Bidang Perumahan dan Permukiman
4.2. Pengertian Dasar Etika Etika pada Tingkat Filosofis
[62]
azas keterbukaan, azas profesionalisme, azas akuntabilitas, azas efisiensi dan azas efektifitas. Dari kedelapan azas tersebut bagaimana kita mengsingkronkan kembali kode etik IAI, agar peran IAI ke depan dapat betul-betul menjadi sebuah wadah yang memiliki peran besar terhadap sistem pembangunan gedung-gedung di Indonesia.
Hal ini sejalan dengan Barry Wasserman dalam memberikan pegangan bagi para arsitek dan praktisi dalam membuat disain arsitektur yang baik, yaitu melalui proses perancangan yang beretika, secara tegas Wasserman menyatakan being “good” at designing sebagai acuan awal dalam etika dalam ber-arsitektur dan sebagai aktivitas utama dalam arsitektur. Ada tahap awal seorang arsitek akan berurusan dengan client yang telah membawa beberapa keinginan dan ide tentang bangunan dan tempat yang akan didisainnya. Hal tersebut harus dapat dirumuskan oleh arsitek bagaimana menerjemahkan keinginan dan ide-ide tersebut menjadi dokumen pelaksanaan yang siap dilaksanakan oleh kontraktor.
4.2. Pengertian Dasar Etika
kebahagiaan, sedangkan bagi dia etika lebih dilihat dari sisi moralitas manusianya. Selanjutnya menurut Kant juga bahwa kebahagiaan belum tentu memberikan kebaikan, dan kebaikan itu lebih bersumber pada moralitas. Kant menyatakan bahwa keadaan baik di dunia ini dapat saja disalah artikan. Seperti pada suatu kegiatan pembangunan sebuah perumahan di kawasan daerah rawan genangan air (contoh Bandung Selatan), kebaikan dapat disalah artikan oleh segelintir orang, seorang perencana pada prinsipnya dapat saja membangun kawasan perumahan yang direncanakannya dibuat agar tidak banjir, dengan mengadakan pengurugan dan mengejar ketinggian yang lebih tinggi dari rata- rata ketinggian perumahan disekitarnnya, akan tetapi sebagaimana kita ketahui bahwa debit air yang mengalir kekawasan itu tidak dapat dengan begitu saja dapat dihilangkan. Bahwa debit air ketika musim penghujan akan tetap ada, sehingga apa yang akan terjadi? Bahwa air hujan tadi akan beralih untuk menggenangi kawasan perumahan yang sudah lebih dulu dibangun, sehingga air akan mengaliri daerah perumahan lama. Dalam hal ini perencana secara tidak langsung hanya memindahkan air dari kawasan perumahannya ke kawasan perumahan yang lain. Pada konteks demikian benar apa yang dinyatakan Kant, bahwa kebaikan yang dilakukan oleh seorang perencana tadi hanya sejauh kebaikan bagi kelompoknya saja namun mengabaikan bahkan mengorbankan kelompok lainnya. Hal ini yang menguatkan teori Kant , bahwa kebaikan dan kebahagiaan tidak dapat digunakan sebagai landasan dalam etika, etika lebih pada moralitas.
Pemahaman moral yang akan membawa seorang perencana dalam bertindak dengan mempertimbangkan kebaikan secara holistik, yaitu kebaikan yang dapat dirasakan oleh kelompoknya maupun kelompok lain. Kebaikan dari hasil rancangan suatu bangunan yang dibangun di atas moralitas perencanannya akan memberikan kebaikan bagi seluruh manusia.
Etika merupakan pengejawantahan dari hubungan antara sesama, banyak disampaikan dalam kita suci sebagai contoh “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekuntukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. 4:36, Annisa). Ayat tersebut menguatkan pemikiran dari Kant, bahwa kebaikan seharusnya tengok kiri dan kanan serta tengok diri sendiri, bahkan tengok atas. Tampaklah nilai-nilai etika menyatakan hubungan horizontal dan vertikal. Jadi manakala kita berbicara pada level etika dalam arsitektur maka, pada tingkat filosofinya seorang arsitek harus mempertanggung-jawabkan hasil karyanya selain kepada owner juga kepada Tuhan-nya. Hal ini sejalan dengan Kode Etik Arsitek pada standar Etika 1.1 Pengabdian Diri bahwa “Arsitek melakukan tugas profesi sebagai bagian dari pengabdiannya kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan mengutamakan
[64]
kepentingan negara dan bangsa”. Pada pasal-pasal berikutnya juga menekankan kepada arsitek untuk senantiasa mengingkatkan ilmu pengetahuan dan keahliannya serta sikap profesionalitas sesuai dengan moral-moral maupun spiritual.
Terbukanya beberapa penawaran jasa arsitek pada iklan baris di beberapa media cetak saat ini, merupakan sebuah fenomena dimana persaingan jasa arsitek ini sudah semakin ketat. “Arsitek tidak akan menyampaikan maupun mempromosikan dirinya atau jasa profesionalnya secara menyesatkan, tidak benar, atau menipu”, hal ini sesaui dengan standar etika 3.3. tentang kejujuran dan kebenaran, bahwa seorang arsitek dituntut untuk menyampaikan informasi yang benar. Agar dalam penyampaian informasi tersebut senantiasa dapat menjunjung tinggi kebenaran, maka seorang perencana harus selalu meningkatkan ilmu pengetahuannya, karena kebenaran itu melekat pada ilmu pengetahuan walaupun nilai kebenaran itu sendiri sangat relatif, hari ini benar belum tentu hari esok masih benar. Sehingga seorang arsitek ,karena nilai kebenaran tersebut, dapat saja suatu saat dia digugat, karena nilai kebenaran dalam dunia arsitektur dapat berubah-ubah. Kebenaran dalam arstektur ibarat sebuah roda yang berputar, saat ini sisinya terdapat di depan kelak akan berada di belakang, di atas, atau di bawah, hal ini yang oleh Wasserman dinyatakan sebagai Uneasy Profession. Untuk menghindari kesalahan dalam penerapan ilmu pengetahuan maka sebuah ilmu pengetahuan dalam penerapannya harus dibarengi dengan pemahaman.
Peningkatan kemampuan baik ilmu pengetahuan maupun keahlian, disampaikan juga oleh seorang pemikir Islam Moderat Hasan Al Banna yang ditulis oleh Thahan Musthafa, dimana beliau mengutarakan bahwasanya sebuah ilmu harus dipahami dan pemahaman merupakan sebuah landasan dasar yang akan menuntun kita dalam mengemban amanat di muka bumi, hal ini sebagaimana yang diungkapkan beliau bahwa “Al’ilm (ilmu) dan Al fahm (pemahaman) merupakan syarat asasi dalam merealisasikan kebaikan”
selajutnya bahwa “akal belum dianggap berpikir dengan baik jika tidak berujung pada sebuah pemahaman yang benar”. Selanjutnya berkaitan dengan profesi seorang arsitek bentuk pemahaman seperti apa yang diperlukan?.
Mengacu pada kode etik arsitek maka standar keunggulan yang harus terus menerus diperdalam oleh seorang arsitek adalah, upaya meningkatkan mutu karyanya, antara lain melalui pendidikan, penelitian, pengembangan, dan penerapan arsitektur.
Etika pada Tingkat Konsep Tradisional
Secara tradisional etika telah berkembang dalam wujud nilai-nilai tradisi yang dianut oleh sekelompok masyarakat di manapun di belahan bumi ini. Dan setiap kelompok masyarakat tersebut memiliki nilai-nilai yang berbeda. Untuk itu etika pada tingkat ini menuntut seorang arsitek agar peka terhadap nilai-
nilai tradisi yang berlaku pada daerah dimana dia membuat rancangannya.
Tetapi etika yang dijunjung adalah etika terhadap geografis dan masyarakatnya. “Seorang profesional di samping harus memiliki komitmen beretika, atau secara pribadi untuk bertindak sesuai etika, juga harus memiliki kepedulian dan kompetensi beretika. Kepedulian beretika ini adalah kemampuan seseorang untuk membedakan tindakan yang salah dari yang benar, sedangkan kompetensi beretika adalah kemampuan seorang profesional untuk menegakkan nilai-nilai moral dan mempertimbangkan secara lebih seksama dampak berbagai tindakannya”, kepedulian pada tingkat ini menuntut penegakan moral, moral merupakan akar dasar dari sebuah etika.
Kearifan lokal merupakan nilai-nilai etika yang berakar pada seuatu masyarakat dan terbangun dari pengalaman yang telah teruji oleh berbagai rintangan. Etika pada tingkat lokal lebih mudah diterapkan pada masyarakat, karena masyarakat memiliki kepatuhan yang tinggi terhadap nilai-nilai yang telah dianut oleh leluhurnya. Nilai-nilai etika yang diangkat pada nilai-nilai tradisi sebuah kelompok masyarakat secara umum tidak terwujudkan dalam aturan tertulis akan tetapi tertanam dalam tingkat pemikiran dan kepercayaan yang pada tahap tertentu terdapat pergeseran.
Pada level ini etika merupakan bagian dari filsafat, hal ini seperti disampaikan oleh Immanuel Kant yang melakukan pengamatan batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber ilmu pengetahuan manusia, gagasan Immanuel Kant ditunjukkan melalui pertanyan-pertanyan mendasar, yang meliputi; apakah yang dapat saya ketahui?, apa yang harus saya lakukan?, dan apa yang boleh saya harapkan?. Pada tiga pertayaan mendasar tersebut nampak bahwa ketiganya mememperlihatkan peran etika, khususnya menyangkut pertanyaan kedua, yaitu apa yang harus saya lakukan.
Ketiga pertanyaan Kant tersebut menunjukkan sifat kritis dari seorang filsuf, bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut telah menggeser sifat ilmu pengetahuan yang tadinya bersifat dogmatis menjadi kritis yang berusaha membuka sifat objektivitas dari ilmu pengetahuan.
Etika pada Tingkat Emosional, Spiritual, dan Intelengensia
Sebuah etika tidak terlepas dari tiga pilar kecerdasan manusia, yaitu kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelegensia, walaupun dalam hal ini sangat sulit sekali dipastikan prosentase dari ketiganya yang menunjang keberhasilan seorang arsitek. Keberhasilan seorang arsitek tercapai ketika karyanya dapat memberikan hal terbaik bagi manusia dan lingkungan, baik saat ini maupun di masa depan.
Kecerdasan spiritual menjadi catatan penting dalam kode etik arsitek Indonesia, hal ini seperti diamanatkan oleh kode etik arsitek pada mukadimah, bahwasanya sebagai “seorang profesional, arsitek selalu menaati perangkat
[66]
etika, yang bersumber dari nilai luhur keyakinan spiritual yang dianutnya, sebagai pedoman berpikir, bersikap, dan berperilaku dalam menunaikan kewajiban dan tanggung jawab profesional”, bahwa setiap landasan kode etik arsitek berangkat dari spiritual sebagai landasan yang membentuk dua kecerdasan selajutnya yaitu kecerdasan emosional yang dicerminkan melalui bersikap, serta kecerdasan intelegensia yang diekspresikan dalam berpikir.
Sehingga bila kita gambarkan lebih lanjut sepatutnyalah bahwa seorang arsitek di Indonesia harus memiliki landasan spiritual yang kuat, yang berasal dari agama yang dianutnya.
Disain sebagi sebuah produk dari etika akan memberikan nilai kebaikan bagi manusia dengan lingkungannya, ketika dalam proses disain etika arsitek tersebut menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual, hal ini disampaikan juga oleh Andrian S dan Richard C yaitu “Architecture provides the quintessential interpretation of divinity, or at least of the relationship between the human and the divine”. Bahwa aspek ketuhanan merupakan nilai-nilai terdalam dari wujud arsitektur, sehingga kelahiran estetika tidak dapat dilepaskan dari aspek nilai- nilai ketuhanan, dalam hal ini bahwa dalam proses disain, seorang perencana harus memiliki tiga kecerdasan, yaitu kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan intelegensia (ESIQ), ESIQ seharus menjadi modal dasar dari seorang perencana untuk dapat menuangkan karya-karya yang memiliki keabadian, walaupun dalam hal ini keabadian diterjemahkan bukan keabadian mutlak, karena tak satu pun produk manusia memiliki keabadian mutlak, karena hanya satu yang memiliki sifat abadi dan Maha Abadi, yaitu Tuhan yang memiliki sifat kekal “Al Badii” atau “The Everlasting”. Namun bukan berarti manusia tidak boleh memiliki keabadian, hanya keabadian yang sifatnya tidak mutlak, masih ada batas-batas.
Level etika pada tingkat ketuhanan menunjukkan pada bentuk pertanggung- jawaban dari sebuah karya seorang arsitek, melalui nilai-nilai spiritual bahwa setiap tindakan manusia senantiasa akan diperhitungkan tidak saja hanya di dunia akan tetapi akan diminta pertanggung-jawabannya di akhirat nanti.
Ketika keyakinan ini dijalankan ketika berkarya dengan memegang etika disain bagi seorang arsitek profesional.
4.3. Aspek-aspek etika dalam ber-arsitektur