yang merupakan fasilitas sosial akan tetapi berada dalam bangunan, seperti ruang bersama yang terletak pada lantai dasar, tangga, lift bagi bangunan yang lebih dari lima lantai serta koridor yang menghubungkan satuan rumah susun.
3. Pembentukan Ruang Semi-privat, ruang ini sulit dicapai pada sistem rumah susun di Indonesia saat ini. Ruang semi publik ini merupakan wilayah yang menjadi sekat antara area semi publik dengan area private pada hunian.
[164]
Pada hunian dengan sistem landed house maka ruang ini difasilitasi oleh halaman. Sedangkan pada sistem rumah susun saat ini, yang telah dibangun, kita sulit untuk menemukannya. Dari koridor langsung masuk ke dalam hunian.
4. Pembentukan Ruang Privat, Pembentukan ruang inti yang memiliki tingkat penguasaan personal yang tinggi. Ruang ini didominasi oleh kegiatan individu, yang sifatnya sangat pribadi/private. Kegiatan-kegiatan yang membutuhkan tingkat ketenangan yang sangat tinggi, yang meliputi kegiatan keluarga inti, kegiatan tidur, kegiatan interaksi suami istri, dan kegiatan lainnya. Yang menyangkut rumah sebagai simbol dari privacy.
5. Pembentukan Ruang Servis, Merupakan kegiatan yang bersifat penunjang kegiatan keluarga, maupuan kegiatan lingkungan. Ruang-ruang servis ini diperlukan pada tingkat unit hunian , maupun tingkat komunitas sebagai urban space.