• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang

Dalam dokumen arsitektur - perumahan (Halaman 105-111)

Dalam pembentukan karakter budaya

5.1. Latar Belakang

[5] Ruang Publik Rumah Susun

[86]

mengandung arti bahwa diharapkan terjadi perubahan sosial yang dibentuk oleh pembangunan perumahan. Bahwa penyediaan perumahan yang layak huni dan terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah saat ini terkendala oleh gap antara daya beli masyarakat dengan biaya investasi dalam pembangunan rumah. Tingginya harga rumah disebabkan oleh kenaikan bahan bangunan serta harga lahan. Lahan merupakan persoalan yang semakin hari semakin sulit, selain harganya terus meningkat juga ketersediaan lahan untuk perumahan semakin sulit, khususnya di perkotaan. Konversi lahan produktif tidak dapat dihindarkan, pertumbuhan kota ke arah horizontal (urban sprawl) telah menjadi beban tersendiri dikarenakan oleh biaya penyedian infrastruktur, dan living cost akan menjadi mahal serta kerusakan lingkungan akan semakin parah. Pada kondisi demikian pola penyediaan perumahan secara vertikal mutlak untuk diterapkan agar pembangunan kota lebih ringkas dapat semakin (compact city). Kesadaran ini telah dirasakan oleh Pemerintah, untuk itu program 1000 tower dicanangkan untuk melakukan percepatan penyediaan perumahan secara vertikal.

Pada sisi lain kebutuhan rumah terus menerus meningkat tiap tahunnya, hal ini disebabkan oleh peningkataan jumlah penduduk di perkotaan terutama diakibatkan oleh urbanisasi. Hal ini telah mendorong pertumbuhan rumah baru saat ini telah mencapai 800.000 unit per tahun serta pertumbuhan keluarga baru mencapai 1.400.000 keluarga muda per tahunnya [BPS 2000], menurut undang-undang perkawinan tahun 1974, usia perkawinan minimal bagi wanita adalah 16 tahun sedangkan laki-laki adalah 19 tahun, dengan demikian tigkat kebutuhan perumahan sejalan dengan pertumbuhan pasangan baru indentik dengan angka 1.400.000 unit, dan bila ditinjau dengan angka tersebut maka cukup besar kebutuhan perumahan di Indonesia, belum lagi backlog sampai dengan tahun 2005 ini telah mencapai 7,2 juta unit rumah, ditambah lagi dengan 14 juta unit rumah masyarakat berada dalam kondisi yang kurang layak huni serta tidak kurang dari 10.065 lokasi perumahan merupakan kawasan kumuh dengan luas 47.393 ha atau dihuni oleh kurang lebih 16,2 juta jiwa.

Besarnya kebutuhan perumahan yang belum dapat terfasilitasi saat ini, menunjukan bahwa penyediaan perumahan memegang peran strategis dalam pembentukan karakter bangsa. Dan penyediaan perumahan secara vertikal sudah menjadi solusi yang dipilih di beberapa kota besar di dunia termasuk Indonesia saat ini. Berangkat dari pengalaman beberapa negara-negara Barat (Eropa dan Amerika) yang telah lebih dahulu melakukan program penyediaan perumahan secara vertikal pada skala masal, pada akhirnya dalam proses perjalanan waktu banyak mengalami persoalan sosial yang berkaitan dengan perubahan perilaku dari penghuni, banyak yang berakhir dengan meninggalkan vandalisme, kriminalitas, maupun pornografi [Newman 1978]. Berangkat dari pengalaman tersebut, kiranya pola serupa yang sedang berjalan saat ini di Indonesia dalam penyediaan rumah vertikal secara masal dalam program 1000

tower, masih belum dilakukan penelitian mengenai pembentukan budaya masyarakat di rumah susun. Penelaahan ini akan menggali sejauhmana ruang- ruang publik dalam rumah susun sederhana membentuk perilaku penghuni dalam kegiatan sehari-hari sebagai individu maupun sebagai komunitas, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan rujukan dalam penyusunan kebijakan dalam penyediaan perumahan bersusun dengan mengantisipasi perubahan budaya masyarakat penghuni ke arah yang lebih baik, dalam peningkatan kualitas kehidupan dan penghidupannya.

Tantangan Perumahan Vertikal

Rintisan pembangunan rumah susun di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1974, dimana flat housing untuk pertama kalinya telah diuji-cobakan oleh Puslitbang permukiman di Turangga, selanjutnya pada tahun 1980 an pembangunan mulai marak dilakukan oleh kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, baik yang dilakukan oleh Pemerintah daerah maupun oleh Perumnas, pembangunan lebih banyak diarahkan pada penataan kembali kawasan kumuh, sampai dengan awal tahun 2002, pemerintah pusat mulai memberikan perhatian besar pada pembangunan perumahan secara vertikal, yang tidak hanya ditujukan pada penataan kawasan kumuh, akan tetapi lebih pada penyediaan perumahan dengan pertimbangan efisiensi lahan, yang disebabkan oleh semakin sulit dan mahal harga lahan. Dari hasil lokakarya Rumah Susun Sederhana di Jatinagor pada tahun tersebut telah menghasilkan kesepakatan antara berbagai stakholder untuk berupaya menggulirkan program pembangunan Rumah Susun Sederhana, dukungan tersebut ditunjukan melalui keterlibatan sebagai peserta sayembara disain Rumah Susun Sederhana (Rusunawa) pada tahun tersebut, selanjutnya pada tahun 2003 dimulai pembangunan rumah susun di 10 kota besar di Indonesia yang sebagian besar diangkat dari hasil sayembara tersebut, program tersebut walau sedikit terseok- seok akan tetapi terus berjalan, selanjutnya pemerintah melakukan percepatan kembali dengan mencanangkan program 1000 tower pada tahun 2007, dengan penambah program tidak sebatas rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) akan tetapi rumah susun sederhana milik (Rusunami).

Tipikal arsitektur rumah susun sederhana pada program tersebut umumnya menggunakan model disain twin block, dengan pola masa single-loaded, sedangkan pada era 80an, tipikal rumah susun yang dibangun selain single- loaded, juga ada double-loaded serta terpusat dengan void atau tanpa void.

[88]

Single-loaded double-loaded

centre

Bagan 1. Tipikal bentuk rumah susun sederhana

Berdasarkan kebijakan pembangunan perumahan susun yang diarahkan pada kota-kota besar di atas, maka penelitian ini akan di fokuskan pada rumah susun sederhana baik sewa maupun milik di 10 kota yang menjadi pilot projek pemerintah, dengan melakukan pengelompokan terlebih dahulu berdasarkan :

 Rumah susun yang dihuni telah minimal dua tahun, dengan pertimbangan bahwa bangunan kurang dari dua tahun proses pembentukan budaya belum memadai.

 Rumah susun yang dihuni oleh kelompok masyarakat yang berpenghasilan rendah, dengan memisahkan antara penghunian dengan status kepemilikan dan status sewa.

 Rumah susun dengan ketinggian tidak lebih dari enam lantai, dengan pertimbangan bahwa ada perbedaan antara bangunan kurang dari enam lantai dan lebih dari enam lantai, yaitu dari sistem sirkulasi, selain itu pembangunan rumah susun lebih dari enam lantai, masih terbatas, sejauh di DKI Jakarta, sementara kota-kota lain belum menerapkan.

 Bagian yang akan diteliti adalah ruang-ruang publik pada bangunan rumah susun, mulai dari ruang pencapaian sampai dengan ruang peralihan menuju unit-unit rumah susun.

Pada setiap ruang-ruang publik tersebut akan dilakukan pengamatan terhadap bagaimana masyarakat mengfungsikan ruang tersebut, dan fungsi-fungsi apa saja yang ditampung dalam ruang publik yang diamati, selanjutnya melihat bagaimana proses pembentukan perilaku yang disebabkan oleh setiap bentukan ruang tersebut.

Penelitian tentang ruang publik pada rumah susun sedarhana, sesuai dengan fungsinya bahwa ruang publik tersebut diperuntukan untuk menampung kegiatan-kegiatan bersama penghuni dalam rumah susun, sehinga di dalamnya terdapat unsur-unsur pola perilaku penghuni, yang mengalami perubahan, dari pola ruang publik di atas tanah menjadi ruang publik dalam sebuah bangunan.

Sehingga dalam proses pemahaman perilaku penhuni tersebut diperlukan penggalian terhadap pola perilkua masyarakat sebelum tinggal di rumah susun, yang dapat diambil dari pola perilaku masyarakat yang tinggal di kampung kota sebagai pembanding dengan pola perilaku masyarakat yang tinggal di rumah susun. Hal ini untuk mengamati perilaku apa saja yang dibawa ke rumah susun dan perilaku apa saja yang dibentuk oleh rumah susun, seluruh perilaku tersebut akan menbentuk sebuah perilaku masyarakat rumah susun (budaya rumah susun).

Atas dasar tersebut, maka sebagai dasar pemikiran penelitian ini adalah “ruang- ruang publik pada rumah susun membentuk perilaku penghuni dalam rumah susun, sebagai sebuah proses adaptasi penghuni yang kelak dapat menjadi sebuah bentuk budaya rumah susun”. Untuk itu disusun sebuah tesa : bahwa ruang dalam rumah susun memberikan pengaruh terhadap perilaku penghuni yang secara bertahap akan mengalami perubahan, sebagai proses adaptasi sosial budaya terhadap spasial, sehingga perencanaan ruang dalam rumah susun tidak hanya sebatas fisik semata akan tetapi non fisik menjadi pertimbangan sebuah disain.

Untuk menjawab hipotesa di atas, maka perlu memahami terlebih dahulu bagaimana sebuah ruang memberikan nilai dan kualitas ruang, sebagaimana ruang dapat memberikan berbagaimacam perasaan kepada manusia, ada ruang yang memberikan rasa takut, mencekam, juga ada ruang yang memberikan rasa nyaman, tenang. Kondisi dan kualitas ruang tersebut akan berdampak bagi manusia, ruang yang menimbulkan perasaan menyeramkan akan membuat manusia menjadi stres, sehingga akan membuat manusia itu sakit. Perasaan- perasaan demikian akan muncul pada bangunan rumah susun, karena penghuni rumah susun akan mengalami suatu perubahan kebiasaan hidup, dari kebiasaan hidup di atas tanah menjadi dalam bangunan. Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan di atas tanah menjadi di dalam bangunan.

Pada tahap awal pertanyaan yang harus dapat terjawab adalah bagaimana masyarakat memanfaatkan ruang-ruang publik? Apakah ruang-ruang publik tersebut telah mampu mewadahi kebutuhan masyarakat dalam menjalankan kehidupannya dalam rumah susun? Dan kegiatan-kegiatan apa saja yang terjadi pada ruang publik di rumah susun baik itu yang terbentuk akibat tempat tinggal di rumah susun ataupun kegiatan-kegiatan yang dibawa dari tempat sebalum tinggal di rumah susun, serta kegiatan-kegiatan apa saja yang hilang dari tempat tinggal sebelum tinggal di rumah susun?. Pada proses adaptasi itu dapat

[90]

diperkirakan akan terjadi pembentukan kegiatan baru dan penghapusan kegiatan lama termasuk kegiatan lama yang tetap bertahan akan tetapi mengalami adaptasi.

Untuk itu perlu dipahami bagaimana ruang dapat memengaruhi perasaan manusia?, dan bagaimana dampak dari perasaan yang terjadi pada diri manusia tersebut dapat memengaruhi pada perubahan perilaku manusia, sebagaimana kita ketahui pola perilaku kehidupan manusia dalam lingkungan perumahan dan permukiman memiliki pola-pola tertentu yang dibentuk oleh pola ruang yang selama ini membentuk dirinya, namun ketika pola-pola ruang tersebut harus berubah, tentunya akan berpengaruh terhadap perilaku manusia.

Selanjutnya perlu dikenali aspek-aspek ruang apa saja yang memengaruhi perubahan perasaan yang ditandak lanjuti oleh perilaku manusia?, dalam hal ini, ruang memiliki dimensi fisik dalam satuan luas, volume, warna, tekstur, dsb dan non fisik seperti kenyamanan, yang keseluruhannya akan diterima oleh manusia melalui inderawi.

Setelah memahami bagaimana ruang dapat memengaruhi perilaku manusia dan aspek-aspek ruang saja yang dapat memengaruhi perubahan tersebut, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana sebuah ruang publik dalam rumah susun dapat membentuk perilaku penghuni? yang akhirnya akan menciptakan sebuah budaya rumah susun.

Bagaimana pengaruh berbagai pola ruang terhadap pembentukan perilaku masyarakat dalam pembentukan karakter budaya hidup di rumah susun, merupakan sebuah pertanyaan yang segera mendapatkan jawabannya.

Bagaimana pengetahuan toretis tentang pengaruh ruang public dalam rumah susun terhadap pola pembentukan budaya berkehidupan di rumah susun, untuk itu perlu kita memiliki beberapa pemahaman diantaranya:

 Pemahaman pola-pola ruang publik dalam rumah susun

 Pemahaman bagaimana masyarakat memfungsikan fungsi ruang public sebagai penunjang aktifitas komunitas

 Pemahaman tentang pengaruh ruang terhadap perubahan perilaku manusia, ruang bagaimana yang memberikan pengaruh positif sehingga menghasilkan perilaku baik dan sebaliknya pengaruh negatif ruang terhadap perilaku buruk seperti vandalisme, kriminalitas, dsb

 Pemahaman tentang ruang-ruang positif yang membentuk perilaku masyarakat dalam berbudaya rumah susun

 Pemahaman tentang kebutuhan ruang publik pada sebuah rumah susun, sebagai pegangan seorang perencana dalam penyusunan disain

sebuah rumah susun yang mempu memberikan peningkatan kualitas kehidupan dan penghidupan penghuninya.

Dalam dokumen arsitektur - perumahan (Halaman 105-111)