• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Adaptasi

Dalam dokumen arsitektur - perumahan (Halaman 190-198)

Sebagai Solusi Perumahan Rakyat

11.3. Proses Adaptasi

Metoda yang digunakan dalam proses penelaahan lebih lanjut, adalah melalui penggalian fenomena-fenomena penghuni rumah susun, dalam melakukan adaptasi terhadap disain yang tersedia. Proses adaptasi dapat digunakan dalam melakukan telaah arsitektur rusunami yang telah ada.

Adaptasi adalah cara bagaimana organisme mengatasi tekanan lingkungan sekitarnya untuk bertahan hidup. Organisme dinyatakan mampu beradaptasi terhadap lingkungannya bila ia mampu untuk: memperoleh air, udara dan nutrisi (makanan); mengatasi kondisi fisik lingkungan seperti temperatur, cahaya dan panas; mempertahankan hidup dari musuh alaminya; bereproduksi;

merespon perubahan yang terjadi di sekitarnya (id.wikipedia.org). Sedangkan adaptasi menurut Roy Ellen (internet) terjadi pada level phylogenetic yang bekerja melalui adatasi genetik individu serta melalui seleksi alam, adaptasi melalui modifikasi fisik dari phenotype (ciri-ciri fisik), proses belajar dan modifikasi cultural/budaya.

Telaah ini difokuskan pada adaptasi yang terjadi melalui proses belajar yang menghasilkan perubahan lingkungan yang disertai oleh modifikasi budaya.

Adaptasi terjadi ketika ditemukan kondisi lingkungan yang sangat extreme, dimana adaptasi merupakan respon kultural. Atau proses modifikasi, dimana

penanggulangan dengan kondisi untuk keberlangsungan kehidupan sebagai indikator adaptasi, adalah pemenuhan kebutuhan dasar manusia.

Adaptasi juga dilihat sebagai usaha untuk memelihara kehidupan dalam menghadapi perubahan. Sehingga dinamika adaptasi mengacu pada perilaku yang didisain pada pencapaian tujuan dan kepuasan kebutuhan dan keinginan yang berkonsekuensi pada perilaku untuk individu, masyarakat dan lingkungan.

Proses adaptasi terjadi dalam upaya mempertahankan keberlanjutan kehidupan, yang merupakan sifat dasar kemanusiaan sebagai manusia (human being).

Manusia berusaha menyesuaikan diri terhadap lingkungan agar mampu bertahan hidup, sedangkan yang tidak mampu beradaptasi akan menghadapi kepunahan atau kelangkaan jenis (id.wikipedia.org).

Proses adaptasi pada manusia tidak mengandalkan perubahan genetik, akan tetapi melalui pengolahan akal dan pikir manusia. Sehingga menghasilkan teknologi, dalam bentuk peralatan yang membantu kehidupannya. Dalam telaah ini akan dijelaskan bagaimana proses adaptasi terjadi pada sebuah objek arsitektur perumahan. Arsitektur perumahan sebagai sebuah benda memiliki tiga dimensi yang meliputi dimensi fungsi, bentuk dan makna. Dimana diantara ketiganya terjadi interaksi yang saling memengaruhi, seperti dijelaskan pada Diagram 4.

Keterangan :

Jalur adaptif :

Jalur pengembangan :

Diagram 4. Alur proses adapatasi dalam arsitektur perumahan, dikembangkan dari konsepsi lingkungan total (Jhon S. Nimpoeno, 1981)

Bentuk Makna

Fungsi Konteks

Struktur Perilaku

ARSITEKTUR PERUMAHAN Pembentukan Pesepsi

Pembentukan Perilaku Pembentukan Simbol

[172]

Pada telaah wawasan lingkungan total menurut John S. Nimpoeno (1992), sistem-sistem lingkungan terdiri dari sistem lingkungan hidup, sistem sosial dan sistem konsep. Hal ini dapat disejalankan dengan pengetahuan dasar arsitektur dalam ordering system menurut Capon, yang dikutip dari Purnama Salura, yaitu bahwa arsitektur memiliki tiga dimensi yang terdiri dari form, meaning, dan function.

Ketiga aspek tersebut memiliki kesetaraan dengan lingkungan total John S.

Nimpoeno. Yaitu, sistem lingkungan sebagai wujud dari bentuk, sistem konsep sebagai wujud meaning serta sistem sosial sebagai fungsi, ketiga elemen tersebut digerakkan oleh adanya kehendak dari sistem masyarakat. Dalam ketika sistem tersebut menurut Nimpoeno kembali terjalin suatu interdependensi. Yang memperlihatkan dua jalur arah proses, yaitu jalur adaptif dan jalur pengembangan.

Selanjutnya dimensi arsitektur tersebut, fungsi, makna dan bentuk menurut Capon yang dikembangkan oleh Purnama Salura, memiliki pasangan primary – secondary, yaitu; fungsi berpasangan dengan konteks, makna berpasangan dengan tampilan pesan, serta bentuk berpasangan dengan struktur. Dalam telaah ini sebagaimana telaah arsitektur perumahan yang diuraikan dalam bahasan ini sebatas pada kasus arsitektur rusunami.

Dengan isu utama fungsi-fungsi dasar sebuah hunian belum terwadahi secara utuh dalam ruang arsitektur rusunami. Hal tersebut disebabkan oleh adanya keterbatasan ruang (form), yang diperuntukkan sebagai wadah aktifitas manusia dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Yaitu aktifitas (function) yang digerakkan sesuai dengan tata nilai (meaning) yang dianut oleh masyarakat. Atas dasar tersebut penghuni akan melakukan berbagai upaya modifikasi perilaku dengan mengubah tata nilai (meaning) maupun modifikasi ruang sebagai representasi dari bentuk (form). Sehingga antara bentuk dan makna terjadi dinamika , yang disebabkan oleh pergeseran persepsi, yang dibangun antara bentuk serta makna.

Dinamika pengaruh bentuk terhadap perubahan sistem makna, terjadi dikarenakan antara kedua elemen arsitektur ini terjadi pembentukan persepsi.

Dimana persepsi bentuk akan menghasilkan makna. Demikian juga dengan makna, akan dipersepsikan juga terhadap bentuk, melalui proses relevansi bentuk terhadap makna.

Proses-proses tersebut, menghasilkan penormaan atau pembentukan tata nilai .Yang akan di tempatkan terhadap bentuk (form), sebagai simbol dari tata nilai yang diterima secara kolektif.

Proses pemaknaan bentuk arsitektur dilakukan melalui dua tahapan. Yaitu tahap identifikasi bentuk dan tahap relevansi bentuk. Dalam proses relevansi penghuni akan membandingkan (merelevankan) dengan pengetahuan

lingkungan sebelumnya (spatial cognition). Pada saat proses identifikasi belangsung spatial cognition dari penghuni sudah mulai memengaruhi, dimana kejadiannya senantiasa bersamaan dengan proses relevansi dengan tata nilai yang dibawa.

Dinamika yang terjadi dalam proses pemaknaan akan berpengaruh terhadap aktifitas, sebagai wujud dari sistem fungsi. Proses-proses antara kedua sistem ini merupakan proses sosiokultural. Yaitu ketika pemaknaan yang dihasilkan dari proses identifikasi-relevansi di atas tidak ditemukan adanya kecocokan dengan tata nilai yang dianut.

Maka tahap adaptasi dimulai dengan melakukan modifikasi perilaku (aktifitas) dalam wujud pola kegiatannya. Proses perubahan tersebut berlangsung sebagai proses sosialisasi yang terjadi pada diri seseorang sebagai individu sampai dengan tingkat kolektif, dan berlangsung juga pada skala waktu yakni dari generasi ke generasi melalui proses sosialisasi di atas.

Proses sosialisasi bila mengusung suatu objek yang benar, maka akan menghasilkan generasi yang lebih baik. Namun bila objek sosialisasi itu memiliki kekeliruan, maka akan terjadi degradasi sosial budaya.

Dampak dari persoalan tersebut adalah menurunnya kualitas sumber daya manusia di kemudian hari, yang terlahir dari lingkungan demikian. Selanjutnya tampak bahwa peran rumah sebagai tempat hunian, harus memiliki wadah yang cocok dengan tata nilai. Yang juga ditentukan oleh pemenuhan minimum dari kebutuhan dasar manusia, dalam melakukan aktifitas-aktifitas kehidupan dan penghidupan . Dalam sebuah keluarga di antara komunitas perumahan.

Kegiatan-kegiatan dasar manusia sangat ditentukan oleh adanya kebutuhan (need) dalam dirinya. Pemenuhan kebutuhan tersebut akan menjelma dalam bentuk aktifitas manusia, yang direpresentasikan dalam pemenuhan kebutuhan ruang. Kebutuhan manusia memiliki sifat dinamis, sehingga pada titik tertentu kebutuhan tersebut akan berubah menjadi keinginan (want). Ketika hal tersebut terjadi pada sistem hunian, maka rumah sebagai pemenuhan kebutuhan mengalami perubahan menjadi keinginan, maka fungsi rumah akan bergeser menjadi wadah ekspresi jati diri pemiliknya.

Dimensi arsitektur perumahan yang meliputi fungsi, bentuk, dan makna mengalami pergeseran sangat dinamis dibandingkan dengan fungsi-fungsi lain.

Hal ini disebabkan oleh adanya sifat pertumbuhan dari pengguna. Ini dapat dijelaskan sebagai berikut; “Sebuah rumah yang pada awalnya dihuni oleh sebuah pasangan muda. Selanjutnya beberapa tahun kemudian pasangan tersebut akan berkembang menjadi pasangan muda dengan satu atau beberapa balita. Demikian selanjutnya, tumbuh menjadi pasangan dengan beberapa anak remaja sampai dewasa, dan pada akhirnya kembali menjadi pasangan lansia dengan komposisi dua anggota saja”.

[174]

Dinamika perubahan tersebut disebabkan diikuti oleh kebutuhan yang juga bergerak dinamis. Sehingga perubahan tata nilai yang terjadi, akan mengubah aktifitas, yang diikuti dengan perubahan lingkungan, agar kebutuhan yang berkembang tersebut dapat terwadahi. Proses perubahan tersebut berlangsung dengan diikuti oleh pembentukan persepsi, intepretasi, pemaknaan, dan adanya adaptasi.

Persepsi

Persepsi merupakan proses penerimaan seseorang terhadap sebuah tanda, sebagai bagian dari sebuah pesan, yang dalam hal ini disampaikan oleh bangunan atau lingkungan. Persepsi berlangsung dikarenakan kemampuan manusia , untuk menangkap sebuah tanda melalui media inderawi manusia.

Persepsi menurut Giffond yang dikutip dari Helen Ross, menyatakan bahwa

we know a great deal about the perception of one-eyed man with his head in a clamp whaching glowing lights in a dark room, but surprisingly little about his perceptual abilities in a real-life situation”.

Persepsi lingkungan, meliputi kumpulan informasi , yang diproses secara bertahap, dan dimaknai secara cognitif melalui media inderawi. Persepsi dapat timbul berbeda terhadap suatu objek , ketika sebelumnya mengalami suatu pengalaman yang lain. Seperti dapat dilihat pada theori Gestalt, akibat latar belakang yang berbeda seseorang akan mempersepsikan sesuatu berbeda dengan umumnya.

Demikian halnya pada penghuni rusunami, dimana sejumlah penghuni berangkat dari latar belakang yang berbeda-beda. Sebagai sebuah karakter masyarakat perkotaan, maka pada tahap awal kelompok masyarakat tersebut akan masuk secara bersamaan ke dalam bangunan bersama. Lalu perbedaan persepsi pada tahap awal akan terjadi. Selanjutnya perbedaan persepsi individu tersebut akan berinteraksi antara sesama, sebagai proses sosialisasi, yang akan berakhir pada pembentukan persepsi kolektif. Peristiwa tersebut merupakan tahap awal dalam proses adaptasi sosial-budaya, dimana akan terjadi proses asimilasi maupun akulturasi diantara berbagai bentuk persepsi yang berbeda- beda tadi.

Pada tahap selanjutnya, ketika persepsi kolektif terbentuk, maka akan membangun tata nilai bersama, yang memengaruhi perilaku kolektif sebagai wujud budaya. Hal ini sangat memungkinkan budaya yang terbentuk dalam lingkungan rumah susun merupakan perwujudan dari budaya rumah susun.

Budaya rumah susun yang dilandasi oleh tata nilai kolektif di atas, akan memengaruhi perwujudan lingkungan rumah susun itu sendiri. Baik pada skala ruang dalam maupun ruang luar. Dikarenakan adanya ketidak cocokan tata nilai yang dibangun secara kolektif dengan ketersedian ruang yang ada, maka

masyarakat akan melakukan modifikasi terhadap arsitektur rusunami, yang disediakan oleh pengembang.

Proses modifikasi elemen-elemen arsitektur juga disampaikan oleh Simon Unwin, tentang elemen arsitektur dan mengelola serta mengolah elemen arsitektur. Bahwa elemen arsitektur terdari dari dua aspek utama yaitu, wujud fisik dan wujud non fisik. Wujud fisik yang dijelaskan dalam bentuk tempat, yang memiliki batas-batas yang jelas dalam bentukan fisik, yang terdiri wujud masa dan ruang. Selanjutnya elemen arsitektur non fisik diwujudkan dalam bentuk energi. Keduanya saling berinteraksi membentuk sebuah proses pengolahan dan pembentukan wujud fisik dan saling berinteraksi satu dengan yang lainnya, sehingga terciptanya sebuah atau beberapa persepsi.

Syarat utama terbentuknya persepsi adalah adanya interaksi, dan proses interaksi yang benar adalah ketika terjadi proses komunikasi. Komunikasi antara receiver ( dalam hal ini penghuni ) dan hunian beserta lingkungannya sebagai transmiter harus memiki pesan. Kemudian pesan itu yang akan diterima oleh penghuni dalam bentuk persepsi. Ketika persepsi yang diterima penghuni memiliki kecocokan dengan pesan yang disampaikan oleh bangunan, maka wujud arsitektur tersebut telah membuat proses adaptasi berjalan dengan baik. Namun kenyataan yang kerap terjadi adalah, pesan dari rumah susun tidak memiliki kecocokan dengan persepsi yang dibangun oleh penghuni.

Wujud fisik arsitektur dalam bentuk tempat memiliki batas-batas yang membentuk ruang. Batas-batas tersebut dapat berupa batas fisik maupun non fisik. Batas fisik dari suatu material tertentu, yang memiliki tekstur. Dengan karakter masif atau transparan. Sebuah ruang yang terbentuk akibat adanya batas-batas yang dibentuk oleh elemen pembagi tersebut, yang akan memiliki kualitas ruang , yang dipengaruhi oleh faktor cahaya, warna, temperatur, suara, dan pergerakan udara.

Dalam proses komunikasi arsitektur, wujud masa dan ruang yang memiliki tekstur dan sifat transparan masif tersebut, dinyatakan pengolah pesan sebagai sumber komunikasi.

Sedangkan cahaya, warna, temperatur, suara, dan pergerakan udara merupakan media komunikasi, pesan tersebut diterima oleh panca indera manusia dan membangun persepsi pada manusia. Proses komunikasi dalam arsitektur dapat jelaskan melalui Bagan 3.

Identifikasi tempat sebagai sebuah pesan dalam komunikasi arsitektur, dibentuk oleh elemen-elemen dasar arsitektur yang bersifat fisik. Seperti unsur masa (berat/ringan), unsur ruang yang dibentuk oleh batasan fisik (dinding, tanaman, dsb), tekstur (kasar/halus), elemen-elemen tersebut merupakan elemen dasar yang memberikan identitas sebuah tempat. Selanjutnya melalui media, pesan tersebut disampaikan kepada penerima , dan diterima melalui

[176]

inderawi manusia. Media utama dalam penyampai pesan arsitektur adalah, unsur visual melalui media cahaya, pendengaran melalui unsur udara, dan rasa melalui media kulit/tubuh.

Bagan 3. Komunikasi melalui pengolahan elemen arsitektur

Inderawi manusia memiliki peran penting dalam penerimaan pesan. Pesan yang diterima tersebut akan dipersepsikan oleh manusia. Setiap individu memiliki kemampuan penerimaan persepsi yang berbeda-beda. Dan persepsi tersebut dapat berkembang pada setiap individu dengan tingkat perkembangan yang berbeda-beda. Perbedaan persepsi tersebut memancing interaksi antara manusia. Proses interaksi tersebut mendorong ilmu pengetahuan berkembang.

Hal ini lah yang memungkinkan pengembangan ilmu arsitektur terjadi.

Pemaknaan

Menurut KBBI, makna adalah “menekankan arti/meaning, sebagai maksud yang dikandung”. Ketika arsitektur membahas kata makna, terdapat beberapa pandangan akan makna, antara pro dan kontra terhadap pemaknaan dalam arsitektur, karena sifat makna tersebut dapat dipersepsikan berbeda-beda oleh pengguna bangunan. Bahkan makna yang ditanamkan ke dalam bangunan oleh perancangnya , dapat dipersepsikan berbeda oleh pengguna bangunan. Para pendukung aliran makna seperti Ferdinand de Saussure, Roland Barthes, Jaques Derrida, dll makna banyak dikaitkan dengan bahasa. Dalam pengertian bahasa makna terdapat pada komunikasi verbal maupun non verbal.

Makna dilihat dari sudut psikologi lingkungan, menurut Gifford “meaning is used broadly to characterize research on environmental perception, description, evaluation, or emotion, ….. that place meaning is intricatetly connected to an individuall’s planned activities”. Selanjutnya Giffond menjelaskan terdapat empat perbedaan berdasarkan proses, yaitu:

Place attachment, pengalaman yang luar biasa (ekstrem) pada keadaan suatu tempat, terjadi setelah berjalan lama, seseorang akan memberikan penilaian suatu tempat akan memberikan pengalaman ruang yang berupa kualitas, keindahan, atau memberikan perubahan dan pilihan untuk mendapatkan manfaatnya.

Pesan

Masa: tekstur, warna, transparansi, bobot

Ruang: skala, dimensi,

Media : 1. Cahaya 2. Warna 3. Temperatur 4. Udara 5. Suara 6. Penciuman

Ideological communication, terjadi melalui bangunan atau tempat yang memberikan arti dalam tingkat filosofi, arsitektur, politik terhadap siapa saja yang melihat objek bangunan atau ruang tadi.

Personal communication, apa yang dikatakan bangunan untuk diamati terhadap penggunaan

Architectural purpose, penilaian terhadap suatu fungsi bangunan dalam hubungan terhadap bentuk atau penampilan.

Proses tersebut dapat dijelaskan pada Bagan 4.

Bagan 4. Dinamika pemaknaan ruang dalam arsitektur

Pada tahap ini tingkat kesamaan antara makna dan persepsi tidak menjadi sangat penting. Bahwa seorang perencana tidak perlu memaksakan pesannya diterima sama oleh si penerima. Yang terpenting adalah bahwa setiap pesan yang disampaikan dalam bangunan dapat memberikan respon sesuai dengan yang diharapkan oleh si perencana.

Sebuah nilai-lah yang membuat wujud arsitektur akan menjadi bagian bagi pengguna bangunan. Seolah-olah bahwa pengguna bangunan tersebut tidak dapat melepaskan dari bangunannya. Hal ini seperti tahapan Mitis yang disampaikan oleh Van Peursen dalam Strategi Kebudayaan. Ketika wujud arsitektur sangat memiliki keterikatan yang kuat dengan penggunannya, hal ini menunjukkan bahwa wujud arsitektur tersebut memiliki nilai-nilai positif, yang dapat memberikan pengaruh positif terhadap pengguna bangunan tersebut.

[178]

Adaptasi

Terdapat dua macam perubahan yang terjadi pada manusia. Pertama adalah perubahan yang terjadi dari sebuah konsekuensi manusia sebagai mahluk hidup, yang mengalami pertumbuhan secara genetik. Mulai dari embrio, tumbuh menjadi bayi yang siap lahir, setelah lahir tumbuh menjadi anak-anak, kemudian remaja, dewasa, lansia dan akhirnya kematian. Perubahan kedua adalah perubahan yang berkaitan dengan psikologi, yaitu perubahan yang disebabkan oleh kebutuhan untuk mempertahan kehidupan. Dalam proses mempertahankan kehidupan tersebut, manusia akan berusaha untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup yang paling mendasar. Seperti kebutuhan akan nutrisi, air, udara, maupun perlindungan.

Dalam mewujudkan pemenuhan kebutuhan dasar tersebut, manusia melakukan upaya-upaya penyesuaian /adaptasi dengan alam. Demikian halnya pada saat ini, ketika sebuah masyarakat memasuki lingkungan hunian baru, maka akan melakukan proses adaptasi pada dirinya dan lingkungannya .Melalui perubahan perilaku maupun intervensi manusia untuk mengubah lingkungannya , sesuai dengan kondisi fisik manusia-nya. Jadi perubahan-perubahan tersebut terjadi pada lingkungan fisik, disertai dengan lingkungan sosial-budaya masyarakatnya.

11.4. Dinamika Perubahan

Dalam dokumen arsitektur - perumahan (Halaman 190-198)