• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Isu-isu Sosial Budaya Kemiskinan Kota dan Arsitektur

Dalam dokumen arsitektur - perumahan (Halaman 69-76)

Telaah Fakta dan Data

3.4. Tinjauan Isu-isu Sosial Budaya Kemiskinan Kota dan Arsitektur

jaringan jalan di lingkungan permukiman buruh, jarak antara tempat tinggal dan tempat kerja serta kemiskinan moral para buruh. Kritik-kritik ini telah melahirkan berbagai konsep arsitektur kota yang anti revolusi indutri, dimana konsep-konsep ini pada awalnya masih bersifat utopia.

3.4. Tinjauan Isu-isu Sosial Budaya

[50]

satu unit hunian dengan luas di bawah 20 m2 banyak yang dihuni oleh 10 jiwa.

Selain permasalahan yang ditimbulkan oleh lingkungan perumahan itu sendiri, permasalahan dimunculkan juga oleh polusi yang datang dari industri, yang mengganggu kesehatan masyarakat. Kesadaran akan permasalahan tersebut telah disikapi oleh seorang arsitek Prancis Tony Garnier melalui konsep la cite Industrielle, yaitu melalui suatu konsep perencanaan kota industri dengan pengaturan tata ruang kota industri.

Tony Garnier adalah salah seorang arsitek utama dan arsitek perkotaan di abad XX, sebagai salah satu arsitek beraliran modernism, dia telah menghasilkan karya idealnya mengenai an Industrial City, Tony Garnier lahir di Lyon pada 13 Agustus 1869. Ayahnya adalah seorang pekerja industri sutra, Tony kecil sudah bergelut dengan kehidupan dan persoalan pekerja industri, hal ini telah memberikan pengaruh besar manakala dia dewasa. Karya kota idealnya yang dituangkan dalam “la Cite-industrielle” merupakan konsep kota modern yang membagi berdasarkan konsep zoning, melalui pembagian kota berdasarkan fungsi-fungsi utama, yang meliputi: zoning tempat kerja, perumahan, kesehatan dan rekreasi. Kota tersebut dibangun di antara daerah berbatuan dan aliran sungai. Empat prinsip yang diusung oleh Tony Garnier, yaitu : aspek fungsi, aspek ruang, ruang hijau dan pengelolaan cahaya matahari secara optimal. Seluruh konsep yang diusung dalam konsep an Industrial City tersebut sangat mempertimbangkan aspek kehidupan dan penghidupan para pekerja industri, yang sebelumnya sangat bermasalah dari aspek kelayakan tempat tinggal dan kerjanya.

Konsep-konsep yang lahir dari pemikiran Tony Garnier tidak luput dari revolusi industri, dimana adanya pergeseran sistem kehidupan dan penghidupan, dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri, dimana pada awal pertumbuhan industrialisasi banyak menyimpan permasalahan, konsep tersebut salah satunya yang telah menyelesaikan permasalahan tersebut.

Ironisnya pengalaman industrialisasi yang telah dialami oleh bangsa Eropa tidak dijadikan sebagai pembelajaran oleh Bangsa Indonesia, pengalaman mereka pada masa awal perkembangan industrialisasi justru tidak digunakan oleh Indonesia untuk mengantisipasinya, bahkan kita saat ini mengalami permasalahan yang beberapa puluh tahun lalu telah terjadi di belahan bumi lainnya, saat ini kita alami.

Vandalisme dalam Arsitektur

Melalui tekanan pengaruh media massa yang memengaruhi gaya hidup masyarakat sehingga menjadi materialistik, telah mendorong perilaku konsumtif dan hedonisme. Masyarakat membelanjakan uangnya bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya akan tetapi keinginan-keinginan yang tiada henti, keinginan yang didorong oleh gengsi. Akibat tekanan tersebut sangat jarang arsirek yang mau masuk dalam ruang sosial, seperti yang telah

dilakukan oleh Romo Mangun dan Johan Silas. Kelangkaan arsitek yang mau masuk dalam ruang sosial tersebut membuat permasalahan utama pembangunan kota-kota terbengkalai bahkan telah menciptakan ketimpangan antara kaya dan miskin, ketimpangan tersebut semakin hari semakint ekstrim, dapat kita rasakan ketika kita berbelanja di sebuah super market besar di Bandung ini, dan kita membawa keranjang belanja menuju tempat parkir yang berbatasan dengan sederetan rumah-rumah kumuh yang hanya dibatasai oleh sebuah dinding pagar. Karenanya masih terdapat kontak visual dari sebuah jendela rumah kumuh yang dapat memandang seseorang dengan keranjang penuh dengan belanjaan dipandang oleh sekelompok orang yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

Apakah karya super mall tersebut dipandang sebagai wujud gengsi dan prestasi sebuah kota, untuk menunjukkan keberadaannya atau wujud arsitektur tersebut akan menjadi sebuah pemicu konflik sosial. Apakah seorang arsitek dan pengembang juga pengelola kota melihat hal tersebut sebagai sebuah prestasi ? Bahwa dalam pembentukan ruang yang tertata sekaligus itu secara tak langsung juga menyiapkan bom konflik yang sewaktu-waktu dapat mencuat kepermukaan. Konflik yang dibakar oleh kecemburuan sosial, karena kesenjangan ekonomi. Apapun kondisinya ,kita sangat tidak berharap terjadi, bahwa dua bentuk kehidupan yang sangat kontras akan menyimpan pertentangan. Dan pertentangan tersebut bila terpendam cukup lama , maka akan menjadi energi potensial, yang sewaktu-waktu energi tersebut dapat dilepaskan, ibarat jebolnya sebuah bendungan. Pelepasan energi yang tidak ditangani dengan baik akan menjadi bencana. Untuk itu penanganan energi yang sedang terhimpun , secara bertahap harus segera ditangani oleh para pengelola kota, melalui bantuan seorang arsitek perkotaan yang melibatkan berbagai disiplin ilmu.

Menilik pada kasus super mall di atas, dapat di bagi menjadi dua kelompok manusia, satu kelompok dapat merasakan langsung space (human space) dengan berjalan-jalan di dalam suatu ruang ber-AC, pencahayaan yang memadai, bersih dan nyaman, bahkan menempatkan mobilnya di tempat parkir yang leluasa, kelompok masyarakat yang menikmati ruang tersebut adalah masyarakat yang menguasai ekonomi , setidaknya tidak termarjinalkan sistem ekonominya. Kelompok kedua adalah masyarakat yang berada di balik jendela menengok dan melihat super mall tersebut sebagai sebuah façade (facial sculptural), mereka tidak dapat merasakan nyamannya ruang ber-AC, atau kenyamanan yang diberikan oleh bangunan dan ruang di dalam maupun di luar bangunan. Hal ini menunjukkan gejala vandalisme bangunan, sebagaimana arti makna dari kata vandalisme menurut KBBI, yaitu terdapat dua arti, yang pertama adalah perbuatan merusak dan menghacurkan karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam, dsb), arti kedua adalah perusakan dan penghancuran secara ganas. Dengan demikian bila melihat pada pemikiran

[52]

Plato mengenai keseimbangan dan keadilan, maka pada kasus mall di atas terdapat gejala perusakan nilai-nilai sosial dan dapat dikatakan vandalisme sosial, yang dilakukan oleh sebuah disain. Seharusnya disain terlebih dahulu menyelesaikan permasalahan sosial yang mungkin terjadi dengan terlebih dahulu menyiapkan disain sosial ,baru ditindak lanjuti dengan disain arsitektural.

Lantas cukup fairkah sebuah arsitektur hanya dapat dinikmati secara visual saja atas keindahannya, tanpa dapat dirasakan kenyamanan ruang dan beraktifitas dengan wujud arsitektur tersebut. Dalam uraian ini tampak bahwa konflik dalam arsitektur tersebut tercipta manakala arsitektur tidak melihat untuk siapa, dan sekelompok masyarakat yang berinteraksi dengan arsitektur tersebut tidak mendapatkan ruang (human spatial) untuk melakukan aktifitasnya. Di sini nampak bahwa peran ruang dalam arsitektur cukup besar, ruang dalam arti human space dimana manusia dapat melakukan aktifitas kehidupan dan penghidupannya, bukan ruang yang hanya sebagai scuptural (scuptural dilihat dari masa dan ruang). Mengapa ruang dalam konteks super mall ini di kategorikan sebagai ruang scuptural, hal ini dikarenakan ruang tersebut hanya dapat dinikmati secara visual saja, tidak dapat dirasakan oleh inderawi lainnya.

Jadi arsitektur adalah perwujudan antara space (human space) dan façade (facial scuptural) yang dapat digunakan dalam menjalankan aktifitas kegiatan manusia, sehingga space dan façade tersebut mewadahi sebuah atau beberapa fungsi kagiatan manusia dalam memenuhi kehidupan dan penghidupan manusia. Kegiatan menyusun ruang, facade, dan fungsi tersebut merupakan kegiatan arsitek, dan wujud yang dihasilkannya adalah wujud arsitektural, hal tersebutlah yang membedakan arsitektur dan wujud karya seni lainnya atau wujud pesawat terbang yang memiliki fungsi seperti wujud arsitektur.

Kemampuan seorang arsitek dalam mengolah ruang, façade, fungsi tersebut menghasilkan sebuah estetika, estika terlahir manakala penataan masa dan ruang serta fungsi-fungsi di dalamnya terhadap aktivitas manusia yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dapat terwadahi, dan mampu menciptakan kualitas kehidupan dan penghidupan dari manusia/pengguna yang terus menerus meningkat.

Pada kasus mall di atas perlu dipahami persoalan utama dari dampak sebuah disain adalah terbentuknya gap sosial, dan ini merupakan suatu permasalahan yang disisakan oleh sebuah disain. Yang sewaktu-waktu permasalahan tersebut akan mencuat kepermukaan sebagai sebuah tekanan yang tidak tertahakan, tentunya hal ini yang tidak diinginkan oleh sebuah disain. Disain seharusnya mampu memberikan kenyamanan yang berkelanjutan. Hal ini juga disampaikan oleh Barry Poyner dalam Crime Free Housing bahwa “the predominat view about crime is that it is caused primarily by social factor

selanjutnya dia mencontohkan faktor-faktor sosial tersebut dalam bentuk

kemiskinan pendidikan, pengangguran, rendahnya struktur komunitas, rendahnya fasilitas rekreasi, dan aktifitas komunitas adalah sebagai bagian yang mendorong terbentuknya kriminalitas.

Kasus vandalisme dalam arsitektur dapat digambarkan lebih lanjut melalui suatu gejala pembangunan mall-mall di beberapa kota besar di Indonesia saat ini. Bagaimana akibat pembangunan sebuah mall dapat mematikan mall yang lain, atau mall yang baru dibangun sudah mati sebelum beroperasi. Hal ini dapat dinyatakan sebagai suatu vandalisme arsitektural, karena arsiteknya tidak pernah mempertimbangkan konsekuensi sebuah disain terhadap karya disain yang lain, yang sudah terlebih dahulu ada. Kita dapat menyaksikan bagaimana beberapa bangunan mall di Bandung harus mati dan mengganggu pemandangan kota. Beberapa mall tidak dapat difungsikan karena tidak ada pasarnya, hal ini dapat disetarakan dengan proses kanibalisme dalam arsitektur.

Globalisasi Pengaruhnya terhadap Arsitektur

Setelah berlalunya abad pertengahan dengan kungkungan normatif dan dogmatis dari penguasa, maka masuk pada periode abad pencerahan yang dikenal dengan Reinaissance, pada periode ini memungkinkan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi dan berlanjut sampai saat ini dengan perkembangan pesat teknologi informasi. Perkembangan teknologi informasi ini mengakibatkan semakin menipisnya jarak, waktu dan tempat. Ibaratnya periode ini menjadikan dunia ini hanya sebatas genggaman tangan kita, apapun yang kita perlukan dan inginkan pada saat itu juga dapat kita peroleh.

Reinaissance telah membawa perkembangan zaman yang mendorong terjadinya revolusi industri, hal ini merupakan titik balik peradaban yang banyak memberikan warna perubahan dalam berbagai aspek, termasuk wujud arsitektural. Perkembangan industri ini oleh Berman diutarakan sebagai tahap awal dari proses modernisme yang melahirkan kota Industri dan arsitektur modern.

Perkembangan revolusi industri yang dimulai pada abad XVII telah banyak ditemukan berbagai alat dan teknologi yang menunjang kehidupan, industrialisasi berkembang secara pesat pada abad XVII sampai dengan saat ini. Sayang pada abad tersebut industrialisasi hanya dinikmati oleh segelintir orang, yaitu kelompok penguasa dan kaum borjuis, teknologi tidak dapat dirasakan oleh masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Industrialisasi telah mendorong gap antara kaum kaya dan kaum miskin. Kaum kaya saat itu didominasi oleh penguasa dan kaum borjuis. Kesenjangan tersebut telah mendorong revolusi sosial di Perancis pada tahun 1789, pada saat itu raja Perancis Louis XVI kekuasaannya digulingkan oleh rakyat jelata dengan diawali pembangkanngan untuk tidak mengikuti permintaan raja, yaitu rakyat diminta untuk membayar hutang negara. Pembangkangan tersebut

[54]

dilatarbelakangi oleh cara hidup raja yang berfoya-foya di atas penderitaan rakyatnya. Peristiwa ini telah mengubah tatanan kehidupan dari kekuasaan mutlak absolut kepada bentuk baru yang berpihak kepada kerakyatan.

Globalisasi mengacu pada peningkatan dari antar kebebasan pada perekonomian dunia yang diperlihatkan melalui sirkulasi informasi, keuangan, dan masyarakat tanpa batas. Hal ini memperlihatkan terjadinya proses kemunduran rasa nasionalisme dari keterkaitan utama pada keuntungan dari sejumlah pilihan antara hubungan lintas bangsa yang dilakukan tanpa mempertimbangkan bagaimana penerapan dari keputusannya pada tempat yang spesifik diantara lingkup global.

Sepanjang periode ini telah memperlihatkan peningkatan sistem pasar global lintas bangsa-bangsa, yang telah membawa internasionalisasi sistem perekonomian, aspek globalisasi melahirkan global city yang menghadirkan ketidak seimbangan pengembangan, perkembangan arsitekturpun didominasi oleh kepentingan ekonomi global, hal ini yang berkonsekuensi pesatnya pembangunan mall-mall di kota-kota besar Indonesia, karena fungsi-fungsi tersebut mendukung perkembangan pesat dari perekonomian dunia, industri dan perekonomian khususnya pada negara maju memerlukan pasar yang luas, untuk itu konsumerisme diciptakan dan dipelihara.

Pembangunan mall-mall serta fungsi-fungsi yang mendukung perekonomian tersebut sedikitnya telah banyak mengabaikan pembangunan dan penyediaan fungsi-fungsi sosial yang lebih manusiawi, dan sayangnya bahwa hampir sebagian masyarakat telah terbawa oleh peradaban globalisasi tadi, sehingga manusia sekarang selalu ingin tampil dengan mobil terbaru, HP terbaru, komputer terbaru, tidak lagi melihat pada fungsionalitas akan tetapi ketergantungan akan produk baru menjadi membudaya.

Sehingga tidak salah bila arsitektur kota dan bangunan turut menyediakan pola hidup yang demikian. Akankah bangsa ini juga terus bergerak pada tingkat konsumsi yang tinggi dari industri, atau akan dapat berubah menjadi negeri yang produktif. Lahan-lahan pertanian yang menjadi andalan semakin hari semakin redup dimakan kapitalis, daerah-daerah yang pada awalnya menjadi lumbung padi Indonesia berangsung-angsur menjadi mall dan impor beras, dari swasembada pangan menjadi importir pangan, dari negeri yang terkenal dengan tenaga tempenya, pada akhirnya harus mengimpor kedelai dari luar untuk memenuhi konsumsi kedelai nasional.

Masyarakat desa mulai meninggalkan desanya untuk bekerja di kota-kota besar sebagai buruh industri, desa ditinggalkan, sektor agrobisnis ditinggalkan. Dan sawah mulai terbengkalai yang secara bertahap akan menjadi lebih mudah dikonversikan menjadi fungsi-fungsi perumahan, industri, atau mall, bahkan sawah tidak lagi menghasilkan padi akan tetapi menghasilkan batu bata (bata

merah) untuk memenuhi kebutuhan pembangunan, yang senantiasa mengkonsumsi sumber daya alam tidak dapat tergantikan.

Akulturasi Budaya

Globalisasi juga melanjutkan proses akulturasi budaya serta asimilasi budaya yang berdampak pada perwujudan arsitektur, bahwa bangunan-bangunan mall, atau komersial lainnya terjadi proses akulturasi, seperti restoran-restoran siap saji ambil saja contoh Mc Donal, menjadi cerminan akulturasi dimana beberapa bangunannya harus tetap mempertahankan karakter aslinya serta beberapa bagian menyesuaikan dengan karekter lokal.

Dalam proses etnifikasi di perkotaan tidak terlepas dari proses akulturasi dan asimilasi, yang keduanya dapat memberikan warna pada budaya masyarakat kota. Akulturasi merupakan proses sosial yang terjadi dimana manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsur-unsur kebudayaan asing, sehingga lambat laun unsur-unsur tadi diolah ke dalam kebudayaannya, tanpa menyebabkan kehilangan kebudayaannya sendiri. Sedangkan asimilasi adalah percampuran satu atau lebih unsur budaya, kedua proses pembentukan budaya akibat pertemuan budaya dalam suatu kota sangat menentukan pembangunan kedamaian politik kota. Dalam proses akulturasi cenderung satu kebudayaan yang dipengaruhi oleh budaya lain yang lebih dominan, sedangkan asimilasi lebih disebabkan oleh tumbuhnya toleransi dan rasa kesetaraan budaya diantara budaya yang saling bertemu, tidak adanya perasaan yang satu lebih unggul dari yang lain, sehingga melalui proses asimilasi lebih memungkinkan tercapainya kedamaian sebuah kota.

Akulturasi pada era globalisasi ini tidak akan terhenti pada periode ini, kehancuran perekonomian negara super power saat ini akan menjadi titik balik arah perubahan sosial budaya, khususnya bagi Indonesia. Kita melihat beberapa investor saat ini mulai berdatangan dari negeri minyak, dan bahkan kesempatan kerja juga lebih dibuka oleh negeri-negeri minyak di Timur Tengah. Bahwa ini akan menjadi sejarah baru dan akulturasi dengan pengaruh baru, yang sebelumnya sempat terjadi juga di negeri ini dimana para pedagang dari timur tengah berdatangan untuk melakukan perdagangan dengan Indonesia dan telah meningggalkan proses akulturasi budaya.

Hal ini memberikan pemahaman bahwa arsitektur kita sangat dinamis, dikarenakan sifat dari sosial budaya itu sendiri yang dinamis, sehingga pertimbangan utama sebuah disain seharus tidak melepaskan unsur sosial budaya, dimensi sosial budaya merupakan bagian penting dalam proses disain arsitektur.

[56]

Dalam dokumen arsitektur - perumahan (Halaman 69-76)