• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanggilan Pihak-Pihak

Dalam dokumen HUKUM ACARA PENGUJIAN UNDANG-UNDANG (Halaman 78-85)

B. OBJEK PENGUJIAN

4. Pemanggilan Pihak-Pihak

Siapa saja pihak-pihak yang dapat dipanggil menghadiri persidangan Mahkamah Konstitusi diatur dalam UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi82. Dalam Pasal 54 disebutkan:

“Mahkamah Konstitusi dapat me- minta keterangan dan/atau risalah rapat yang berkenaan dengan permohonan yang sedang diperiksa kepada Majelis Per- musyawaratan Rakyat, Dewan Perwakil- an Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan/atau Presiden”.

Dengan demikian, institusi resmi MPR, DPR, DPD dan/atau Presiden dapat dimintai keterangan sehubungan dengan permohonan perkara yang diperik - sa oleh Mahkamah Konstitusi. Namun, keterangan yang dimaksud dalam Pasal 54 ini di samping dapat berupa keterangan lisan yang disampaikan dalam per - sidangan, juga dapat berupa keterangan tertulis yang

82 Indonesia, Undang-Undang tentang Mahkamah Konstitusi,

disampaikan kepada Mahkamah Konstitusi tanpa di - iringi oleh kehadiran fisik utusan atau wakil lembaga - lembaga dimaksud dalam persidangan. Apakah kete- rangan itu disampaikan secara lisan atau tertulis ber - sifat fakultatif dan ditentukan sendiri oleh Mahkamah Konstitusi menurut pertimbangan kebutuhan yang nya - ta dalam praktek.

Namun demikian, sifat fakultatif tersebut tidak boleh dipahami seolah-olah hal itu sepenuhnya meru- pakan kewenangan diskresioner Mahkamah Konstitusi. Dalam hal suatu perkara dipandang mu dah dan keterangan yang diperlukan sudah mencukupi serta tidak diperlukan lagi keterangan dari Presiden ataupun dari DPR dan lembaga-lembaga negara tersebut di atas, perkara yang bersangkutan dapat saja di putus final oleh Mahkamah Konstitusi dengan tanpa mendengar -kan lebih dulu keterangan dari lembaga-lembaga nega-ra terkait. Biasanya, perkara-perkara yang cukup dipu-tus dengan amar “permohonan tidak dapat diterima” ataupun apabila permohonan ditolak, ke harusan untuk memanggil lembaga-lembaga negara terkait dapat dikesampingkan.

Dalam hubungan ini, perkara-perkara pengujian undang-undang dapat dibedakan sebagai berikut: 1. Perkara yang memerlukan keterangan lisan dan

tertulis dari Presiden, DPR, DPD, MPR, dan lem - baga-lembaga negara ataupun lembaga swasta yang terkait lainnya;

2. Perkara yang memerlukan keterangan lisan dan tertulis dari Presiden dan DPR saja;

3. Perkara yang memerlukan keterangan tertulis saja dari lembaga-lembaga negara terkait, tetapi tidak memerlukan keterangan yang bersifat lisan.

4. Perkara yang tidak memerlukan keterangan lisan ataupun keterangan tertulis apapu n karena diang- gap sudah cukup jelas bagi hakim Mahkamah Konstitusi.

Artinya, pemanggilan untuk menghadiri per si- dangan, hanya akan dilakukan oleh Mahkamah Konsti - tusi apabila pemanggilan tersebut memang benar - benar dibutuhkan. Dengan demikian, lembaga negara tidak akan dipanggil secara serta merta untuk setiap perkara yang dapat mengurangi atau menurunkan derajat kualitas arti pentingnya forum persidangan Mahkamah Konstitusi itu sendiri. Lagi pula, lembaga - lembaga negara yang dipanggil juga perlu dija ga kehormatan dan kewibawaannya sehingga tidak mudah dipermain-mainkan oleh pihak yang tidak bertang - gungjawab dengan menggunakan mekanisme peradilan konstitusi sebagai permainan politik belaka.

Namun demikian, kriteria lain yang juga dipakai untuk menentukan apakah dalam suatu perkara diper- lukan keterangan lisan atau tidak adalah apakah putusan yang akan dijatuhkan oleh Mahkamah Konsti - tusi akan merugikan kepentingan atau kewenangan konstitusional lembaga negara yang bersangkutan atau tidak. Apa yang dikemukakan di atas berlaku bagi perkara-perkara yang permohonannya dinyatakan tidak dapat diterima ataupun yang permohonannya ditolak. Jika permohonan pemohon dikabulkan berarti undang - undang yang diuji, baik seluruhnya ataupun

sebagiannya, dinyatakan tidak lagi mengikat untuk umum.

Dalam hal demikian, maka berlakulah ketentuan Pasal 41 ayat (2) dan ayat (3) UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi83, yang menyatakan:

“(2) Untuk kepentingan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ha- kim konstitusi wajib memanggil para pi- hak yang berperkara untuk memberi kete- rangan yang dibutuhkan dan/atau memin- ta keterangan secara tertulis kepada lembaga negara yang terkait dengan per- mohonan; (3) Lembaga negara sebagai- mana dimaksud pada ayat (2) wajib me- nyampaikan penjelasannya dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak permintaan hakim konstitusi di- terima”.

Pada ayat (2) jelas ditegaskan bahwa hakim konstitusi wajib memanggil para pihak yang berperkara untuk memberi keterangan yang dibutuhkan dan/atau meminta keterangan secara tertulis kepada lembaga negara yang terkait dengan permohonan. Dari rumusan ayat ini jelas bahwa Mahkamah Konstitusi (a) wajib memanggil para pihak yang berperkara guna mem be- rikan keterangan yang dibutuhkan, dan sekaligus wajib meminta keterangan secara tertulis dari lembaga nega - ra yang terkait dengan permohonan; atau (b) wajib me-

83 Indonesia, Undang-Undang tentang Mahkamah Konstitusi,

UU No. 24 Tahun 2003, LN Tahun 2003 No. 98, TLN No. 4316.

manggil para pihak yang berperkara guna memberikan keterangan atau meminta keterangan secara tertulis dari lembaga negara yang terkait dengan permohonan. Dari kedua alternatif tersebut dapat diuraikan hal -hal yang berkenaan dengan apa sesungguhnya yang dimak - sud dengan:

(i) para pihak yang berperkara;

(ii) panggilan untuk memberikan keterangan yang dibutuhkan;

(iii) permintaan keterangan secara tertulis; dan (iv) lembaga negara yang terkait dengan permoho n-

an.

Mengenai butir nomor (ii) dan (iii) sudah jelas bahwa yang dimaksudkan adalah keterangan lisan dan tertulis. Panggilan untuk menghadiri persidangan dimaksudkan agar pihak yang dipanggil dapat hadir dan memberikan keterangan baik secara tertulis mau - pun secara lisan di dalam persidangan yang ber sifat terbuka untuk umum. Artinya, jika sesuatu pihak dipanggil untuk menghadiri sidang terbuka di Mah - kamah Konstitusi tujuannya sudah jelas untuk men - dapatkan keterangan lisan dan tertulis secara sekaligus. Akan tetapi, permintaan keterangan tertulis saja berarti tidak perlu melalui persidangan, melainkan cukup de - ngan cara korespondensi ataupun melalui penyerahan fisik di Kepaniteraan Mahkamah Konstit usi. Namun, untuk butir nomor (i) dan (iv) timbul persoalan, apakah para pihak yang berperkara itu mencakup pula status Pemerintah dan DPR? Apa pula yang dimaksud dengan lembaga negara yang terkait dengan permohonan itu? Apakah yang dimaksud dengan lembaga negara yang

terkait dengan permohonan itu adalah lembaga negara selain DPR dan Pemerintah yang masing -masing mempunyai kedudukan sebagai lembaga pembentuk undang-undang, yaitu sebagai legislator dan co-legis- lator?

Dalam perkara pengujian undang-undang, kedu- dukan Pemerintah, DPR, DPD, dan MPR sesungguhnya memang bukanlah merupakan pihak yang berperkara, melainkan hanyalah pihak yang dimintai keterangan dan yang memberi keterangan yang dibutuhkan untuk kepentingan pemeriksaan perkara oleh Mahkamah Konstitusi. Mengapa lembaga-lembaga dimaksud perlu dimintai keterangan oleh Mahkamah Konstitusi? Ka - rena lembaga-lembaga tersebut terlibat dalam penyu - sunan UUD dan/atau penyusunan UU yang bersang- kutan. Sebagai penafsir konstitusi dan pemutus per- kara-perkara konstitusi, Mahkamah Konstitusi perlu mendengarkan keterangan yang diperlukan dari lem ba- ga penyusun, pembentuk, atau perubah Undang-Un- dang Dasar itu sendiri, yaitu Majelis Permusya waratan Rakyat (MPR).

Sementara itu, lembaga pembentuk Undang-Un- dang adalah Dewan Perwakilan Rakyat bersama Peme- rintah/Presiden, serta untuk hal-hal tertentu melibat- kan pula peranan Dewan Perwakilan Daerah. Karena itu, dalam setiap pengujian undang-undang terhadap UUD, Mahkamah Konstitusi diwajibkan meminta kete - rangan lembaga pembentuk UU. Mahkamah Konstitusi tidak boleh membatalkan suatu undang-undang secara sepihak tanpa terlebih dulu mendengarkan keterangan dari lembaga yang membuatnya.

Oleh karena itu, yang dimaksud dengan lembaga negara yang terkait dengan permohonan adalah lembaga negara yang terkait dengan pembentukan undang-undang yang dimohon untuk diuji, yaitu (i) DPR, (ii) Presiden, (iii) DPD, dan (iv) lembaga lain yang mempunyai kepentingan dengan undang-undang yang bersangkutan. Misalnya, jika yang diuji adalah undang - undang tentang Pemerintah Daerah berkenaan dengan pemilihan kepala daerah, maka yang wajib dipanggil untuk didengarkan dan/atau dimintai keterangan tertulisnya oleh Mahkamah Konstitusi adalah (i) DPR; (ii) Presiden; (iii) DPD; dan (iv) KPU (Komisi Pe- milihan Umum). Jika undang-undang yang diuji adalah Undang-Undang tentang Penyiaran, maka yang wajib dipanggil dan/atau dimintai keterangan tertuli s adalah (i) DPR; (ii) Presiden; dan (iii) Komisi Penyiaran In- donesia (KPI). Baik KPU maupun KPI sama-sama lembaga negara yang dibentuk dengan undang -undang.

Apabila diperhatikan, rumusan Pasal 41 ayat (2) UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Kon- stitusi84 memang berbunyi:

“Untuk kepentingan pemeriksaan se- bagaimana dimaksud pada ayat (1), hakim konstitusi wajib memanggil para pihak yang berperkara untuk memberi keterang- an yang dibutuhkan dan/atau meminta keterangan secara tertulis kepada lembaga negara yang terkait dengan permohonan”.

84 Indonesia, Undang-Undang tentang Mahkamah Konstitusi,

Dalam rumusan itu terdapat dua penggalan anak kalimat yang dapat dibedakan, yaitu (a) memanggil para pihak untuk keterangan yang dibutuhkan, dan (b) meminta keterangan tertulis kepada lembaga negara yang terkait dengan permohonan. Jika lembaga negara bukan pihak yang berperkara, berarti lembaga negara itu cukup dimintai keterangan tertulis saja, tanpa harus dipanggil hadir dalam persidangan.

Oleh karena itu, Mahkamah Konstitusi tidak wajib memanggil lembaga negara untuk hadir dalam persidangan. Namun, jika Mahkamah Konstitusi me - mang menganggap perlu memanggil lembaga negara dimaksud untuk didengarkan keterangannya secara langsung dalam persidangan, maka berdasarkan keten - tuan Pasal 54, lembaga negara yang bersangkutan me - mang dapat juga dipanggil sebagaimana mestinya.

Pasal 54 Undang-Undang No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi85 berbunyi:

“Mahkamah Konstitusi dapat memin- ta keterangan dan/atau risalah rapat yang berkenaan dengan permohonan yang sedang diperiksa kepada MPR, DPR, DPD, dan/atau Presiden”.

Artinya, untuk kepentingan pemeriksaan atas perkara pengujian undang-undang, lembaga-lembaga terkait ini dapat dimintai keterangan, tidak hanya

85 Indonesia, Undang-Undang tentang Mahkamah Konstitusi,

UU No. 24 Tahun 2003, LN Tahun 2003 No. 98, TLN No. 4316.

secara tertulis, tetapi apabila diperlukan juga secara lisan dalam per-sidangan. Banyak kasus menunjukkan bahwa kete-rangan dan penjelasan yang diberikan jauh lebih efektif melalui lisan dalam persidangan yang bersifat terbuka daripada secara t ertulis yang bersifat tertutup.

Lagi pula, pihak pemohon dapat menghadirkan para ahli dan saksi-saksi untuk memperkuat dalil permohonannya, yang apabila pihak DPR dan Peme- rintah tidak diberikan kesempatan yang sama untuk mengajukan pendapat lain yang berbeda dari para ahli lainnya ataupun penjelasan yang menyeluruh mengenai pembentukan undang-undang yang bersangkutan, ma- ka proses persidangan akan berlangsung timpang atau berat sebelah dan tidak sesuai dengan asas audi et

alteram partem,86 yang mengharuskan semua pihak

didengarkan keterangannya secara adil dan terbuka. Oleh karena itu, lembaga-lembaga negara yang terkait dengan permohonan harus ditafsirkan juga wajib diberi kesempatan untuk hadir memberi keterangan dalam persidangan.

Apabila lembaga negara yang bersangkutan telah resmi dipanggil oleh Mahkamah Konstitusi, maka lembaga yang bersangkutan wajib memenuhi permin - taan mahkamah itu sebagaimana mestinya. Dalam hal permintaan itu bersifat tertulis, maka jawaban yang

86 Audi et alteram partem yaitu hak untuk didengar secara seim- bang. Sebagai contoh, dalam perkara yang diperiksa dan diadili di peradilan biasa, baik penggugat maupun tergugat, atau penuntut umum maupun terdakwanya mempunyai hak yang sama untuk didengar keterangannya secara berimbang dan ma- sing-masing pihak mempunyai kesempatan yang sama meng- ajukan pembuktian untuk mendukung ahli masing-masing.

diperlukan tersebut sudah harus disampa ikan dalam waktu tujuh hari kerja. Dalam Pasal 41 ayat (3) ditentukan:

“Lembaga negara sebagaimana di- maksud pada ayat (2) wajib menyampai- kan penjelasannya dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak permintaan hakim konstitusi diterima”.

Jika permintaan keterangan itu berupa keterang - an lisan dalam persidangan, maka kehadiran utusan lembaga negara yang bersangkutan secara institusi untuk menyampaikan keterangan lisan dan tertulis diperlukan sekurang-kurangnya satu kali persidangan .

Mahkamah Konstitusi (MK) hanya mengharus kan bahwa lembaga-lembaga negara terkait yang dipanggil untuk satu perkara sekurang-kurangnya satu kali hadir dalam persidangan guna memberikan kete rangan secara lisan. Sedangkan dalam persidangan -per- sidangan berikutnya atau selebihnya, sepenuhnya merupakan hak yang bersifat optional bagi lembaga negara yang bersangkutan untuk hadir atau tidak hadir atau hanya mengutus staf administrasi untuk mencatat pembicaraan dalam sidang. Dengan demikian, tidak perlu ada keraguan mengenai keharusan dan keperluan hadir atau tidaknya lembaga negara terkait dalam persidangan Mahkamah Konstitusi. 



BAB III

PEMERIKSAAN DAN PIHAK-PIHAK

A. PENELITIAN ADMINISTRATIF

Seperti sudah diuraikan di atas, setiap per - mohonan perkara pengujian undang-undang yang di- ajukan, harus lebih dulu diperiksa dengan teliti oleh petugas kepaniteraan untuk menentukan apakah ber- kas permohonan itu sudah lengkap atau belum. Sesuai ketentuan Pasal 32 ayat (2) UU No. 24 Tahun 2003, tentang Mahkamah Konstitusi87 maka yang dimaksud dengan lengkap adalah permohonan tersebut telah memenuhi ketentuan Pasal 29 dan Pasal 31 ayat (1) huruf a dan ayat (2) UU No. 24 Tahun 2003, yaitu bahwa berkas permohonan itu terbukti (i) ditulis dalam bahasa Indonesia; (ii) ditandatangani oleh pemohon atau kuasanya; (iii) berkas permohonan berjumlah 12 rangkap; (iv) jelas memuat nama dan alamat pemohon; dan (v) disertai dengan alat-alat bukti yang mendukung permohonan.

Pada pokoknya, untuk berurusan dengan Mah- kamah Konstitusi sangatlah mudah bagi siapa saja. Siapa saja yang ingin berurusan atau berperkara, tidak dipungut biaya sama sekali. Jika mengajukan permo-

87 Indonesia, Undang-Undang tentang Mahkamah Konstitusi,

honan dan ternyata berkas permohonannya secara administratif masih kurang lengkap atau berlebihan, maka para petugas kepaniteraan diwajibkan pula oleh undang-undang untuk memberikan nasihat yang diper- lukan, sehingga permohonannya secara administratif menjadi lengkap sesuai ketentuan undang -undang. Un- tuk itu, pada tahap awal, terhadap setiap berkas per - mohonan yang diterima oleh petugas kepaniteraan, di - adakan penelitian mengenai kelengkapan administrasi berkas permohonan yang bersangkutan sebagaimana mestinya.

Penelitian yang bersifat administratif ini sangat penting karena fungsinya sebagai penyeleksi ta hap pertama terhadap semua berkas permohonan yang diterima oleh petugas kepaniteraan Mahkamah Konsti - tusi. Meskipun akses bagi para pencari keadilan konsti- tusional yang terbuka untuk mengajukan permohonan ke Mahkamah Konstitusi, tidak berarti setiap orang da - pat berbuat seenaknya atau sesuka hatinya dalam ber - perkara di Mahkamah Konstitusi. Mahkamah Konsti - tusi harus melindungi nilai-nilai kepentingan umum yang tercermin atau terkandung dalam setiap undang - undang yang telah ditetapkan sebagai produk hukum yang mengikat untuk umum.

Jangan sampai produk legislasi berdasarkan sis - tem demokrasi berdasarkan UUD 1945 diganggu de - ngan tidak bertanggungjawab oleh orang-orang atau pihak-pihak yang dengan cara yang semau-maunya sendiri mengajukan permohonan pengujian undang- undang dengan sembarangan dan meremehkan nilai kepentingan umum yang dijamin oleh undang-undang yang bersangkutan. Karena itu, setiap berkas per-

mohonan yang diterima oleh kepaniteraan Mahkamah Konstitusi, sebelum diregistrasikan sebagaimana mes - tinya, haruslah terlebih dulu diteliti dengan cermat kelengkapannya secara administratif menurut keten - tuan UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Kon- stitusi.

Jika berkas permohonan itu, setelah diteliti de - ngan cermat, ternyata belum juga lengkap seperti yang dimaksud, maka pemohon yang bersangkutan wajib melengkapinya dalam jangka waktu paling lambat tu - juh hari kerja sejak pemberit ahuan mengenai ke- kurangan itu diterima oleh pemohon. Waktu tujuh hari kerja ini adalah batas waktu pasti yang harus dipenuhi. Penentuan ini penting agar tertib administrasi kepani - teraan Mahkamah Konstitusi tidak terganggu oleh para pemohon yang tidak bersungguh-sungguh dengan per- mohonannya.

Yang dimaksud dengan tujuh hari kerja itu, arti - nya tidak termasuk hari libur.88 Jika tenggat yang ditentukan sudah terlampaui, berarti pemohon yang bersangkutan dapat dinilai tidak sungguh -sungguh de- ngan permohonannya, sehingga permohonannya cukup diabaikan saja, tidak perlu didaftarkan secara resmi atau diregistrasikan dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi.

Apabila berkas permohonan telah dilengkapi atau diperbaiki sebagaimana mestinya, Panitera tetap ha rus memeriksanya kembali untuk memastikan bahwa

88 Hari kerja pada Mahkamah Konstitusi yaitu hari Senin sampai

dengan hari Jumat. Sehingga 7 hari kerja yang dimaksud yaitu jika dihitung mulai hari Senin, maka akan berakhir pada hari Selasa minggu berikutnya.

kelengkapan yang telah diminta telah dipenuhi. Jika setelah diberi kesempatan, berkas permohonan itu ter - nyata tetap tidak lengkap juga, maka apabila ketidaklengkapan itu disebabkan oleh kelalaian atau keengganan pihak pemohon untuk memperbaiki atau melengkapinya setelah diberitahukan secara patut, pe - mohon dapat dinilai tidak bersungguh-sungguh dengan permohonan yang diajukannya.

Dalam hal demikian, Panitera tidak perlu men - catat permohonan tersebut dalam Bu ku Registrasi Per- kara. Berkas permohonan tersebut dapat dikembalikan kepada yang bersangkutan atau diberitahukan kepada yang bersangkutan bahwa permohonannya tidak dapat dicatat dalam Registrasi karena kelalaian yang ber - sangkutan memenuhi kewajiban untuk melengkapi per- mohonan dalam jangka waktu paling lambat tujuh hari kerja.

Apabila kekuranglengkapan itu belum tercakup dalam hal-hal yang diberitahukan atau dimintakan un- tuk dilengkapi, berarti hal itu bukan disebabkan oleh kelalaian atau keengganan pemohon. Dalam hal demi- kian, maka Panitera dapat saja sekali lagi memberikan nasihat agar pemohon melengkapi berkas permohonan - nya sekali lagi sebagaimana ketentuan di atas.

Buku Registrasi Perkara Konstitusi (BRPK) me - muat antara lain catatan-catatan tentang kelengkapan administrasi permohonan dengan disertai pencan tum- an nomor perkara, tanggal penerimaan berkas permo - honan, nama pemohon, dan pokok perkara. Setelah berkas permohonan resmi dicatat dalam Buku Regis - trasi tersebut, dalam jangka waktu 14 hari kerja, Mah-

kamah Konstitusi harus menetapkan hari sidang p er- tama untuk perkara dimaksud.

Dengan mekanisme sebagaimana diuraikan di atas, jelas sekali bahwa sistem administrasi yang dite - rapkan di Mahkamah Konstitusi, sangat terbuka bagi semua pencari keadilan (justice seekers). Access to

justice terbuka bagi semua orang dengan mekanisme

yang sangat meringankan beban mereka untuk ber- acara di Mahkamah Konstitusi. Alih -alih diberi kewe- nangan untuk menolak mendaftarkan permohonan, panitera sendiri pun diwajibkan memberikan nasihat kepada pemohon apabila permohonannya dinilai belum lengkap sesuai dengan ketentuan undang-undang. Demikian pula hakim, tidak diberi kewenangan untuk menolak berkas permohonan seperti di pengadilan tata usaha negara dengan apa yang biasa dikenal dengan

dismissal process.

Dalam dokumen HUKUM ACARA PENGUJIAN UNDANG-UNDANG (Halaman 78-85)