• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR BOX

4.5 Kawasan Perkotaan

diversifikasi produk turunan dari komoditas unggulan; (3) mengembangkan usaha dan sarana prasarana pengolahan serta pemasaran produk komoditas unggulan; (4) meningkatkan ketersediaan jaringan infrastruktur yang dapat menghubungkan kawasan-kawasan sentra produksi dengan kawasan pusat industri pengolahan dan pemasaran; (5) menjaga stabilitas harga komoditas yang didukung dengan pengenalan teknologi komunikasi dan informasi bagi para petani pekebun untuk meningkatkan akses kepada pasar dan harga yang lebih baik; (6) meningkatkan promosi dan investasi untuk pengembangan sektor unggulan; dan (7) melakukan upaya tata kelola industri komoditas unggulan.

Tabel 4.5

Capaian Pengembangan Kawasan Perkotaan Tahun 2019-2022

Uraian Satuan 2019 2020 2021 Semester I 2021 2022 Berkembangnya Kawasan Perkotaan

Jumlah WM di luar Jawa

yang direncanakan WM 3 3 3 3 3

Jumlah WM di luar Jawa

yang dikembangkan WM 3 3 6 6 6a)

Jumlah WM di Jawa yang

ditingkatkan kualitasnya WM 1 2 2 2 4

Jumlah Kota Besar, Sedang, Kecil yang dikembangkan sebagai PKN/PKW

kota 20 11 52 52 52b)

Jumlah Kota Baru yang

dibangun kota 11 4 4 4 4c)

Sumber: Kementerian PPN/Bappenas, 2022.

Keterangan: a) Target Jumlah WM di luar Jawa yang dikembangkan dalam RKP 2022; b) Jumlah Kota Besar, Sedang, Kecil yang dikembangkan sebagai PKN/PKW dalam RKP 2022; c) Target Jumlah Kota Baru yang dibangun dalam RKP 2022.

Sedangkan capaian pengembangan 6 WM di luar Jawa adalah (1) pelaksanaan kegiatan Metropolitan Statistical Area (MSA) untuk WM Palembang dan WM Banjarmasin sebagai masukan bagi delineasi RTR KSN, perbaikan lingkup pelayanan perkotaan, dan perbaikan data metropolitan; (2) peningkatan konektivitas WM melalui (a) pembangunan KA Makassar-Pare-pare, (b) studi pengembangan Bus Rapid Transit di WM Makassar, (c) pembangunan fasilitas Pelabuhan Sanur dan Pelabuhan Benoa di WM Denpasar (untuk menunjang penguatan peran sebagai Maritime Tourism Hub), (d) subsidi perintis LRT di WM Palembang, (e) kajian Urban Mobility Plan dan penyelenggaraan layanan transportasi dengan skema Buy The Service (BTS) di WM Medan, serta (f) penerapan sistem angkutan umum massal berbasis rel di WM Jakarta.

Kegiatan pengembangan/pembangunan untuk 3 WM yang masih dalam tahap perencanaan ruang (WM Palembang, Banjarmasin dan Manado) tetap bisa dilakukan karena telah tersedia acuan Rencana Tata Ruang (RTR) dalam skala provinsi/kabupaten/kota yang bisa dijadikan dasar selama RTR KSN belum ditetapkan melalui Peraturan Presiden. Kegiatan lain yang juga diidentifikasi pelaksanaannya hingga semester I-2022 di WM luar Jawa adalah kegiatan sektor pengairan, air minum, sanitasi, dan perumahan.

Sementara itu, pembangunan Ibu Kota Nusantara dari tahun 2019 hingga Semester I- 2022 masih difokuskan pada proses pengkajian, perencanaan dan penyiapan regulasi sehingga belum dilakukan pembangunan. Capaian dari sisi kesiapan kelembagaan hingga Juni 2022 yaitu telah dilantiknya Kepala dan Wakil Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara serta dibentuk Tim Transisi Pendukung Persiapan, Pembangunan dan

Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN). Selain itu, dari sisi kesiapan regulasi, UU No.

3/2022 tentang Ibu Kota Negara telah disahkan pada tanggal 15 Januari 2022. Setelah itu, lima peraturan pelaksananya juga telah diundangkan pada tanggal 18 April 2022, yang meliputi (1) PP No. 17/2022 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Anggaran dalam Rangka Persiapan, Pembangunan, dan Pemindahan IKN serta Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Khusus Ibu Kota Nusantara; (2) Perpres No. 62/2022 tentang Otorita IKN; (3) Perpres No. 63/2022 tentang Perolehan Tanah dan Pengelolaan Pertanahan di IKN; (4) Perpres No. 64/2022 tentang Rencana Tata Ruang (RTR) Kawasan Strategis Nasional (KSN) IKN; dan (5) Perpres No. 65/2022 tentang Perincian Rencana Induk IKN. Dari sisi perencanaan, beberapa dokumen telah disusun yaitu Rencana Induk, Rencana Tata Ruang, Kajian Lingkungan Hidup Strategis Master Plan (KLHS MP) IKN, dan Urban Design Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN yang telah diintegrasikan untuk menjadi acuan dalam tahap implementasi pembangunan Ibu Kota Nusantara. Di dalam Rencana Induk dan Perincian Rencana Induk IKN juga telah disusun penahapan pembangunan mulai dari tahap pertama 2022 hingga tahap akhir di tahun 2045. Sebagai tahap awal pembangunan, saat ini sedang dilakukan pelepasan kawasan hutan dan penyiapan lahan terutama untuk area pembangunan (developable area) di KIPP tahap 1 tahun 2022-2024. Konsep forest city di IKN menargetkan 75 persen wilayah IKN dan 50 persen wilayah KIPP sebagai kawasan hijau (hutan dan tutupan hijau). Oleh karena itu, pelepasan kawasan hutan berfokus pada tanah milik negara untuk area pembangunan di IKN dari luasan delineasi awal 5.600 hektare KIPP.

Dalam rangka menjalankan perannya sebagai Pusat Kegiatan Nasional/Pusat Kegiatan Wilayah (PKN/PKW), capaian pengembangan kota besar, sedang, kecil pada tahun 2022 lebih banyak difokuskan pada pembinaan penyusunan RDTR serta peningkatan layanan infrastruktur dasar sebagaimana juga dilakukan pada WM.

Sedangkan untuk Kota Baru, capaian hingga Juni 2022 adalah (1) fasilitasi legalisasi untuk RDTR Tanjung Selor dan Maja; (2) evaluasi Inpres No. 9/2018 tentang Percepatan Pembangunan Kota Baru Mandiri Tanjung Selor; serta (3) perumusan upaya percepatan Major Project Pembangunan Kota Baru Maja, Tanjung Selor, Sofifi, dan Sorong dengan fokus pada memprioritaskan kegiatan utama untuk mendorong kehidupan perkotaan.

4.5.2 Permasalahan dan Kendala

Pengembangan Kawasan Perkotaan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketimpangan sosial, rendahnya produktivitas ekonomi dan pemenuhan layanan dasar perkotaan, pertumbuhan kawasan perkotaan yang menyerak (urban sprawl), eksploitasi sumber daya, penurunan kualitas lingkungan, hingga tingginya kerentanan masyarakat terhadap bencana dan perubahan iklim. Selain itu, masalah seperti pengaturan perkotaan yang belum holistik dan transsektoral, pengelolaan yang terfragmentasi, kelembagaan pengelola perkotaan yang belum efektif, serta sumber pendanaan non-APBN yang belum dimanfaatkan secara optimal juga menjadi kendala

komprehensif, eksternalitas negatif dari permasalahan perkotaan akan semakin meningkat.

Pandemi membawa pengaruh yang sangat besar pada pembangunan kewilayahan, termasuk untuk pengembangan kawasan perkotaan. Perencanaan kegiatan di berbagai K/L maupun mitra pembangunan mengalami efisiensi maupun refocusing untuk memberi ruang pada kegiatan yang memiliki dampak lebih besar pada pemulihan ekonomi. COVID-19 juga berpengaruh terhadap proses persiapan pemindahan IKN. Walaupun demikian, tahap perencanaan tetap dilaksanakan secara paralel di setiap K/L. Kendala lainnya terkait IKN meliputi keterbatasan waktu untuk memulai tahap 1 pembangunan dan kapasitas fiskal pemerintah pada masa pemulihan COVID-19. Oleh sebab itu, perlu segera dijajaki skema kerja sama dan pendanaan alternatif untuk dapat mempercepat proses pembangunan tahap 1 IKN di KIPP.

Pada daerah lokasi Major Project Pembangunan Kota Baru, dinamika pembangunan daerah, seperti pergantian kepemimpinan, perbedaan kebijakan pengembangan wilayah, serta keterbatasan anggaran untuk pembangunan juga memengaruhi pelaksanaan kegiatan pembangunan hingga semester I-2022. Untuk Wilayah Metropolitan, khususnya proses legalisasi RTR KSN Perkotaan Bimindo (WM Manado) dan Banjarbakula (WM Banjarmasin) memakan waktu lebih lama karena diperlukan integrasi dengan ruang laut dalam Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K), sebagaimana amanat UU No. 11/2020 tentang Cipta Kerja.

4.5.3 Arah Kebijakan dan Strategi

Untuk menjawab permasalahan dan kendala selama semester I-2022, arah kebijakan untuk percepatan pengembangan kawasan perkotaan adalah (1) mendorong pengembangan kawasan perkotaan di luar Jawa sebagai pusat pertumbuhan baru untuk pemerataan pembangunan wilayah, termasuk melalui IKN; (2) meningkatkan kualitas kawasan perkotaan di Jawa untuk mempertahankan momentum pertumbuhan dan memperbaiki kondisi daya dukung lingkungan yang sudah semakin menurun; dan (3) penyusunan regulasi untuk memberikan landasan atas pembangunan perkotaan secara terpadu dan komprehensif dengan mempertimbangkan berbagai asas dan prinsip dari kebijakan nasional maupun global.

Arah kebijakan tersebut diturunkan ke dalam strategi pengembangan kawasan perkotaan yang secara garis besar mencakup hal-hal berikut (1) peningkatan kualitas dan pemerataan pelayanan dasar perkotaan, khususnya untuk mengurangi risiko penyebaran pandemi; (2) peningkatan konektivitas wilayah untuk memperkuat keterkaitan kawasan perkotaan dengan kawasan lainnya; (3) penerapan konsep compact dan mixed-used untuk menghindari pertumbuhan yang menyerak (sprawling); (4) meningkatkan kapasitas aparatur pemerintah kota dalam mengidentifikasi sumber pendanaan alternatif; dan (5) penyusunan regulasi untuk memberikan landasan atas pembangunan perkotaan secara terpadu dan komprehensif dengan mempertimbangkan berbagai asas dan prinsip dari kebijakan

nasional maupun global. Strategi tersebut dapat dilaksanakan secara proporsional untuk semua lokasi prioritas perkotaan.

4.6 Daerah Tertinggal, Kawasan Perbatasan, Perdesaan, dan Transmigrasi