SAKRAMENTALITAS BAPTISAN
C. JEJAK HIDUP
IV. HIDUP POLITIS DI ANTARA INSTANSI-INSTANSI KRISTEN
Ajakan untuk mengungkapkan dengan semangat kristiani hidup politis dengan gampang bisa kacau, oleh karena dapat membuyarkan hubungan antara politik dan iman yang begitu berobah-obah dan kurang lebih tidak dibedakan dengan baik. Hal ini dapat menunjukkan kemauan untuk menghadirkan dalam hidup politis pengorientasian (pengarahan) iman yang transenden, kecemasan akan kebenaran moral, desakan politis akan Institusi Gerejani, pilihan organisasi partai dengan inspirasi kristen. Hidup yang bermacam- macam ini, yang berkaitan dengan iman-politis, juga ketika dapat dipilah-pilah dengan persis, nampak sebagai agak darurat oleh karena dikondisikan dalam proses menjadi sosio-kultural sejarah human dan sejarah keselamatan.
Lepas dari masa lampau, sekarang ini (secara aktual) bagaimana mungkin dapat menyarankan suatu hidup politis yang cocok dalam Instansi-Instansi spiritual kristen?
1. HUBUNGAN ANTARA POLITIK DAN GEREJA INSTITUSIONAL
Dalam komunitas ekklesial, hirarki ekklesiastik biasanya berpegang pada kompetensi eksklusif dalam berbicara dengan masing-masing pemerintahan tertentu yang dikehendaki mengenai campur tangan antara politik dan agama (atau etika), yang biasanya menyebut materi kompetensi campur. Misalnya, sekitar perceraian, abortus, pengajaran religius, kebebasan beragama / beribadah.
Berdasar pada reserve kompetensi ini dari pihak hirarki ekklesiastik, ajaran sosial kristen telah menugasi orang beriman untuk terjun berkarya di bidang politik semata-mata sebagai orang kristen (membentangkan
dan mengembangkan aktivitas politis sendiri seturut etika kristen personal), tapi bukan sejauh sebagai orang kristen (artinya sebagai rappresentan Gereja).
Antara pemerintahan dan otoritas tertinggi ekklesiastik dituntut konkordat antara Gereja dan Negara. Sementara pemerintahan menuntut penguasan (pengesahan) parlementer untuk persetujuan yang dituntut, hirarki ekklesiastik menolak segala bentuk kehadiran demokratis umat beriman. Kehadiran Roh dalam seluruh Tubuh Mistik Gerejani (ekklesial) nampaknya seperti dapat menyarankan beberapa aspek demokratis yang mungkin (sekurang-kurangnya mewakili) juga dari pihak komunitas orang beriman dalam kesepakatan-kesepakatan resmi dengan negara.
Dalam formulasi doktrin etika sosio-politis dibenarkan kehadiran baik negara maupun Gereja magisterium (magisterial). Biasanya Magisterium ekklesial mengumumkan tujuan dan maksud etisnya melalui dokumen-dokumen resminya (seperti Eksortasi Apostolis Christifideles laici dari Yohanes Paulus II, 30 Desember 1988). Semua warga masyarakat (juga orang kristen) agar dapat memberi kesaksian akan eksistensi yang bebas dan bertanggungjawab secara layak haruslah matang sedemikian sehingga dapat merumuskan norma etis-spiritual sikap politisnya sendiri dan juga mengintegrasikan opininya sendiri di antara mereka dan dengan komunitas ekklesial. Gereja Magisterium dipanggil untuk campur tangan sebagai Magisterium pengganti yang mulia.
Negara biasanya campur tangan di bidang moral ketika ia mengingatkan bahwa beberapa norma moral, yang tidak dapat ditolak (tidak dapat tidak ada) demi kebenaran (keadilan) publik, dilalaikan (tidak diperhatikan) oleh masyarakat umum (kebanyakan masyarakat). Ia mengeluarkan peraturan untuk menciptakan kebiasaan politis yang benar. Kenyataan bahwa tercipta sekumpulan hukum itu adalah tanda bahwa dalam negera sedang menyebar kebiasaan umum yang buruk. Negara tidak harus menganggap bahwa mengeluarkan suatu hukum dengan pasti akan membatasi ketidakteraturan (kekhaosan) yang sudah menyebar. Negara dipanggil untuk mengajarkan kebiasaan dengan inisiatif yang sampai ke seberang penetapan undang-undang (pembuatan undang-undang), sambil selalu menaruh rasa hormat pada kebebasan demokratis.
2. HIDUP POLITIS DENGAN INSPIRASI KRISTEN
Hidup politis, kalau hal itu etis, bukanlah untuk itu seorang kristen harus dinilai. Hidup politis itu harus nampak dimasukkan dalam dan mencerminkan misteri paskal kharitatif Yesus Kristus dan Sabda-Nya. Referensi pada kasih (kharitas) injili Yesus (Kristus) adalah penyempurnaan akan hal-hal yang konstitutif akan (untuk) hidup politis. Nyatanya eksistensi sosio-politis mengungkapkan (menunjukkan) pemasukan (pengintroduksian) orang-orang ke dalam komunikasi resiprok yang meluas dan intensif. Sebagaimana mayoritas masyarakat memberi perhatian kepada yang lain, khususnya (terutama) yang paling membutuhkan, demikianlah dibenarkan (dibuktikan) hidup politis yang baik (mulia).
Kasih (kharitas) memasukkan hidup politis kepada yang baru secara qualitatif. Kasih itu menuntut untuk memberi diri dengan colloquium dan dengan pertolongan kepada yang lain dalam bidang politis seturut kebiasaan cinta teandric yang disebarkan dalam diri kita oleh Roh Kudus. Ini tidaklah hanya suatu hidup bersama yang oblatif fraternal demi cinta Allah. Dalam merealisir partisipasi politis sendiri dengan sesama, orang kristen menyebarkan partisipasi dalam hidup kharitatif Kristus di antara warga masyarakat, saudara-i-nya.
Hidup etis politis dalam arti kristen berpautan secara essensial dengan hidup kasih (kharitas). Sebagaimana tidak mungkin ambil bagian dalam kesatuan intim dengan Allah dalam Kristus tanpa mengungkapkan (menunjukkan) diri dalam hidup bersama politis cinta fraternal, demikian pula tidak dapat disarankan hidup politis yang benar (tulus) untuk seorang kristen tanpa menunjukkan partisipasinya dalam hidup illahi. St. Agustinus membenarkan bahwa dari sisi politis “manusia seluruhnya harus menjadi kasih (kharitas)”. (Paus) Pius XI mengatakan: “Ladang politis ... adalah ladang kasih yang lebih luas, kasih (kharitas) politis” (18-XII-1927
Prospektif hidup politis cinta injili disarankan olehYesus dalam dimensi utopis eskatologis kerajaan Allah, di mana kasih (kharitas) illahi dalam kepenuhan otentiknya akan dapat tercurah dan menunjukkan diri dalam segalanya (Ef 4,6). Ideal politis kristen kasih (kharitas) tak pernah dapat direalisir sepenuhnya pun diekspressikan secara definitif dalam waktu historis sekarang. Ideal itu menuntut aktualisasi historis yang selalu diperbaharui. Orang kristen, baik dalam bidang politis maupun dalam bidang ekklesial, diharuskan menunjukkan diri secara kritis yang terhormat terhadap apa yang dilaksanakan dalam dimensi kharitatif (GS 21; LG 8).
3. KASIH (KHARITAS) YANG DISEKULARISIR SECARA INJILI
normatif politis yang semata-mata human, yang berusaha mendukung kondute moral yang secara universal dapat dibagikan oleh seluruh masyarakat. Memasukkan cinta kharitatif ke dalam bidang politik tidaklah berarti memasukkan pemisahan dan kontras?
Konsili Vatikan II menegaskan: “Kita harus mengakui bahwa Roh (Kudus) memberi kepada semua kemungkinan untuk berkontak, dengan misteri paskal” (GS 22). Ambil bagian dalam misteri paskal berarti berada pada bentuk awal yang telah dipneumatisir; diorientasikan secara interior kepada rencana keselamatan Kristus berkat Roh (Kudus) (Rom 8,22); terbuka secara intim dan condong untuk hidup seturut cinta kharitatif Kristus yang integral. Kita harus mengakui bahwa benar-benar “Roh Tuhan memenuhi seluruh jagad raya” (Sap 1,7).
Kalau Roh (Kudus) hadir atas cara tertentu dalam diri setiap orang, nampaklah universal panggilan pada praxis politis kharitatif: itu adalah tuntutan yang tak terhindarkan yang dihadapi dari kedalaman setiap hati, walaupun tidak selalu disadari. “Tak ada seorang pun di dunia ini yang begitu ditinggalkan oleh Roh Kudus sehingga kehilangan sama sekali setiap kemungkinan penegasan sehubungan dengan hidup secara politis dalam cinta kharitatif” (Card. C.M.Martini).
Komunitas ekklesial punya tugas untuk menolong untuk menunjukkan dan memberi kesaksian akan tuntutan umum untuk menghidupi politik sebagai kasih (kharitas), dalam bentuk yang cocok dengan momen historis-kultural yang sedang kita hidupi dan dalam ekspressi tersekularisir seturut problematik tekhnik-scientific dan tuntutan zaman politis sekarang.
V. WANITA
1. SPIRITUALITAS FEMINIM YANG SEDANG DALAM PROSES MENJADI
Sekarang ini hidup spiritual melihat status personal daging dan roh. Oleh karena daging, yang membedakan pria dan wanita, maka digariskan suatu kesiapan untuk hidup secara kharitatif atas cara tertentu yang berbeda antara spiritualitas maschil dan feminim. Sebenarnya kemajuan spiritual (proses berkembangnya hidup spiritual) cenderung untuk memperlemah diskiriminasi sedemikian, dengan masuk pada unifikasi dalam Kristus seturut Roh (Gal 3,28).
Mungkin dapat diupayakan untuk menggambarkan spiritualitas khas wanita berdasarkan kharakter human kewanitaan. Gertrude von le Fort begitu mengingatkan qualitas khas feminim ini: “Di mana wanita secara paling mendalam menjadi dirinya sendiri, di situ ia tidak lagi dirinya sendiri, oleh karena ia telah dipersembahkan” (Die Ewige Frans). Ini berarti bahwa spiritualitas khas feminim menonjolkan cinta oblatif, pelayanan yang ramah tamah (yang lemah lembut), pemberian diri bagi orang lain, penerimaan (penyambutan) maternal dan komprehensif, arti human belaskasihan secara mendalam.
Untuk memodifikasi kebiasaan sosial feminim maka perlu merancang suatu spiritualitas feminim yang cocok untuk itu. Dan untuk ini perlu membaca sebelumnya spiritualitas exemplar Perawan Maria sendiri selaras dengan spiritualitas feminim yang dominan. Nyatanya, sebelumnya, ketika spiritualitas wanita (feminim) berada di bawah spiritualitas laki-laki (maschilis), dimunculkan kebesaran spiritual Maria yang berfokus pada kesucian keperawanannya. St. Ambrosius menyatakan bahwa Perawan Maria, dengan bertahan di rumah, “tidak keluar dari rumah selain ke Sinagoga, dan dia, bersama dengan orang tua dan dengan sanak saudaranya, dan di hadapan malaikat Gabriel, takut”.
Wanita kontemporer, yang sudah ber-emansipasi, mengimpikan suatu cara baru hidup spiritual. Mereka merasa terpanggil untuk tampil (muncul) dengan menurunkan juga secara sosial suatu kemanusiaan yang baru seturut Roh Kristus. Dengan bentuk spiritual feminim yang baru ini, Magisterium ekklesiastik sendiri mengajak dan mengundang untuk mengakui bahwa Maria, “dengan pasrah secara total pada kehendak Tuhan, adalah sungguh-sungguh seorang wanita yang lemah lembut secara passif, atau, seorang wanita dengan keagamaan (religiositas) yang digeluti sendirian (yang “menyendiri”), tetapi sekaligus tidak ragu- ragu mewartakan bahwa Allah adalah Pembela orang yang rendah dan tertindas, dan menurunkan orang- orang yang berkuasa dari takhtanya (bdk Lk 1,51-53)”, dan dengan demikian dapat “dilihat dan diakui dalam diri Maria, bahwa dia muncul di antara orang rendah dan orang miskin Tuhan, bahwa dia adalah seorang wanita yang kuat, yang mengalami kemiskinan dan penderitaan, dan yang bebas dari pembuangan”.Kebesaran Maria, sebagaimana ditunjukkan oleh Teologi Spiritual, mendapat pengaruh dari ideal hidup sosial sekaitan dengan wanita. Kultus Marial sebelumnya, lebih dari pada yang biasa, telah menunjukkan pengangkatan ke permukaan tipe kewanitaan tertentu yang dulunya dipinggirkan, direndahkan, tetapi yang lemah lembut. Sementara sekarang, nampaknya ingin dilihat hidup dan Magnificatnya sebagai kesaksian akan suatu hidup besar revolusioner pengharapan: gertakan untuk menurunkan penguasa dari takhtanya untuk mengangkat yang tertindas; pengandaian akan bangkitnya masyarakat sebagai pewarta (bentara) Roh Kristus.
2. SPIRITUALITAS DALAM KECONDONGAN FEMINIM
dengan wanita kristen; tidak hanya karena berbagai konteks kultural yang ada, tetapi juga karena visi spiritual ekklesial yang berbeda-beda. Dapat kita tunjukkan beberapa contoh.
Secara mendasar, wanita spiritual selalu berhadapan dengan Yesus Kristus karena RohNya, tetapi secara implisit nampak juga cemas untuk berkonsentrasi dalam berhadapan dengan yang lain, rivalnya, yang dikondisikan dalam situasi pria. Istilah biblis “ezer kenegdo” (pertolongan / penolong: Kej 2,18.20), terus merangsang spiritualitas feminim dalam arti positif dalam pengalaman-pengalaman baru yang semakin otentik; ide ini mendorong spiritualitas feminim untuk bersikap dialektis: pertemuan-pertentangan, otonomi-ketergantungan, kesendirian-colloquium.
Wanita, dalam sikap spiritualnya, tidak lupa untuk mengejar (berambisi akan) supremasi privilege di hadapan pria. Injil sendiri menggambarkan pelayanan kharismatik wanita dengan penjelasan yang sama ini: wanita sebagai yang pertama ...: Maria, yang pertama di mana menjelma Sang Sabda; Elisabeth, yang pertama mewartakanNya; orang Samaria, yang pertama yang mendengar proyek religiositas baru; Magdalena, yang pertama menyembah Dia yang bangkit; Maria, yang pertama yang melepaskan segala kesibukan untuk mendengar Sabda Yesus; dst. Panggilan feminim ini, yang diindikasikan oleh Kitab Suci, diteruskan oleh para wanita dalam Gereja. “Sebagaimana benar bahwa Gereja secara hirarkis diteruskan oleh para pengganti para Rasul, lalu kemudian oleh orang lain, demikian juga dan bahkan lebih benar lagi bahwa para wanita dibimbing oleh mereka secara kharismatis atas cara yang sama atau bahkan lebih lagi” (Pidato Yohanes Paulus II di Paris).
Perkawinan spiritual dengan Allah dalam Roh Kristus, walaupun ini sebenarnya untuk hidup spiritual semua orang kristen, biasanya dilukiskan secara lebih mendetail dari sisi wanita spiritual, seolah-olah lebih cocok dengan psikologi affektif mereka. Theresia dari Avila melukiskan perkawinan spiritual dalam prospektif biblis, sebagai antisipasi kondisi eskatologis, puncak intimitasnya dengan Allah dalam Roh Kristus. Ia merasa terpanggil pada tujuan (sasaran) spiritual ini karena statusnya sebagai gambara spesial Allah, yang diredupkan oleh dosa dan dipulihkan oleh penebusan. Ia diberi aspirasi untuk menyatakan dalam dirinya sendiri kondisi sponsal Gereja yang dipeluk bagi Kristus Pengantin; untuk menunjukkan (mengungkapkan) kontemplasinya dan penderitaan apostolisnya seturut forma kontemplatif sponsal. “Ketika (kalau) engkau menenggelankan diri dalam Kebaikan Tertinggi ini, maka akan kaukenal apa yang Dia kenal, akan kaucintai apa yang Dia cintai, dan akan kaucicipi (nikmati) apa yang Dia cicipi (nikmati), lalu kau akan masuk dalam istirahatmu: kehendakmu akan kehilangan ketidakkukuhannya (kerapuhannya), dan ia akan berobah”.
Elisabeth dari Trinitas (1880-1906), dalam catatan-catatan spiritualnya dan dalam korrespondensinya, terus berbicara mengenai tinggalnya Trinitas Yang Mahakudus dalam penyesuaian dirinya yang intim dengan Kristus. “Tuhan ingin agar saya bagiNya menjadi suatu ‘kemanusiaan sambungan’ di mana Ia masih dapat menderita demi kemuliaan Bapa, untuk bergegas menemui orang-orang yang membutuhkan dalam Gereja (mencari kebutuhan-kebutuhan Gereja)”.
Edith Stein (1891-1943) melihat, dalam kelahiran Kristus, kedatangan / kehadiran Allah di dunia ini “untuk membentuk dalam diri kita suatu tubuh misterius: Dia adalah Kepala kita dan kita adalah anggota- anggotaNya ... tidak ada lagi rintangan dalam diri kita pada jalan hidup illahi” (Das Weihnachsgeheimnis). Adrianna von Speyr (1902-1967) mengajak untuk membiarkan masuk ke dalam diri kita Sabda sedemikian sehingga Dia yang mengambil alih kepemilikan total keberadaan kita, sedemikian sehingga tidak dapat lagi dibedakan “Dia yang menerima dan Dia yang diterima”; kita ambil bagian dalam aktivitasNya dan kebebasanNya yang mulia. “Dalam dia yang lahir pada hidup illahi segalanya terpaut, dan dia seolah-olah tidak tahu lagi hal-hal yang adalah cinta Allah”.
3. SPRITUALITAS FEMINIM YANG TERFOKUS PADA YESUS
Mistik feminim terfokus pada pribadi Yesus sebagai Pengantin. Ini berasal dari gambaran perkawinan antara Allah dan Israel, Allah dan Gereja, Allah dan masing-masing jiwa individual. Tetapi juga karena wanita spiritual menghidupi pengalaman mistiknya dengan segala sesuatu yang mencirikan personalitas affektifnya. Wanita, yang hidup dalam komunitas gerejani secara khusus seturut keyakinannya, merasa diri terpanggil untuk hidup spiritual yang menunjukkan keberadaannya yang khusus karena Roh Kristus, dengan menyandang gelar pengantin Kristus.
Secara khusus, seorang mistika, Dame Julian, melukiskan Yesus sebagai ibu yang memeliharanya dengan air susu dari dadaNya sendiri, dari lambungNya yang terluka. Pelukisannya akan hal ini penuh dengan devosi, yaitu suatu kekaguman bahwa Yesus menawarkan TubuhNya sendiri kepadanya. Secara ekstasis ia menyerukan: “Ibu human memelihara putranya dengan air susunya, tetapi Ibu kita yang tercinta, yaitu Yesus, memelihara kita dengan diriNya sendiri”.
Meister Eckhart menyarankan untuk melewati dan melebihi simbolisme-simbolisme mistik ini, dengan melihat dan memahami pria dan wanita secara tak berbeda, tidak hanya sebagai sebagai diturunkan dalam
Kristus oleh Roh Kudus, tetapi mereka sendiri “menurunkan” Allah dalam keintiman mereka sendiri (denganNya) yang mendalam. “Seandainya Maria tidak terutama mengandung Allah secara spiritual, Ia tidak akan lahir darinya secara badani … Inilah yang paling berkenan bagi Allah, diturunkan secara spiritual dari setiap perawan, dari setiap jiwa yang baik, yang lahir secara badani dari Maria”.
Pelan-pelan kalau kita masuk dalam hidup mistik, maka kecemasan untuk mengadakan pembicaraan spiritual yang berbeda bagi pria dan wanita akan hilang. Memang spiritualitas adalah suatu spiritualitas sejauh dibedakan seturut sisi kepriaan dan kewanitaan pada tingkat asketik yang diwajibkan untuk mengatur penyisipan yang diserap oleh sensibilitas, tetapi dalam mistik – di mana yang berpengaruh adalah factor roh – pemisahan itu akan kehilangan nilai. St. Paulus mengatakan: Kenakanlah Kristus (yaitu RohNya), di mana “tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Gal 3,28). Karena itulah maka St. Yohanes dari Salib, dengan menunjukkan pengalaman mistik, nampak lain dari memperlihatkan spiritualitas yang mempunyai cap kepriaan atau kewanitaan. Spiritualitas mistik ini adalah suatu kecondongan spiritual yang mengatasi baik aspek kepriaan maupun kewanitaan dalam penempatan diri di hadapan Roh.
VI. FORMASI UNTUK HIDUP SPIRITUAL GENERASI MUDA