• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang

Dalam dokumen arsitektur - perumahan (Halaman 120-124)

Dalam Prespektif Sosial

6.1. Latar Belakang

[100]

[6] Manajemen Hunian Vertikal

Pembangunan kawasan perkotaan tidak lepas dari kepentingan pembangunan rumah dan perumahan dalam satu sistem permukiman yang handal, yaitu upaya mewujudkan kawasan permukiman yang memiliki tingkat produktifitas yang tinggi serta kawasan yang menjamin aspek kesehatan, kenyamanan, keselamatan, dan kemudahan bagi masyarakatnya. Umumnya kota-kota besar di Indonesia sudah tidak memiliki jaminan keempat aspek kehandalan kawasan di atas, hal ini disebabkan oleh pola perkembangan kota yang tidak berlandaskan pada rencana tata ruang kota maupun rencana detail kota.

Pembangunan kota lebih banyak mengakomodasi kepentingan ekonomi kelompok tertentu, yaitu kelompok kecil dari sejumlah masyarakat, disamping itu sekelompok yang termarjinalkan berperan dalam pembangunan kota tanpa mengindahkan ketentuan yang ada. Tumbuhnya bangunan-bangunan liar untuk perumahan maupun untuk usaha mendominasi sebagian kawasan kota, sehingga telah mencapai 47.000 Ha kawasan kota merupakan kawasan kumuh.

Ironisnya kawasan kumuh selalu berdampingan dengan kawasan kota yang dibangun di atas kepentingan ekonomi.

Pembangunan kawasan-kawasan mewah di perkotaan umumnya juga akan mendorong tumbuhnya kawasan kumuh, hal ini disebabkan karena perencanaan kawasan masih cenderung melihat pembangunan dari satu sisi saja, penyediaan sarana kota seharusnya juga dilengkapi dengan sarana hunian bagi setiap kelompok masyarakat yang akan menjalankan fungsi sarana kota tersebut. Sebagai satu gambaran pembangunan pusat-pusat perbelanjaan saat ini, tidak pernah memikirkan tempat tinggal bagi para pekerjanya, justru dalam penambahan mapun pengembangan sarana kawasan kota akan memerlukan tenaga kerja, selain itu juga akan mendorong tumbuhnya fungsi-fungsi pendukung lain. Selain hunian yang diperlukan bagi pekerja tadi juga perlu disediakan sarana perdagangan yang melayani kebutuhan sehari-hari dari pekerja, hal ini lah yang mendorong di samping Super Mall yang mewah pasti tumbuh pedagang kaki lima yang menyediakan makanan maupun kebutuhan pokok lainnya.

Tipologi kawasan perkotaan demikian selalu kita temui di kota-kota besar di Indonesia, baik di Jakarta, Medan, Surabaya, Makasar maupun Bandung. Kota menyimpan permasalahan yang suatu saat nanti dapat menjadi bom masalah yang lebih besar, adanya gap sosial, gap ekonomi, dan gap pelayanan kota dalam wujud sarana dan prasarana kota. Pada satu sisi sekelompok kecil masyarakat mendapatkan fasilitas lebih dari kota disisi lain sebagian besar kota kurang atau bahkan tidak mendapatkan fasilitas kota yang memadai, seperti air bersih, listrik, komunikasi, transportasi. 30 juta masyarakat Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan, dan ironisnya jumlah masyarakat yang miskin tersebut hidup di suatu negara yang kaya dengan sumber daya alamnya.

Hal ini jauh berbeda dengan beberapa negara miskin sumber daya alam namun rakyatnya makmur, seperti negara Korea Selatan maupun Jepang, hal ini

[102]

menjadi bahan renungan dalam penelaahan buku ini, tentunya kunci kesejahteraan masyarakat bukan pada kekayaan sumber daya alamnya akan tetapi pada pola sosial masyarakatnya. Sebagai dugaan awal sistem sosial kota merupakan kunci keberhasilan pembangunan kawasan. Namun yang menjadi pertanyaan dalam telaah ini adalah, sistem sosial kota seperti apa ? yang dapat membangun ekonomi masyarakatnya ?, sehingga bangsa yang kaya dengan sumber daya alam tidak menjadi miskin dengan berlimbah kekayaan. Ibarat tikus mati di lumbung padi.

Pada saat tertentu diperlukan perubahan sistem sosial khususnya bagi masyarakat perkotaan, untuk mencapai kondisi tersebut perlu dilakukan telaah mendalam yang menghasilkan suatu metoda mengubah sistem sosial yang ada kedalam sistem sosial baru, yang mampu mengubah masyarakat kota yang lebih produktif. Ungkapan reformasi sosial atau ungkapan hijrah merupakan rujukan yang dapat digunakan sebagai referensi awal dalam melakukan telaah ini. Melalui konsep hijrah pada masa awal perkembangan Islam telah membentuk suatu masyarakat madani.

Apapun bentuk ungkapannya, hijrah atau reformasi sosial perlu segera dilakukan dengan diawali oleh perubahan fisik kawasan, karena tanpa dukungan fisik kawasan sebagai suatu wadah kehidupan dan penghidupan yang memadai, perubahan sosial tersebut tidak akan tercapai. Sebagai gambaran umumnya ruang terbuka hijau kota-kota besar di Indonesia kurang dari 12%, sedangkan Undang-undang Penataan Ruang No. 26/2007 mengamanatkan ruang terbuka hijau perkotaan tidak kurang dari 30%. Bila kawasan kumuh menjadi fokus telaahan ini, maka kawasan tersebut tidak berkontribusi sedikitpun terhadap pembentukan ruang terbuka hijau, kawasan tersebut memiliki 0% untuk ruang terbukanya. Sedangkan ruang terbuka hijau memiliki fungsi yang strategis dalam sistem fisik kota, fungsi tersebut dalam bentuk paru-paru kota yang dapat menciptakan kesehatan bagi warganya, kesehatan bagai suatu masyarakat merupakan sarat utama dalam menciptakan masyarakat yang produktif, fungsi lain dari ruang terbuka hijau adalah fungsi rekreasi dan sarana bermain bagi masyarakat, khususnya generasi muda sangat memerlukan ruang terbuka hijau bagi pertumbuhan kejiwaannya, ruang terbuka hijau merupakan sarana pembentukan pendewasaan seorang anak. Dapat dibayangkan generasi muda Indonesia tidak pernah merasakan ruang yang memadai, mereka cenderung kumpul-kumpul di mulut gang (menjadikan anak gang bukan genk) dan meraka adalah generasi penerus yang akan memimpin dan membawa masa depan negara ini, tumbuh dalam lingkungan yang tidak sehat.

Menurut kajian awal, bahwa kota-kota besar di Indonesia pada titik tertentu akan kehilangan kemampuannya dalam melayani masyarakat, bilamana pola pembangunan permukiman masih seperti saat ini, kemacetan akan terus

meningkat dan semakin hari semakin parah, penyediaan infrastruktur transportasi dan moda transportasi yang dibangun saat ini bukan menjadi solusi akan tetapi menjadikan kawasan kota yang semakin besar namun kropos/rapuh yang dapat mengakibatkan kelumpuhan pada kota tersebut, fenomena kelumpuhan tersebut dapat dilihat dari sebagian besar masyarakat kota seperti di Jakarta. Masyarakat kota akan menghabiskan sebagian waktunya di jalan.

Para pekerja produktif masyarakat ibu Kota Jakarta harus tinggal jauh di Bekasi, Tanggerang, Depok, atau Bogor, sehingga waktu yang diperlukan untuk menuju tempat kerja pulang pergi sekitar 3 sampai dengan 4 jam, artinya 50% dari waktu produktifitas dihabiskan di jalan raya dengan kemacetan, menurut WHO jam kerja ideal bagi pekerja adalah 8 jam, lebih dari itu sisanya untuk waktu istirahat. Bila waktu transportasi 3 – 4 jam maka, akan banyak waktu yang terkurangi dari istirahat atau produktifitas, bila waktu istirahat juga dikurangi untuk memenuhi waktu kerja maka dengan kekurangan istrahat juga akan mengakibatkan menurunnya produktifitas. Penurunan masal tersebut mengakibatkan penurunan produktifitas kawasan dari sisi masyarakatnya.

Kawasan permukiman kota seharusnya dirancang sebagai satu sistem yang komprehensif antar berbagai aspek; baik fisik, sosial, maupun ekonomi.

Keterkaitan antara persoalan di atas menunjukkan bahwa sistem fisik kawasan permukiman dan sistem sosial kawasan merupakan aspek penentu tingkat produktifitas kawasan permukiman tersebut, pada akhirnya ketiga akan saling berkaitan. Pada bahasan ini akan dicari keterkaitan-keterkaitan tersebut, sehingga ke depan dapat digunakan sebagai acuan dalam pembangunan kawasan permukiman yang lebih sesuai dengan karakter budaya bangsa Indonesia, penanganan kawasan permukiman tidak hanya diangkat dari konsep-konsep barat saja akan tetapi digali dari potensi bangsa yang ada, dan pengamatan sementara kegagalan dalam pembangunan kawasan permukiman kota selama ini disebabkan pemaksaan konsep penanganan kawasan permukiman dengan pendekatan konsep dan teori yang dicuplik dari barat, tanpa ada upaya penggalian yang lebih dalam terhadap karakter budaya lokal.

Apakah ini merupakan indikasi dari awal kehancuran kota-kota besar di Indonesia, melalui kajian yang telah dilakukan memperlihatkan daya dukung kawasan yang semakin menurun dan timbulnya gap yang semakin besar terhadap daya dukung kawasan permukiman kota dan kebutuhan masyarakat.

Kajian awal yang dilakukan dari sumber data tahun 1985 (data sekunder), data 2004 dan 2007 (data primer) menunjukan titik-titik kawasan kota menjadi beban bagi kawasan lainnya, yang pada akhirnya kawasan kota akan menjadi beban bagi kawasan disekitar kota, atau perdesaan, bilamana kawasan kota dan desa sudah tidak memiliki produktifitas lagi, maka kota dan desa menjadi beban nasional, maka negara ini akan menjadi negara yang menjadi beban negara lain. Negara akan hidup di atas dukungan negara lain, tentunya kita

[104]

tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Upaya penanganan harus segera dilakukan agar Negara ini terhindar dari kebangkrutan.

Dalam kupasan ini disajikan suatu konsep pembangunan hunian vertikal melalui pendekatan kemasyarakat (sosiologi arsitektural), seperti kita ketahui bahwa antara bangunan sebagai lingkungan binaan selalu berinteraksi dengan masyarakat penghuninya. Menurut ilmu sosial interaksi antara lingkungan binaan dan manusia dapat tercipta pengembangan masyarakat, seperti disampaikan oleh seorang sosiolog Perancis Frederik Le Play, bahwa pengembangan sosial budaya itu dipengaruhi oleh lingkungan fisik. Melalui rekayasa sosial dalam pembangunan hunian dapat membentuk kawasan permukiman yang produktif dan handal.

Perkembangan kota-kota besar saat ini, menunjukkan suatu fenomena terjadinya degredasi daya dukung, sebagai gambaran dari kasus kawasan Cigugur Tengah Cimahi pada tahun 1985 memiliki daya dukung untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya, bahkan kawasan tersebut surplus yang akhirnya mampu memberikan pelayanan untuk kawasan di luarnya, hasil pertanian pada kawasan tersebut didistribusikan pada kawasan lain, namun tahun demi tahun kemampuan kawasan untuk mendukung penghuninya semakin menurun, dan sekitar awal tahun 1990 an, kawasan tersebut mulai deficit sampai dengan tahun 2002 ternyata kawasan tersebut tidak mampu lagi mendukung penghuninya, beberapa kebutuhan dasar semakin hari semakin berkurang, air bersih manjadi antrian sepanjang hari, bahkan kawasan tersebut semakin hari diserang polusi yang datang dari pabrik dan kendaraan yang mengantri dengan kemacetannya. Tidak ada ruang yang berfungsi menetralkan CO2 yang ditimbulkan oleh kawasan, CO2 menjadi bagian yang mengikis kesehatan masyarakatnya. Melangkah pada tahun 2008 ini, dapat dikatakan bahwa kawasan tersebut menjelang sekarat. Bila fenomena ini terus berlanjut pada tingkat kota, maka akan menjadikan kota mati, dan meningkat lagi pada tingkat negara maka negara ini mati/bangkrut (nauzubillah minzalik).

Dalam dokumen arsitektur - perumahan (Halaman 120-124)