DAFTAR BOX
4.3 Kawasan Strategis
Tabel 4.3
Kawasan Pusat Pertumbuhan yang Difasilitasi dan Dikembangkan Tahun 2019-2022
Sasaran/Indikator Satuan 2019 2020 2021 Triwulan II-2022 Destinasi Pariwisata
Prioritas (DPP)
jumlah destinasi
10 (nasional)
10 (kumulatif)
10 (kumulatif)
10 (kumulatif) Destinasi Pariwisata
Pengembangan dan Revitalisasi
jumlah
destinasi N/A 9
(kumulatif)
9 (kumulatif)
9 (kumulatif) KEK berbasis
pariwisata dan industri
jumlah kawasan
15 (kumulatif nasional)
12 (kumulatif)
14 (kumulatif)
18 (kumulatif) KI Prioritas dan KI
Pengembangan jumlah KI
8 (kumulatif nasional)
5 (kumulatif)
11 (kumulatif)
15 (kumulatif) Kawasan
Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas
jumlah
KPBPB 2 2
(kumulatif)
2 (kumulatif)
2 (kumulatif) Sumber: 1) BKPM, 2021; 2) Sekdenas, 2021; 3) Kementerian PPN/Bappenas, 2021.
Hingga triwulan II-2022 telah ditetapkan 18 KEK yang terdiri dari 10 KEK berbasis industri dan 8 KEK berbasis pariwisata, termasuk penambahan 4 KEK baru meliputi KEK Batam Aero Technic (PP No.67/2021), KEK Nongsa (PP No. 68/2021), KEK Lido (PP No.69/2021), dan KEK Gresik (PP No.71/2021). Dalam rangka meningkatkan produktivitas dan daya saing, menunjang hilirisasi SDA, serta mengurangi ketergantungan pada impor, telah ditetapkan 15 KI prioritas. Selain itu, untuk meningkatkan ekonomi nasional dan regional melalui peningkatan jumlah devisa dan PDRB, telah ditetapkan 19 destinasi pariwisata meliputi 10 lokasi Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP), 8 lokasi Destinasi Pariwisata Pengembangan, dan 1 lokasi Revitalisasi Destinasi Pariwisata.
Pengembangan kawasan strategis juga meliputi penetapan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) yaitu KPBPB Sabang dan KPBPB Batam-Bintan- Karimun untuk kemudahan kegiatan ekspor-impor dan kegiatan industri. Sampai dengan pertengahan tahun 2022, perkembangan KPBPB di Pulau Sumatera menunjukkan peningkatan yang baik dari segi investasi maupun kunjungan wisatawan. Nilai realisasi investasi asing di KPBPB Batam mencapai Rp3,9 triliun hingga triwulan I-2022. Jika dibandingkan dengan triwulan I-2021, realisasi nilai investasi tersebut mengalami peningkatan 35,7 persen dengan penyumbang terbesar dari sektor Industri Kimia dan Farmasi. Sedangkan nilai realisasi investasi asing dan negeri di KPBPB Sabang hingga triwulan I-2022 mencapai Rp27,1 miliar. Realisasi investasi tersebut tumbuh sebesar 5,3 persen dari tahun 2021. Selain itu, pada tahun 2021 juga terjadi peningkatan jumlah kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara yang signifikan di KPBPB Sabang pascapembangunan infrastruktur kawasan di sektor
kepelabuhan dan pariwisata. Kunjungan wisatawan mancanegara ke Kota Batam juga mengalami peningkatan hingga 3.707,94 persen (BPS Kota Batam, 2022) di triwulan I- 2022. Jika dibandingkan dengan triwulan I-2021, kunjungan wisatawan mancanegara meningkat tajam seiring dengan semakin membaiknya penanganan wabah COVID-19 dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap program vaksinasi.
Sementara itu, perkembangan jumlah komitmen investasi di KEK pada akhir triwulan IV-2021 telah mencapai Rp76,75 triliun dengan total serapan tenaga kerja sebanyak 28.984 orang. Terdapat beberapa KEK yang telah melakukan ekspor meliputi KEK Sei Mangkei, KEK Galang Batang, KEK Palu, dan KEK Kendal dengan nilai mencapai Rp9,38 triliun. Selain itu, sudah terdapat 13 pelaku usaha dari 5 KEK yang telah menerima fasilitas dan kemudahan terkait fasilitas perpajakan, kepabeanan, dan cukai.
Kemudahan yang didapatkan bervariasi, baik dari jenis maupun jangka waktunya. Hal tersebut juga menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendukung pengembangan KEK serta dukungan promosi yang dilakukan melalui Dubai Expo 2021.
Pada tahun 2021, telah diselenggarakan Sidang Dewan Nasional dalam rangka melakukan evaluasi pembangunan dan pengelolaan KEK yang hasilnya mengelompokkan pembangunan KEK menjadi 4 klaster meliputi (1) 4 KEK dengan pembangunan optimal, (2) 4 KEK dengan progres pembangunan belum optimal, (3) 6 KEK dengan perhatian khusus, dan (4) 4 KEK baru. Kawasan Ekonomi Khusus dengan pembangunan optimal meliputi KEK Mandalika, KEK Sei Mangkei, KEK Galang Batang, dan KEK Kendal yang mayoritas berada di luar Pulau Jawa-Bali dan mengalami perkembangan cukup signifikan. KEK Mandalika sebagai KEK berbasis pariwisata yang memiliki progres pembangunan yang signifikan. Pada triwulan IV-2021, capaian komitmen investasi KEK Mandalika sebesar Rp2,21 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 1.494 orang. KEK Mandalika juga merupakan lokasi pelaksanaan event internasional MotoGP 2022. Sementara itu, KEK Sei Mangkei memiliki capaian investasi sebesar Rp6,22 triliun dengan penyerapan tenaga kerja 1.889 orang di mana KEK ini telah menjadi lokasi fasilitas pemrosesan minyak sawit terintegrasi terbesar di dunia. KEK Galang Batang memiliki 2 perusahaan batu bara terbesar di Indonesia yang berinvestasi dan telah melakukan ekspor, selain itu capaian investasi sebesar Rp15,74 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 3.480 orang. Kemudian, KEK Kendal yang berlokasi di Pulau Jawa-Bali sukses menarik investor dari berbagai negara meliputi Singapura, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, Cina, Taiwan, dan Hongkong dengan capaian investasi sebesar Rp12,1 triliun serta penyerapan tenaga kerja sebanyak 11.380 orang. KEK Kendal juga turut bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan nota kesepahaman di mana akan dilakukan penyelarasan kurikulum SMK yang link and match dengan kebutuhan di KEK Kendal untuk mengoptimalisasi penyerapan tenaga kerja lokal. Di sisi lain, KEK Baru juga telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan di antaranya ground breaking PT Freeport Indonesia di KEK Gresik dan ground breaking Lido World Garden di KEK Lido.
Seiring dengan terbitnya Undang-Undang Cipta Kerja beserta peraturan turunannya, pada akhir tahun 2024, KEK ditargetkan dapat meningkatkan investasi sebesar Rp708 triliun dan lapangan pekerjaan sebanyak 672.173 orang. Untuk mewujudkan target tersebut, diperlukan adanya peningkatan kapasitas dan profesionalisme kelembagaan KEK salah satunya peran administrator. Sepanjang tahun 2021 telah dilakukan reformasi sistem aplikasi hingga kegiatan Pilot Project Sistem Aplikasi KEK untuk modul Pemberitahuan Pabean Kawasan Ekonomi Khusus (PPKEK) di KEK Kendal, KEK Sei Mangkei, dan KEK Galang Batang.
4.3.2 Permasalahan dan Kendala
Pengembangan kawasan strategis berbasis industri masih memiliki beberapa kendala di antaranya adalah (1) sebagian KEK berbasis industri terkendala kepemilikan lahan dan tersertipikasi yang dikelola langsung oleh Badan Usaha Pembangunan Pengelola (BUPP); (2) belum optimalnya peran BUPP dalam mengelola kawasan; (3) belum optimalnya pembangunan infrastruktur baik di dalam maupun di luar kawasan pendukung KEK, KI, maupun KPBPB, dengan permasalahan utama yaitu penyediaan infrastruktur dasar yang berfungsi untuk optimalisasi transisi arus lalu lintas orang dan barang seperti jalan, pelabuhan, dan bandara; (4) pelaku usaha belum memanfaatkan fasilitas dan kemudahan investasi; (5) belum optimalnya dukungan pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan KEK, KI, maupun KPBPB; (6) masih rendahnya kualitas dan daya saing SDM yang berkualitas dan profesional sesuai dengan bidang usaha industri; (7) belum adanya kejelasan mengenai penetapan KEK sebagai kawasan pabean; (8) belum terbitnya peraturan daerah tata ruang di sekitar KEK di beberapa KEK; serta (9) belum optimalnya iklim investasi di KPBPB.
Sementara itu, kendala yang dialami oleh kawasan strategis berbasis pariwisata di antaranya adalah (1) sebagian KEK berbasis pariwisata terkendala kepemilikan lahan dan tersertipikasi yang dikelola langsung oleh BUPP; (2) masih rendahnya aksesibilitas menuju DPP serta belum meratanya pembangunan infrastruktur baik di dalam maupun di luar kawasan pendukung KEK berbasis pariwisata; (3) masih belum optimalnya promosi pariwisata melalui event pariwisata skala nasional dan internasional di KEK berbasis pariwisata dan DPP; (4) masih rendahnya kualitas dan daya saing SDM yang berkualitas dan profesional sesuai dengan bidang usaha pariwisata; (5) belum optimalnya kemudahan keimigrasian untuk memperlancar lalu lintas orang asing; serta (6) belum terbitnya peraturan daerah tata ruang di sekitar KEK pada beberapa KEK. Selain itu, pembangunan sektoral (industrialisasi dan pariwisata) belum sepenuhnya selaras dengan pembangunan wilayah yang sudah ada di sekitarnya dan belum sepenuhnya teruji oleh minat pasar.
4.3.3 Arah Kebijakan dan Strategi
Kawasan strategis berbasis industri yaitu KI, KEK, dan KPBPB terbagi ke dalam tiga tahapan pengembangan, yaitu (1) tahap pembangunan kawasan, (2) tahap operasionalisasi kawasan, dan (3) tahap peningkatan investasi. Tahap pembangunan kawasan strategis berbasis industri diarahkan untuk (1) mempercepat pembangunan
infrastruktur di dalam kawasan, (2) menjaga kesesuaian kawasan strategis yang akan dikembangkan dengan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), (3) mengembangkan kapasitas dan tata kelola kelembagaan dalam mendukung pengembangan kawasan strategis, serta (4) meningkatkan kerja sama antara pelaku usaha lokal dengan pelaku usaha potensial. Arah kebijakan kawasan strategis berbasis industri pada tahap operasionalisasi kawasan meliputi (1) mempercepat pembangunan infrastruktur di luar kawasan (2) meningkatkan jaminan ketersediaan bahan baku dan tenaga kerja lokal serta rantai pasok industri. Pada tahap peningkatan investasi kawasan strategis berbasis industri diarahkan untuk mempercepat realisasi investasi pada kawasan melalui optimalisasi paket insentif fiskal dan nonfiskal.
Sementara itu, kawasan strategis berbasis pariwisata meliputi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN)/Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP), Destinasi Pariwisata Pengembangan dan Revitalisasi serta KEK. Tahap pembangunan kawasan strategis berbasis pariwisata diarahkan untuk (1) mengembangkan amenitas pariwisata didukung oleh pembangunan infrastruktur di dalam kawasan; (2) memperkuat aspek risiko mitigasi bencana terutama di daerah berisiko tinggi; (3) meningkatkan keberagaman daya tarik wisata pada skala nasional dan internasional; (4) mengembangkan desa wisata dalam rangka meningkatkan keterkaitan antara kawasan strategis pariwisata dengan hinterland-nya. Pada tahap operasionalisasi diarahkan untuk (1) mengoptimalkan peranan kelembagaan pengelola kawasan dan dukungan pemerintah daerah; (2) meningkatkan kerja sama antara badan usaha, pemerintah daerah, dan masyarakat sebagai upaya pelibatan multistakeholder di kawasan strategis berbasis pariwisata. Sedangkan pada tahap peningkatan investasi diarahkan untuk mempercepat realisasi investasi pada kawasan melalui optimalisasi promosi pariwisata serta paket insentif fiskal dan nonfiskal.
Selain itu, untuk mendorong penciptaan nilai tambah secara berkelanjutan melalui upaya pelaksanaan green economy di KI Prioritas dan Smelter yang terus dilakukan dengan memperhatikan (1) menggunakan bahan bakar ramah lingkungan; (2) menerapkan konsep penggunaan kembali, pengurangan, dan pemulihan; (3) memanfaatkan teknologi rendah karbon; (4) menggunakan energi alternatif; (5) mendorong tenaga kerja terampil dengan pengetahuan efisiensi sumber daya; dan (6) menggunakan air yang efektif dalam memenuhi standar lingkungan.
Dalam rangka mempercepat pemulihan ekonomi, akan dilakukan berbagai strategi pengembangan wilayah terutama strategi pertumbuhan untuk mendorong pengembangan kawasan strategis khususnya KEK, KI, KSPN, dan DPP. Adapun strategi pengembangan kawasan strategis itu sendiri yang perlu dilakukan yaitu (1) mendorong pengembangan skala kegiatan di KEK, termasuk sektor industri ekonomi digital, kesehatan dan pendidikan yang saat ini sedang berkembang dan memiliki potensi besar dalam menarik devisa; (2) mengoptimalkan koordinasi dalam memberikan dukungan infrastruktur dan utilitas wilayah meliputi penyesuaian harga gas, pembangunan infrastruktur jalan, pelabuhan dan bandara, air bersih, serta sistem pengelolaan limbah; (3) mengoptimalkan koordinasi dan fasilitasi dengan K/L terkait
dalam memberikan percepatan pelayanan pemberian fasilitas fiskal, nonfiskal dan perizinan bagi pelaku usaha dan badan usaha di KEK; dan (4) membangun dan meningkatkan kapasitas kelembagaan KEK sebagaimana diamanatkan pada UU No.
11/2020 tentang Cipta Kerja dan PP No. 40/2021 tentang Penyelenggaraan KEK khususnya peningkatan kapasitas dan profesionalisme administrator dan Sekretariat Jenderal Dewan Nasional KEK. Secara umum, UU No. 11/2020 tentang Cipta Kerja tidak hanya meningkatkan tata kelola kelembagaan di kawasan strategis, tetapi juga membuka potensi dalam meningkatkan potensi kapabilitas bisnis tenant pada KEK/KI melalui fokus peningkatan iklim usaha dan iklim investasi, serta perbaikan iklim ketenagakerjaan.