• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Arsitektur dan Lingkungan Binaan Arsitektur

Dalam dokumen arsitektur - perumahan (Halaman 54-63)

Telaah Fakta dan Data

3.2. Pengertian Arsitektur dan Lingkungan Binaan Arsitektur

[34]

Kondisi sosial demikian akan sangat berdampak pada perwujudan arsitektur di Indonesia, khususnya di dunia properti.

3.2. Pengertian Arsitektur dan Lingkungan Binaan

oleh semangat zamannya”. Berkaitan dengan kesejarahan, sosok bangunan yang sudah dikenal secara universal dan merupakan warisan masa lalu dan selalu diapresiasi setiap masa. Setiap zaman memiliki semangat tertentu atau sikap bersama, sampai batas-batas tertentu. Demikian juga dengan era per era dalam kehidupan dunia ini, era industrialisasi juga telah meninggalkan pengaruh pada perwujudan arsitektur yang sampai saat ini masih dapat dilihat kejayaannya.

Pengaruh perubahan demi perubahan setiap masa sebagai satu sejarah saat ini masih dapat dirasakan melalui peninggalan arsitektur. Khususnya bangunan arsitektur pada setiap era selalu ada kedekatan antara penguasa dan arsitektur, keinginan untuk meninggalkan monumen ada setiap era kekuasaan senantiasa melibatkan seorang arsitek. Sebagai contoh era orde lama, Soekarno melalui arsiteknya Silaban banyak membuat peninggalan yang merupakan monumen zaman dan erat kaitannya dengan era orde lama.

Arsitektur peninggalan orde lama seperti proyek-proyek mercusuar Soekarno dalam upaya menunjukkan power dan eksistensi Indonesia di mata dunia, telah membangun Sarana Olah Raga di senayan serta Hotel Indonesia, dan bagunan- bangunan lainnya, memperlihatkan bahwa wujud arsitektur digunakan sebagai simbol dari modernitas dan kemajuan suatu bangsa.

Wujud arsitektur jauh menggemban sebuah amanat arsitektur, yaitu memberikan peningkatan kualitas kehidupan dan penghidupan penggunannya, baik pengguna secara langsung maupun pengguna tidak langsung. Sebuah wujud arsitektur dapat dinyatakan berhasil ketika penggunannya mengalami perubahan kehidupan dan penghidupan yang lebih baik. Output arsitektur mutlak adanya harus memberikan perbaikan fisik lingkungan binaan, dari tidak ada menjadi ada, dari sudah ada menjadi keadaan yang lebih baik, sedangkan out come dari arsitektur adalah terwujudnya kualitas manusia yang lebih baik setelah terbentuknya lingkungan binaan tersebut. Target manusia dari perwujudan arsitektur tersebut adalah manusia sebagai pengguna langsung maupun manusia sebagai pengguna tidak langsung, bahkan tidak berhubungan.

Wujud arsitektur merupakan sebuah objek yang akan memberikan pengaruh keberadaannya terhadap kehidupan dan penghidupan manusia, pengaruh yang tumbuh pada tingkat psikologis tersebut menuntut suatu keadaan psikologis dengan kondisi tertentu. Bagaimana mengkondisikan wujud arsitektur ini, maka peran kualitas masa dan ruang memegang peran utama. Pembentukkan kualitas masa dan ruang dalam arsitektur sangat dipengaruhi oleh pengolahan dan memodifikasi elemen-elemen dasar arsitektur.

Seperti disampaikan oleh Simon Unwin bahwa modifikasi elemen-elemen arsitektur sangat ditentukan oleh unsur cahaya. Setelah melalui penelaah faktor penentu kualitas arsitektural melalui modifikasi elemen-elemen dasarnya, maka

[36]

unsur cahaya memegang peran pada pembentukan unsur-unsur pemodifikasi elemen arsitektur berikutnya, seperti dapat diterangkan sebagai berikut; bahwa unsur cahaya merupakan sumber dari unsur modifikasi warna. Menurut teori spektrum cahaya, bahwa cahaya putih terdiri dari beberapa unsur warna, dan sebuah warna disampaikan oleh cahaya melalui kemampuan sebuah bahan untuk memantulkan warna-warna tertentu. Sifat dari bahan bangunan misalnya, hanya memiliki kemampuan memantulkan warna tertentu, jadi unsur warna bukan dimiliki oleh bahan tersebut. Demikian juga unsur selanjutnya yaitu unsur panas, panas merupakan sifat dari cahaya, dan akibat panas dapat menimbulkan perbedaan suhu dan perbedaan suhu udara dapat menciptakan perbedaan tekanan, akibat perbedaan tekanan udara maka terjadi aliran udara.

Pada awalnya manusia akan memberikan pengaruh terhadap bangunan dan untuk selanjutnya pada saat penghunian manusia akan dipengaruhi oleh bangunan, demikian Perdana Menteri Inggris Winston Churchill pernah mengatakannya. Pada tahap perencanaan bahwa bangunan tersebut melalui proses disain akan mempertimbangkan pola perilaku manusia pengguna bangunan tersebut. Sejalan dengan pendapat dari Jean Beaman dan beberapa pandangan sosiolog, maka seorang arsitek harus memiliki kemampuan eksplorasi ilmu-ilmu humaniora, baik sosiologi sebagai sebuah ilmu sosial, yang mempelajari perilaku manusia, dan tentunya kemampuan dalam ekplorasi ilmu sosial tersebut hanya sebagai bahan pertimbangan dalam disain bangunan.

Pada level ini seorang arsitek tentunya dapat melakukan disain sosial yang diwujudkan dalam disain bangunan dan lingkungan binaan.

Lingkungan Binaan

Keberlanjutan suatu kehidupan manusia sangat tergantung dari bagaimana manusia mengelola lingkungan hidupnya secara bijak demi kesejahteraan generasi saat ini maupun generasai masa mendatang. Pengelolaan lingkungan hidup meliputi lingkungan alami dan lingkungan binaan, kondisi lingkungan saat ini semakin kritis, ditandai dengan krisis air bersih, tanah, udara, iklim dan juga lingkungan biologis serta lingkungan sosial. Kritisnya lingkungan bilologis tampak pada fenomena dimana kian banyak lahan tanah yang tidak produktif. Bahkan beberapa daya dukung kawasan sudah tidak mampu lagi mendukung kehidupan mahluk hidup, yang tinggal pada lingkungannya.

Beberapa kawasan kota untuk mendukung kebutuhan hidup masyarakatnya harus didukung dari wilayah lain. Sebagai gambaran kebutuhan air bersih kota Bandung maupun kota-kota besar lainnya harus didatangkan dari luar daerahnya, demikian juga dengan energi serta sampah rumah tangga, sampah udara seluruhnya tidak mampu diproses oleh wilayahnya sehingga harus dibuang ke wilayah lain.

Kondisi masyarakat yang selalu menggantungkan kehidupannya pada ketersediaan sumber daya alam, pada saat ini sudah tidak dapat dipertahankan lagi, namun sudah saatnya manusia melakukan pengelolaan terhadap sumber daya alam, agar ketersediaan sumber daya alam tersebut senantiasa dapat menjamin keberlangsungan hidup masyarakat secara berkesinambungan.

Beruntung bahwa negeri ini memiliki sumber daya alam yang berlimpah dibandingkan negeri tetangga, Singapura. Yang notabene untuk memenuhi kebutuhan air bersih, energi, dan kebutuhan hidup lainnya harus didatangkan dari luar, termasuk dari Batam dan Johor Malaysia. Walau demikian, negeri itu ternyata mampu memberikan kemakmuran kepada masyarakatnya. Hal ini disebabkan oleh kemampuan seluruh unsur bangsa, yaitu pemerintah, swasta serta masyaratanya tertib, disiplin, dan piawai dalam mengelola keterbatasan sumber daya. Berbanding terbalik dengan kondisi kita, yang berlimpah sumber daya alam, akan tetapi justru kemakmuran secara merata masih jauh dari jangkauan. Ironisnya, kita belum menyadari bahwa sumber daya alam semakin hari semakin menipis.

Kondisi ini menunjukkan pertumbuhan lingkungan sosial manusia Indonesia dapat dikatakan terlambat, bila kita melihat sejarah hubungan manusia dengan lingkungan menurut Antonio Maroni, yang disadur oleh Dwi Susilo dalam Sosiologi Lingkungan. Diungkapkan, bahwa episode hubungan manusia dan lingkungan, terdiri dari tiga tahapan besar. Yakni tahapan keseimbangan alam, masa ketidak seimbangan alam, dan masa sekarang.

Masa keseimbangan alam yaitu dimana manusia masih menyandarkan kehidupannya kepada alam, tidak terdapat proses pengolahan maupun pengelolaan, yang ada adalah proses pemanenan. Manusia mengambil hasil dari alam tanpa harus menanam, hal ini dimungkinkan terjadi, karena sumber daya alam masih mampu memberikan pemenuhan kebutuhan manusia untuk hidup. Sehingga ketergantungan manusia terhadap alam pada periode ini masih besar.

Masa ketidak seimbangan dimulai ketika terjadi perubahan lingkungan fisik dan tata cara hidup manusia, dua perubahan besar dari kehidupan manusia ini ditentukan oleh Revolusi Neolitikum dan Revolusi Industri. Revolusi Neolitikum terjadi ketika perubahan suhu lingkungan yang mengakibatkan sebagian binatang berpindah menuju daerah yang lebih dingin, dan manusia mulai menyadari bahwa mereka berbeda dan terpisah dengan alam. Manusia mulai merasakan perlu melakukan budi daya dan tidak lagi hanya mencari, manusia mulai bercocok tanam, manusia mulai mengembangkan pertukangan, saat inilah mulai terbentuk lingkungan binaan dan peradaban-peradaban baru yang lebih maju.

Selanjutnya Revolusi Industri telah memberikan perubahan lingkungan. Era revolusi industri telah mendorong migrasi besar-besaran dari desa ke kota,

[38]

sehingga mendorong pertumbuhan kota-kota sangat pesat. Melalui migrasi, kota-kota tumbuh menjadi kota dengan masyarakat yang multikultural.

Sehingga memberikan wujud budaya baru dalam masyarakat perkotaan. Proses akulturasi yang terjadi pada masyarakat perkotaan sangat berkembang pesat pada masa industri berkembang, yang menjanjikan lapangan pekerjaan baru yang lebih menarik masyarakat perdesaan. Pergeseran dimana banyak masyarakat yang tertarik dengan kehidupan kota. Bahkan sudah diprediksikan pada tahun 2025, 60% penduduk dunia tinggal di perkotaan.

Kota menjadi simbol kemajuan ekonomi yang banyak menawarkan harapan dan kemajuan, rata-rata kehidupan di kota lebih baik dari di desa. Bahwa seorang pemulung di kota dapat memiliki penghasilan lebih baik dari seorang petani di desa. Hal ini merupakan faktor penarik urbanisasi masyarakat desa ke kota. Urbanisasi yang terjadi datang dari berbagai desa dengan tipe budaya yang berbeda, seperti kota Jakarta, kita akan sangat sulit untuk menemukan penduduk Betawi di Jakarta, tapi kita akan menemukan berbagai suku yang ada di Indonesia, setiap suku yang masuk ke Jakarta umumnya saling berinteraksi, akibat proses interaksi tersebut membuat satu dengan yang lainnya untuk saling beradaptasi, hasil dari adaptasi tersebut menghasilkan wujud budaya baru, yaitu yang dikenal sebagai proses akulturasi dan asimilasi.

Pada tahap awal akulturasi terjadi didorong oleh proses migrasi, dari satu negara ke negara lain atau dari satu kota ke kota lain atau dari desa ke kota.

Perpindahan antara penduduk tersebut telah mengakibatkan pertemuan dua atau lebih unsur budaya, sebagaimana sifat manusia yang memiliki kemampuan untuk beradaptasi, pertemuan dua unsur budaya tersebut mendorong terbentuknya budaya-budaya baru sebagai wujud perpaduan.

Pergerakan penduduk pada tahap ini umumnya dimulai oleh kegiatan perdagangan atau ekonomi, dimana seperti fenomena perpindahan dari desa ke kota tadi dipicu oleh proses industrialisasi yang menawarkan kehidupan kota yang labih baik. Selain itu perdagangan antar negara juga telah menciptakan proses akulturasi bagaimana bangsa arab berdangan ke Indonesia, telah melahirkan budaya perpaduan antara bangsa arab dengan masyarakat Indonesia, demikian juga kolonilaisme diawali oleh kepentingan ekonomi, kolonilaisme Belanda di Indonesia, atau bahkan Kolonilaisme yang dilakukan oleh bangsa Romawi telah melahirkan perwujudan-perwujudan budaya baru di berbagai belahan bumi ini.

Sebagaimana kita ketahui bahwa proses akulturasi tidak menghilangkan unsur- unsur kebudayaan yang dipengaruhi. Maka proses perpaduan budaya di perkotaan cukup membantu dalam hal penyesuaian diri dan sebagai pengikat antar beberapa budaya yang bertemu dalam satu wilayah atau ruang. Selain akulturasi pertemuan dua atau lebih budaya di perkotaan juga mengakibatkan asimilasi budaya, yaitu suatu proses pencampuran budaya yang menghasilkan

kebudayaan baru, asimilasi tersebut terjadi manakala terjadi proses toleransi dan tidak ada pemikiran bahwa satu budaya lebih tinggi dari budaya lalinnya.

Era saat ini yaitu era perkembangan teknologi informasi ditandai dengan pesatnya penemuan dibidang informasi. Sebagaimana penemuan-penemuan mesin cetak dan mesin sebagai pengganti peralatan dalam membantu kehidupan manusia, yang ditandai dengan sebuah revolusi Guthenberg dan Revolusi Industri, telah mendorong perubahan peradaban dunia. Saat ini dengan perkembangan teknologi informasi, menuntut kehidupan yang serba cepat dan efisien. Melalui perkembangan teknologi informasi telah memungkinkan suatu peristiwa yang terjadi di belahan bumi ini dapat dengan cepat diketahui oleh masyarakat di belahan bumi lain, dalam waktu yang sangat singkat.

Kuatnya informasi dapat memengaruhi belahan dunia lainnya dapat juga menjadi pendorong akulturasi dan asimilasi budaya, tanpa harus berhubungan dan berinteraksi secara langsung, akan tetapi melalui sarana informasi proses akulturasi dan asimilasi dapat berlangsung. Sehingga era kini suatu kelompok yang menguasai informasi dan data akan menjadi kelompok yang kuat, sehingga tidak salah bila persaingan dan perang informasi saat ini terjadi diberbagai belahan bumi, antara barat dan timur kita sering mendengar persaingan antara stasiun TV CNN dan Al Jazerra, merupakan cerminan benturan budaya, untuk menguasai pengaruh dan pandangan publik dunia.

Bahkan negara-negara komunis yang selama ini harus menutup diri, sangat sulit untuk membendung informasi tersebut. Sebut saja Korea Utara, terpaksa harus memprotek perkembangan teknologi informasi di negaranya untuk menjaga pengaruh barat melalui informasi. Dan hal ini telah mendorong tertinggalnya sebagian besar masyarakat di Korea Utara terhadap kemampuan mengakses informasi.

Melalui informasi perubahan gaya hidup sangat dipengaruhi oleh informasi yang disampaikan melalui media informasi. Dan kita mesti mengakui bahwa penguasaan informasi di Indonesia belum sebaik penguasaan informasi yang datang dari negara-negara barat. Walaupun informasi negeri kita ini jauh lebih baik dibandingkan negara Timor Leste, akibat lebih baiknya penguasaan informasi terhadap negeri tersebut memungkinkan budaya Indonesia menjadi patokan bagi masyarakat Timor Leste. Bahkan pada pemilihan Presiden Timor Leste, budaya Dang Dut menjadi alat untuk melakukan kampanye politik, begitu juga dengan gaya hidup masyarakat Indonesia masih digunakan sebagai patokan bagi masyarakat Timor Leste dan bahkan ditiru. Demikian juga dengan keberadaan bahasa Indonesia sangat sulit untuk dihilangkan di bumi Lorosae tersebut, akibat arus informasi melalui media TV yang masuk ke negara tersebut.

[40]

Namun yang masih disayangkan, bahwa informasi kita juga masih dikuasai oleh barat, sehingga ada tekanan terhadap nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. Pola hidup sebagian besar masyarakat Indonesia telah terpengaruh oleh pola hidup barat tanpa upaya penyaringan, pola kehidupan tersebut juga tercermin dalam dinamika arsitektur Indonesia. Gaya arsitektur minimalis merupakan hasil dari perkembangan teknologi informasi.Melalui mass media yang dibantu oleh soft ware, karya arsitektur dapat ditampilkan dengan sangat menarik. Yaitu lewat visualisasi tiga dimensi (3D), yang diperoleh dengan permainan komputer yang didukung oleh software-software canggih dalam permainan image. Hasilnya mampu memengaruhi konsumen arsitektur Indonesia, tanpa dan belum teruji oleh kondisi iklim dan konteks tempat, yang merupakan syarat penting dalam arsitektur.

Wujud arsitektur sangat tergantung dengan tempat, selain fungsi, bentuk dan makna, hal inilah yang membedakan antara wujud arsitektur dengan wujud lainnya, seperti pesawat terbang, mobil, dsb, objek seperti pesawat terbang serta mobil juga memiliki fungsi, bentuk dan makna akan tetapi dibuat tanpa mempertimbangkan konteks tempat. Fenomena perubahan global tersebut sangat sulit dikejar oleh Indonesia, tekanan yang kuat membuat sebagian besar masyarakat ini dikuasai dan tunduk pada informasi yang diterima karena kekuatannya. Hal ini sangat mengancam budaya dan karakter bangsa ini.

Sehingga bangsa ini menjadi berbudaya barat dan budaya timur semakin hari semakin redup ditelan cahaya budaya barat.

Pada kasus arsitektur minimalis tadi, pengguna arsitektur terpengaruh oleh media tanpa teruji oleh alam dan tempat. Lalu sesudah arsitektur minimalis tersebut berkembang dengan pesat dengan dibangun di mana-mana, barulah pengguna dapat merasakan bahwa arsitektur minimalisnya menjadi beban bagi pemilik, karena bangunan tersebut memerlukan energi yang lebih banyak.

Seperti memerlukan biaya perawatan dan operasional yang lebih besar, karena pertimbangan terhadap iklim sangat rendah. Dinding yang cepat berlumut, cat yang cepat pudar, cahaya matahari yang berlebihan masuk kedalam ruangan, udara dalam ruang dalam yang lebih panas, karena dindingnya tidak dilindungi oleh teritisan, dan berbagai permasalahan tersebut muncul. Namun lagi-lagi bahwa informasi tersebut tidak sampai kepada masyarakat umum, karena sejumlah pengembang belum memiliki alternatif style yang dapat dijual. Bila kita telusuri arsitektur minimalis sangat kental dengan keterbatasan dan kemampuan dari software dalam penggambaran melalui komputerisasi.

Apakah kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam dan kemiskinan yang semakin menjadi tersebut merupakan sebuah ekspresi dari ketidak berdayaan kita dalam melakukan pengelolaan sumber daya alam?

Bahwa lingkungan binaan yang kita bangun masih sejauh mengubah fisik, dan tidak mampu memulihkan kondisi kelestarian lingkungan alam, yang terus

menipis akibat konsumsi manusia terhadap sumber daya alam tersebut.

Akibatnya pembangunan yang berkesinambungan masih sejauh di atas konsep dan lisan saja, namun implementasinya masih sangat jauh dari harapan.

Sustainabillity dalam arsitektur dan lingkungan binaan, dapat dirumuskan dalam beberapa aspek. Yaitu meliputi aspek keruangan dan aspek sumber daya.

Dalam konteks aspek sumber daya, arsitektur dipandang sebagai sebuah wujud fisik dari suatu proses perencanaan, perancangan, pembangunan dan pemanfaatan. Dalam proses pembangunan arsitektur tidak terlepas dari penggunaan sumber daya alam yang digunakan dalam bentuk bahan bangunan.

Penggunaan/konsumsi bahan bangunan tersebut dipenuhi melalui bahan-bahan yang bersumber dari galian C dan bahan tegakkan. Bahan galian C berupa pasir, batu, baja, semen dsb. Sedangkan bahan tegakan adalah jenis kayu/bambu. Setiap bahan bangunan yang digunakan dalam proses pembangunan berimplikasi pada energi dan emisi. Energi dan emisi yang dikeluarkan oleh setiap bahan bangunan tersebut berkonsekuensi terhadap kerusakan lingkungan, ketika eksploitasi sumber daya alam melebih kemampuan alam untuk mengembalikan pada kondisi awal.

Dari sudut keruangan, manusia dengan kehidupan di luar manusia senantiasa terjadi perebutan ruang. Fenomena banjir merupakan sebuah gejala konflik ruang antara manusia dengan air. Pertumbuhan penduduk dunia saat ini telah memicu peningkatan kebutuhan ruang (lahan) untuk memenuhi kehidupan dan penghidupannya. Dalam pemenuhan kebutuhan ruangnya manusia sangat mendahulukan kepentingan dirinya, manusia selalu mengungkapkan aspirasinya dalam hak asasi manusia dalam kehidupan, dan manusia tidak pernah memperhatikan hak asasi mahluk hidup lain atau komponen kehidupan lainnya, seperti hak asasi air, hak asasi tanaman/hutan, dan sebagainya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa manusia selalu tumbuh dan berkembang sedangkan tanah, udara dan air tetap. Pertumbuhan manusia telah mendorong pertumbuhan kebutuhan akan ruang untuk memenuhi kehidupan dan penghidupannya. Telah mengambil alih hak kebutuhan ruang dan tempat bagi unsur-unsur alam. Sebagaimana kita ketahui, bahwa air dan udara juga membutuhkan ruang. Ruang air sebagaimana disampaikan diatur dalam Undang-undang Sumber Daya Air, namun akibat kuatnya tekanan materialistik dari manusia, maka kebutuhan ruang unsur alam lainnya, seperti air terabaikan oleh tekanan kebutuhan manusia, bahkan manusia kurang menyadari berbagai bencana yang timbul tidak terlepas dari perilakunya.

Sebagai contoh, peristiwa banjir di kawasan perumahan di sekitar kota Bandung Selatan, sering terjadi, hal ini disebabkan oleh konflik ruang antara air dan manusia. Bahwa pada era sebelum 1980-an kawasan tersebut merupakan tempat yang telah direncanakan sebagai kawasan persawahan dengan sistem irigasi yang baik. Namun pada akhir dekade 1980-an, bisnis

[42]

properti telah merambah kawasan tersebut, sistem irigasi yang berfungsi untuk mengairi sawah diubah menjadi sistem drainase yang berfungsi untuk mengalirkan air hujan ke sungai sampai dengan ke laut. Bahwa rekayasa irigasi untuk mengairi dan drainase untuk membuang air adalah suatu sistem keairan yang sangat bertolak belakang. Tentunya tidak mudah untuk mengubah perilaku tersebut, belum lagi sifat air yang selalu mengalir ke daerah yang lebih rendah. Perubahan sistem keairan tersebut memerlukan biaya yang sangat besar, dan itu tidak dilakukan oleh pengembang. Jadi wajar bila perumahan selalu banjir pada musim hujan, karena memang daerah yang dikembangkan untuk perumahan tersebut pada awalnya direncanakan untuk dialiri oleh air.

Dengan demikian konsep keberlanjutan lingkungan hidup tidak hanya milik manusia saja akan tetapi miliki seluruh kehidupan. Sebagaimana komponen lingkungan hidup di atas, yang membutuhkan ruang tidak hanya manusia, akan tetapi air, tanaman, termasuk mahluk hidup lainnya. Sehingga peran seorang arsitek adalah bagaimana menata ruang yang mampu menampung sistem kehidupan baik untuk manusia maupun untuk komponen kehidupan lainnya dan hidup dalam satu ruang yang harmonis. Barangkali bila kita meneleaah kembali bagaimana kearifan lokal suatu masyarakat tradisional yang hidup di sungai Barito. Pada awalnya keharmonisan hidup berdampingan dengan air tercipta dimana masyarakat membangun rumahnya tidak dengan melakukan penutupan daerah air, melainkan dengan membuat rumah perahu agar rumahnya dapat mengikuti keiinginan dan perilaku air. Namun akibat terus semakin bertambahnya jumlah penduduk, keharmonisan tersebut lambat laun semakin pudar. Air sungai-sungai akhirnya mulai tercemar oleh residu deterjen dan bahan-bahan kimia lainnya, akibat perubahan perilaku manusia yang tidak sedikitpun mau mempertimbangkan kondisi air sungai tersebut.

Padahal sebagian masyarakat menggantungkan kehidupan dan penghidupan kepada sungai tersebut, karena keberadaan sungai tersebut mulai terganggu, maka kontribusi sungai untuk memberikan kehidupan dan penghidupan bagi manusia juga terganggu.

Proses interaksi manusia dengan lingkungan khusus nampak semakin memudar, kearifan lokal yang telah diturunkan oleh nenek moyang sedikit demi sedikit terkikis oleh sistem kehidupan kapitalis dan materialis. Perubahan perilaku dalam masyarakat tersebut saat ini cenderung belum mampu ditangani oleh sistem perencanaan kota secara konvensional, bahkan perumahan liar semakin hari semakin banyak. Serta pembangunan yang berwawasan lingkungan masih hanya sekedar wacana dalam level konsep belum teraplikasikan dalam rancangan dan masuk dalam tingkat filosofis kahidupan masyarakat.

3.3. Tinjauan Sejarah Teori Sosial dan implikasinya terhadap

Dalam dokumen arsitektur - perumahan (Halaman 54-63)