4 “SEQUELA CRUCIS” SEBAGAI PENDERITAAN YANG DITERIMA
B. JALAN-JALAN ROH
II. DOA INJILI 1 SABDA DAN DOA
7. DOA KRISTEN
Sejak itu dan selain dari itu komentar-komentar para Bapa Gereja menunjukkan bahwa Doa mingguan, sebagaimana dinamai demikian mulai dari Cyprianus, dengan cepat diintegrasikan secara ketat dengan inisiasi kristen, dan bertolak dari situ diintegrasikan juga dengan ritus-ritus lain dan dengan prosedur untuk "menjadi kristen". Hal ini diterangkan dalam katekese baptisan, terutama sebelum baptisan itu sendiri dari pada sesudahnya. Mengapa? Karena, menurut pengamatan Agustinus, setelah mempelajari apa yang harus dipercayai dan kepada siapa percaya, perlu lagi mempelajari bagaimana memohon kepada Dia yang dipercaya. Permohonan akan pertolongan mengikuti dan bergantung pada iman dan ketegangannya menuju pengabulannya. Sesungguhnya percaya dan berdoa tidak dapat dipisahkan. Doa menunjukkan reaksi pertama orang beriman dan Gereja di hadapan kemiskinan mereka dan kebutuhan mereka: dengan mengetahui siapa itu Allah, tidak akan dapat disadari kemalangan sendiri tanpa mengarahkan diri secara instink kepada Dia dengan keyakinan, dengan berseru kepada-Nya: "Ingatlah" (kami, ya Tuhan!). Bukankah kesetiaan termasuk pada keberadaannya sendiri? Doa adalah ungkapan
(kata-kata) pengharapan iman.
Kemungkinan sekali inilah motif mengapa refleksi para Bapa Gereja atas doa terutama diselidiki dalam komentar-komentar mengenai doa Bapa kami, dan penyelidikan ini terutama terjadi dalam katekese baptisan. Konstatasi (pernyataan / pembuktian) ini sangat mendasar. Kalau akar doa kristen hendak dicari, maka ini dapat dilakukan bukan dalam kehausan religius yang mengawang akan hidup mistik, tetapi dalam apa yang disebut Kitab Suci "pengenalan" (atau pengalaman) akan Allah dan Bapa Yesus. Nuansa- nuansa pengenalan ini adalah essensial. Dan ini dapat dilihat dalam katekese-katekese pre atau post baptisan. Di Afrika, ini terdapat dalam Tertulianus, Cyprianus, Agustinus; di Milano dalam Ambrosius; di Timur dalam Cyrillus dari Yerusalem dan dalam Teodorus di Mesopotamia. Semua mereka memberi kesaksian tentang kaitan essensial antara iman dan doa, dan, doa dan iman. Mereka menunjukkan ketermasukan doa kristen dalam dunia di mana termasuk juga sakramen-sakramen. Doa itu tertenun dalam sakramen-sakramen, dan sakramen-sakramen itu tertenun dalam doa. Karena itu tidak mengherankan bagaimana tema anamnese ekaristis terdapat dalam traktat Cyprianus.
a. DIARAHKAN KEPADA BAPA
Umumnya, doa kristen diarahkan kepada Bapa. Aturan ini sangat jelas dalam Perjanjian Baru, dalam Liturgi dan dalam komentar-komentar patristik. Tidaklah hanya anafor besar ekaristis yang menekankan semua aturan itu - menurut tradisi yang didasarkan pada Konsili di Hippo (tahun 393) dan di Kartago (tahun 397) - atau doa-doa Missale yang diarahkan kepada Allah, yaitu Bapa. Tetapi terutama ini adalah doa-doa Perjanjian Baru sendiri. Dalam hal ini doa Bapa kami bukanlah di luar atau terkecuali dari doa-doa tersebut, dan ini dapat diterangkan dari kenyataan bahwa Mateus dan Lukas bukan karena hanya kebetulan saja menyebut doa itu sebagai doa yang diucapkan dan diajarkan oleh Yesus, dan dengan demikian doa itu ditempatkan pada tempat sentral dari semua doa-doa lain, sebab kalau tidak demikian ini berarti bertentangan dengan aturan-aturan itu. Dapat dilihat bahwa dalam berbagai situasi Yesus selalu ditempatkan pada pusat situasi itu (demikian misalnya Mt 11,27; 25,31-46; Lk 12,8-12; Mk 14,58-63; dll). Kalau seluruh doa Perjanjian Baru diarahkan kepada Bapa - baik permohonan maupun karya rahmat - itu adalah, sebagaimana sudah disinggung di atas, karena doa sedemikian adalah gerakan Rivelasi Injil Allah sendiri dan gerakan Keselamatan. Alasannya adalah dogmatik, bukan etis.
Tentang hal ini doa-doa dalam Kisah para Rasul - yang berasal dari suatu komunitas yang yakin bahwa Yesus telah ditinggikan sebagai Tuhan (Kis 2,36; 3,16; 5,41) - merupakan kesaksian khusus. Demikian doa sesudah pembebasan Petrus dan Yohanes (4,24-30), atau perjalanan doa dalam Stefanus dari doa yang diarahkan kepada Tuhan Yesus kepada doa yang diarahkan kepada Allah. Karyanya berada pada pusat rencana keselamatan illahi (Kis 5,8-14; 15,4; 1Tim 3,16); ini dirayakan dengan merayakan Allah. Ini tidak dapat dipisahkan dari kemuliaan Allah. Wahyu telah melahirkan iman. Tetapi walaupun demikian, gelar Tuhan punya tonalitas kultual. Tetapi ini jarang diterangkan dengan doa permohonan. Kalimat Paulus (2Kor 12,8) sering dikutip sebagai dasar untuk peralihan "dari doa yang diarahkan kepada Bapa kepada doa yang diarahkan kepada Kristus" dan juga sebagai dasar untuk menyampaikan permohonan kepada Kristus dengan alasan khusus dalam arti sempit - 1Kor 1,2 dan 1Tes 3,12-13 bicara secara tak langsung (mengenai hal ini) - tetapi ini terlalu sempit untuk dilihat sebagai kontradiksi dengan norma doa. Tetapi meskipun demikian, dalam konteks ini, semua dapat melihat bahwa Paulus ingin terutama menggarisbawahi kesatuannya dengan situasi Tuhan (bdk Mk 14,35-41).
b. DOA KRISTUS DAN DOA KRISTEN
Doa normal ialah doa yang diarahkan kepada Bapa, dan disebut doa normal terutama adalah karena rahmat tertinggi ialah rahmat yang membuat orang-orang yang dibaptis menjadi putra-putra Allah. Roh yang diberikan dalam baptisan (Kis 2,38) adalah Roh Kristus sendiri, yang membuat orang-orang beriman menjadi saudara dan saudari Kristus, "anak-anak angkat" yang mampu berseru kepada Allah dengan menyebut Dia "Bapa" sebagaimana Yesus sendiri memakai sebutan itu (Rom 8,14-17; Gal 44,6). Lagi, Roh itu pulalah yang menempatkan kata-kata dalam hati dan pada mulut orang beriman yang cocok dengan kondisi mereka yang otentik dan yang tidak dapat mereka temukan dari diri mereka sendiri (Rom 8,26-27). Oleh karena sudah menjadi anggota Kristus yang hidup (Rom 12,4-6; 1Kor 10,17), dan bahkan telah dipersatukan secara ketat dengan Dia, maka mereka dapat mengambil doa Kristus menjadi doa mereka, dan, Dia, mengambil doa mereka menjadi doa-Nya (kepada Bapa). Oleh karena itu, setiap doa otentik menjadi seperti doa Kristus dalam seluruh Tubuh-Nya atau dalam diri anggota-anggota-Nya. Augustinus mengatakan: "Kristus berdoa dalam diri kita sebagai kepala kita ... Kita mengakui dalam Dia suara kita dan suara-Nya dalam diri kita ... kita mengucapkan doa bersama dengan Dia dan Dia mengucapkan doa mazmur dalam diri kita".
Tuhan)", melalui Roh, ini berarti bahwa kita membiarkan suara seluruh Tubuh Kristus, Kepala dan anggota-anggota-Nya, lewat dan bermohon dalam dan melalui diri kita.
Sesungguhnya, di antara para Bapa Gereja, Agustinus nampak sebagai yang paling mengangkat ke permukaan konsekwensi rahmat baptisan, yang membuat orang beriman menjadi putra-putri [Allah] dalam Putera. Sudah selama hidup-Nya di dunia, penderitaan Kristus adalah penderitaan seluruh Tubuh- Nya, kesulitan dan keyakinan-Nya adalah kesulitan dan keyakinan para anggota-Nya, dan bahkan seruan dan uangkapan-Nya "ingatlah" adalah seruan dan ungkapan seluruh Gereja-Nya. Sejak Pentekosta, komunitas orang beriman ini tak pernah berhenti. Dalam diri orang kristen yang menderita, berdoa, mengungkapkan kebutuhannya atau kesusahannya, ada Kristus yang terus membawa dan menghidupi drama human dalam diri salah satu anggota-Nya. Ungkapan Yesus ini: "Ketika Aku lapar ..., ketika Aku haus ..., ketika Aku seorang asing, ... ketika Aku telanjang, ... ketika Aku sakit, ... ketika Aku di penjara, ..." (Mt 25,35-36.42-43) dapat dilihat sebagai ungkapan dari "salah seorang yang dari saudara-Ku (Yesus) yang paling hina" mengatakan: "aku berseru kepada-Mu, ya Bapa" (Mt 25,40.45).
Bahkan ungkapan "ingatlah" dalam permohonan kristen mempunyai tonalitas kristik. Ini adalah essensial. Dengan mengatakan kepada Bapa "ingatlah aku", "ingatlah Gereja-Mu", "ingatlah seluruh manusia yang tenggelam dalam kesusahan", ini adalah berbagai cara yang selalu berarti mengatakan kepada-Nya (Bapa itu) "ingatlah Putera-Mu Yesus Kristus", "jangan berhenti melihat Putera-Mu dalam diri kami", "dengarkanlah kami sebagaimana Engkau mendengarkan doa Putera-Mu". Dalam memoria akan Perjanjian-Nya dengan kita karya Putera hadir dan hubungan khusus dengan-Nya dalam kelembutan dan belaskasihan terjadi dalam Putera tersebut. Dalam seruan kita terdapat seruan Putera yang telah menjadi manusia dan Ia (Bapa) "mengingat" kita dengan "mengingat" Putera-Nya.
Dalam kenyataan ini, Allah, yang kepada-Nya diarahkan doa permohonan kristen, menerima wajah baru dalam Kristus. Allah kita adalah Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, dan kita berbicara kepada-Nya (Bapa) dengan berkomunikasi dengan-Nya (Putera) sebagaimana Dia, yang kebangkitan-Nya menunjukkan bahwa Dia adalah Putera, berbicara kepada-Nya.
c. DOA KEPADA BAPA
Paulus menulis bagaimana kita menyebut Allah, yaitu Abba (Rom 8,15; Gal 4,6); Mateus, dalam doa Tuhan, memberi gelar yang kompleks: "Bapa kami, yang ada di surga" (Mt 6,9); kemudian Lukas memberi gelar "Bapa" (Lk 11,2) sebagaimana Yesus menyebut demikian (10,21; 22,42; 23,34.46). Apa persisnya isi gelar Bapa ini? Cukup terkenal beberapa spesialist yang berpendapat bahwa Abba (Mk 14,36) mungkin merupakan cara untuk mengarahkan diri kepada Allah, yang diucapkan oleh Yesus karena kesadaran-Nya akan hubungan-Nya yang khusus dengan Bapa yang mempersatukan diri-Nya dengan Bapa tersebut; dan sebutan ini tidak dikenal dalam agama judaisme. Oleh karena itu, sangat mungkin bahwa sebutan Abba adalah "sebutan yang otentik dan sangat personal yang berasal dari Yesus sendiri". Dan Bapa adalah terjemahan dari Abba. Kalau pendapat ini benar, maka diintuisikan relief pada setiap doa kristen yang memohon kepada Allah dengan menyebut dan memanggil Dia sebagai Abba: "Roh mengambil [sebutan Abba ini) dari hati dan mulut Yesus dan menempatkannya dalam hati dan mulut orang lain [orang beriman]. Tetapi, bagaimana pun itu, baik mengenai kaitan antara Abba dan Bapa maupun mengenai kesadaran akan Yesus yang masuk dalam sphere illahi, satu hal adalah pasti. Gereja cepat mengerti bahwa Roh memasukkan orang-orang kristen dalam hubungan Yesus Kristus dengan Dia yang disebut Bapa-Nya. Walaupun sebutan Bapa dalam Perjanjian Baru tidak selalu mempunyai nada atau ton yang menunjukkan intimitas sebagaimana ditunjukkan oleh sebutan Abba dalam bahasa Aram, namun penyisipan atau pemakaian sebutan itu membentuk secara obyektif tanda fundamental akan rahmat. Dan lagi, kalau benar (sebagaimana kita percayai) bahwa dalam doa mingguan sebutan Bapa adalah juga pembawa tonalitas judaisme - dan ini kiranya jelas dalam Lukas - maka Pribadi yang kepada-Nya Yesus condong ialah justru Dia yang kehadiran-Nya dan sokongan-Nya telah menopang hidup, missi, nasib Yesus, hingga dalam doa di kebun zaitun dan dalam seruan-Nya di salib (Lk 22,42; 23,46). Dia itu adalah Bapa Yesus.
Tetapi di sini perlu jelas dan tepat. Di satu pihak, dalam Sinoptik tak pernah ditemukan satu kata pun yang diattributkan kepada Yesus di mana ditegaskan tentang Allah bahwa Allah itu adalah Bapa "kita" (bersama dengan Yesus), Bapa-Nya, Bapa kita (kita tanpa Yesus). Yang dibicarakan dan diulas secara luas dalam Injil Yohanes ialah ungkapan Yesus ini: "Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapa-mu, kepada Allah-Ku dan Allah-mu" (Yoh 20,17). Beberapa membaca ungkapan ini dan mengertinya sebagai menunjukkan kehendak Kristus untuk mengambil jarak dari para murid-Nya sebelum menyentuh relasi (Nya) dengan Bapa yang sama dan satu-satunya. Dari pihak lain, jelas bahwa ada intuisi terpadu Perjanjian Baru. Studi yang cermat dan teliti akan pandangan Paulus menunjukkan bahwa kesadaran kristen terresapi akan kepastian bahwa Allah telah membuat Putra menjadi saudara sejati orang beriman
sejauh Dia adalah "Yang Sulung di antara para saudara" (Rom 8,29).
Kedua aspek ini tidaklah kontradiksi. Tetapi perlu mencatat dengan cermat bagaimana generasi kristen pertama bersatu dengan pasti, dan mengenai mereka ini Paulus juga menjadi saksi dengan kepastian yang lain. Bagi mereka, kondisi orang kristen, sehubungan dengan Bapa, berasal secara radikal dari karya Kristus Yesus, dan tergantung dari pada-Nya. Inilah konsekwensi relasi-Nya yang sekaligus “ekonomis” dan kekal / abadi dengan Bapa. Tetapi selain itu, dalam tulisan Yohanes, hanya Dia-lah Putra, dan yang lain adalah “putra-putri Allah” (Yoh 1,12; 1Yoh 3,1-2.10; 5,2). Bagi tradisi lain, dalam komunitas messianis - pemenuhan bangsa Putra - Yesus dibedakan dari yang lain, juga dari lingkungan (para) 12 Murid, yang mewakili suku Israel. Jadi, ada sekaligus komunitas yang mendalam dengan Kristus, komunitas keputraan / keanakan (filiasi) dan - dalam kesatuan ini - ada status khusus Kristus Yesus. Dengan kata lain, dalam keputraan itu ada ordo atau tata.
d. DOA MELALUI KRISTUS DAN DALAM ROH KUDUS
Tempat unik Kristus ini dalam filiasi (keputraan) kristen penting untuk doa para terbaptis. Dari sebab itu, maka doa mereka selalu diucapkan dalam kondisi ketergantungan, jadi dalam kondisi kemiskinan, yang korrelatif dengan rahmat. Walaupun memiliki Roh, orang kristen tidak dapat berdoa kalau tidak melalui Kristus. Ketika mereka memohon kepada Bapa “ingatlah (ya Tuhan)”, ini dikatakan sejauh ditebus dan diangkat dalam salib dan dalam kemenangan Tuhan Yesus Kristus. Tetapi, biarpun begitu, kalau dapat mengatakan “ingatlah (ya Tuhan)” kepada Allah yang disebut Bapa, ini tidak dapat dikatakan kalau tidak mengembalikannya pada memoria akan Putra kekal. Setiap doa kristen harus menjadi anamnese Putra, dalam Roh. Karena itu, doa itu adalah triniter, yang masuk dalam gerakan abadi yang membawa Bapa kepada Putra dan sebaliknya, dalam Roh. Melalui doa permohonan, memoria akan Putra sampai pada memoria akan Allah. Memoria akan Putra terjadi dalam Allah.
Inilah dimensi kristologis - teosentris dan bukan kristosentris - yang menerangkan mengapa doa kristen hendaknya selalu diresapi oleh kecemasan atau perhatian akan orang lain, akan seluruh Gereja dan akan komunitas human.
Berdoa dalam Roh dan dalam rahmat-Nya berarti berdoa dalam Tubuh Kristus, yang meliputi keperluan, instansi, penderitaan atau kegembiraan dan karya rahmat anggota lain dari Tubuh yang sama. Dalam doa “ingatlah (ya Tuhan)”, yang disampaikan kepada Allah, terdapat gema hati orang (anggota lain) dan gema hati komunitas gerejawi yang mengucapkan doa itu. Permohonan kristen selalu mempunyai nada permohonan pertolongan, juga ketika doa itu merupakan teriakan orang beriman yang tersobek hatinya.
e. DOA BAGI YANG LAIN
Kalau Perjanjian Baru dilihat akan nampak di mana-mana pentingnya doa bagi orang lain. Terutama doa itu nampak sebagai tanda (manifestasi) utama koinonia gerejani dan sebagai salah satu bentuk kasih. Contoh doa seperti ini berasal dari atas, dari Kristus sendiri, dari tradisi sinoptik dan dari literatur Yohanes. Dalam hal ini sangat signifikan apa yang diungkapkan oleh Lukas, yaitu kata-kata Yesus kepada Petrus: “Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur” (Lk 22,32), dan di sini dapat dicatat bahwa melalui Petrus pandangan diarahkan kepada seluruh komunitas yang akan “mengukuhkan saudara-saudara”. Hal yang sama dapat juga dilihat dalam Yohanes bab 17. Di sini jelas nampak intensitas permohonan (17,9.20) yang sama luasnya dengan obyeknya: “Aku berdoa untuk mereka”. Tetapi perlu terutama digarisbawahi bagaimana Yesus memohon sedemikian bagi yang lain pada saat di mana Ia sekaligus berdoa untuk kemuliaan-Nya (17,1-2.5), dengan membuat anamnese karya apostolis-Nya kepada Bapa (“Aku telah menyatakan nama-Mu” (17,6), “Aku memelihara mereka dalam nama-Mu” (17,12), “Aku telah menjaga mereka” (17,26), “segala Firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka” (17,8). Kalau Yesus benar-benar memberi seluruh diri kepada Bapa dan sekaligus memberi seluruh diri bagi yang lain, dan untuk itu Ia hidup bagi yang lain demi rencana keselamatan Bapa, ini terutama diungkapkan dalam doa-doa-Nya. Dan Surat kepada Orang Ibrani tanpa ragu menyatakan bahwa, dari pemuliaan-Nya di sisi kanan Bapa, Kristus tetap sebagai pemohon bagi umat-Nya (Ibr 7,25). Dan ini merupakan bagian dari kondisi-Nya yang mulia.
Tekanan Perjanjian Baru pada kenangan akan yang lain (dalam mengingat yang lain) dalam doa dikaitkan dengan alur permohonan Kristus. Kalau Paulus mengajak orang beriman untuk “berjuang” (“bergumul”) bersama dengan dia dalam doa-doa yang diperuntukkan baginya, yang terarah kepada Allah (Rom 15,30), tidaklah juga berhenti dari pihak dia (Paulus) untuk “mengingat” orang-orang Romawi (Rom 1,9), orang-orang Tessalonika (1Tes 1,2), Filemon (1,4) dalam doa-doanya sendiri. Surat kepada orang Filippi memuat ungkapan yang bagus ini: “Aku mengucap syukur kepada Allah-ku setiap kali aku mengingat kamu. Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita” (Fil
1,3-4). Ini terdapat juga dalam Surat kepada orang Efesus (Ef 1,16). Bahkan penulis Surat ke-II kepada Timotius menyatakan: “Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam” (2Tim 1,3).