• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fakta dan Kondisi Perumahan Rakyat Supply dan Demand

Dalam dokumen arsitektur - perumahan (Halaman 35-41)

Telaah Fakta dan Data

2.2. Fakta dan Kondisi Perumahan Rakyat Supply dan Demand

Dua sisi kritis permasalahan perumahan saat ini, yaitu dari sisi Demand dan sisi Supply. Sisi demand kita masih sangat terkendala dengan rendahnya daya beli masyarakat, khususnya masyarakat yang berpenghasilan rendah, saat ini lebih dari 70% berpenghasilan di bawah dua juta rupiah, sedangkan di sisi supply akibat berbagai krisis nasional maupun global telah mengakibatkan harga rumah semakin hari semakin melambung, hal ini disebabkan selain oleh peningkatan harga bahan bangunan juga disebabkan oleh semakin terbatasnya lahan untuk perumahan, terutama lahan di perkotaan.

Tantangan ke depan masih sangat besar untuk melaksanakan penyediaan perumahan rakyat yang layak huni dan terjangkau, dari tahun ke tahun terjadi peningkatan kebutuhan rumah sampai dengan tahun 2007, telah terjadi backlog perumahan lebih dari 7 juta unit rumah, tahun 2013 menjadi 12,5 juta unit belum lagi pertumbuhan kebutuhan rumah baru akibat pertambahan penduduk setiap tahun mencapai 800.000 unit. Disamping itu hampir mencapai 14 juta

[16]

unit rumah berada dalam kondisi kurang layak huni, yakni tidak kurang dari 10.065 lokasi merupakan permukiman kumuh dengan luas 47.393 ha dan dihuni oleh tidak kurang dari 17,2 juta jiwa.

Gerakan Nasional ”Pengembangan Satu Juta Rumah”, (GN-PSR) dan

”Pembangunan 1000 Tower” merupakan upaya pemerintah dalam percepatan penyediaan perumahan rakyat di perkotaan maupun perdesaan, namun upaya ini menuntut effort yang gigih. Bila kita kalkulasikan waktu yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan rumah nasional, dengan program satu juta rumah, maka untuk memenuhi kebutuhan rumah baru sekitar 800.000 unit tersisa 200.000 unit untuk mengejar backlog (untuk hitungan 7 juta unit). Tujuh juta unit bila tiap tahunnya dibangun 200.000 unit maka kita akan membutuhkan waktu 35 tahun ke depan, baru seluruh rakyat Indonesia akan bertempat tinggal. Fakta lain dari target pembangunan perumahan sederhana, pada tahun 2002, dari target 130.000 unit yang terealisasi hanya 39.979 unit, begitu juga di tahun 2003 direncanakan akan dibangun 90.000 unit, tetapi yang tercapai 59.275 unit. Tampaknya akan menjadi suatu penantian yang sangat panjang, sampai dengan beberapa generasi, bila pembangunan perumahan diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme seperti saat ini.

Standar Ruang per Orang

Sejak tahun 2002, melalui Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah, telah melakukan reformasi di bidang perumahan rakyat, dengan diterbitkannya Keputusan Menteri No. 403/KPTS/M/2002 tentang Pedoman Teknis Rumah Sederhana Sehat, yang merupakan pengganti kebijakan lama Kepmen PU No.

20/KPTS/1986 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Sederhana Tidak Bersusun (RS) dan Permen PU No. 54/PRT/1991 tentang Rumah Sangat Sederhana (RSS). Bila ditelaah kembali dalam kedua kebijakan yang lama tersebut, terdapat konflik menyangkut standar teknis; seperti standar kebutuhan ruang minimal per jiwa, standar luas lahan minimal, dan pembatasan teknologi konstruksi yang tidak dapat mewadahi potensi dan karakter lokal di beberapa daerah yang beragam. Sehingga tidak dapat disalahkan bila kedua kebijakan tersebut belum mampu menyelesaikan masalah perumahan rakyat dengan efektif.

Melalui Kepmen Kimpraswil No.403/KPTS/M/2002 persoalan kembali muncul, ketika standar kebutuhan rumah minimal yang ditentukan masih di bawah standar Internasional, dimana menurut Standar Internasional bahwa kebutuhan ruang per jiwa adalah 12 m2, sedangkan standar ruang menurut Kepmen tersebut adalah 9 m2. Hal tersebut lebih dikarenakan oleh keterbatasan daya beli masyarakat, diharapkan dengan standar ruang tersebut didapat luas rumah sehat adalah 36 m2 dengan catatan komposisi jumlah keluarga rata-rata empat orang per keluarga. Dengan alasan seperti itu para stakeholder dapat menerima luas minimal tersebut, sebagai rumah sederhana aspek kesehatan.

Diawal tahun 2007, Pemerintah mendorong percepatan pembangunan perumahan khususnya di perkotaan, dengan menyusun suatu program pembangunan 1000 tower, yang meliputi pembangunan rumah susun sederhana milik maupun sewa. Ironisnya bahwa dalam upaya kelancaran pelaksanan pembangunan serta mewadahi daya beli masyarakat, maka telah disusun suatu disain prototipe untuk kedua jenis rumah susun tersebut, dari kedua prototipe tersebut yang perlu disimak adalah prototipe rumah susun sederhana milik (RUSUNAMI), karena luas unit rumah susun tersebut rata-rata di bawah standar minimal luas rumah sehat; yaitu unit-unit dengan luas 21 m2, 27 m2, dan 30 m2.

Dengan luasan tersebut fungsi rumah sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya sebuah keluarga, tidak lagi memberikan kesempatan terjadinya proses tumbuh dan berkembang, artinya bahwa rumah milik dengan tipe 21 m2 yang dihuni oleh pasangan muda tentunya dalam waktu lima tahun ke depan, rata-rata sudah menjadi keluarga utuh dengan dua orang anak, namun dengan luas tadi, tidak memberikan kesempatan kepada keluarga tersebut tumbuh dan berkembang dengan sehat, artinya bahwa setiap jiwa hanya mendapatkan luas 5,2 m2, luas ini setengah dari standar yang ditetapkan oleh kesepakatan Internasional.

Kerusakan Lingkungan

Persoalan lingkungan yang terkait dengan pembangunan perumahan dan permukiman adalah konversi lahan produktif menjadi lahan perumahan diikuti konsumsi bahan bangunan yang telah mengeksploitasi sumber daya alam yang mengakibatkan kerusakan lingkungan. Seiring dengan pesatnya pertambahan penduduk, khususnya diperkotaan, memberikan pengaruh besar pada peningkatan kebutuhan dan pembangunan rumah. Ironisnya pola pembangunan yang dilakukan pada akhirnya telah banyak memusnahkan lahan produktif.

Konversi lahan pertanian menjadi perumahan tersebut telah mengubah fungsi irigasi menjadi drainase dan sewerage permukiman, yang berakibat pada banyaknya permukiman yang terkena bencana banjir. Selain itu dampak makronya adalah rentannya ketahanan pangan, yang seharusnya bangsa yang mampu melakukan swasembada pangan justru menjadi bangsa pengimpor beras. Sedangkan untuk membuka lahan baru untuk pertanian akan menuntut biaya yang cukup besar karena harus membangun kembali infrastruktur irigasi baru.

Selain itu arah pembangunan perumahan terus bergerak ke arah pinggiran kota, menuntut biaya investasi tinggi, karena setiap pembangunan perumahan harus dibarengi dengan infrastruktur, sarana dan prasarana yang memadai. Pada akhirnya juga akan meningkatkan biaya pengeluaran keluarga dikarenakan terjadinya peningkatan biaya transportasi, akibat dari tempat tinggal jauh dari tempat kerja. Fenomena tersebut tampak di kota-kota besar, seperti Jakarta,

[18]

Bandung, Surabaya, termasuk Medan. Banyak tenaga kerja di Jakarta yang bertempat tinggal di luar kota, seperti Bekasi, Tangerang, atau bahkan Bogor.

Waktu yang diperlukan untuk mencapai tempat kerja banyak yang tidak kurang dari 1½ - 2 jam, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan rata-rata 4 jam, artinya 50% dari waktu kerja yang 8 jam. Betapa tidak efisiennya pola kehidupan seperti ini. Satu jawaban dari penyebab tersebut adalah belum optimalnya pengelolaan lahan perkotaan. Makna permukiman telah bias, permukiman yang diartikan sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan, sudah tidak dapat dimaknai oleh sebagian besar masyarakat perkotaan.

Umumnya kota-kota besar belum memberikan pelayanan sebagai tempat tinggal yang memadai bagi warganya, bahkan sebagian kawasannya berada dalam kawasan yang tidak layak huni dengan tingkat kepadatan yang sangat tinggi di atas 500 jiwa/ha, dengan infrastruktur perumahan di bawah standar, kawasan tersebut dikenal sebagai kawasan kumuh/slum area.

Peringatan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh tuntutan pemenuhan kebutuhan manusia tersebut juga telah diperingatkan oleh kitab suci sebagai berikut “Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti- pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum `Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat- nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.[QS : Al A’raaf 7 : 74]”. Menurut kajian penulis, bahwa setiap rumah sederhana tembok dengan luas 36 m2 menghasilkan emisi CO2 sebesar 2.373,64 Kg CO2. Ketika kita akan mengejar target penyediaan rumah baru sesuai dengan pertumbuhan kebutuhan rumah baru setiap tahun, maka akan menghasilkan kadungan emisi CO2 sebesar 1.898.914.138,07 Kg CO2. Sehingga tidak heran ketika bencana banjir bandang, tanah longsor, kekeringan, dan akhirnya kelaparan dan kemiskinan senantiasa mengiringi kehidupan negeri ini. Bahkan setiap tahunnya kita harus kehilangan 2,4 juta m3 kayu, hal ini setara dengan 100.000 ha hutan dieksploitasi per tahunnya, kerusakan tersebut belum lagi bila kita hitung terhadap kebutuhan galian C, seperti pasir, batu, atau bahan bangunan olahan yang bersumber dari galian seperti semen, baja, dsb. Bila pendekatan disain arsitektur perumahan tidak segera merespon keterbatasan sumber daya, maka kerusakan lingkungan akan terjadi dan terus terjadi semakin parah.

Consumers Satisfaction

Sulit untuk menyatakan bahwa prototipe rumah yang disediakan oleh pengembang sudah dapat diterima oleh konsumen, karena faktanya bahwa 80%

rumah yang dihuni pada akhirnya harus dirubah oleh penghuninya kurang dari dua tahun setelah di huni. Kondisi demikian tidak dipertimbangkan bahwa

status rumah tersebut masih dalam kredit bank. Sehingga masyarakat harus melakukan investasi ulang dengan membuang bahan bangunan lama dan diganti dengan bahan banguna baru, artinya bahwa investasi yang lama terbuang dan melakukan investasi baru. Pola pembangunan demikian tidak efisien, selain merusak lingkungan karena sejumlah bahan bangunan baru akan menambah emisi, juga bahan bangunan lama yang dibuang masih dalam kondisi kredit bank, bukankah ini hanya akan menambah beban masyarakat dalam pembiayaan perumahan.

Perubahan tersebut tidak terlepas dari pengaruh kapitalisme dan materialisme dari masyarakat penghuni rumah sederhana. Ada keengganan masyarakat memiliki rumah dengan wajah yang sama dengan rumah tetangga, dan masyarakat berusaha menunjukkan jati diri melalui ekspresi rumah, rumah dijadikan lambang prestisius dari penghuninya, masyarakat berlomba-lomba untuk memenangkan pertarungan eksistensi dalam lingkungannya. Kesuksesan diukur melalui materi dan rumah salah satunya, setelah kendaraan dan pakaian.

Aktualisasi diri yang menurut Maslow merupakan hirarki tertinggi dari kebutuhan pada kenyataannya menjadi target bagi masyarakat yang kebutuhan dasarnya saja masih kurang. Pada persoalan ini nampak ada persoalan budaya yang tumbuh dari sebagian besar masyarakat Indonesia yaitu akibat dari pengaruh kapitalisme.

Rumah sebagai Benda Investasi ?

Harga rumah setiap tahun selalu mengalami kenaikan, hal ini selain disebabkan oleh naiknya harga bahan bangunan juga disebabkan oleh terbatasnya lahan untuk perumahan. Kenaikan harga rumah yang pasti terjadi setiap tahunnya mengakibatkan sebagian besar masyarakat menjadikan rumah sebagai barang investasi. Ironisnya perumahan yang diperuntukkan untuk memenuhi pertumbuhan rumah baru pada akhirnya dijadikan barang komoditas oleh kelompok masyarakat tertentu, sehingga berbagai bantuan serta subsidi yang dikucurkan oleh pemerintah pada akhirnya jatuh ketangan kelompok di luar sasaran.

Kondisi ini menciptakan gap sosial yang semakin hari semakin parah, sebagai ilustrasi bahwa pada beberapa unit rumah susun sederhana sewa disalah satu lokasi di DKI Jakarta, disewakan per unit Rp 75.000,- kepada masyarakat oleh pengelolanya, selanjunya masyarakat menyewakan kembali unit sarusun yang disewanya kepada pihak lain dengan biaya sewa Rp. 500.000,- s.d Rp.

750.000,- per bulan bahkan lebih. Demikian juga fenomena ini menggejala kembali pada program 1000 Tower khususnya pada Rusunami, yang saat ini cukup laku terjual dan sayangnya bahwa banyak yang membeli rusunami tersebut dengan membeli beberapa unit untuk kelak disewa-sewakan kembali, sekali lagi bahwa bantuan jatuh ke tangan di luar kelompok target sasaran.

[20]

Fakta-fakta di atas membawa kepada beberapa pertanyaan, yang bagaimana dengan kontribusi arsitektur dalam menyikapi persoalan tersebut? disamping persoalan lainnya pada tingkat kebijakan, dalam proses penyusunan maupun kontrol pelaksanaannya karena akan di dalamnya akan berkaitan dengan komitmen serta menyangkut persoalan law enforcement. Penulis akan membatasi ulasan pada aspek, sejauhmana pengaruh arsitektur terhadap pembentukan karakter bangsa yang digerakan oleh arsitektur perumahan dan permukiman.

Bagaimana bentuk arsitektur perumahan dan seperti apa yang mampu menjadi tempat dan sarana prasarana kehidupan dan penghidupan? sebagai media dalam pembangunan masyarakat seutuhnya? kontribusi arsitektur dalam pembentukan karakter bangsa, membangun bangsa yang sehat, kuat dan produktif sebagai syarat dalam menciptakan masyarakat yang sejahtera.

Seperti pendapat dari para sosiolog, seperti Frederic Le Play dan Edward Buckel, dimana kedua sosiolog tersebut beraliran kuat bahwa manusia itu dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, hal ini sejalan juga dengan pendapat dari Jon Lang, yang menyatakan bahwa antara manusia dengan lingkungan terjadi saling berinteraksi. Sehingga melalui penyediaan perumahan yang baik mampu memengaruhi dan membetuk karakter masyarakat yang kuat.

Vandalisme dan kriminalitas serta tindak kejahatan juga tidak terlepas dari pengaruh disain arsitektur bangunan, berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungan perumahan baik yang bersusun maupun yang tidak bersusun sangat erat kaitannya dengan pola disain bangunan dan kawasan, hal ini sebagaimana disampaikan oleh Oscar Newman maupun Barry Poyner. Dalam hal ini Oscar Newman menawarkan pendekatan Defensible Space, sebagaimana dia sampaikan dalam ”defensible space is a model for residential environment which inhibits crime by creating the physical expression of social fabric that defends itself”. [Newman:1978] Selanjutnya Newman juga menyatakan bahwa kriminalitas yang terjadi dipengaruhi oleh kondisi sosial dan kondisi fisik lingkungan yang buruk.

Namun demikian bahwa persoalan tidak sebatas menyangkut penghuni rumah saja akan tetapi masuk juga pada ranah lingkungan, yaitu bagian yang menjadi terpengaruh akibat pembangunan perumahan, sehingga persoalan pembangunan perumahan yang bagaimana yang memungkinkan terbangunnya kualitas rumah beserta lingkungan (alami dan binaan) tetap terjaga dan tercipta kualitas yang lebih baik. Pola-pola pembangunan perumahan yang ramah lingkungan serta berkelanjutan harus menjadi bagian dalam pertimbangan setiap disain arsitektur.

Dalam dokumen arsitektur - perumahan (Halaman 35-41)