• Tidak ada hasil yang ditemukan

TOTALITAS KESATUAN DALAM DOA

Dalam dokumen SPIRITUALITAS FUNDAMENTAL Diktat docx 1 (Halaman 54-56)

4 “SEQUELA CRUCIS” SEBAGAI PENDERITAAN YANG DITERIMA

B. JALAN-JALAN ROH

II. DOA INJILI 1 SABDA DAN DOA

9. TOTALITAS KESATUAN DALAM DOA

Sebagaimana nampak, tekanan Tradisi kristen atas doa kepada Bapa penuh dengan implikasi. Doa itu mempunyai tonalitas kesatuan yang biasanya tidak diarahkan kepada Kristus Yesus. Karena itu doa yang diarahkan kepada Yesus tidak dapat menjadi norma doa kristen, karena dengan demikian terjadi penciutan. Doa seperti itu diciutkan menjadi suatu permohonan yang tidak dikaitkan lagi dengan horizon rencana keselamatan Allah yang begitu luas dan mulia. Dalam kedalamannya dan dalam kebenarannya doa seperti itu tidak lagi menjangkau teriakan atau seruan “ingatlah, ya, Bapa” yang dilontarkan oleh orang yang percaya kepada Bapa, yang mereka abdi, yang mereka perhitungkan, dan mereka tidak lagi sampai kepada-Nya seandainya pun mereka tidak menerima Yesus Kristus. Kalau doa seperti itu diucapkan berarti mengucapkan “skisma” antara Israel dengan Gereja. Bagi orang kristen, berdoa kepada Bapa berarti -- dalam sikap pengampunan Yesus Kristus yang meresap dalam hati mereka -- mengkomunikasikan permohonan Israel: “dimuliakan dan dikuduskan Nama-Mu”; “Semoga Engkau

meraja dalam kerajaan-Mu”.

a. KESATUAN ISRAEL DAN PAGAN (KAFIR)

Dalam Gereja doa kepada Bapa adalah “katolik” dalam arti terdalam kata itu, yaitu yang merangkul seluruh kenyataan dalam rahmat yang pada suatu waktu dulu dinyatakan kepada Abraham, dan yang kemudian, melalui Kristus Yesus, Putra Israel disebarkan / diperluas hingga mencapai seluruh bangsa. Sesungguhnya Gereja merupakan kesatuan orang-orang pagan (kafir) dalam berkat dan Perjanjian yang telah dibuat dengan “bapa orang beriman” (Gal 3,6-16.28-29; Rom 4,9-12.16-25). Berdoa dalam Gereja berarti berdoa dalam umat Allah yang begitu besar, yang mempersatukan orang-orang Yahudi dan orang-orang kafir (Ef 2,11-12) dan rahmat-Nya telah disemaikan dalam iman Abraham. Berdoa dengan doa Abraham “ingatlah kami ya Allah”. Maka dengan demikian dapat lagi diperluas apa yang dikhotbahkan oleh Augustinus dalam referensi (yang berkaitan) dengan orang-orang yang dirahmati sehingga dengan demikian merangkul juga orang Israel (yang untuk Augustinus sendiri hanyalah orang kristen saja): “ingin atau tidak ingin, mereka adalah saudara kita: mereka tidak lagi saudara kita kalau mereka tidak lagi mengatakan: ‘Bapa kami’”.

Bagi orang kristen, kesatuan dengan seluruh Umat Allah dalam doa penuh dengan implikasi. Demikian juga dengan doa Mazmur. Mazmur adalah doa seluruh umat Allah. Doa ini sampai kepada kita lewat olesan sejarah.

Ketika orang kristen meminta kepada Bapa, dalam Tubuh Kristus, “ingatlah umat-Mu ya Bapa”, mereka sekaligus “mengingat” (menyadari) bahwa sejak fajar Perjanjian tak terhitung orang beriman telah mengucapkan itu dan dengan demikian mereka diingat, dan sekarang doa itu diucapkan dalam berbagai bahasa dan dalam segala situasi, dan ini pun akan diucapkan hingga Hari Tuhan, Putera Manusia, dan kata-kata yang sama dari doa itu serta tekanan yang sama pula akan diucapkan, agar Bapa melihat kebutuhan mereka, mendengar permohonan mereka, dan menjawab kesusahan mereka.

Doa berasal dari pengalaman iman yang dimatangkan oleh komunitas orang beriman; dan dimensi-dimensi doa ini meresap di bukit dan di lembah serta di sungai sejarah Allah dan sejarah umat- Nya. Orang kristen tak pernah sendirian dalam berdoa. Solidaritas dalam doa “ingatlah, ya Tuhan”, sebagai yang essensiil bagi doa, masuk dalam persekutuan atau ikatan kesatuan para kudus yang mendalam. Suara dan seruan kita berasal dari kita sendiri dan dari yang lain secara tak terpisah.

b. KESATUAN SEMUA ORANG DAN KESATUAN MEREKA DENGAN ALLAH

Lebih dalam lagi ketika orang kristen berdoa, mereka masuk dalam dialog antara Allah dengan umat-Nya; dialog ini adalah sumber hidup dan pengharapan Gereja Allah, mulai dari asal-usulnya yang paling awal. Permohonan iman menyatakan rahmat yang diterima dari seruan yang didengar, sebanding dengan silentium Allah. Kodrat sejati kesatuan semua orang (umat Allah) dan kesatuan mereka dengan Allah, kalau tidak dirasakan -- dan mungkinkah ini di atas dunia ini? -- sekurang-kurangnya terus “dihadirkan” (“dipanggil kembali”), dan dengan penghadiran itu, maka kesatuan itu dikukuhkan. Elie Wiesel mengungkapkan: “Kalau tidak berdoa bukanlah dosa, tetapi tersiksa”, karena “ganjaran doa tidak lain dari pada doa”. Tanpa doa ini, hati orang beriman akan kosong, gelap, terisolir, atau bahkan hilang; dan keadaan ini terjadi karena rusaknya jaringan besar solidaritas. Sekiranya pun seruan orang beriman itu tidak mendapat jawaban yang dinantikan, tapi toh dirasa digenggam dalam rahmat, yiatu rahmat Perjanjian. Ia tidak lagi merasa sendirian. Bukan lagi hanya dia yang menganggap bahwa mungkin seruannya tidak didengar, bukan lagi hanya dia yang merasa harus menanggung itu.

c. DOA ADALAH TANDA KEKUKUHAN IMAN

Dalam kesatuan dengan seluruh Umat Allah, bertekun dalam doa menjadi tanda dan bekal -- Sacramentum -- ketekunan tegar iman. Dalam doa ratapan (keluh kesah) komunitasnya bisa juga meluncur ratapan (keluh kesah) sendiri kepada Allah (seperti Ayub, dan bahkan juga seperti Yesus di salib): “Engkau, ... membiarkan kami kena umpat” (Mzm 43,10), “Lesu aku karena berseru-seru, kerongkonganku kering, mataku nyeri karena mengharapkan Allahku” (Mzm 69,4), “Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Bangunlah! ... Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu? (Mzm 43,24-25). Kalau dilihat dari instink, lebih baik meneriakkan kekecewaan, ratapan dan kepahitan sendiri dari pada mendiamkannya. Tapi berapa orang beriman yang selalu dikabulkan? Atau, kapan umat Allah berhenti berdoa? Ada hikmat / kebijaksanaan dalam perjuangan orang Yahudi yang dianiaya: “Jangan terlalu yakin akan mukjizat-mukjizat, tapi daraslah mazmur”, terutama (mzm) permohonan, yang memberi peluang pada iman untuk bertahan.

Jelas juga bahwa doa adalah moment di mana setiap orang dalam iman sadar akan kehadiran interior yang lain yang berbeda dari kehadiran orang itu. Hal ini penuh konsekwensi. Nyata bahwa setiap orang yang mengungkapkan dirinya -- baik dalam buku harian maupun dalam autobiografi -- terjadi hanya kalau didorong oleh si alamat / si penerima. Dan refleksi filosofis kontemporer menggarisbawahi bahwa tidak banyak “yang lain yang perlu dicari”: “aku” dan “kau” terbuka pada “kita”, yang menantikan “aku” menyingkapkan diri pada “kau”. Bukankah ini mungkin yang diverifikasi dalam ucapan “ingatlah, ya Tuhan”, dalam doa? “Aku” berdoa di hadapan “Engkau” yang adalah Bapa, yang atas cara demikian menyingkapkan kepadaku sendiri apa yang paling mendalam di hatiku, hingga sampai pada apa yang tak terkatakan, dan pasti bahwa Dia itu adalah Allah yang “menguji hati dan batin” (mzm 7,10; Yer 11,20). Dengan demikian, dalam kesadaranku, naik “sphere” intim keberadaanku, atau sebaliknya bisa juga terkubur dengan menghalangiku menyadari diri dalam kebenaranku. Bahkan dalam doa komuniter dan personal di hadapan Allah sendiri tanpa kesukaran dapat mengungkapkan kegentaran kesusahan imanku: “Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku” (Mzm 139,1; Yer 12,3). Beberapa doa yang tulus ikhlas dapat berakhir hanya dengan teriakan bapa seorang anak yang kerasukan: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Mk 9,24).

Dalam dokumen SPIRITUALITAS FUNDAMENTAL Diktat docx 1 (Halaman 54-56)