DAFTAR BOX
3.1 Pertumbuhan Ekonomi
Ekonomi Indonesia telah mengalami pemulihan pada tahun 2021 dengan pertumbuhan mencapai 3,69 persen, atau meningkat dari kontraksi pada tahun 2020 yang diakibatkan oleh pandemi COVID-19. Pada semester I-2022 pemulihan ekonomi berlanjut dan mampu tumbuh sebesar 5,23 persen di tengah adanya lonjakan kasus varian baru Omicron dan dampak konflik Rusia dan Ukraina. Ekonomi Indonesia terus mengalami perbaikan seiring dengan penanganan pandemi COVID-19 yang terkendali sebagaimana ditunjukkan oleh kurva kasus COVID-19 yang terus menurun.
Kondisi ini berdampak positif pada perbaikan indikator ekonomi seperti Indeks Keyakinan Konsumen yang optimis dan Purchasing Managers Index (PMI) Manufacturing yang mampu bertahan di zona ekspansi. Namun, ketidakpastian global ke depan masih sangat tinggi, yang tecermin dari perkembangan tekanan inflasi di berbagai negara dan adanya pembatasan ekspor komoditas dari beberapa negara yang berpotensi menghambat pemulihan ekonomi domestik. Pemerintah terus melakukan upaya pemulihan di tengah ketidakpastian global untuk meminimalisir dampak dari gejolak global pada perekonomian domestik.
untuk triwulan II-2022 PDB Indonesia mampu tumbuh tinggi mencapai 5,44 persen (yoy), di tengah perlambatan ekonomi negara mitra dagang Indonesia seperti China dan Amerika Serikat yang masing-masing tumbuh sebesar 0,40 dan 1,60 persen (yoy).
Capaian Indonesia ini juga relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan beberapa negara seperti Singapura, Italia, Perancis, Korea Selatan, Meksiko, dan Jerman yang masing-masing tumbuh sebesar 4,80; 4,60; 4,23; 2,90; 2,14; dan 1,40 persen (yoy).
Gambar 3.1
Laju Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2019–2022
Sumber: BPS, 2022.
Dari sisi pengeluaran, seluruh komponen Produk Domestik Bruto (PDB) mampu tumbuh positif pada semester I dan semester II-2021. Konsumsi rumah tangga dan Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) mengalami pemulihan sejalan dengan pemulihan mobilitas masyarakat. Konsumsi pemerintah tetap tumbuh tinggi pada semester I dan semester II-2021, didorong oleh penyaluran stimulus fiskal program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021 yang di dalamnya termasuk biaya pengadaan vaksin dan penanganan pasien COVID-19. Investasi pada semester I dan II-2021 mengalami pemulihan dan mampu tumbuh masing-masing sebesar 3,46 persen dan 4,13 persen seiring dengan kembali berjalannya proyek dan aktivitas produksi. Sementara itu, ekspor barang dan jasa pada semester I dan semester II-2021 tumbuh terakselerasi dua digit mencapai 18,33 persen dan 29,50 persen, didorong oleh lonjakan harga komoditas ekspor utama serta pulihnya ekonomi negara mitra dagang Indonesia. Kinerja impor juga mengalami akselerasi dan tumbuh masing- masing sebesar 16,95 persen dan 29,76 persen sejalan dengan pemulihan permintaan domestik. Memasuki semester I-2022, pemulihan ekonomi terus berlanjut di tengah persebaran COVID-19 varian baru, tekanan inflasi, krisis energi, dan konflik Rusia- Ukraina.
5,06 4,98
-1,26
-2,85
3,10
4,26 5,23
-4,00 -3,00 -2,00 -1,00 0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00
Semester I- 2019
Semester II-2019
Semester I- 2020
Semester II-2020
Semester I- 2021
Semester II-2021
Semester I- 2022
Tabel 3.1
Pertumbuhan PDB Sisi Pengeluaran Tahun 2019–2022 (Persen, yoy)
Uraian
Tahun 2019 Tahun 2020 Tahun 2021 Tahun 2022 Semester
I
Semester II
Semester I
Semester II
Semester I
Semester II
Semester I Pertumbuhan
PDB
5,06 4,98 -1,26 -2,83 3,10 4,26 5,23 Konsumsi rumah
tangga
5,10 5,00 -1,38 -3,83 1,73 2,29 4,93
Konsumsi LNPRT 16,11 0,71 -6,40 -2,01 0,13 3,04 5,43 Konsumsi
pemerintah
6,95 4,14 -2,38 5,17 5,58 3,21 -6,27
Investasi (PMTB) 4,79 -0,13 -3,47 -6,34 3,46 4,13 3,59 Ekspor barang
dan jasa
-1,14 -8,12 -6,09 -10,02 18,33 29,50 18,26 Impor barang
dan jasa
-5,83 4,98 -13,11 -20,09 16,95 29,76 14,05
Sumber: BPS, 2022.
Dari sisi lapangan usaha, hampir seluruh sektor yang sebelumnya terkontraksi akibat pandemi telah mengalami pemulihan pada semester I dan semester II-2021. Sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial tetap tumbuh tinggi, didorong oleh kegiatan penanganan COVID-19 di tengah gelombang kasus varian Delta pada semester II- 2021. Sektor pertanian melanjutkan pertumbuhan positif dan menjadi sektor yang tahan terhadap dampak pandemi. Selanjutnya, sektor industri pengolahan yang berkontribusi paling besar terhadap PDB mengalami pemulihan dan tumbuh masing- masing sebesar 2,46 persen dan 4,30 persen pada semester I dan semester II-2021 (Tabel 3.2).
Memasuki semester I-2022, seluruh sektor menunjukkan perbaikan dan mampu tumbuh positif, kecuali sektor jasa pendidikan dan administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib yang mengalami kontraksi. Sektor transportasi dan pergudangan tumbuh hingga dua digit mencapai 18,56 persen. Sektor industri pengolahan melanjutkan perbaikan, tecermin dalam indikator PMI Manufacturing yang bertahan pada zona ekspansi. Adapun sektor penunjang seperti informasi dan komunikasi serta pengadaan listrik dan gas tetap mampu tumbuh tinggi.
Tabel 3.2
Pertumbuhan PDB Sisi Lapangan Usaha Tahun 2019–2022 (Persen, yoy)
Uraian
Tahun 2019 Tahun 2020 Tahun 2021 Tahun
2022 Semester
I
Semester II
Semester I
Semester II
Semester I
Semester
II Semester I Pertumbuhan
PDB
5,06 4,98 -1,26 -2,83 3,10 4,26 5,23 Pertanian,
kehutanan dan perikanan
3,62 3,59 1,18 2,38 1,87 1,81 1,29
Pertambangan dan penggalian
0,79 1,64 -1,13 -2,75 1,53 6,45 3,91
Industri
pengolahan 3,69 3,91 -2,09 -3,74 2,46 4,30 4,54
Pengadaan listrik dan gas
3,15 4,88 -0,83 -3,75 5,23 5,84 8,18
Pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang
8,64 5,12 4,41 5,45 5,62 4,35 2,88
Konstruksi 5,80 5,72 -1,26 -5,11 1,72 3,88 2,95
Perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor
4,91 4,31 -3,14 -4,40 3,94 5,35 5,06
Transportasi dan pergudangan
5,63 7,10 -15,04 -15,05 2,75 3,71 18,56
Penyediaan akomodasi dan makan minum
5,69 5,88 -10,14 -10,37 5,35 2,48 8,17
Informasi dan komunikasi
9,33 9,51 10,34 10,86 7,79 5,88 7,61
Jasa keuangan dan asuransi
5,86 7,34 5,89 0,73 2,37 0,75 1,57
Real estate 5,57 5,94 3,06 1,60 1,88 3,68 2,96
Jasa perusahaan 10,15 10,35 -3,48 -7,31 1,31 0,16 6,94
Administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib
7,64 1,95 -0,09 0,03 3,77 -4,25 -1,60
Jasa pendidikan 5,99 6,57 3,48 1,83 2,16 -1,76 -1,42
Uraian
Tahun 2019 Tahun 2020 Tahun 2021 Tahun
2022 Semester
I
Semester II
Semester I
Semester II
Semester I
Semester
II Semester I Jasa kesehatan
dan kegiatan sosial
8,89 8,50 6,97 15,91 7,45 13,08 5,43
Jasa lainnya 10,37 10,77 -2,95 -5,19 2,71 1,55 8,75
Sumber: BPS, 2022.
3.1.2 Permasalahan dan Kendala
Pandemi COVID-19 telah mengajarkan pentingnya adaptasi kebijakan yang responsif terhadap situasi yang ada. Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang dilaksanakan dalam merespons gelombang kasus COVID-19 menunjukkan hasil yang baik. Ekonomi dapat mengalami pemulihan dengan adanya pelonggaran pembatasan sejalan dengan semakin membaiknya pengendalian pandemi. Meskipun demikian, pandemi COVID-19 meninggalkan luka memar (scarring effect) pada perekonomian, tecermin dari kondisi keuangan korporasi yang pada akhirnya menimbulkan risiko pada pemulihan ekonomi domestik, pemulihan yang lambat pada sisi ketenagakerjaan dan adanya learning loss pada sisi pendidikan yang berpotensi menghambat akumulasi modal sumber daya manusia (human capital).
Selain itu, pemulihan ekonomi juga masih mengalami tantangan seiring dengan ketidakpastian global. Konflik Rusia dan Ukraina semakin memperparah gangguan rantai pasok dan juga mengakibatkan peningkatan harga komoditas global terutama energi karena Rusia merupakan salah satu negara produsen minyak dan gas terbesar di dunia. Peningkatan harga komoditas juga berdampak pada tekanan inflasi di berbagai negara di dunia.
Di sisi lain, harga pangan juga mengalami kenaikan. Hal ini di antaranya dipicu oleh kenaikan biaya produksi dan distribusi serta menurunnya supply komoditas pangan seperti gandum, mengingat Ukraina adalah negara dengan produksi gandum yang cukup besar. Beberapa negara telah memberlakukan pembatasan ekspor komoditas tertentu untuk menjaga persediaan domestik dan meredam kenaikan harga pangan domestik. Konflik Rusia dan Ukraina yang berpotensi berlanjut dan mengancam ketahanan pangan global perlu menjadi perhatian bersama. Situasi ketahanan pangan menjadi sangat parah di negara berkembang terutama di kawasan Afrika. Krisis akibat konflik Rusia dan Ukraina telah memperparah kerentanan sistem pangan yang sebelumnya juga sangat terdampak oleh pandemi COVID-19. Selain itu, persebaran varian baru COVID-19 subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 juga perlu diantisipasi agar pemulihan ekonomi dapat terus berlanjut.
3.1.3 Arah Kebijakan dan Strategi
Tahun 2022 akan menjadi tahun kunci bagi pemulihan ekonomi dan akselerasi pertumbuhan ekonomi untuk mencapai sasaran jangka menengah-panjang. Sejalan dengan tema Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2022 yaitu “Pemulihan Ekonomi dan Reformasi Struktural”, fokus pembangunan diarahkan untuk melanjutkan pemulihan ekonomi dengan didukung oleh reformasi struktural. Reformasi struktural dilakukan untuk mendukung atau menciptakan ekosistem yang kondusif melalui reformasi iklim investasi, reformasi kelembagaan dan tata kelola, serta reformasi peningkatan kualitas SDM dan perlindungan sosial.
Adapun strategi pemulihan dan reformasi struktural tahun 2022 mencakup (1) pemulihan daya beli masyarakat dan dunia usaha melalui pengendalian pandemi COVID-19 yang baik, pemberian bantuan untuk pemulihan dunia usaha, dan bantuan sosial untuk menjaga daya beli rumah tangga, percepatan pembangunan infrastruktur padat karya, dan program khusus yang dapat mendorong peningkatan agregat; (2) diversifikasi ekonomi melalui peningkatan kontribusi industri pengolahan, pengembangan produk pertanian, serta perluasan, pemerataan, dan peningkatan kualitas infrastruktur dan layanan digital; dan (3) reformasi struktural dalam rangka memperbaiki iklim investasi melalui kepastian implementasi UU No.11/2020 tentang Cipta Kerja, keberlanjutan pembangunan infrastruktur yang tertunda, serta reformasi kelembagaan dan tata kelola.