J. PEMBUKTIAN PERKARA PUU
1. Alat Bukti Utama
Dari keenam alat bukti tersebut, dalam peme - riksaan perkara pengujian undang -undang, yang dapat dikatakan paling sering dipakai dan juga paling menen - tukan adalah:
(i) Keterangan tertulis ataupun lisan dari pihak DPR dan Pemerintah;
(ii) Bukti-bukti surat atau tulisan yang diajukan oleh pemohon; dan
(iii) Keterangan ahli yang diajukan, baik oleh Pe - mohon ataupun oleh pihak Pemerintah dan DPR. Mengapa demikian? Sebabnya ialah bahwa per - soalan yang dipermasalahkan adalah ketentuan hukum yang berisi norma umum yang terdapat dalam do -
kumen UU yang tersebar bebas dalam ruang publik. Semua orang dapat memperoleh dan membacanya secara bebas yang harus diuji terhadap UUD 1945 yang juga merupakan dokumen milik publik. Karena itu, keterangan yang diperlukan tinggal keterangan -kete- rangan yang terdapat dalam dokumen-dokumen yang merekam atau mendokumentasikan ide-ide dalam pro- ses penyusunan rumusan-rumusan teks UU dan UUD itu sendiri yang terdapat dalam dokumen -dokumen yang dikuasai MPR, DPR dan Pemerintah.
Selebihnya, yang paling penting bagi Mahkamah Konstitusi adalah keterangan dari para ahli yang terkait dengan persoalan yang sedang dipermasalahkan. Ka- dang-kadang di antara para ahli sendiri terdapat ruang perbedaan pendapat yang tajam mengenai se-suatu masalah. Karena itu, penting bagi Mahkamah Konsti - tusi untuk memberikan kesempatan kepada pi hak- pihak yang saling berbeda atau sali ng bertentangan kepentingan untuk sama-sama menghadirkan ahli dari perspektif yang berlainan.
Namun demikian, terlepas dari pentingnya ke dua alat bukti tersebut, keenam alat bukti sebagaimana ditentukan di atas, tetap dapat dipakai untuk pem bukti- an. Bahkan, pembentuk undang-undang tentang Mah- kamah Konstitusi bergerak maju dengan menerima informasi elektronik dan yang tersimpan dalam serat optik atau yang serupa dengan itu sebagai alat bukti yang sah. Itu sebabnya, dalam menyelesaikan perkara perselisihan pemilihan umum tahun 2004, Mahkamah Konstitusi juga menggunakan sarana tele-conference
untuk kepentingan pemeriksaan persidangan guna mendengarkan keterangan saksi atau keterangan pihak
Komisi Pemilihan Umum dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Alat-alat bukti sebagaimana dimaksud di atas, ditentukan oleh Pasal 36 ayat (2) dan (3), harus diper- tanggungjawabkan cara perolehannya menurut hu - kum. Jika cara memperolehnya dinilai sah, barulah alat bukti itu dapat diperlakukan oleh majelis hakim yang memeriksanya sebagai alat bukti yang sah. Jika per - olehannya tidak sah, alat bukti dimaksud tidak dapat dijadikan alat bukti yang sah. Menurut Pasal 36 ayat (4), Mahkamah Konstitusi menentukan sah atau tidak sahnya alat bukti dalam persidangan Mahkamah Konstitusi. Namun dalam praktek, seringkali penilaian atas alat bukti diserahkan kepada hakim konstitusi untuk dibahas dalam permusyawaratan hakim. Misal - nya, sidang perkara pengujian undang-undang tentang Komisi Pemberantasan Korupsi, pihak terkait dalam hal ini Ketua KPK, Taufiqurrahman Ruki mengajukan keberatan terhadap status hukum Ahli guru besar ilmu hukum salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta, yaitu Universitas Krisnadwipayana, Indriyanto Seno- adji, S.H. yang diajukan oleh Pemohon.
Alasan keberatan itu adalah karena adanya con- flict of interest dalam diri Indriyanto Senoadji yang di samping merupakan staf pengajar di perguruan tinggi, juga berprofesi sebagai advokat aktif. Bahkan, di samping diajukan sebagai ahli dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi, Indriyanto Senoadji juga adalah advokat atau kuasa hukum bagi pemohon dalam status- nya sebagai terdakwa dalam perkara tindak pidana korupsi di pengadilan tindak pidana korupsi, sehingga masuk akal jika dikatakan terdapat conflict of interest
dalam dirinya. Atas keberatan ini, majelis Mahkamah Konstitusi menyatakan menerima dan memerintahkan panitera untuk mencatatnya dalam berkas risalah per - sidangan. Namun dalam persidangan itu, tidak di - tegaskan oleh Ketua Majelis Hakim bahwa keterangan Ahli yang bersangkutan tidak sah, melainkan hanya di - katakan bahwa keberatan diterima dan akan diper- timbangkan oleh majelis hakim sebagaimana mesti nya. Artinya, sah tidaknya keterangan Ahli ter-sebut sebagai sebagai alat bukti tidak diten tukan dalam persidangan melainkan dalam permusyawaratan hakim.
Hal ini dilakukan dengan maksud untuk meng- hindarkan jangan sampai terjadi perdebatan yang tidak perlu dalam forum persidangan. Akan tetapi, me - nyangkut alat-alat bukti yang lain, sejauh mengenai cara perolehannya, maka sesuai ketentuan Pasal 36 ayat (4) tersebut di atas, selalu ditanyakan o leh ketua majelis hakim untuk kemudian disahkan apabila dipan - dang bahwa cara perolehannya memang sah. Mah - kamah Konstitusi, juga menilai alat -alat bukti yang diajukan ke persidangan dengan memperhatikan per - sesuaian antara alat bukti yang satu dengan alat bukti yang lain sebagaimana mestinya, baik yang diajukan oleh pemohon, oleh DPR, atau oleh Pemerintah, atau- pun oleh pihak terkait lainnya.
Para pihak, saksi, dan para ahli, apabila telah dipanggil secara patut oleh Mahkamah Konstitusi, wajib hadir memenuhi panggilan tersebut dengan se- baik-baiknya, dengan syarat bahwa surat panggilan tersebut sudah diterima oleh pihak yang dipanggil da - lam jangka waktu paling lambat tiga hari sebelum hari sidang yang bersangkutan. Para pihak yang merupakan
lembaga negara dapat diwakili oleh pejabat yang di - tunjuk atau kuasanya berdasarkan peraturan per - undang-undangan yang berlaku. Jika saksi tidak hadir tanpa alasan yang sah, maka menurut hukum, yang bersangkutan dapat dipaksa oleh Mahkamah Kon - stitusi. Pasal 38 ayat (4) UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi148 menentukan:
“Jika saksi tidak hadir tanpa alasan yang sah, meskipun sudah dipanggil seca- ra patut menurut hukum, Mahkamah Kon- stitusi dapat meminta bantuan kepolisian untuk menghadirkan saksi tersebut secara paksa”.