• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR BOX

3.12 Perikanan

lain rendahnya kapasitas serta produktivitas tenaga tani, terbatasnya akses petani terhadap input produksi pertanian (benih, pupuk, pestisida, dan lain-lain), serta tingginya konversi dan fragmentasi lahan pertanian. Permasalahan di sisi off farm, antara lain rendahnya nilai tambah dan daya saing produk pertanian, serta masih perlu ditingkatkan mutu gizi dan keragaman pola konsumsi masyarakat. Selanjutnya, dari aspek enabling factor, permasalahan yang dihadapi mencakup kondisi infrastruktur di pedesaan yang masih kurang memadai, belum kuatnya implementasi penjaminan risiko pertanian (asuransi), serta rendahnya investasi di bidang pangan dan pertanian.

3.11.3 Arah Kebijakan dan Strategi

Untuk mengatasi beberapa permasalahan tersebut, maka arah kebijakan dan strategi yang ditempuh adalah sebagai berikut (1) dari sisi on farm, arah kebijakan dan strategi yang ditempuh untuk mendukung peningkatan kapasitas dan produktivitas tenaga tani antara lain (a) peningkatan penyuluhan, pendampingan, bimbingan teknis serta sekolah lapang bagi petani, utamanya terkait dengan implementasi good agricultural practices (GAP), pertanian presisi serta pertanian regeneratif untuk mendorong implementasi produksi berkelanjutan; (b) penguatan berbagai program untuk mendorong penumbuhan minat petani muda untuk terjun dalam bidang pangan dan pertanian; (c) penguatan penyediaan input produksi yang berkualitas, seperti benih unggul melalui penguatan riset dan inovasi serta pembangunan nursery modern, pembangunan laboratorium uji DNA benih; (d) perbaikan penyaluran pupuk bersubsidi; serta (e) penerapan sekolah lapang untuk penanganan hama terpadu konversi lahan. Selanjutnya (2) dari sisi off farm untuk mendukung peningkatan nilai tambah, arah kebijakan dan strategi yang ditempuh yaitu (a) peningkatan penyuluhan, pendampingan, bimbingan teknis serta sekolah lapang bagi petani, utamanya terkait dengan implementasi Good Handling Practices (GHP), Good Manufacturing Practices (GMP); (b) penyaluran sarana dan prasarana pascapanen; (c) pengolahan hasil produk pertanian untuk meningkatkan upaya hilirisasi produk pertanian; (d) penguatan sertifikasi produk; (e) implementasi kebijakan yurisdiksi berkelanjutan; serta (f) transformasi sistem pangan. Tidak kalah penting (3) dari aspek enabling factor, beberapa arah kebijakan dan strategi yang ditempuh yaitu (a) penguatan implementasi asuransi pertanian; (b) perbaikan infrastruktur (listrik, pergudangan, jalan) untuk mendukung upaya peningkatan nilai tambah produksi pertanian melalui pemanfaatan cold storage, resi gudang, dan distribusi yang lebih cepat; (c) perbaikan regulasi untuk mempermudah investasi di bidang pangan dan pertanian; serta (d) penguatan korporasi pertanian, yang pada ujungnya diharapkan dapat mendorong modernisasi pertanian.

perikanan tangkap mengalami pertumbuhan sebesar 4,99 persen dibandingkan tahun 2020, dengan didominasi komoditas utama tuna, cakalang, tongkol dan udang.

Demikian juga dengan perikanan budi daya mengalami peningkatan sebesar 22,67 persen dengan dominasi komoditas nila, lele, bandeng, dan udang. Di sisi lain, produksi rumput laut mengalami perlambatan sebesar 3,24 persen. Pada tahun 2022, produksi perikanan ditargetkan mencapai 29,42 juta ton. Sampai dengan triwulan I- 2022, produksi perikanan telah mencapai 5,89 juta ton. Capaian produksi perikanan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3.14.

Tabel 3.14

Produksi Hasil Perikanan Tahun 2019–2022

Uraian Satuan 2019 2020a) 2021b) Triwulan 1 2021b) 2022b) Produksi

ikan ton 12.771.430 13.239.324 14.879.180 3.740.562 3.672.830 1. Perikanan

tangkap ton 7.335.322 7.703.640 8.088.448 1.979.074 1.901.565 - laut ton 6.630.123 7.137.110 7.485.872 1.832.139 1.767.387

- PUD ton 705.199 566.530 602.576 146.935 134.178

2. Perikanan

budi daya ton 5.436.108 5.535.684 6.790.732 1.761.488 1.771.264 Rumput laut ton 9.775.986 9.923.259 9.601.435 2.321.408 2.224.478 Sumber: KKP, 2022.

Keterangan: a) Angka sementara, b) Angka sangat sementara.

Capaian produksi perikanan berkontribusi terhadap perekonomian nasional melalui pertumbuhan PDB subsektor perikanan. Laju pertumbuhan PDB subsektor perikanan mengalami pertumbuhan di triwulan II-2022, yaitu mencapai 2,73 persen. Apabila dibandingkan dengan laju pertumbuhan triwulan II-2021, yang mencapai 9,69 persen (yoy), mengalami perlambatan. Namun demikian, secara nilai PDB subsektor perikanan triwulan II-2022 mencapai Rp69.575,60 miliar, atau lebih tinggi dari capaian triwulan II-2021 yaitu Rp67.729,80 miliar. Jika tidak terdapat perubahan substantif pada struktur maupun kondisi perekonomian, diperkirakan PDB subsektor perikanan akan tumbuh positif pada triwulan berikutnya sepanjang tahun 2022. Laju pertumbuhan PDB subsektor perikanan selengkapnya ditunjukkan pada Gambar 3.7.

Gambar 3.7

Pertumbuhan PDB Subsektor Perikanan (Persen) Tahun 2020–2022

Sumber: 1) BPS dan 2) KKP, 2022.

Seiring dengan kontribusi nilai produksi dan PDB subsektor perikanan, perikanan juga memberikan dampak terhadap kesejahteraan nelayan dan pembudi daya ikan yang dapat dilihat melalui indikator Nilai Tukar Nelayan (NTN) dan Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi). Tren kinerja sektor mulai membaik yang ditunjukkan dengan peningkatan NTN pada bulan Juli 2022 menjadi sebesar 107,10 dari bulan Juli 2021 sebesar 104,89 (Gambar 3.8). Demikian juga dengan NTPi yang menunjukkan peningkatan dari 102,35 pada Juli 2021 menjadi 104,57 pada Juli 2022 (Gambar 3.9). Hal ini mengindikasikan peningkatan harga produk perikanan, baik tangkap maupun budi daya, yang semakin menguat dibandingkan harga komoditas lainnya.

Gambar 3.8

Perkembangan Nilai Tukar Nelayan (NTN) Tahun 2020–2022 (Tahun Dasar 2018=100)

Sumber: BPS, 2022.

100,01

104,89 107,10

99,69

103,83

107,07

9495 9697 9899 100101 102103 104105 106107 108109

Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Ags Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Ags Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli

2020 2021 2022

NTN (data per bulan) NTN (tahun berjalan/akumulasi)

Gambar 3.9

Perkembangan Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) Tahun 2020–2022 (Tahun Dasar 2018=100)

Sumber: BPS, 2022.

3.12.2 Permasalahan dan Kendala

Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan sektor perikanan adalah rendahnya produktivitas armada perikanan tangkap karena didominasi oleh armada skala kecil, rendahnya produktivitas lahan budi daya akibat kondisi usaha budi daya ikan yang tersebar dan tradisional, serta belum memadainya infrastruktur pendukung usaha perikanan seperti pelabuhan perikanan dan balai benih.

Selain itu, usaha perikanan rentan terhadap dampak perubahan iklim dan penurunan daya dukung lingkungan. Kondisi cuaca yang tidak menentu seperti ombak dan angin mengakibatkan banyak nelayan tidak dapat melaut. Terkait daya dukung lingkungan, menurunnya kualitas air mengakibatkan hasil panen perikanan budi daya tidak optimal. Kejenuhan pada sentra bibit rumput laut juga berdampak pada menurunnya kualitas produksi/panen rumput laut. Belum memadainya ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten juga menjadi kendala dalam pengembangan sektor perikanan. Sebagian besar pelaku usaha belum memiliki kapasitas dan pengetahuan yang cukup, dan pada umumnya usaha perikanan belum mencapai skala ekonomi yang layak (economy of scale).

Di sisi lain, efek pandemi COVID-19 masih berdampak pada sektor perikanan. Pada triwulan II-2021 terjadi perlambatan pertumbuhan PDB subsektor perikanan akibat pembatasan sosial secara masif sebagai respons atas peningkatan kasus COVID-19.

Akibatnya, terjadi penurunan aktivitas produksi ikan dan daya serap pasar domestik maupun ekspor. Selain itu, adanya hambatan perdagangan baik tarif maupun nontarif ke pasar tujuan ekspor berdampak pada nilai ekspor produk perikanan.

100,40

102,35

104,57 100,36

102,03

104,29

96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106

Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Ags Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Ags Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli

2020 2021 2022

NTPi (data per bulan) NTPi (tahun berjalan/akumulasi)

3.12.3 Arah Kebijakan dan Strategi

Arah kebijakan dan strategi pembangunan sektor perikanan antara lain (1) Peningkatan Pengelolaan Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) melalui peningkatan akurasi pendataan stok sumber daya ikan dan penerapan penangkapan terukur; (2) peningkatan produksi, produktivitas, standardisasi mutu dan nilai tambah produk kelautan dan perikanan melalui pemberian bantuan sarana dan prasarana produksi kepada nelayan dan pembudi daya ikan, penyediaan sarana dan prasarana pelabuhan perikanan ramah lingkungan, pengembangan klaster perikanan budi daya, penguatan sistem logistik ikan, penyediaan sarana dan prasarana rantai dingin, serta penguatan jaminan mutu dan keamanan produk kelautan dan perikanan; (3) peningkatan fasilitasi usaha, pembiayaan, dan akses perlindungan usaha kelautan dan perikanan skala kecil serta akses terhadap pengelolaan sumber daya melalui pengembangan korporasi nelayan dan pembudi daya ikan, pendampingan dan fasilitasi akses pendanaan; dan (4) peningkatan SDM Kelautan serta database kelautan dan perikanan melalui pendampingan penyuluh dan pelatihan perikanan.

Sektor perikanan juga diarahkan mendukung program pemberdayaan ekonomi dan peningkatan produktivitas masyarakat untuk percepatan pengentasan kemiskinan ekstrem melalui pengembangan sentra atau kawasan perikanan (kampung nelayan dan kampung budi daya).