• Tidak ada hasil yang ditemukan

UMAT ALLAH DAN ETHOS KULTURAL 1 UMAT ALLAH

Dalam dokumen SPIRITUALITAS FUNDAMENTAL Diktat docx 1 (Halaman 71-75)

SAKRAMENTALITAS BAPTISAN

C. JEJAK HIDUP

I. UMAT ALLAH DAN ETHOS KULTURAL 1 UMAT ALLAH

Allah Bapa memaklumkan hanya satu kata saja, yaitu nama Putera-Nya, yang diperanakkan “sebelum segala ciptaan” (Kol 1,15) dan di dalam Dia dipetik cinta illahi, yaitu Roh Kudus. “Bapa hanya mengatakan satu kata saja, dan itulah Putera-Nya, dan kata ini akan berbicara selalu dalam silentium abadi, dan dalam silentium harus didengarkan oleh jiwa” (St. Yohanes dari Salib, Spunti d’amore 21). Allah Bapa, dalam aktus-Nya sendiri untuk membuat hidup (menghidupkan) ciptaan, mengungkapkan suatu refleksi akan aktus illahi-Nya yang satu-satunya, yang memperanakkan: “Dia selalu memperanakkan Putera-Nya, gambaran hidup, unik dan abadi akan kebesaran-Nya” (Pietro card. de Berulle). Dia terus menumbuhkan paras (fisionomi) Putera-Nya yang sangat bagus dalam kemanusiaan, dan demikian juga Ia mencintai kemanusiaan itu dengan cinta yang sama dengan cinta yang diarahkannya kepada Putera-Nya. Bapa sejak semula (sejak keabadian) telah mengenal umat pilihan-Nya (orang-orang yang dipilih-Nya) dan “dalam pengenalan itu mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Putera-Nya, supaya Ia, Putera-Nya itu menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (Rom 8,29).

Atas cara bagaimana Allah Bapa memperanakkan kemanusiaan untuk membuatnya lahir dalam bentuk keputraan illahi (forma filial)? Dia telah mengutus Putera-Nya untuk membuat diri-Nya menjadi “Putera manusia”. “Dia yang adalah Sabda yang telah menjadi manusia dan telah tinggal di antara kita manusia” (Yoh 1,14). Allah Bapa telah memperkenankan bahwa Putera-Nya dikandung secara manusiawi melalui Roh Kudus (Lk 1,35) dan Ia telah mengarahkan daging-Nya untuk membentuk diri terus-menerus menjadi roh yang bangkit. Daging human Sabda, yang telah menjadi roh, nampak seluruhnya diserap dalam keberadaan dan dalam wajah Putera Allah, sehingga dengan demikian terbentuk satu Pribadi Illahi yang unik.

Pengalaman yang dihidupi oleh Yesus, yang berobah dari status daging (yaitu status makhluk lemah) menjadi roh yang bangkit (yaitu status kodrat yang sama dengan kodrat Allah sehingga dengan demikian menjadi satu keberadaan unik personal dengan Dia), disebut Paska. Dalam Yesus yang bangkit diam Roh Kudus; dan Dia dapat mengkomunikasikan-Nya kepada manusia. Untuk tujuan apa? Karena apa? Oleh karena Roh Kristus itu dapat membuat mereka ambil bagian dalam pengalaman paskal Sabda yang telah menjadi daging dan dengan demikian membuat mereka menjadi putera-puteri dalam Putera Allah.

“Sebab karena Kristus telah wafat bagi semua orang (Rom 8,32), dan panggilan terakhir manusia benar- benar hanya satu, yakni bersifat illahi, kita harus berpegang teguh, bahwa Roh Kudus membuka kemungkinan bagi semua orang, untuk dengan cara yang diketahui oleh Allah digabungkan dengan misteri Paska itu” (GS 22). Merasa bersatu dengan dan ambil bagian dalam proses paskal Yesus Kristus berarti memperoleh dari Roh Kudus status roh yang bangkit, dan kemudian berpartisipasi dalam bentuk (forma) filial (keputeraan) illahi dalam Kristus. “Agar dari Dia (dari Yesus Kristus yang bangkit) dapat menerima (sesuatu seperti) tetesan rahmat, di mana tetap tinggal utuh dalam Dia seluruh sumber Roh Kudus, seolah-

olah dari kepenuhan Roh yang tinggal dalam Kristus menyebar banyak anak sungai anugerah dan karya” (Novaziano, Sulla Trinita, 26,168).

Demikian setiap manusia dipanggil pada vitalitas baru keputeraan (filial) yang supernatural (adikodrati) seturut Roh Kudus. St. Atanasius dari Alexandria menegaskan: “Sabda telah menerima daging agar kita dapat menerima Roh Kudus” (PG 26,996). Lagi Atanasius menekankan: “Oleh karena Bapa adalah sumber dan Putera disebut sungai, maka dapat dikatakan bahwa kita meminum / meneguk Roh” (A. Serapione I,19).

Roh Kudus datang kepada kita bukan terutama untuk tinggal dalam colloquium intim, tetapi untuk membuat kita selalu merasa bersatu dengan proses (menjadi) paskal yang dihidupi oleh Yesus Kristus. Ia menghantar kita kepada kesatuan mistik paskal dengan Kristus dan kemudian, akhirnya, mengintegrasikan di dalam diri kita ikon (gambar) keputeraan (filial) dengan kemuliaan Allah Bapa. Melalui Roh Kudus “hidup kita yang benar tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah” (Kol 3,3).

Karena kenyataan bahwa Kristus “telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya”, maka Ia telah memberikan Roh-Nya kepada kita” (1Yoh 4,13) dan bahwa Roh itu telah membuat kita menjadi putera-puteri dalam Putera Allah sehingga dengan demikian dapat “berseru ‘ya Abba’, yang berarti ‘ya Bapa’, ketika kita mengarahkan diri kepada Bapa” (Rom 8,15), “demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita” (1Yoh 4,13). Seluruh kemanusiaan, karena panggilannya, dipanggil untuk menjadikan dirinya sebagai Umat Allah Bapa dengan ambil bagian dalam keputeraan Putra karena Roh Kudus.

2. TUBUH MISTIK

Roh Kudus, dengan membuat kita ambil bagian dalam misteri paskal Kristus, menghantar kita ke dalam hidup spiritual Kristus: Ia membentuk kita dalam kesatuan existensial dengan Tuhan, seolah-olah kita adalah anggota Tubuh-Nya. “Kamu semua adalah Tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya (1Kor 12,27), “kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain” (Rom 12,5).

Menjadi anggota Kristus secara integral berarti ditempatkan dalam kebaruan hidup. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru” (2Kor 5,17); ia memulai suatu existensi yang benar-benar spiritual, karena ia berbuat “atas dorongan Roh Allah” (LG 41); ia merasa diarahkan (digerakkan) untuk mempraktekkan (untuk menghidupi) hidup yang sama, yakni hidup suci Kristus.

Tubuh mistik Kristus bukanlah suatu privilege yang diperuntukkan bagi orang kristen (saja). Oleh karena Roh Kudus menawarkan (memberikan) “bagi semua orang, untuk dengan cara yang diketahui oleh Allah digabungkan dengan misteri Paskah itu” (GS 22), hidup Tubuh Mistik Kristus diperluas (diperpanjang) ke seluruh kemanusiaan. Oleh karena itu usaha menghidupi hidup spiritual di bawah dorongan Roh Kristus “harus disebarluaskan ke seluruh dunia dan melaluinya kepada segala abad, supaya terpenuhilah rencana kehendak Allah” (LG 13).

Dalam Tubuh Mistik universal Kristus ini “Allah telah menyerahkan kepada setiap orang (baik kelompok [group] maupun per orangan) “tempat”, missi dalam hubungan dengan hidup spiritual [dalam menghidupi hidup spiritual]) dalam Roh Kristus demi kedatangan Kerajaan-(Nya). Tuturan biblis telah menunjukkan pilihan akan suatu bangsa yang ditugasi untuk membuat bangsa lain sadar akan pengalaman spiritual yang patut dalam Roh Kristus.

“Maka Ia (Allah) memilih bangsa Israel menjadi umat-Nya, mengadakan perjanjian dengan mereka, dan mendidik mereka langkah demi langkah, dengan menampakkan diri-Nya serta rencana kehendak-Nya dalam sejarah, dan dengan menguduskan mereka bagi diri-Nya” (LG 9). Pilihan dan perjanjian inilah yang harus “menjadi gambaran (figur) dan yang mempersiapkan umat Allah yang baru yang hendaknya terbentuk dalam Gereja Kristus. Umat Allah yang baru itu sudah dikondisikan sebagai bermartabat dan mempunyai kebesaran anak-anak Allah, dan Roh Kudus diam dalam hati mereka bagaikan dalam kenisah” (LG 9).

Missi yang dipercayakan kepada umat gerejani (ekklesial) adalah mengobah dunia seluruhnya “menjadi Umat Allah, menjadi Tubuh Tuhan dan kenisah Roh Kudus” (LG 13.17). Ini berarti bahwa komunitas gerejani (ekklesial) dipanggil untuk siap (membuka diri) pada karya Roh untuk ambil bagian (berpartisipasi) dari dirinya sendiri pada misteri Paskah Kristus yang membangkitkan dalam diri bangsa lain kesiapan (keterbukaan) untuk menerima rahmat Paskah dari pihak Roh; dan dengan demikian menjadi (berada sebagai) umat gerejani (ekklesial) missioner Roh Kristus.

Umat gerejani (ekklesial) adalah umat pilihan bukan agar dibimbing, karena lebih suka, untuk menghidupi hidup spiritual dalam Roh Kristus secara istimewa dari orang lain. Setiap umat dipilih untuk hidup dalam pengalaman spiritual seturut Roh Allah. Umat gerejani (ekklesial) ditopang dengan sarana-sarana sakramental yang menyelamatkan -- menguduskan dan dengan Sabda dalam iman eksplisit kepada Kristus

Penyelamat dengan fungsi suatu missi yang untuk itu mereka harus memberi diri; untuk memberi kesaksian akan Kristus kepada seluruh kemanusiaan; untuk menyebarkan kebersamaan dalam Roh kepada seluruh manusia.

Umat gerejani (ekklesial), “sekalipun kadang-kadang muncul sebagai kawanan kecil, merupakan benih (kecambah) bernas kesatuan, pengharapan dan keselamatan bagi seluruh kemanusiaan” (LG 2). Umat gerejani itu bukanlah suatu umat yang tertutup pada dirinya sendiri, tetapi memberi diri seluruhnya secara missioner kepada yang lain, agar “kemuliaan Bapa dinyatakan dalam Putera” (Yoh 14,13) dan ini disebarkan kepada seluruh kemanusiaan. Sekalipun umat itu berbeda-beda dalam kharisma dan pelayanan, tetapi mereka membentuk suatu kesatuan pelayanan kasih, yang dimurnikan dari setiap perasaan dominasi, perasaan memiliki dan perasaan diistimewakan (privilege).

3. HUBUNGAN SOSIAL KARITATIF

Pesan Perjanjian Baru terbatas pada pemberian saran akan relasi spiritual interpersonal (hubungan spiritual antar pribadi). Nampaknya diabaikan suatu spiritualitas yang benar-benar sosial. Tidak bermaksud mengatur ordo / tata publik yang ada (Rom 7,2; 1Tim 2,11; 1Kor 11,3). Yang diharapkan ialah membangkitkan relasi karitatif fraternal dengan memastikan bahwa relasi itu akan mengubah struktur sosial itu sendiri secara spiritual.

Umat kristiani dipanggil untuk menjadi ragi yang mengkhamirkan (membaharui) seluruh realitas yang ada; juga untuk mengubah (membaharui) keadaan sosial seturut semangat injili; mengkomunikasikan jalan-jalan Roh Allah kepada struktur-struktur sosial dan ekklesial sendiri. Umat kristiani adalah umat yang, justru karena bertindak (beraksi) karena / setelah digerakkan oleh Roh Allah, tahu mengorientasikan masyarakat kepada Kerajaan di mana yang dominan ialah saling menerima satu sama lain dengan segala kebesaran illahi. Karena itu dapat dikatakan apa yang dikatakan oleh Maister Eckhart: “Allah ialah apa yang selalu semakin dikomunikasikan, ... karena dalam segala anugerah yang diberikan-Nya, Ia terutama selalu memberikan diri-Nya sendiri”.

4. ETHOS KULTURAL

Terbagi-baginya kemanusiaan dalam berbagai bangsa dan negara cocok dengan rencana penyelenggaraan illahi. Hal ini diingatkan oleh Nyanyian Musa: “Ketika Sang Mahatinggi membagi-bagikan milik pusaka kepada bangsa-bangsa, ketika Ia memisah-misah anak-anak manusia, maka Ia menetapkan wilayah bangsa-bangsa menurut bilangan anak-anak Israel” (Ul 32,8), Ia berusaha mengarahkan (mengorientasikan) kemanusiaan secara teratur kepada Hamba yang menderita, rajawi dan imam, yang dilukiskan (ditunjukkan) sebagai “Terang (Cahaya) bagi bangsa-bangsa” (Yes 42,6).

Tuhan Yesus sendiri menjadi warga suatu bangsa, tetapi dengan tugas untuk menginjili (mewartakan Injil kepada) seluruh bangsa, dengan mengutus para murid “kepada seluruh bangsa”, untuk berkhotbah di mana-mana, kepada setiap makhluk (ciptaan)” (Mt 28,16-20; Mk 16,15-20). Sekaligus Ia mengundang (mengajak) untuk meneladani-Nya dengan masuk dalam sistem ekonomi-sosial kultural zaman dan lingkungan itu sendiri (Mt 22,15ss; Lk 12,13ss), dan juga dengan mengatasi secara radikal lingkungan sendiri sehubungan dengan kerajaan baru (Mt 20,1; Lk 12,24; Mk 11,7).

Komunitas gerejani (ekklesial) nampak berhadapan dengan dua sikap spiritual yang berbeda. Pada kesempatan (zaman) tertentu ia lebih suka menolak setiap nilai kultur duniawi untuk hidup dalam suatu perspektif yang eskatologis mungkin. Pada kesempatan (zaman) yang lain ia menghargai, menghormati dan menginjili setiap kultur humanistik otentik yang ada.

Mengenai cara menerima hidup humanistik kultural berbagai bangsa ini komunitas gerejani (ekklesial) mempunyai sikap yang bervariasi yang dapat disintesekan dalam dua bentuk fundamental. Kadang-kadang ia menganggap bahwa dapat disarankan suatu hidup kultural murni yang dikristenkan secara mendalam, yang “menunjukkan (mengindikasikan) sudut pandang definitif atas kesalingterkaitan eksistensi kita dan atas realitas kosmos”. Pada kesempatan lain komunitas gerejani (ekklesial) itu menerima bahwa humanisme kultural dinyatakan sebagai otonom murni (awam) di hadapan iman kristen dan dipercayakan pada kelihaian (kecerdikan) kreatif semua umat baik kelompok-kelompok (grup-grup) maupun perorangan (masing-masing). Suatu humanisme pluralistik selalu memerlukan penyempurnaan selanjutnya, dan kepadanya umat kristen mengkomunikasikan semangat paskal karitatif. Konsili Vatikan II, dalam dekrit Ad Gentes, mengundang orang kristen untuk mengikat dan melibatkan diri dalam hidup kultural dan sosial negeri mereka, dengan mengakrabkan diri dengan tradisi nasional dan religius untuk “menemukan dengan gembira dan menghargai benih-benih Sabda yang terdapat secara tersembunyi di dalamnya” (AG 11). Direstui agar orang kristen menciptakan kulturnya sendiri yang dijiwai oleh semangat (spirit) injili dan, sekaligus, agar mereka mengikat dan melibatkan diri untuk menghimpun dan menginjili setiap kultur yang ada yang dihidupi oleh orang lain, dan dengan demikian diambil sebagai materi kerajaan Allah” (GS 38).

Sekarang ini yang lebih disukai dibicarakan bukan terutama mengenai spiritualitas kristen, tetapi spiritualitas kristen yang disesuaikan dengan zamannya sendiri. Spiritualitas sedemikian adalah spiritualitas yang mencerminkan (memantulkan) pesan injili akan inkarnasi Sabda dan yang tahu mengharmonisasikan diri dengan tanda-tanda zaman dengan respek (rasa hormat) demokratis setiap kultur. Dalam Gereja kontemporer (pada tahun 1960-an) ada contoh konkrit dari umat Afrika yang terlibat dalam memberi suatu karakter spesifik, wajah tertentu dan warna yang khas Afrika pada kekristenan yang berasal dari Barat. Mereka telah membentuk suatu teologi spiritual dengan “penyesuaian” (yang disesuaikan dengan kultur dan konteks mereka), yang membedakan hidup spiritual kristen essensial dari pakaian luarnya (kultur Barat); mereka telah menemukan (menghidupi) kekristenan dalam bahasa yang lebih cocok dengan mereka sendiri, yang cocok dengan gaya hidup dan mentalitas orang Afrika.

Pengalaman akan penyesuaian itu nampak (tersingkap) sebagai “ambiquus” (mendua arti) karena terbatas pada pemunculan (tawaran) suatu spiritualitas yang dipindahkan (transplantasi) dari satu kultur kepada kultur yang lain sekalipun dengan bentuk dan pengungkapan (ekspressi) yang baru. Dalam Sinode tahun 1974 para Uskup Afrika menyatakan (mengumumkan) bahwa sudah selesai masa penyesuaian, dan sekaligus menyatakan (mengumumkan) bahwa mereka mendukung (memihak pada) suatu teologi inkarnasi: “suatu teologi afrikan yang terbuka pada aspirasi fundamental umat afrikan yang tahu dan siap mengarahkan Injil untuk berinkarnasi (mengingkarnasikan diri) secara langsung dalam hidup dan dalam kultur umat dari benua hitam. Mereka diminta untuk merancang (menemukan) kembali kekristenan otentik atas kultur Afrika. “Kami mau menjadi orang kristen otentik -- kata para Uskup itu -- tapi sekaligus tetap sebagai orang Afrika yang otentik.

Dalam hal ini dapat dilihat, misalnya, arti afrikan akan pesta dan liturgi sebagai ruang bagi Allah dan sebagai moment keseimbangan dan rekonsiliasi kosmis; dapat juga dilihat nilai-nilai afrikan akan paternitas, maternitas dan akan relasi interpersonal (hubungan antar pribadi), yang dicapkan pada suatu persaudaraan human dan spiritual yang hangat; dan lagi, dapat dilihat ide akan Allah yang dipahami sebagai sumber setiap hidup, selaras dengan apa yang hidup dan segala sesuatu yang hidup.

5. ETHOS KULTURAL DALAM PERTOBATAN SPIRITUAL

Bagaimana dapat berbicara mengenai nilai-nilai kultural dalam hidup spiritual kristiani, kalau hidup spiritual itu cenderung untuk “menggelapkan diri dan menyangkal diri terhadap segala sesuatu yang eksterior dan interior yang dapat menerima? Problem akan nilai-nilai kultural dalam bidang spiritual telah diperbincangkan dan dihidupi dengan berbagai bentuk dan ekspressi sekaitan dengan misteri paskal, dengan Kematian-Kebangkitan, dengan penolakan-penerimaan, penerimaan-pengatasan dengan solusi yang berbeda-beda.

Spiritualitas monastik telah menyarankan “fuga mundi” (lari dari dunia) juga secara kultural, oleh karena segala sesuatu yang duniawi adalah daging yang bertentangan dengan roh. Kalau bagi Karl Barth ada pertentangan antara iman dan kultur, berhubung karena spiritualitas baru dapat dikatakan sebagai kristiani hanya kalau spiritualitas kristen merupakan dimensi yang paling dalam yang dekat (intim, akrab) dengan kultur profan. Lazimnya spiritualitas sehari-hari, yang disesuaikan, menyarankan untuk menempatkan nilai-nilai kultural dalam “kontak yang lebih hidup dengan misteri Kristus dan sejarah keselamatan” (OT 16). Setiap umat kristen dipanggil untuk menghidupi imannya, “juga melalui struktur-struktur hidup duniawi (sekular)”, dalam kondisi biasa keberadaan, sehingga dengan demikian kekuatan Injil bersinar dalam hidup sehari-hari, dalam keluarga maupun masyarakat” (LG 35).

Ethos kultural meminta untuk diterima tetapi sekaligus juga mau tunduk pada suatu perubahan (transformasi) radikal seturut semangat (roh) paskal; perlu dimasuki oleh hembusan pembaharuan semangat injili, sehingga dengan demikian juga agar komunitas kristen memberi kesaksian akan “kehadiran tersembunyi Allah” (AG 9), “sinar kebenaran yang menerangi seluruh manusia” (Nae 2). Dalam usaha untuk mengatasi (transendensi) moral yang murni human demi suatu pengalaman spritual injili, kehadiran Allah itu tersingkap meluas / membentang yang nampak mulai dari Institusi pada hidup kharismatik, dengan kekuatan hukum baru, yang adalah rahmat paskal roh sendiri”.

Hidup kultural spiritual diarahkan untuk diungkapkan dalam suatu dimensi ekklesial dalam Kristus; diarahkan untuk menyatakan diri sebagai tuturan dari apa yang sedang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam sejarah human, sebagai cara konkrit untuk ambil bagian dewasa ini dalam misteri Kristus, sebagai hidup injili yang sedang direalisir oleh komunitas ekklesial di tengah masalah-masalah hidup sehari-hari, sebagai kecambah benih Sabda yang tumbuh terus-menerus dalam hidup humanistik aktual. Hidup kultural spiritual itu membawa masuk nilai-nilai injili yang abadi ke dalam suatu bentuk (wujud) (konfigurasi) eksistensial yang sulit, tetapi sekaligus melibatkan komunitas kristen untuk mendengarkan Roh dalam hidup konkrit kultural-ekklesial sendiri.

itu) dengan saling memperbandingkan, akan dapat saling berintegrasi antara satu sama lain. Pluralisme spiritual sebagai “loca teologica” (sumber-sumber teologis umum: Kitab Suci, Tradisi, Liturgi) di mana akan nampak sifat-sifat (gambaran-gambaran) semangat injili yang mungkin di antara nilai-nilai kultural yang terbatas dari setiap umat dan akan dapat muncul dengan lebih terang dan lebih kaya tuntutan kristen yang baru melalui berbagai tanda-tanda zaman.

Dalam dokumen SPIRITUALITAS FUNDAMENTAL Diktat docx 1 (Halaman 71-75)