• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengesahan dan Penilaian

Dalam dokumen HUKUM ACARA PENGUJIAN UNDANG-UNDANG (Halaman 150-156)

J. PEMBUKTIAN PERKARA PUU

3. Pengesahan dan Penilaian

Sebelum mengadakan penilaian terhadap alat - alat bukti yang diajukan oleh pihak-pihak dalam per- sidangan, majelis hakim harus terlebih dulu men - cocokkan alat-alat bukti yang diajukan dengan alat -alat bukti yang ada pada hakim. Maksudnya aga r kelak di kemudian hari tidak timbul kesalahan dalam menilai sesuatu bukti yang diajukan oleh pemohon tetapi tidak terdapat dalam berkas para hakim, atau sebaliknya terdapat dalam berkas para hakim, padahal tidak diaju - kan atau sudah ditarik kembali oleh pemohon.

Untuk memudahkan pemeriksaan oleh pihak- pihak yang mengajukannya, berkas alat bukti itu diberi nomor dengan dengan kode huruf P untuk Pemohon dan T untuk Termohon. Misalnya, jika pemohon meng - ajukan 5 (lima) berkas bukti surat, maka kelima berkas itu secara berurutan diberi nomor P -1, P-2, P-3, P-4, dan P-5. Sedangkan berkas bukti surat yang diaju -kan oleh Pemerintah sebagai bukti-lawan (counter-evi- dence) diberi kode nomor T-1, T-2, T-3, T-4 dan se- terusnya.

Pemberian kode ini hanyalah didasarka n atas kelaziman yang dilakukan di lingkungan peradilan biasa, yaitu dalam perkara antara Penggugat (P) de - ngan Tergugat (T), ataupun antara Pemohon (P) dengan Termohon (T). Meskipun di Mahkamah Konsti- tusi, istilah Penggugat dan Tergugat tidak dikenal, da n demikian pula dalam perkara pengujian undang -un- dang juga tidak dikenal adanya Termohon (T), tetapi kebiasaan penggunaan singkatan Bukti P -1 versus Bukti T-1 sudah menjadi kebiasaan pula. Saya kira, hal ini

tidak ada salahnya untuk membiarkan praktek ini , karena tujuannya hanya untuk memudahkan adminis- trasi pemberkasan semata.

Sesudah berkas alat-alat bukti yang terdapat dalam berkas para hakim dan berkas alat -alat alat bukti yang dipegang oleh pihak-pihak dikonfirmasikan ke- cocokannya satu sama lain, majelis hakim harus pula memeriksa sejauhmana alat-alat bukti yang diajukan itu diperoleh secara sah menurut hukum. Jika suatu alat bukti diperoleh dengan cara-cara yang tidak dapat dibenarkan oleh hukum (illegally obtained evidence), maka segala aspek mengenai hal itu harus ditanyakan dan dicatat dengan seksama oleh panitera untuk nantinya diadakan penilaian tersendiri oleh para hakim.

Pasal 36 ayat (2) UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi154, jelas menentukan bahwa alat bukti surat atau tulisan harus dapat dipertanggung- jawabkan perolehannya secara hukum. Bahkan di - tegaskan pula dalam ayat (3)-nya:

“Dalam hal alat bukti sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang tidak dapat dipertanggungjawabkan perolehannya se- cara hukum, tidak dapat dijadikan alat bukti yang sah. Dalam hal demikian, Ma- jelis hakim dapat menyampingkan atau sama sekali tidak mempertimbangkan le-

154 Indonesia, Undang-Undang Tentang Mahkamah Konstitusi,

UU No. 24 Tahun 2003, LN No. 98 Tahun 2003, TLN 4316.

bih lanjut adanya alat bukti dimaksud dalam menilai pokok perkara”.

Hanya saja, perumusan Pasal 36 ayat (4) dapat dinilai membingungkan sehingga dapat menimbulkan salah tafsir. Ketentuan ini berbunyi, “Mahkamah Kon- stitusi menentukan sah tidak sahnya alat bukti dalam

persidangan Mahkamah Konstitusi”. Padahal, dalam

persidangan, majelis hakim cukup mencocokkan kelengkapan alat-alat bukti yang diajukan, dan meme- riksa keterangan berkenaan dengan cara perolehan alat bukti surat yang bersangkutan.

Sedangkan penilaian mengenai sah tidaknya alat bukti tidak perlu ditentukan dalam persidangan, baik panel ataupun pleno hakim yang bersifat terbu ka untuk umum. Penilaian mengenai alat bukti itu terkait erat mengenai penilaian mengenai materi perkara, dan karena itu justru tidak boleh dilakukan dalam persidangan terbuka. Penentuan sah tidaknya alat bukti itu justru harus dilakukan oleh majelis hakim dalam rapat permusyawaratan hakim yang bersifat tertutup atau rahasia. Jika tidak, masyarakat akan segera mengetahui kecenderungan sikap hakim sebelum pu - tusan atas perkara yang bersangkutan selesai diperiksa. Oleh karena itu, maksud rumusan Pasal 36 ayat (4) itu haruslah dipahami dalam arti formal, yaitu terkait dengan penentuan sah tidaknya alat bukti itu untuk dijadikan bukti lebih lanjut oleh hakim. Yang dinyatakan sah pada tahap ini, adalah sah kelengkapan dan kecocokan berkasnya serta sah pula dalam cara memperolehnya. Sedangkan penilaian mengenai isi alat bukti tersebut selanjutnya diserahkan kepada penilaian

hakim sendiri dalam proses permusyawaratan yang bersifat rahasia.

Dalam rangka penilaian alat bukti, berkembang dua macam pendekatan, yaitu (i) Balance of Proba-

bilities (BOP), dan (ii) Beyond Reasonable Doubt

(BRD). Menurut catatanWikipedia, encyclopedia bebas di internet:

“Balance of Probabilities also known as preponderance of the evidence, ... is the standard required in most civil cases. The standard is met if the likelihood that the proposition is true is more likely than it not being true. Effectively, the standard is satisfied if there is more than 50% chance that the proposition is true. Lord Denning in Miller v. Minister of Pension described it simply as "more probable than not."

Balance of Probabilities yang juga dikenal sebagai

preponderance of the evidence155 adalah ukuran

(standard) pembuktian di sebagian terbesar perkara perdata. Standar tersebut dianggap telah terpenuhi jika kemungkinan bahwa proposisinya benar lebih besar daripada sebaliknya. Efektifnya, standar itu di anggap memuaskan jika peluangnya lebih dari 50 persen untuk benar daripada tidak, atau seperti dikatakan oleh Lord Denning156 dalam kasus Miller v. Minister of Pension, more probable than not”.

155 Lihat Peter Murphy, Evidence, Proof, and Facts, Oxford Uni- versity Press, 2003 (paperback, 618 halaman).

156 Tentang Lord Denning, baca J.L.Jowell dan J.P.W.B. Mc- Auslan, Lord Denning: The Judge and the Law, Universal Law Publishing Co., Indian Reprint, 2004.

Sedangkan prinsip yang kedua prinsip yang disebut adalah beyond a reasonable doubt yang biasanya diuraikan sebagai standar yang diperlukan pada kebanyakan perkara tindak pindana (the standard required in most criminal cases). Artinya, dalil yang diajukan harus dibuktikan bahwa tidak ada ker aguan yang berdasar atau “there is no reasonable doubt in the mind of a reasonable person” (biasanya berarti the

mind of the judge). Tentu, mungkin saja masih terdapat

keraguan disana-sini, tetapi keraguan itu hanya menyangkut kenyataan bahwa “it would be unreason- able to assume the falsity of the proposition”. Persis- nya, perkataan reasonable and doubt biasanya di- artikan dalam kerangka sistem hukum masing -masing negara (jurisprudence of the applicable country).

Sebenarnya, pembahasan yang lebih mendalam lagi mengenai teori-teori pembuktian ini sangat penting untuk digalakkan. Apalagi buku-buku yang mengurai- kan mengenai hal ini di Indonesia sangat sedikit. Kalaupun ada buku hukum yang membahasnya, per- soalan pembuktian biasanya hanya diurai kan dalam bagian tertentu atau bab tertentu yang isi nya sangat umum dan sama sekali jauh dari kedalaman yang semestinya. Oleh karena itu, saya sangat meng anjurkan jika ada di antara para sarjana hukum yang dapat tergerak untuk mendalami dan mendiskusikan mengenai berbagai aspek pembuktian itu dalam buku yang tersendiri.

Dalam hal ini, kita dapat mempertimb angkan contoh-contoh yang dilakukan oleh berbagai sarjana negara lain seperti misalnya di Amerika Serikat, yang banyak menulis soal pembuktian ini secara tersendiri.

Misalnya, Peter Murphy secara khusus membahas per- soalan ini dalam bukunya berjudul Evidence, Proof, and Facts.157 Di dalam buku ini, Peter Murphy me- nguraikan berbagai aspek mengenai teori pembuktian dalam sejarah hukum di Amerika Serikat, berbagai isu mendasar di bidang logika dan retorika, teori pro - babilitas, epistemologi dan psikologi pembuktian. Buku ini membahas secara mendalam mengenai judicial reasoning about facts yang meliputi (i) relevance; (ii) direct and circumstantial evidence; (iii) the process of judicial reasoning; (iv) probative value and wright;

dan (v) generalizations. Juga dibahas mengenai teori penyebaban (causation), berkenaan dengan (i) philoso- phical basis for theory of cause and effect; (ii) cause and effect as basis for inference from evidence; dan

(iii) legal applications of causation.

Di samping itu, oleh Peter Murphy juga dibahas secara mendalam mengenai standar pembuktian, yaitu tentang (i) hubungan antara inductive reasoning

dengan standards of proof; (ii) pembuktian dengan a preponderance of the evidence; (iii) pembuktian me- nurut prinsip beyond reasonable doubt; (iv) teori ke- putusan dalam hubungannya dengan standards of

proof. Lebih lanjut dalam buku ini dibahas pula

mengenai teori-teori probabilitas, yang mencakup dis - kusi mengenai (i) teori probabilitas pada umumnya ; (ii) teori probabilitas yang berlaku untuk perilaku manusia dan persoalan kredibilitas; serta (iii) prinsip indif-

ference. Bahkan dalam bukunya ini, Peter Murphy

menguraikan pula mengenai perbedaan-perbedaan

157 Peter Murphy, Op.Cit.

antara pendekatan matematika dan pendekatan non- matematika dalam proses pem buktian di pengadilan.

The probable and the provable, dan mathematics in the

courtroom. 158

158 Bandingkan dengan D.W. Elliot, dalam Phipson and Elliot ,

Manual of the Law of Evidence, Universal Law Publishing Co. Pvt. Ltd., Indian Reprint, 2001.

BAB V

PUTUSAN DAN AKIBAT HUKUMNYA

A. KEPUTUSAN, KETETAPAN, DAN PUTUSAN

Di lingkungan pengadilan, biasanya dibedakan antara keputusan, penetapan, dan putusan. Keputusan adalah istilah yang lazim dipakai untuk menyebut SK - SK di bidang administrasi umum yang bersifat beschik- king seperti pengangkatan dan pemberhentian pega- wai, pengangkatan pejabat, pembentukan dan pembu- baran panitia dan tim kerja dan sebagainya. Di samping itu, ada pula keputusan-keputusan yang berkaitan dengan administrasi perkara atau administrasi justisi al. Istilah yang biasa dipakai untuk ini adalah penetapan. Baik keputusan maupun penetapan sama-sama bersifat

beschikking. Hanya bedanya, yang satu di bidang admi-

nistrasi umum, dan yang kedua di bidang administrasi justisial.

Namun demikian, jika diperhatikan istilah yang dipakai, maka secara gramatikal harus d iakui agak aneh. Kata keputusan berasal dari kata putus, me- mutus-kan, dan pe-mutus-an. Padanan kata yang ter- akhir ini adalah penetapan yang berasal dari kata tetap,

me-netap-kan, dan pe-netap-an. Sedangkan kata ke-

putus-an haruslah dipadankan dengan kata ke-tetap-

an, bukan penetapan. Dengan demikian, adalah salah kaprah untuk menyebut keputusan beschikking di bidang administrasi jusitisial sebagai penetapan. Yang

lebih tepat adalah ketetapan, bukan penetapan, sehing- ga dapat dibedakan dari keputusan. Atas dasar itulah maka di lingkungan Mahkamah Konstitusi, isti lah keputusan beschikking di bidang administrasi justi sial disebut dengan istilah Ketetapan, bukan Penetapan

seperti yang lazim digunakan di lingkungan penga dilan biasa.

Sama anehnya ialah penggunaan istilah putusan

untuk arti kata vonnis dalam bahasa Belanda, atau

verdict dan ruling dalam bahasa Inggris. Mengapa

untuk yang lain disebut ke-putus-an, sedangkan kepu- tusan justisial oleh hakim disebut putus-an? Mengapa pula ketetapan tidak disebut saja dengan tetap-an? Sejak kapankah orang menerjemahkan perkataan von- nis itu dengan putusan? Mungkin kita harus bertanya kepada ahli bahasa hukum mengenai soal ini. Tetapi yang jelas, sejak dulu, orang sudah biasa menyebut keputusan hakim melalui proses peradilan itu dengan istilah putusan, bukan keputusan.

Apabila ditinjau dari sifat khususnya lembaga pengadilan dibandingkan dengan sifat pekerjaan lem - baga-lembaga negara lainnya, mungkin memang ada baiknya untuk pengadilan, digunakan istilah yang khu - sus demikian. Karena itu, saya juga tidak keberatan untuk memakai terus perkataan putusan itu untuk

vonnis hakim. Lagi pula, hal ini sudah menjadi

kelaziman di dunia hukum dan peradilan pada umum - nya. Putusan hakim hanya dapat dikoreksi atau diuji dengan putusan hakim yang lebih tinggi. Misalnya, putusan pengadilan tingkat pertama, diuji dengan putusan tingkat banding, dan seterusnya dengan pu - tusan kasasi dan putusan peninjauan kembali .

Namun demikian, khusus untuk istilah penetapan dalam bidang administrasi justisial , di Mahkamah Konstitusi sendiri secara tegas sudah dipraktek kan penggunaan istilah ketetapan. Penetapan adalah proses atau kegiatan menetapkan, sedangkan hasilnya adalah ketetapan. Keputusan dan Ketetapan sama -sama ber- sifat administratif, dan karena itu berisi norma -norma hukum yang bersifat konkret dan individuil (concrete and individual norms) yang dapat diuji oleh proses yang bersifat concrete norm control pula. Demikian pula dengan vonnis atau putusan, isinya pun bersifat konkret dan individuil (concrete and individual norms).

Baik keputusan, ketetapan, maupun putusan haruslah berisi norma hukum yang berlaku mengikat untuk subyek, ruang, dan waktu yang tertentu. Karena itu, dengan merujuk kepada teori Hans Kelsen, biasa dipakai istilah concrete and individual norms. Oleh sebab itu, upaya hukum perlawanan terhadap norma yang bersifat konkret dan individual ini juga harus di- lakukan melalui proses peradilan yang mempersoal kan norma konkret dan individual. Misalnya, melalui peng- adilan tata usaha mempersoalkan ketidakadilan yang diderita subyek hukum tertentu yang diakibatkan oleh keputusan administratif yang tertentu pula. Atau mem - persoalkan putusan pengadilan tingkat pertama yang menghukum subyek hukum tertentu dengan hukum yang tertentu pula yang dinilai oleh yang bersangkutan tidak adil.

Di samping keputusan, ketetapan, dan putusan yang mengandung norma-norma yang bersifat indivi-

dual and concrete tersebut, Mahkamah Konstitusi juga

diberi kewenangan oleh UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi159 untuk mengatur sendiri hal-hal yang diperlukan bagi kelancaran pelak- sanaan tugas dan kewenangannya sebagai lembaga peradilan konstitusi.160 Norma aturan yang dituangkan di dalam-nya, tentu saja berlaku mengikat untuk umum sepan-jang berkenaan dengan kegiatan beracara dan hal-hal lain yang merupakan persoalan teknis dan bersifat internal di lingkungan Mahkamah Konstitusi sendiri. Norma-norma aturan demikian dituangkan dalam bentuk hukum yang disebut sebagai Peraturan Mahkamah Konstitusi atau PMK.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa di lingkungan Mahkamah Konstitusi dikenal adanya em - pat bentuk produk hukum. Keempat bentuk produk hu- kum itu adalah: (i) putusan (vonnis); (ii) peraturan

(regels); (iii) ketetapan (beschikking) di bidang ad- ministrasi justisial; dan (iv) keputusan (beschikking) di bidang administrasi umum. Keempat produk hukum itu sendiri pada pokoknya haruslah ditetapkan menurut proses atau prosedur yang tepat, dilaksanakan dengan cara tepat, dan diadministrasikan dengan ca ra yang te- pat pula. Dengan demikian, semua produk hukum yang ada itu dapat diakses oleh semua pencari keadilan

(justice seekers), dan dapat membantu upaya bangsa

159 Indonesia, Undang-Undang Tentang Mahkamah Konstitusi,

UU No. 24 Tahun 2003, LN No. 98 Tahun 2003, TLN 4316. 160 Pasal 86 UU No. 24 Tahun 2003 ini menentukan, “Mahka-

mah Konstitusi dapat mengatur lebih lanjut hal -hal yang diperlukan bagi kelancaran pelaksanaan tugas dan wewe - nangnya menurut undang-undang”. Lihat LN No. 98 Tahun 2003, TLN No. 4316.

kita membangun keadilan yang lebih merata di setiap relung-relung kemanusiaan kita sebagai bangsa.

Dalam dokumen HUKUM ACARA PENGUJIAN UNDANG-UNDANG (Halaman 150-156)