DAFTAR BOX
5.6 Pemuda dan Olahraga
5.6.1 Capaian Utama Pembangunan
Peningkatan kualitas pemuda merupakan salah satu sasaran pembangunan pada RPJMN 2020-2024 yang bertujuan untuk meningkatkan partisipasi pemuda di berbagai bidang pembangunan, terutama dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, organisasi, dan berwirausaha. Capaian pembangunan kepemudaan pada tahun 2021 mengalami perbaikan. Kondisi ini diindikasikan oleh peningkatan Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) dari 51,00 (2020) menjadi 54,00 (2021). Capaian IPP 2021 merupakan perkiraan sementara, karena terdapat 3 indikator bersumber dari Susenas Modul Sosial Budaya dan Pendidikan (MSBP) belum dirilis sehingga menggunakan data tahun terakhir yakni tahun 2018. Peningkatan tersebut utamanya disebabkan oleh angka perkawinan pemuda pada usia anak menurun dari 10,35 persen (2020) menjadi 9,23 persen (2021); persentase pemuda perempuan yang menempuh pendidikan menengah dan tinggi meningkat dari 39,37 persen (2020) menjadi 41,11 persen (2021); serta persentase pemuda perempuan yang bekerja di sektor formal juga meningkat dari 22,31 persen (2020) menjadi 24,00 persen (2021).
Peningkatan budaya olahraga di masyarakat dan prestasi olahraga di tingkat regional dan internasional merupakan salah satu sasaran pembangunan pada RPJMN 2020- 2024 yang diupayakan antara lain melalui penguatan regulasi, fasilitasi induk cabang olahraga, dukungan penyediaan sarana dan prasarana olahraga, pembibitan dan pembinaan atlet secara sistematik, berjenjang, dan berkelanjutan, peningkatan kuantitas dan kualitas tenaga keolahragaan, serta penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) olahraga.
Meskipun pandemi COVID-19 menyebabkan aktivitas fisik sebagian besar penduduk terbatas, namun terlihat adanya peningkatan budaya olahraga di masyarakat. Kondisi ini ditunjukkan oleh persentase penduduk berusia 10 tahun ke atas yang berolahraga berdasarkan Survei Sport Development Index Kemenpora sebesar 32,83 persen pada 2021.
Hasil pembinaan terhadap atlet elite terlihat pada capaian Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo 2020 yang pelaksanaannya diundur ke tahun 2021. Kontingen Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020 terdiri dari 28 atlet dari 8 cabang olahraga (cabor), yaitu panahan (4 atlet), atletik (2 atlet), badminton (11 atlet), menembak (1 atlet), angkat besi (5 atlet), dayung (2 atlet), renang (2 atlet), dan selancar (1 atlet). Pada Olimpiade Tokyo 2020, Indonesia berada pada peringkat ke-55 dengan perolehan 1
medali emas (cabor badminton), 1 medali perak (cabor angkat besi), dan 3 medali perunggu (2 pada cabor angkat besi dan 1 pada cabor bulutangkis). Dalam Paralimpiade Tokyo 2020 yang dilaksanakan pada 24 Agustus – 5 September 2021, terdapat 7 cabor yang lolos kualifikasi dan terdiri dari 23 orang atlet yaitu para atletic (7 atlet), para swimming (2 atlet), para powerlifting (1 atlet), shooting para sport (2 atlet), para badminton (7 atlet), para table tennis (3 atlet), dan para cycling (1 atlet).
Pada Paralimpiade Tokyo 2020 tersebut Indonesia berada pada peringkat ke-43 dengan perolehan 2 medali emas (para badminton), 3 medali perak (powerlifting dan para badminton), serta 4 medali perunggu (2 pada cabor para badminton, 1 pada cabor para table tennis, dan 1 pada cabor para atletic). Selain itu, penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX dan Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XVI di Papua yang ditunda dari 2020 ke Oktober 2021 memiliki catatan kesuksesan tersendiri. Pada PON XX tersebut, terjadi pemecahan 56 rekor PON dan 34 rekor nasional, serta kontingen Papua masuk dalam peringkat 4 besar. Di Peparnas, terjadi pemecahan 96 rekor Peparnas, 39 rekor nasional, dan 2 rekor ASEAN Para Games di cabor para swimming. Selanjutnya, pada South East Asia (SEA) Games Hanoi 2021 yang dilaksanakan pada 12-23 Mei 2022, Indonesia berhasil meraih peringkat ke-3 dengan total perolehan 69 medali emas, 91 medali perak, dan 81 medali perunggu.
Peringkat tersebut meningkat dibandingkan peringkat pada SEA Games Filipina 2019 yaitu peringkat ke-4. Adapun capaian indikator pembangunan pemuda dan olahraga dapat dilihat pada tabel 5.7.
Tabel 5.7
Capaian Program Pemuda dan Olahraga Tahun 2019-2022
Uraian Satuan 2019 2020 2021 Semester I 2021 2022 Indeks Pembangunan
Pemuda (IPP) nilai 52,67 51,00 54,00a) 54,00a) 56,61b) Persentase pemuda
(16-30 tahun) yang bekerja dengan status berusaha sendiri dan dibantu buruh (tetap dan tidak tetap) dalam jenis jabatan white collar
% 0,47 0,44 0,411) 0,411) 0,55b)
Angka Kesakitan
Pemuda nilai 7,81 8,58 10,232) 10,232) 9,80b)
Sumber: 1) Sakernas, 2021; 2) Susenas KOR, 2021.
Keterangan: a) Perkiraan capaian sementara sebab 3 dari 15 indikator IPP yang bersumber dari Susenas MSBP 2021 belum dirilis, sehingga dianggap tetap sama dengan tahun 2018; b) Target 2022.
5.6.2 Permasalahan dan Kendala
Permasalahan dan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pembangunan bidang pemuda, antara lain (1) belum efektifnya pelaksanaan koordinasi lintas sektor penyelenggaraan pelayanan kepemudaan baik di tingkat pusat maupun daerah, di antaranya disebabkan oleh (a) Rencana Aksi Nasional Pelayanan Kepemudaan sebagai bagian tidak terpisahkan dari Perpres No. 43/2022 tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor Penyelenggaraan Pelayanan Kepemudaan belum didukung dengan Rencana Aksi Daerah sebagai acuan koordinasi dan pembangunan kualitas pemuda di daerah;
(b) belum memadainya regulasi yang mengatur lebih lanjut pembagian kewenangan pemangku kepentingan urusan kepemudaan; dan (c) belum terbangunnya mekanisme keterlibatan pemuda sebagai mitra yang setara dalam pembangunan; (2) belum optimalnya kapasitas pemangku kepentingan pusat dan daerah dalam memahami IPP sebagai tolok ukur pembangunan kualitas pemuda; (3) rumusan program/kegiatan pembangunan pemuda belum representatif terhadap tantangan dan isu yang ada; serta (4) intervensi pembangunan kepemudaan umumnya belum mengacu capaian indikator IPP.
Permasalahan dan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pembangunan bidang olahraga, di antaranya (1) adanya keterbatasan pelaksanaan kegiatan pembudayaan olahraga secara fisik karena berpotensi membuat kerumunan, sehingga kegiatan kampanye olahraga tidak optimal; (2) belum terciptanya koordinasi dan belum cukup tersedianya kebijakan lintas sektor untuk mendukung pembudayaan olahraga maupun penyediaan sarana dan prasarana olahraga masyarakat; (3) adanya pembatasan pembinaan olahraga usia muda secara fisik di Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP), khususnya di provinsi dengan status zona merah dan hitam dalam penyebaran COVID-19, sehingga olahragawan dirumahkan dan pembinaan dilakukan secara virtual; (4) adanya penundaan pelaksanaan multievent olahraga karena pandemi COVID-19, di antaranya PON dan Peparnas Papua 2020 serta Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo 2020; (5) masih terbatasnya penyelenggaraan single event olahraga karena situasi pandemi COVID-19; (6) masih belum optimalnya manajemen kompetisi olahraga berjenjang, rutin, dan berkelanjutan yang menyinergikan kompetisi olahraga di satuan pendidikan dan kompetisi olahragawan elite; (7) belum optimalnya dukungan daerah dalam menjalankan pembinaan olahraga usia muda khususnya pada satuan pendidikan yang merupakan kewenangan daerah, ditambah dengan belum ditetapkannya kurikulum pembinaan melalui Sekolah Keberbakatan Olahraga; (8) belum optimalnya penerapan sport science dalam pembinaan olahraga; (9) belum optimalnya dukungan pembiayaan pembinaan olahraga dari dunia usaha; serta (10) belum optimalnya mekanisme untuk mendukung kesejahteraan olahragawan purna prestasi sehingga profesi olahragawan belum banyak menjadi pilihan.
5.6.3 Arah Kebijakan dan Strategi
Untuk mengatasi permasalahan dan kendala di atas, maka pembangunan pemuda dan olahraga diarahkan pada (1) peningkatan kualitas pemuda sesuai Perpres No.
43/2022 tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor Penyelenggaraan Pelayanan Kepemudaan yang difokuskan pada (a) penguatan koordinasi lintas sektor pelayanan kepemudaan terutama sinergi pusat dan daerah; (b) peningkatan partisipasi aktif pemuda yang aman, inklusif dan bermakna terutama melalui kewirausahaan berbasis inovasi dan teknologi; (c) pencegahan perilaku berisiko pada pemuda, termasuk pencegahan atas bahaya kekerasan, perundungan, intoleransi, penyalahgunaan NAPZA, minuman keras, penyebaran penyakit HIV/AIDS, dan penyakit menular seksual; dan (d) peningkatan kapasitas SDM dan tata kelola kelembagaan di pusat dan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan kepemudaan, termasuk dalam perumusan program/kegiatan yang dapat meningkatkan capaian IPP dan pelibatan pemuda; serta (2) pembudayaan olahraga, perbaikan sistem pembinaan olahraga melalui satuan pendidikan di tingkat pusat dan daerah serta pengembangan pembinaan olahraga jangka panjang sesuai Perpres No. 86/2021 tentang Desain Besar Olahraga Nasional melalui (a) penguatan dan penataan regulasi keolahragaan; (b) penataan sistem pembinaan olahraga berbasis cabang olahraga Olimpiade/Paralimpiade dan potensi daerah; (c) penataan kelembagaan olahraga; (d) peningkatan ketersediaan tenaga keolahragaan berstandar internasional; (e) peningkatan sarana dan prasarana olahraga berstandar internasional; serta (f) pengembangan peran dunia usaha dalam pendampingan pembiayaan keolahragaan.
Strategi yang dilakukan untuk mendorong percepatan pembangunan kepemudaan dan keolahragaan, di antaranya dengan (1) inisiasi penyusunan Rencana Aksi Daerah Pelayanan Kepemudaan di beberapa provinsi sesuai Perpres No. 43/2022 tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor Penyelenggaraan Pelayanan Kepemudaan; (2) penyusunan peta jalan pembangunan olahraga sesuai Perpres No. 86/2021 tentang Desain Besar Olahraga Nasional sebagai arah pembangunan keolahragaan ke depan, yang pelaksanaannya akan bersinergi dengan penyusunan Grand Design Manajemen Talenta Nasional Bidang Olahraga sesuai amanat Keppres No. 21/2022 tentang Gugus Tugas Manajemen Talenta Nasional; serta (3) mendorong tindak lanjut atas amanat UU No. 11/2022 tentang Keolahragaan, di antaranya melalui standardisasi keolahragaan, pembentukan dana perwalian keolahragaan, Sistem Data Keolahragaan Nasional Terpadu, dan penyusunan Desain Olahraga Daerah.
5.7 Kesejahteraan Sosial (termasuk Jaminan Sosial)