J. PEMBUKTIAN PERKARA PUU
2. Beban Pembuktian
Dalam sistem peradilan di manapun, pada umumnya, dianut prinsip bahwa siapa yang mendalil - kan sesuatu, maka dialah yang harus membuktikan dalilnya itu.149 “It is an ancient rule founded on consi-
derations of good sense, and it should not be departed
from without strong reasons”.150 Namun, dalam perka-
ra-perkara tertentu, seperti dalam hukum lingkungan,
148 Indonesia, Undang-Undang Tentang Mahkamah Konstitusi,
UU No. 24 Tahun 2003, LN No. 98 Tahun 2003, TLN 4316. 149 Seperti dikatakan oleh Phipson and Elliot, “The eneral rule is
that he who asserts must prove, whether the allegation be an affirmative or a negative one, and not he who denies”.
D.W. Elliot, Phipson and Elliot, Manual of the Law of Evi- dence, Universal Law Publishing Co. Pvt. Ltd., Indian Re- print, 2001, hal. 52.
150 Joseph Constantine Steamship Line Ltd. vs Imperial Smelt- ing Corporation Ltd. (1942) A.C. 154, hal. 174.
berlaku prinsip pembebanan terbalik atau yang biasa - nya disebut sebagai strict liability. Persoalannya ada- lah, dalam perkara pengujian undang-undang, di pihak manakah beban pembuktian berada?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu membahas serba sedikit teori-teori yang biasa dikem- bangkan oleh para ahli mengenai beban pembuktian151.
a. Teori Normatif (Normative Theory)
Siapa yang dibebani tanggung jawab pem-buktian pada pokoknya secara normatif dapat ditentukan ter - sendiri oleh undang-undang. Kalau undang-undang su- dah menentukan pihak mana yang diberi beban pem - buktian, maka pihak itulah yang bertanggung jawab membuktikan. Misalnya, adanya keadaan memaksa, menurut Pasal 1244 KUHPerdata, harus dibukti kan oleh pihak debitur. Barang siapa menguasai suatu barang bergerak, menurut Pasal 1977 KUHPerdata, di - anggap sebagai pemilik (bezitter is eigenaar).
Demikian pula, dalam Pasal 1394 KUHPerdata, ditentukan pula bahwa “Siapa yang mengajukan tiga kwitansi terakhir dianggap telah membayar semua cicilan”. Teori normatif ini biasa disebut pula dengan
Process Rechtelike theorie.
151 Berbagai pandangan tentang “Burden of Proof” ini misalnya dapat dilihat dalam Phipson and Elliot, Manual of the Law of Evidence, Op.Cit., hal. 51-69.
b. Affirmative theory
Menurut teori affirmatif, beban pembuktian di - pikulkan di pundak yang mendalilkan. Yang harus membuktikan bukanlah orang yang dituduh dengan cara mengingkari tuduhan, melainkan pihak yang me - nuduhlah yang harus membuktikan tuduhannya. Artinya, proses pembuktian yang dilakukan haruslah mengafirmasikan kebenaran fakta atau data apa yang dipersangkakan atau didalilkan.
Menurut pandangan yang menganut teori ini, adalah sangat tidak adil untuk membebankan kewaji - ban pembuktian di pundak orang yang dituduh. Sudah dituduh, diwajibkan pula membuktikan bahwa ia tidak melakukan apa yang dituduhkan. Jika pembuktian negatif seperti itu diterapkan, niscaya hal itu dapat disalahgunakan oleh mereka yang berkuasa untuk memperlakukan lawan-lawan politiknya secara tidak adil. Karena itu, menurut teori ini, justru yang men - dalilkanlah yang wajib membuktikan dalilnya secara affirmatif.
c. Teori Kepatutan (Billijkheid)
Menurut teori ini, yang seharusnya dibebani kewajiban untuk membuktikan sesuatu dalil, bukanlah siapa yang mendalilkan ataupun siapa yang dituduh, melainkan pihak mana yang lebih kuat kedudukannya dalam pembuktian. Jika pihak yang lemah dibebani kewajiban pembuktian, tentulah tidak adil, karena itu, siapa yang kuat dialah yang wajib membuktikan.
Sebagai contoh dalam perkara pencemaran ling - kungan hidup, dianut pandangan bahwa pencemar yang membuktikan. Karena industri yang mencemar - kan lingkungan berada dalam posisi yang lebih kuat dari masyarakat di sekitar industri yang lingku ngan kehidupannya dicemari oleh limbah industri yang ber - sangkutan. Jika masyarakat sekitar pabrik industri yang bersangkutan mengajukan class action ke peng- adilan, maka justru industri yang dituduh sebagai pencemar itulah yang dibebani kewajiban mem - buktikan. Beban pembuktian yang terbalik berada di pihak tertuduh pencemaran inilah yang biasa dikenal dengan beban pembuktian terbalik sesuai dengan doktrin strict liability atau tanggung jawab mutlak pencemar.
d. Subjectieve en Objectieve Rechtelijke
Theorie
Menurut teori ini, siapa yang mendalilkan adanya hak subyektif ataupun hak obyektif tertentu yang dibantah oleh pihak lain, maka pihak yang mendalilkan itu harus membuktikan hak subyektif atau hak obyek- tifnya. Hak subyektif itu berkenaan dengan hak yang dianggap dimiliki oleh subyek hukum yang bersang- kutan, sedangkan hak obyektif adalah hak yang timbul oleh peraturan perundang-undangan tertentu. Dalam hal dalil atas hak tersebut diajukan oleh suatu pi hak, maka pihak yang bersangkutan harus membuktikan haknya itu, baik secara sub yektif maupun menyangkut dasar normatif menurut peraturan perundang -undang- an materiil yang berlaku.
e. Teori Presumption of Liberty
Di samping itu, dapat pula dikemukakan adanya teori yang mendasarkan diri pada pra -anggapan bahwa rakyat itu bebas sampai adanya pembatasan oleh undang-undang (presumption of liberty). Jika yang dianut adalah prinsip siapa yang mendalilkan inkonsti- tusionalitas undang-undang, dialah yang harus mem- buktikan, berarti pra anggapan yang dianut adalah prinsip presumption of constitutionality, bukan pre- sumption of liberty.152 Dengan mengandaikan bahwa setiap undang-undang semestinya dapat dianggap su - dah baik dan konstitusional berdasarkan prinsip the
presumption of constitutionality, maka pembuktian
dibebankan kepada yang mendalilkan inkonstitutio-
nalitas. Namun, jika yang dianut adalah prinsip
presumption of liberty, berarti rakyat dianggap sebagai
manusia bebas sampai adanya undang-undang yang membatasi kebebasannya itu. Oleh karena itu, beban untuk pembuktian mengenai konstitusionalitas atau inkonstitusionalitas undang -undang itu harus diletak- kan di pundak negara yang menetapkan undang- undang itu menjadi mengikat untuk umum.
Yang mana di antara kelima teori tersebut yang dipakai atau yang dijadikan dasar dalam pembuktian tentu sangat tergantung kepada masing -masing kasus yang dihadapi. Lagi pula dalam setiap bidang hukum, juga terdapat nuansa yang berbeda-beda dan menuntut
152 Lihat Restoring the Lost Constitution: The Presumption of
Liberty, Princeton University Press, Princeton, 2004. Buku
ini mendapat penghargaan “TheLysander Spooner Book A-
penerapan teori pembuktian yang juga berlain -lainan. Dalam perkara konstitusi di Mahkamah Konstitusi, tentu perbedaan itu semakin menonjol, berhubung proses peradilan di lembaga ini sangat berbeda dari proses peradilan di pengadilan biasa.
Apalagi dalam perkara pengujian konstitusio - nalitas undang-undang (the constitutionality of legisla-
tive law) yang merupakan bidang kewenangan Mah-
kamah Konstitusi. Produk undang-undang jelas meru- pakan dokumen hukum yang berisi norma hukum yang bersifat umum dan abstrak (general and abstract
norms). Dalam proses pengujian undang-undang di
Mahkamah Konstitusi, pada pokoknya, norma yang bersifat umum dan abstrak itulah yang diadili, bukan orang per orang ataupun lembaga negara pembentuk undang-undang. DPR dan Presiden hanyalah merupa- kan lembaga negara yang secara resmi terlibat dalam proses pembentukan undang-undang itu, sehingga karenanya harus didengarkan keterangannya apabila undang-undang yang mereka susun bersama sedang diuji di Mahkamah Konstitusi.
Dengan perkataan lain, status hukum Presiden dan DPR ataupun juga DPD (untuk undang-undang tertentu) dalam persidangan Mahkamah Konstitusi hanya sebagai narasumber, pemberi keterangan, atau menjadi semacam saksi. Tetapi karena kedudukannya yang khusus sebagai pihak yang akan melaksanakan undang-undang tersebut (eksekutif), maka pemerintah juga diberi hak untuk menjadi semacam pihak yang “membela” undang-undang itu. Apabila diperlukan, pemerintah juga dapat mengajukan bukti perlawanan, termasuk saksi dan ahli untuk mempertahankan un -
dang-undang yang bersangkutan dari “serangan” pe- mohon beserta saksi dan ahli yang diajukannya.
Dalam proses pembuktian atas dalil-dalil yang diajukan oleh pemohon dan dalil-dalil perlawanan yang diajukan oleh pihak-pihak pemerintah, DPR, dan atau pihak terkait lainnya, peranan majelis hakim dapat bersifat pasif, tetapi dapat p ula bersifat aktif. Memang benar bahwa pada pokoknya, siapa yang mendalilkan, maka dialah yang harus membuktikan. Prinsip umum ini juga berlaku dalam pembuktian perkara pengujian undang-undang. Artinya, pihak pemohonlah yang harus membuktikan dalil-dalil yang diajukannya bahwa sesuatu undang-undang bertentangan dengan undang- undang dasar.
Akan tetapi, karena kepentingan yang diper taruh- kan dalam setiap perkara pengujian undang -undang itu adalah kepentingan yang sangat besar. Norma umum dan abstrak yang terdapat dalam undang-undang yang diuji seringkali menyangkut kepentingan seluruh rakyat yang telah diatur dalam undang-undang itu. Setiap undang-undang berlaku mengikat untuk seluruh warga negara Indonesia yang dewasa ini jumlahnya sudah lebih dari 200-an juta orang. Lagi pula setiap undang- undang yang telah disahkan dapat pula dikatakan sudah mencerminkan kehendak mayoritas rakyat Indo - nesia. Karena, lembaga yang membuatnya yaitu DPR dan Presiden sama-sama dipilih langsung oleh rakyat.
Meskipun demikian, kesepakatan mayoritas suara rakyat haruslah dipahami tidak mutlak harus pasti benar dan mencerminkan keadilan yang dijamin dan dilindungi oleh Undang-Undang Dasar. Karena itu, sebagai pengawal konstitusi, Mahkamah Konstitusi
harus bertindak aktif dalam men jamin tegaknya konstitusi dalam kehidupan bernegara. Hakim pada dasarnya tidak boleh bertindak aktif dalam mencari perkara. Akan tetapi, sekali perkara dimohon kan kepadanya, maka hakim juga dilarang untuk menampik atau menolak untuk memeriksanya. Jika sua tu perkara pengujian undang-undang sudah dimohonkan kepada- nya menurut prosedur yang seharusnya, maka secara
eks-officio, hakim wajib bersikap aktif untuk me - nemukan bukti-bukti yang diperlukan untuk itu.
Oleh sebab itu, proses pembuktian dalam per- kara pengujian undang-undang tidak dapat dilakukan hanya secara formal dengan hanya terpaku pada alat bukti yang diajukan oleh pemohon. Majelis hakim juga harus memberi kesempatan dan bahkan meminta bukti-bukti perlawanan dari pihak pemerintah, DPR, atau pihak lainnya. Bahkan, jika hakim berpendapat bahwa bukti-bukti yang ada itu masih tetap belum mencukupi, maka atas inisiatifnya sendiri, majelis hakim dapat pula memanggil pihak-pihak lain untuk memberi keterangan yang berhubungan dengan materi perkara. Tujuannya tidak lain adalah untuk menambah bahan-bahan dan keterangan sebagai alat bukti bagi hakim dalam memutuskan perkara pengujian undang- undang yang bersangkutan.
Karena itu, dapat dikatakan pula bahwa tidak semua teori tentang alat bukti dan teori tentang be ban pembuktian tersebut di atas relevan dengan mekanisme pembuktian dalam perkara pengujian undang -undang di Mahkamah Konstitusi. Meskipun diakui bahwa beban pembuktian pada prinsipnya ada pada pemohon yang mendalilkan inkonstitusionalitas suatu undang -
undang, tetapi secara eks-officio, hakim sendiri dapat bertindak pro-aktif dalam menemukan dan mencari sumber-sumber pembuktian yang lebih luas, semata - mata untuk maksud menghimpun bukti sebanyak- banyaknya dan sedalam-dalamnya sehingga putusan dapat diambil secara benar dan dapat dipertanggung- jawabkan.
Lagi pula, seperti dikemukakan oleh Randy E. Barnett dalam bukunya Restoring the Lost Consti- tution,153 pembebanan kewajiban pembuktian di pun- dak pemohon perkara pengujian undang-undang, mengandaikan berlakunya asas presumption of consti-
tutionality, seolah-olah semua undang-undang sudah
pasti konstitusional kecuali dibuktikan sebaliknya oleh pihak pemohon. Menurut Barnett:
“such a presumption is unfair, and sug- gests that government should be forced to prove that law violating liberty are necessary in proper, in what he calls the presumption of liberty”.
153 Randy E. Barnett adalah guru besar ilmu hukum pada Bos- ton University, dan merupakan seorang teoritikus hukum yang kenamaan di Amerika Serikat. Pandangannya tentang hukum dikenal sangat libertarian. Salah satu bukunya yang terkenal adalah Restoring the Lost Constitution: The Pre- sumption of Liberty. Dalam buku ini antara lain Barnett membahas teori constitutional legitimacy, interpretation and construction, the presumption of constitutionality ver- sus presumption of liberty, dan perbedaan antara original meaning dengan the founder’soriginal intent. Menurutnya, konstitusi seharusnya ditafsirkan berdasarkan its original meaning as distinct from the founder’s original intent.
Asumsi dasar asas yang dipakai itu, menurut nya, sangat tidak adil, karena menempatkan warga negara yang tentunya mempunyai posisi yang lebih lemah daripada negara (state), harus membuktikan dalilnya tanpa membebani negara dengan kewajiban yang seimbang untuk membuktikan konstitusionalitas un - dang-undang yang bersangkutan. Dengan menerapkan
asas presumption of liberty, negaralah yang justru harus dibebani dengan tanggung jawab untuk membuk- tikan bahwa undang-undang yang ditetapkan oleh negara tidak malah membatasi atau mengurangi kebe - basan warganegara (liberty). Pandangan Barnett yang mengutamakan presumption of liberty ini tentu saja bersifat sangat bertolak belakang dari prinsip pre- sumption of constitutionality tersebut di atas.
Menurut pendapat saya, kepentingan yang terkandung di dalam kedua prinsip tersebut mestilah dipertemukan sehingga dapat menjamin keseimbangan yang logis. Karena itu, sebagai yang men gambil inisiatif untuk mengajukan permohonan pengujian mengenai dugaan inkonstitusionalitas suatu undang -undang, maka Pemohon haruslah diwajibkan untuk membukti- kan dalilnya. Akan tetapi, pada saat yang bersamaan, untuk kepentingan pemeriksaan, negara juga harus diberikan beban untuk menunjukkan counter evidence
atau bukti-bukti perlawanan (tegen bewijs) terhadap dalil-dalil yang diajukan oleh pemohon mengenai inkonstitusionalitas undang -undang yang dimohonkan untuk diuji di Mahkamah Konstitusi.