DAFTAR BOX
3.14 Kehutanan dan Sumber Daya Air
31.074 kepala keluarga dengan SK Izin Pemanfaatan Hutan Perhutanan Sosial (IPHPS).
Dibandingkan dengan kinerja semester I-2021, pencapaian akses Perhutanan Sosial sedikit menurun, namun hingga akhir tahun kinerja perhutanan sosial diperkirakan akan sesuai dengan target yang direncanakan, detail pencapaian Perhutanan Sosial dapat dilihat pada Tabel 3.15.
Tabel 3.15
Capaian Perhutanan Sosial Tahun 2019-2022
Tahun 2019 2020 2021 Semester I
2021 2022
Luas izin Perhutanan
Sosial (Ha) 1.573.967,79 379.740,5 484.628,5 280.770,58 119.736,08 Kepala Keluarga 242.673 55.516 148.397 101.006 31.074
Jumlah Izin 1.083 351 737 444 198
Sumber: KLHK, 2022 diolah.
Sejalan dengan perhutanan sosial, peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemberian akses lahan melalui program Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) menjadi program andalan sektor kehutanan. Tanah Objek Reforma Agraria memberikan kepastian hukum atas kawasan hutan yang menjadi hak atas tanah bagi masyarakat. Implementasi TORA yang telah didistribusikan berupa kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK) tidak produktif yang penutupan lahannya didominasi lahan tidak berhutan; dan kawasan hutan yang telah dikuasai, dimiliki, digunakan dan dimanfaatkan untuk pemukiman, fasilitas umum dan/atau sosial, serta lahan garapan. Kawasan hutan yang telah dilepaskan sebagai sumber TORA dalam bentuk Keputusan Menteri LHK secara kumulatif seluas 2,7 juta hektare Juni 2022, terdapat kenaikan sekitar 252 ribu hektare dari tahun sebelumnya. Capaian sumber TORA pada tahun 2019 hingga tahun 2021 secara lebih rinci dapat dilihat pada Gambar 3.12.
Gambar 3.12
Perkembangan TORA (Hektare) Tahun 2019-2021
Sumber: KLHK, 2022 diolah.
Keterangan: *) Angka per Juni 2022.
2.329.533 2.402.489 2.497.574
2.749.663
2019 2020 2021 2022*)
Pada tahun 2022, pandemi COVID-19 mulai mereda, perlahan kunjungan wisata kembali normal. Kegiatan pembangunan Destinasi Pariwisata Prioritas, kembali terlihat dampaknya dan terus dikembangkan dengan menjaga kelestarian lingkungan dengan pembatasan kunjungan yang melebihi daya tampung. Sampai dengan Mei 2022 terdapat 98 kawasan dari 107 kawasan yang telah dibuka dengan jumlah pengunjung 1.175.170 wisatawan pada periode Januari–Mei 2022. Jumlah kunjungan tersebut menurun dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2021 yang mencapai 1,22 juta wisatawan dan pada tahun 2020 yang mencapai 1,31 juta wisatawan.
Komoditas kehutanan yang mendukung perekonomian tidak hanya berupa kayu, salah satunya merupakan tumbuhan dan satwa liar yang telah diekspor sampai dengan Rp2,39 triliun pada bulan Mei 2022. Pada tahun 2021 nilai ekspor TSL yang mencapai Rp11,79 triliun dengan menilai kinerja pada tahun sebelumnya, diharapkan hingga akhir tahun 2022 kontribusi TSL melebihi tahun 2021. Grafik capaian ekspor tumbuhan dan satwa liar tahun 2019 hingga tahun 2022 dapat dilihat pada Gambar 3.13.
Gambar 3.13
Capaian Ekspor Tumbuhan dan Satwa Liar (Triliun Rupiah) Tahun 2019-2022
Sumber: KLHK, 2022 diolah.
Keterangan: *) Angka per Mei 2022.
Kinerja tersebut tidak lepas dari peran pengelolaan kawasan bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value/HCV). High Conservation Value adalah luas kawasan hutan konservasi dan hutan di luar konservasi termasuk Areal Penggunaan Lain (APL) yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, baik dari level ekosistem, populasi hingga ke tingkat spesies, terutama daerah-daerah yang merupakan kantung- kantung satwa prioritas yang kemudian masuk ke dalam kawasan ekosistem esensial.
Entitas yang diukur adalah luasan kawasan yang dilakukan inventarisasi dan verifikasi keanekaragaman hayati yang tinggi secara partisipatif di dalam maupun di luar kawasan konservasi.
Pengelolaan kawasan HCV juga merupakan amanat dalam RPJMN 2020-2024. Pada tahun 2021, telah ditetapkan luasan yang diverifikasi sebagai perlindungan keanekaragaman hayati seluas 7,3 juta hektare. Target tahun 2021 mencakup luas kawasan yang diinventarisasi dan verifikasi dengan nilai keanekaragaman hayati tinggi di dalam kawasan konservasi seluas dan luas kawasan 2,9 juta hektare dan di luar
10 10,79 11,79
2,39 0
5 10 15
2019 2020 2021 2022*)
kawasan konservasi seluas 4,4 juta hektare. Tahun 2021 telah dilakukan verifikasi kawasan sebagai perlindungan hayati seluas 10.655.955,99 hektare, yang terdiri atas luas kawasan yang diinventarisasi dan verifikasi di dalam kawasan konservasi seluas 1.723.896,39 hektare dan di luar kawasan konservasi seluas 8.932.059,60 hektare.
Capaian indeks kinerja utama tahun 2021 telah melebihi dari target yang telah ditetapkan sehingga capaian kinerjanya sebesar 145,97 persen.
3.14.2 Permasalahan dan Kendala.
Dampak pandemi COVID-19 terhadap keuangan negara cukup signifikan sehingga beberapa kegiatan yang direncanakan perlu disesuaikan dengan keterbatasan yang ada dan menentukan prioritas yang perlu diselesaikan. Pada perhutanan sosial, ruang gerak kegiatan terbatas pada kegiatan verifikasi teknis terhadap usulan yang diajukan untuk perhutanan sosial untuk menjaga target percepatan akses lahan terhadap masyarakat. Pada sisi lain, semakin banyaknya luasan dan izin yang diberikan untuk perhutanan sosial turut menambah tanggung jawab dalam pelaksanaan koordinasi dan pengendalian terhadap perhutanan sosial. Pemberian akses lahan melalui TORA mengalami kendala dikarenakan adanya beberapa hal di antaranya (1) rendahnya permintaan pelepasan kawasan tidak produktif, (2) permintaan pelepasan yang tidak sesuai dengan peta indikatif TORA, (3) keterbatasan kemampuan untuk melakukan inventarisasi potensi TORA, dan (4) kurang koordinasi pada pemerintah daerah/kabupaten/kota.
Pencapaian pariwisata pada sektor kehutanan tidak terlepas dari kebijakan pemerintah terkait pembatasan mobilisasi, sehingga kunjungan wisatawan belum sepenuhnya pulih pada kawasan wisata alam. Terlepas dari pembatasan mobilitas, tantangan yang terus dihadapi kawasan wisata alam setiap tahun adalah akses pengunjung untuk ke lokasi, serta keterbatasan fasilitas pendukung yang tersedia.
Selain itu, kawasan wisata juga menghindari kerusakan lingkungan sehingga menghindari kunjungan massal yang melebihi daya tampung kawasan wisata alam.
Produk kehutanan yang berorientasi ekspor termasuk TSL dan produk kayu bulat relatif tidak mengalami banyak kendala, hal ini dikarenakan kondisi perekonomian global yang mulai perlahan pulih sehingga mengembalikan permintaan produk tersebut.
3.14.3 Arah Kebijakan dan Strategi
Arah kebijakan peningkatan ekonomi melalui peningkatan produktivitas hutan akan dilakukan melalui peningkatan pelayanan pemanfaatan hutan yang berbasis teknologi, meningkatkan peran dan akses masyarakat terhadap sumber daya hutan yang berbasis agroforestry, dan mempercepat implementasi UU No. 11/2020 tentang Cipta Kerja dalam peningkatan dan percepatan industri kehutanan. Sedangkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, sektor kehutanan mendorong keberhasilan Perhutanan Sosial melalui langkah strategis dari hulu hingga hilir, yang meliputi prakondisi masyarakat untuk mempercepat pemberian akses perhutanan sosial, meningkatkan kapasitas masyarakat penerima izin untuk mengelola kawasan, dan
melakukan inovasi kebijakan untuk memperluas pasar dari produk yang dihasilkan masyarakat.
Tantangan yang dihadapi dalam pengembangan wisata alam terletak pada dua hal, peningkatan jumlah kunjungan namun tetap menjaga keberlangsungan lingkungan hidup. Untuk itu pengembangan wisata alam diarahkan untuk mainstreaming quality tourism yang berbasiskan jumlah reservasi dan paket wisata, dan pengembangan promosi melalui media digital untuk memperluas pasar wisatawan. Konsep pengembangan wisata secara mikro, diarahkan untuk memperkuat koordinasi dan kerja sama multipihak baik dari swasta, NGO, akademisi, dan masyarakat lokal untuk menciptakan konsep wisata alam yang berkelanjutan sesuai dengan karakteristik lokal.
3.15 Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah