• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tujuan Pembuktian

Dalam dokumen HUKUM ACARA PENGUJIAN UNDANG-UNDANG (Halaman 116-119)

D. KUASA HUKUM DAN ADVOKAT

1. Tujuan Pembuktian

Pembuktian yang dilakukan mengenai argu men- tasi atau dalil yang didasarkan atas alat-alat bukti yang diajukan dalam pemeriksaan perkara, merupakan bagian yang paling penting dalam hukum acara di pengadilan. Di dalamnya terkait erat persoalan hak -hak hukum dan bahkan hak asasi setiap orang atau pihak - pihak yang dipersangkakan telah melakukan pelang - garan hukum. Lebih-lebih dalam hukum pidana, di- mana seseorang dapat didakwa telah melakukan per - buatan pidana tertentu, yang apabila berdasarkan alat - alat bukti yang diajukan disertai dengan keyakinan hakim menyatakannya bersalah, padahal sebenarnya ia tidak bersalah, sehingga putusan hakim berdasarkan pembuktian yang dilakukan itu dapat menyebabkan orang yang bersalah bebas tanpa ganjaran, sedangkan orang yang sama sekali tidak bersalah menjadi terpidana dengan cara yang sangat tidak adil. Oleh sebab itu, metode pembuktian yang dikembangkan oleh hakim, haruslah benar-benar dapat dipertanggung- jawabkan, sehingga dapat sungguh-sungguh meng- hasilkan keadilan.

Dalam ilmu hukum dikenal luas adanya doktrin yang menyatakan bahwa pembuktian dalam hukum acara pidana bertujuan mencari kebenaran materiil, sedangkan pembuktian dalam hukum acara perdata bertujuan mencari kebenaran formil. Dengan ke - benaran materiil, dimaksudkan bahwa kebenaran itu tidak cukup dibuktikan berdasarkan alat-alat bukti formal belaka, melainkan harus didasarkan atas galian keterangan yang tersembunyi di balik fakta -fakta yang nampak di permukaan (the underlying truth behind the concrete facts). Karena itu, hakim pidana tida k boleh berhenti hanya dengan memeriksa alat -alat bukti yang nampak tanpa berusaha sungguh-sungguh mendalami untuk menemukan kebenaran yang lebih sejati yang ada di balik fakta-fakta yang nampak di permukaan tersebut. Sebaliknya, para hakim perdata, cukup meng- andalkan pembuktian yang bersifat formal dengan hanya mengandalkan apa yang dapat diketahui dari alat-alat bukti formal, seperti surat -surat berupa akta otentik yang dibuat oleh pejabat umum (public offici- al)112 ataupun surat-surat yang dibuat tanpa peranta- raan seorang pejabat umum. 113

Hal tersebut sangat berbeda dari doktrin ke - benaran materiil yang harus ditemukan oleh hakim

112 Pasal 1868 KUHPerdata berbunyi, “Satu akta otentik adalah satu akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh un - dang-undang, oleh atau di hadapan pejabat umum yang ber- wenang untuk itu di tempat akta itu dibuat”.

113 Pasal 1874 KUHPerdata menyatakan, “Yang dianggap sebagai tulisan di bawah tangan adalah akta yang ditandatangani di ba - wah tangan, surat, daftar, surat urusan rumah tangga dan tulis - an-tulisan lain yang dibuat tanpa perantaraan seorang pejabat umum”.

dalam proses pemeriksaan. Hakim tidak boleh hanya terpaku pada fakta-fakta yang tampak dari luar, tanpa menguji secara cermat apa-apa yang terdapat di balik layar (the underlying truth). Dari proses penelitian yang mendalam itulah hakim dapat memperoleh ke - yakinan tentang kebenaran fakta yang harus dijadikan - nya dasar dalam pengambilan keputusan yang se adil- adilnya.

Apakah prinsip pembuktian materiil itu berlaku juga dalam perkara-perkara konstitusi di Mahkamah Konstitusi? Pertanyaan ini tentu tidak mudah dijawab begitu saja. Proses peradilan konstitusional jelas ber - beda dari peradilan pidana ataupun pe rdata. Baik pro- ses peradilan perdata maupun pidana berkenaan deng - an kepentingan orang per orang atau satu -satu badan hukum konkret yang terlibat dalam perkara. Sedangkan dalam perkara pengujian undang-undang, meskipun

entry-point perkara konstitusional itu di Mahkamah

dapat diawali oleh persoalan kepentingan konkret orang per orang yang dinyatakan memiliki legal stand- ing untuk berperkara, tetapi substansi perkara yang dipermasalahkan oleh pemohon adalah menyangkut undang-undang yang berisi norma hukum yang bersifat umum dan abstrak (general and abstract norms).

Oleh karena itu, proses peradilan yang di lakukan dalam perkara pengujian undang-undang berkaitan erat dengan kepentingan umum (public interest). Jika suatu norma dalam undang-undang itu terbukti bertentangan dengan UUD dan karena itu dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat, maka alasan yang dipakai untuk itu haruslah didasarkan atas pertimbangan kepentinga n umum

(public interest) juga, yaitu setidak-tidaknya untuk kepentingan umum yang lebih besar atau lebih luas. Malahan, jika dikaitkan dengan kenyataan bahwa putusan Mahkamah Konstitusi itu sangat luas dampak - nya kepada tertib hukum yang diharapkan melindu ngi kepentingan umum itu, maka mau tidak mau hakim konstitusi haruslah membuat keputusan berdasarkan pembuktian yang benar-benar sangat mendalam.

Setiap undang-undang yang telah disahkan men- jadi norma hukum yang mengikat untuk umum, dapat dikatakan mencerminkan kehendak mayoritas suara rakyat yang berdaulat di suatu negara. Sebabnya ialah, setiap undang-undang yang disahkan menjadi norma hukum yang berlaku mengikat untuk umum adalah produk hukum yang telah mendapatkan perse-tujuan bersama antara DPR dan Presiden, sebagai dua organisasi jabatan yang sama -sama dipilih oleh rakyat yang berdaulat melalui pemilihan umum. Mere ka yang duduk di DPR dan bahkan untuk undang-undang tertentu melibatkan pula peran Dewan Per wakilan Da- erah (DPD), adalah wakil-wakil rakyat yang berdaulat dan wakil-wakil daerah-daerah yang mempunyai legiti- masi yang kuat untuk mengatasnamakan mayoritas suara rakyat. Karena itu, untuk membatalkan produk hukum hasil jerih payah orang banyak yang juga mewakili kehendak mayoritas rakyat itu, apalagi oleh hanya mayoritas di antara sembilan orang hakim pada Mahkamah Konstitusi, tentulah harus didasarkan atas penalaran yang sangat mendalam dengan bukti -bukti yang tidak hanya bersifat formal di atas per mukaan.

Artinya, pembuktian dalam perkara pengujian undang-undang haruslah diorientasikan untuk mene -

mukan kebenaran yang hakiki dari pokok persoalan yang sedang diuji nilai konstitusionalitasnya. Jika pem - buktian hanya terpaku kepada kebenaran yang bersifat formal, niscaya para hakim konstitusi tidak dapat menemukan kebenaran yang terdapat di balik layar (the underlying truth). Karena itu, meskipun para pihak, terutama pihak pemohon tidak mengajukan bukti -bukti yang memadai, para hakim sendiri karena jabatannya, secara ex-officio wajib menggali sendiri kebenaran materiil dimaksud untuk sampai pada keyakinan dalam menjatuhkan putusan yang bersifat final dan mengikat. Lagi pula, sifat perkara di Mahkamah Konstitusi adalah pertama dan terakhir dengan putusan yang ber- sifat final dan mengikat. Terkait dengan putusan final dan mengikat ini juga tidak dikenal adanya lembaga peninjauan kembali (PK) seperti di Mahkamah Agung. Dengan sifatnya sebagai peradilan tingka t pertama, berarti Mahkamah Konstitusi harus memeriksa bukti - bukti faktual, seperti dalam peradilan tingkat per tama pada umumnya. Dalam hal ini, Mahkamah Konstitusi harus berperan sebagai “judex factie” yang terlibat aktif dalam memeriksa fakta-fakta dari lapang-an. Sangat berbeda dengan peran Mahkamah Agung yang hanya bertindak sebagai “judex juris” yang hanya memeriksa berkas dan memperhatikan aspek -aspek penerapan hukum dalam putusan pengadilan tingkatan yang lebih bawah.

Di samping itu, Mahkamah Konstitusi juga ada lah peradilan konstitusional tingkat terakhir. Artinya, tidak ada lagi upaya hukum di atasnya atau upaya hu kum lain yang dapat menganulir atau mengubah pu tusan final dan mengikat Mahkamah Konstitusi tersebut.

Karena itu, proses pembuktian dalam pemerik saan perkara pengujian undang-undang, mau tidak mau haruslah bersifat materiil. Pembuktian harus dila -ku- kan dengan tujuan untuk menemukan kebenaran materiil (the underlying factual and normative truths).

Dalam dokumen HUKUM ACARA PENGUJIAN UNDANG-UNDANG (Halaman 116-119)