• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR BOX

3.4 Investasi

inflasi dari sisi suplai dan mendorong produksi, melalui strategi 4K (keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta komunikasi yang efektif).

Sinergi kebijakan pemerintah dan BI terus diperkuat untuk mencermati risiko tekanan inflasi ke depan, melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID).

Bank Indonesia terus berupaya menjaga ekspektasi inflasi dan memitigasi dampaknya terhadap inflasi inti, serta akan menempuh langkah-langkah normalisasi kebijakan moneter lanjutan sesuai dengan data dan kondisi yang berkembang. Guna menjaga stabilitas makroekonomi dengan tetap mendukung proses pemulihan ekonomi nasional, koordinasi kebijakan moneter dan fiskal terus ditingkatkan. Demikian pula, koordinasi di bawah Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) serta koordinasi bilateral antara BI dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus diperkuat dalam menjaga stabilitas sistem keuangan.

berkontribusi sebesar 42,0 persen dengan realisasi mencapai Rp248,1 triliun.

Kontribusi investasi di luar Jawa meningkat dari 51,5 persen pada semester I-2021 menjadi 52,3 persen pada semester I-2022. Selain itu, realisasi investasi PMA dan PMDN tersebut mampu menciptakan lapangan kerja bagi 639.547 orang pada semester I-2022.

Pada tahun 2022, target PMA dan PMDN berdasarkan RKP Tahun 2022 adalah sebesar Rp968,40 triliun, yang kemudian disesuaikan berdasarkan arahan Presiden menjadi Rp1.200 triliun. Perkembangannya pada semester I-2022 menunjukkan bahwa realisasi total PMA dan PMDN telah mencapai Rp584,6 triliun atau 48,7 persen dari target yang ditetapkan. Kinerja tersebut didukung oleh kontribusi realisasi investasi pada industri pengolahan pada semester I-2022 yang mencapai sebesar 39,5 persen dari total realisasi investasi (Tabel 3.4).

Tabel 3.4

Realisasi PMA dan PMDN Tahun 2019–2022

Uraian Satuan 2019 2020 2021 Semester I

2021 2022

Nilai realisasi PMA dan

PMDN Rp triliun 809,6 826,3 901,0 442,8 584,6

Kontribusi PMDN terhadap total realisasi PMA dan PMDN

% 47,7 50,1 49,6 48,4 46,9

Nilai realisasi PMA dan PMDN sektor industri pengolahan

Rp triliun 215,9 272,9 325,4 167,1 230,8

Kontribusi realisasi

Investasi Luar Jawa % 46,3 50,5 52,0 51,5 52,3

Sumber: Kemeninves/BKPM, diolah.

Pemerintah terus berupaya mendorong peningkatan investasi melalui percepatan kemudahan berusaha dan perizinan sesuai amanat PP No. 5/2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko. Pelaksanaannya difokuskan pada penerapan sistem Online Single Submission Risk-Based Assessment (OSS RBA) di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota yang didukung kementerian/lembaga (K/L) yang terkait perizinan.

Sejak tanggal 9 Agustus 2021 telah diimplementasikan sistem OSS RBA yang didasarkan pada analisa tingkat risiko suatu kegiatan usaha terhadap kesehatan dan keselamatan kerja (K3), lingkungan hidup dan hal lain yang terkait. Tercatat sampai dengan bulan Juni 2022, OSS RBA telah menerbitkan 1.434.411 Nomor Induk Berusaha (NIB) dengan sebanyak 1.404.705 NIB (97,9 persen dari total NIB) adalah

pelaku usaha Usaha Mikro dan Kecil (UMK). Ini sesuai dengan gagasan dasar dari UU No. 11/2020 tentang Cipta Kerja yang berpihak kepada pelaku UMK dengan adanya program perizinan tunggal bagi UMK dan pendampingan dalam memperoleh sertifikat jaminan produk halal dan Sertifikat Nasional Indonesia (SNI).

Perkembangan iklim persaingan sehat diukur melalui indikator indeks persepsi persaingan usaha yang dicatatkan angkanya setiap tahun mulai tahun 2017.

Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, diketahui bahwa skor indeks persepsi persaingan usaha pada tahun 2020 adalah 4,50. Sedangkan pada tahun 2021, mulai ditetapkan target skor indeks persepsi persaingan usaha sebesar 4,7 dan ditargetkan mencapai angka 5,0 pada tahun 2024.

3.4.2 Permasalahan dan Kendala

Pada masa pemulihan pandemi COVID-19, terdapat beberapa kendala dan hambatan yang sering kali dihadapi oleh perusahaan baik PMA maupun PMDN dalam melakukan rencana investasinya serta bagi pemerintah dalam menghimpun nilai realisasi investasi seperti (1) eksekusi pemenuhan komitmen izin-izin di daerah masih belum dilakukan secara maksimal, (2) sulitnya pengadaan lahan karena kurangnya validitas data tanah di Indonesia dan ketidaksesuaian antara pemanfaatan ruang daerah dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di daerah, serta (3) masih terdapat ketidakpatuhan para pelaku usaha yang menyampaikan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) secara berkala.

Tidak hanya itu tantangan investasi khususnya di sektor sekunder diakibatkan oleh pertumbuhan ekonomi global yang belum pulih sehingga permintaan komoditas masih terbatas. Selain itu, tren foreign direct investment (FDI) pada di lingkup Asia Pasifik yang juga masih menurun, di mana proyeksi dan tantangan FDI Asia Pasifik 2022 pertumbuhannya positif namun masih di bawah kondisi pertumbuhan prapandemi. Banyak negara yang masih berjuang menghadapi gelombang ketiga dan keempat pandemi dan mempercepat vaccination roll out. Selain itu, realisasi investasi dihadapkan pada kendala dalam upaya penerapan dan integrasi Sistem OSS RBA, antara lain terhambatnya proses koordinasi integrasi sistem serta keterbatasan anggaran. Sedangkan dari sisi persaingan usaha, beberapa kendala yang dihadapi dalam upaya perbaikan iklim persaingan usaha sehat pada masa pemulihan, antara lain (1) pengawasan dan penegakan hukum persaingan usaha secara online belum sepenuhnya efektif, serta (2) status kelembagaan komisi pengawas yang belum sejalan dengan peraturan perundangan terkait Aparatur Sipil Negara (ASN).

Berkaitan dengan pengawasan persaingan usaha, komisi pengawas berkontribusi dalam pelaksanaan Prioritas Nasional (PN) Memperkuat Ketahanan Ekonomi Untuk Pertumbuhan yang Berkualitas dan Berkeadilan dengan melakukan pengukuran terhadap Indeks Persepsi Persaingan Usaha pada tahun 2020–2024. Berkenaan dengan kontribusi komisi pengawas tersebut, terdapat amanat baru dalam UU No.

11/2020 tentang Cipta Kerja dalam Bab VI tentang Kemudahan Berusaha pada pasal 118. Permasalahan internal yang dihadapi dan telah mendapatkan arahan presiden

untuk ditindaklanjuti sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 44/2021 tentang Pelaksanaan Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat yaitu status kelembagaan yang belum sejalan dengan Undang-Undang ASN sehingga terdapat beberapa ketentuan selaku lembaga negara yang belum dapat disejajarkan dengan lembaga negara lain.

3.4.3 Arah Kebijakan dan Strategi

Arah kebijakan peningkatan investasi terus diperkuat untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional, yang dilaksanakan dengan (1) strategi pemulihan ekonomi yang mencakup (a) peningkatan ketersediaan bahan baku dan bahan penolong dalam tingkat harga yang kompetitif; (b) penyediaan stimulus dunia usaha; (c) percepatan pembangunan kawasan industri; (d) peningkatan kesiapan untuk menampung relokasi investasi, termasuk pengembangan kawasan industri; dan (e) peningkatan realisasi investasi yang berskala besar dan menyerap tenaga kerja; (f) fasilitasi proyek- proyek atau investasi mangkrak; dan (g) pembentukan satuan tugas percepatan investasi, (2) strategi peningkatan nilai tambah ekonomi yang dilaksanakan melalui (a) akselerasi start-up yang didukung akses pembiayaan dan kerja sama investasi, (b) peningkatan investasi di industri pengolahan dan sektor digital, dan (c) peningkatan investasi hijau.

Pemerintah terus mengupayakan perbaikan kemudahan berusaha dalam rangka menciptakan iklim berusaha yang lebih kondusif dan menarik. Perbaikan iklim usaha juga diarahkan untuk menjaga persaingan usaha yang sehat pada masa pemulihan ekonomi guna mendorong produktivitas dan efisiensi yang dilaksanakan antara lain melalui (1) penerbitan peraturan terkait Program Kepatuhan Persaingan Usaha yang diharapkan dapat mendorong internalisasi nilai persaingan usaha yang sehat secara sukarela di pelaku usaha, (2) pendampingan dan advokasi kemitraan yang fair bagi UMKM dan Usaha Menengah Besar, (3) pengembangan competition checklist berbasis web/apps yang ramah penggunaan bagi pembuat kebijakan, serta (4) pelaksanaan penegakan hukum persaingan usaha yang transparan.

3.5 Kerja Sama Ekonomi Internasional