Makmur Sitepu
Departemen Obsteri dan Ginekologi FK-USU/RSUP H. Adam Malik Medan Abstrak
Sectio caesarea (SC) adalah tehnik pembedahan berupa sayatan pada dinding perut dan uterus untuk melahirkan janin.Sectio caesarea yang palingsering digunakan adalah cara transperitoneal profunda dengan insisi pada segmen bawah uterus. Masih terdapat ketidakseimbangan penggunaan prosedur ini di negara berkembang dan negara maju, penggunaan prosedur ini cenderung meningkat baik di negara berkembang maupun negara maju.Penggunaan prosedur ini cenderung meningkat baik di negara berkembang maupun negara maju.
Plasenta previa akreta adalah tropoblast plasenta yang berimplantasi langsung pada lapisan miometrium tanpa adanya desidua ataupun lapisan basalis yang sering menimbulkan perdarah yang banyak pada proses SC.
Dari semua komplikasi yang ada, kelainan plasentasi merupakan komplikasi yang paling penting dalam bidang obstetrik karena menjadi resiko terbesar untuk dibutuhkannya histerektomi. Baik plasenta previa maupun plasenta akreta memiliki angka kejadian di bawah 24% pada SC kedua, dan meningkat menjadi 40% pada SC ketiga dan meningkat di atas 60% pada SC keempat dan seterusnya. Dan resiko ini ternyata meningkat hampir 6 kali lipat dalam dekade terakhir SC sebanyak 4 kali atau lebih dianggap menjadi angka yang mematikan dalam hal komplikasi.
Kata kunci: Sectio caesaria, kelainan plasentasi Pendahuluan
Sectio caesarea(SC) diperkenalkan dalam praktik klinis sebagai suatu prosedur sayatan pada dinding perut dan uterus yang dilakukan untuk melahirkan janin. 1Pembedahan yang paling banyak dilakukan ialah sectio caesarea transperitonealis profunda dengan insisi di segmen di bawah uterus, keuntungannya adalah perdarahan luka insisi tidak seberapa banyak, bahaya peritonitis tidak besar dan parut pada uterus yang umumnya kuat sehingga bahaya ruptur uteri dikemudian hari tidak besar karena dalam masa nifas segmen bawah uterus tidak seberapa banyak mengalami kontraksi seperti korpus uteri, sehingga luka dapat sembuh lebih sempurna
Meskipun menurut WHO masih terdapat ketidakseimbangan penggunaan prosedur ini di negara berkembang dan negara maju, penggunaan prosedur ini cenderung meningkat baik di negara berkembang maupun negara maju. 2
Berbagai penelitian telah menunjukkan hubungan terbalik antara angka SC dengan mortalitas bagi baik ibu maupun janinnya hingga ke tingkat populasi terutama pada negara dengan ekonomi rendah dimana pelayanan obstetrik masih terbatas. Sementara itu, peningkatan angka SC di atas angka tertentu tidak bermanfaat bagi ibu maupun janin, dan justru beberapa penelitian telah membuktikan bahwa tingkat SC yang tinggi berhubungan dengan konsekuensi negatif bagi ibu dan anak. 1
Epidemiologi
Menurut WHO, terdapat ketimpangan angka SC di negara maju dan berkembang. Terdapat kecenderungan kurangnya penggunaan SC di negara berkembang, dan tercapainya target bahkan terdapat penggunaan SC yang berlebihan tidak sesuai indikasi pada negara maju.1Penggunaan prosedur ini cenderung meningkat baik di negara berkembang maupun negara maju. 2
Menurut WHO, angka penggunaan SC yang ideal adalah 10-15% persalinan. Angka SC dibawah 10% dianggap tidak memadai, sedangkan di atas 15% dianggap berlebihan dan tidak bermanfaat bahkan merugikan. Dari 133 negara yang didata WHO, 40% negara tersebut memiliki angka penggunaan SC <10%. 10% negara tersebut berada pada angka yang ideal, dan 50% lainnya tergolong berlebihan. 73% SC dari semua SC tergolong sebagai tidak diperlukan.1
Di negara maju seperti AS, tingkat SC berada pada angka 32,2% pada tahun 2014, dimana angka ini telah menurun setelah peningkatan pesat penggunaan SC hingga mencapai angka 32,9% dalam 13 tahun terakhir. Dapat diperkirakan 1 dari 3 wanita yang melahirkan akan mejalani prosedur ini di AS. Meskipun berbagai usaha yang dilakukan, penggunaan SC di AS hanya berhasil diturunkan sebesar 0,7% dalam 5 tahun, sedangkan peningkatan sebelumnya dalam 13 tahun mencapai 50%.3 Peningkatan serupa di negara maju lainnya adalah di Tiongkok dimana pada saat perkembangan negara tersebut, angka SC pernah mencapai angka tertingginya hingga 60,69%, dimana rata-rata angka SC dalam 20 tahun terakhir adalah 51,15%, jauh di atas angka rekomendasi WHO. Namun berbagai usaha telah dilakukan dan berhasil menurunkan angka ini hingga 34,53%. Angka ini tetap tinggi karena meskipun berhasil menurunkan SC elektif atas permintaan pasien sebesar 8,19% dari tahun 2011, namun angka SC
juga meningkat karena indikasi riwayat SC sebelumnya dari 9,61% menjadi 20,42% dalam 3 tahun. Angka SC sulit diturunkan atas alasan indikasi riwayat SC sebelumnya.2
Di negara berkembang, misalnya pada kawasan Asia Tenggara, tingkat SC beragam, dimana dilaporkan oleh South East Asia-Optimising Reproductive and Child Health in Developing countries (SEA-ORCHID) project berkisar antara 19-35% berdasarkan negara dan 12-39% berdasarkan rumah sakit di negara-negara tersebut.4 Di Indonesia sendiri, berdasarkan data WHO dan UNICEF, angka SC di Indonesia adalah 6,8%. Namun berdasarkan data yang diperoleh WHO, meskipun angka ini belum mencapai angka rekomendasi, angka ini sebenarnya berlebihan, dimana angka SC yang benar-benar dibutuhkan hanya 4,2%. WHO memperkirakan kerugian akibat SC yang tidak diperlukan di Indonesia ini mencapai USD 19.532.824,00. Selain itu, berdasarkan data UNICEF, terdapat ketimpangan penggunaan SC di kawasan kurang mampu dengan kawasan yang maju di Indonesia, yaitu pada daerah miskin angka SC ini hanya 1,8% dan pada kawasan yang kaya angka SC ini mencapai 16,8%. Bila dibandingkan pada daerah perkotaan dan kawasan terpencil, rata-rata angka ini pada daerah terpencil adalah 3,9% dan pada daerah perkotaan mencapai 11%.1,5
Dapat terlihat bahwa data dari WHO dan UNICEF sama- sama menunjukkan bahwa meskipun penggunaan SC masih rendah di Indonesia, terdapat penggunaan SC yang tidak diperlukan. Dan pada daerah yang sudah maju di Indonesia sudah mencapai angka yang tergolong tinggi, bahkan ada yang melebihi angka yang dianjurkan. 1,5
Indikasi 6
Indikasi SC antara lain:
Riwayat SC sebelumnya, Plasentasi abnormal, Hiterotomi klasik sebelumnya, Jenis bekas luka uterus tidak diketahui, Dehisensi luka insisi uterus, Miomektomi seluruh lapisan otot sebelumnya, Massa obstruktif saluran kemih, Kanker serviks invasive, Trakhelektomi sebelumnya, Ikatan permanen, Bedah rekonstruktif pelvis sebelumnya, Deformitas pelvic, Penyakit jantung-paru, Malformasi arteriovenosa atau aneurisma serebral, Diproporsi sefalopelvik, Plasenta previa atau abruptio plasenta, Keadaan fetal yang mengancam, Malpresentasi, Kelainan congenital, Pemeriksaan Doppler tali pusat yang abnormal.
Komplikasi
Meskipun dapat menyelamatkan nyawa, telah dilaporkan banyak akibat jangka panjang dari SC seperti kehamilan ektopik, kematian janin dalam kandungan tanpa penyebab jelas, plasenta previa, abrupsio plasenta, perdarahan dan histerektomi, endometriosis, peningkatan resiko dirawat inap kembali, dan bahkan komplikasi non obstetri-ginekologi misalnya penyakit kandung empedu, apendisitis, berat badan berlebih dan obesitas pada masa kanak-kanak, DM tipe I, rhinitis alergi, alergi makanan, atopi, asma, penyakit celiac, penyakit peradangan saluran cerna dan autisme. 2
Dari semua komplikasi yang ada, kelainan plasentasi merupakan komplikasi yang paling penting dalam bidang obstetrik karena menjadi resiko terbesar untuk dibutuhkannya histerektomi. Rasio peluang/odds ratio plasenta previa dan plasenta akreta adalah 11,7 dan 12,2 dalam menjadi resiko dibutuhkannya histerektomi. Resiko plasenta previa dilaporkan meningkat 0,28% hingga 2 % pada pasien yang menjalani SC minimal sekali. Resiko plasenta previa meningkat 1,4 kali setelah SC kedua, serupa dengan resiko abruptio plasenta yakni meningkat 1,3 kali. Plasenta akreta menjadi morbiditas utama dalam komplikasi plasentasi yang abnormal akibat SC berulang. Baik plasenta previa maupun plasenta akreta memiliki angka kejadian di bawah 24% pada SC kedua, dan meningkat menjadi 40% pada SC ketiga dan meningkat di atas 60% pada SC keempat dan seterusnya. Dan resiko ini ternyata meningkat hampir 6 kali lipat dalam dekade terakhir menurut suatu penelitian di India yang membandingkan insidensi kelainan plasenta pada SC minimal 2 kali pada periode 2004 dan periode 2014. SC sebanyak 4 kali atau lebih dianggap menjadi angka yang mematikan dalam hal komplikasi.7,8
Referensi
1. Gibbons L, et al. The Global Numbers and Costs of Additionally Needed and Unnecessary Caesarean Sections Performed per year: Overuse as a Barrier to Universal Coverage. 2010. WHO Report. 30
2. Liu YJ, Wang X, Zou LY, Ruan Y, Zhang WY. An analysis of variations of indications and maternal-fetal prognosis for caesarean section in a tertiary hospital of Beijing: A population-based retrospective cohort study. Medicine (Baltimore). 2017. 96(7): e5509.
3. Caughey AB. The cesarean epidemic: are we too quick to cut? Cesarean delivery may be a safe alternative to vaginal delivery but its use in 1 of 3 women giving birth In the US seems too high. 2016. Contemporary OB/GYN. p. 14+
4. Festin MR, Caesarean section in four South East Asian countries: reasons for, rates, associated care practices and health outcomes. 2009. BMC Pregnancy Childbirth. 9: 17.
5. UNICEF. Maternal and Newborn Health Country Profiles: Indonesia. 2012. p. 1-6
6. Chunningham FG, Levono KJ, Bloom SL, Hauth JC, Gilatrap III LC, Wenstrom KD. Caesarean Delivery and Peripartum Hysterectomy. In: Williams Obstetrics. 24th eds. MC Graw-Hill. New York: 2014.
7. Kaplanoglu M, Bulbul M, Kaplanoglu D, Bakacak SM. Effect of Multiple Repeat Cesarean Sections on Maternal Morbidity: Data from Southeast Turkey. 2015. Med Sci Monit. 21: 1447–1453.
8. Poonia S, Pandey N, Gupta A.
Comparativestudyofabnormalplacentationinpatientswithprevioustwocaesarean section over two time periods. Int J Reprod Contracept Obstet Gynecol. 2016 Nov;5(11):3879-3882
9. Carusi D. Placenta accreta: Epidemilogy and risk factor in Placenta Accreta syndrome, Silver R eds. CRC Press Taylor & Francis Group 2017, 1-12.