• Tidak ada hasil yang ditemukan

INSTITUSI DAN NORMA

Dalam dokumen SPIRITUALITAS FUNDAMENTAL Diktat docx 1 (Halaman 97-103)

PRINSIP TEOLOGIS REFERENS

I. INSTITUSI DAN NORMA

Dalam kerangka ini akan diinterpretasikan juga struktur hidup kristen, Institusi-Institusi ekklesial, komunitas religius, dan harus diuji dan diterima norma-norma yang menentukan aktivitas-aktivitasnya. Institusi-Institusi ekklesial merupakan struktur-struktur kesetiaan pada ideal injili, yang sudah menerima bentuk-bentuk konkrit yang beraneka ragam dalam sejarah. Demikian organisasi ekklesial ingin menjadi ungkapan operatif hidup teologal yang dihidupi dalam kebersamaan (communion), iklim yang memungkinkan pelaksanaan komuniter akan kesetiaan pada Injil, dan lingkungan Inkarnasi Allah yang terus menerus.

Sebagaimana religi (agama) adalah dimensi simbolis iman, maka demikian pun Institusi-Institusi adalah konkretisasi dinamikan hidup spiritual. Sebagaimana Gereja adalah ungkapan institusional tradisi yang muncul dari Yesus dari Nazareth, maka demikian pun kumpulan-kumpulan (umat)-nya, gerakan- gerakannya, dan Institusi-Institusinya mengaktualkan secara konkrit berbagai dimensi spiritual Injil Kristus. Memang struktur itu penting, tetapi bagaimana pun selalu tetap tidak cukup dan kurang perfek kalau dibandingkan dengan nilai-nilai yang hendak dikonkretisir. Sebagaimana interioritas harus membentuk jiwa setiap ekspressi religius, maka demikian pun hidup teologal adalah kondisi essensial bagi topangan (penghidupan) dan perkembangan Institusi-Institusi ekklesial.

1. SPIRITUALITAS INSTITUSI KRISTEN

Spiritualitas bukanlah soal pribadi secara eksklusif, tetapi secara prioritas merupakan karakteristik Institusi. Sesungguhnya, interioritas pribadi dibekali oleh dorongan (tensi) vital komunitas di mana pribadi itu berada, lalu, dengan demikian, spiritualitas merefleksikan lingkungan social, struktur komunitas human, kebiasaan-kebiasaan grup atau umat. Bentuk-bentuk komuniter hidup teologal biasanya dikonkretisir dalam tradisi kristen, dalam bentuk-bentuk sederhana dari perilaku dan perbuatan yang dipusatkan pada pelaksanaan dan pemenuhan kehendak Allah, pada pembersihan diri dari berhala-berhala, dan pada pelaksanaan cinta. Ini semua ter-rangkum dalam pelaksanaan keutamaan teologal: iman, harap, dan kasih, yang dalam komunitas kristen telah melaksanakan pengungkapannya yang konkrit dalam ikatan ketaatan, kemiskinan dan kemurnian. Ketaatan adalah perwujudan iman suatu komunitas religius dan iman masing-masing pribadi dalam kedalaman batinnya. Kemiskinan institusional adalah penjauhan diri dari harta benda sebagai perwujudan pengharapan, dan penantian akan anugerah Allah. Kemurnian adalah cara untuk menghidupi hubungan (dengan orang lain) dalam suatu komunitas yang didasarkan pada perwujudan cinta oblatif sebagai rivelasi cinta Allah yang berbelaskasihan. Bisa saja beraneka ragam modalitas untuk menghidupi ikatan / tugas komuniter ini, tetapi substansinya, yang adalah struktur teologal eksistensinya, adalah essensial bagi semua orang kristen yang ingin menghidupi suatu hidup interior yang otentik. Hidup secara teologal berarti menempatkan Allah pada pusat. Jadi, ketaatan, kemiskinan dan kemurnian ekspressi konkrit komuniter hidup teologal dan kesetiaan pada Allah sebagai Pencipta dan Penyelamat manusia. Dalam tradisi, ikatan / tugas ini disebut juga nasehat injili. Tetapi bukan nasehat dalam arti yang mengenai cita-cita yang tidak penting, tetapi nasehat sejauh merupakan saran yang membangkitkan pilihan kebebasan. Nasehat injili tersebut mempunyai modalitas yang beraneka ragam, tetapi dalam substansinya nasehat itu berkenaan dengan seluruh Institusi ekklesial seperti semua bentuk hidup laikal, presbiteral dan religius. Beberapa, karena merasa disentuh oleh rumusan biblis yang nampaknya bagi mereka menunjukkan cita-cita hidup kesempurnaan yang lebih lanjut, melebihi apa yang telah ditentukan oleh hukum, berpikir dan beranggapan bahwa nasehat injili adalah mengenai cita- cita yang khusus (spesial), yang diperuntukkan bagi beberapa orang saja. Dalam kenyataannya semua orang dipangil pada kesempurnaan human yang komplit. Ungkapan-ungkapan biblis, yang kena pada banyak hal, menunjukkan dan membentangkan perjalanan yang harus dijajagi / dilalui oleh setiap Institut untuk menciptakan hasrat vital, dan yang harus dilaksanakan / dipenuhi oleh setiap orang untuk mencapai pilihan definitif hidup. Sesungguhnya tak seorang pun sanggup untuk taat, untuk meninggalkan harta benda (kemiskinan) atau untuk mewujudkan cinta oblatif (kemurnian). Untuk mencapai pilihan hidup ini, yang baginya hidup harus membangkitkan segalanya, maka perlu bahwa manusia menapaki perjalanan itu dengan selalu semakin merasa terdorong (untuk menapakinya), perlu bertumbuh dalam kekayaan vital, perlu mencapai suatu kesempurnaan yang selalu semakin tinggi. Ada moment-moment hidup di mana dituntut suatu langkah yang lebih jauh, suatu keputusan yang semakin perfek, suatu keterbukaan yang semakin membentang. Oleh karena itu, nasehat injili tersebut, dalam substansi interiornya, bukanlah indikasi yang diperuntukkan hanya untuk beberapa orang, tetapi kena semua bentuk hidup spiritual. Nasehat-nasehat itu adalah indikasi bagi setiap komunitas human yang ingin menciptakan iklim vital, yang penting untuk membuat tumbuh pribadi-pribadi yang sanggup untuk menghidupi sepenuhnya dan mencapai kesempurnaan kematangan personal.

a. KETAATAN SEBAGAI PERWUJUDAN (EXERCITIUM) IMAN

Dalam terminologi Paulus iman berhubungan (sejalan) dengan ketaatan. Mempunyai iman berarti mentaati Allah, dan mentaati berarti mewujudkan iman. Iman adalah sikap dengannya seseorang menyangkal diri sepenuhnya dan memberi diri kepada Allah dan menyampaikan kepada-Nya rasa hormat intelek dan kehendak. Menghidupi peristiwa-peristiwa dalam iman tidak berarti menganggap bahwa peristiwa- peristiwa itu dikehendaki oleh Allah, atau bahwa peristiwa-peristiwa itu berhubungan dengan suatu rencana keselamatan-Nya di hadapan kita, tetapi bahwa dengan menerima peristiwa-peristiwa itu kita dapat "melaksanakan kehendak Allah", yaitu menyingkapkan cinta-Nya dan mengaktualkan nilai-nilai kerajaan-Nya. Dalam Institusi ekklesial mentaati tidak berarti menganggap bahwa keputusan para Uskup, atau, pada umumnya para Superior berhubungan (sejalan) secara perfek dengan kehendak Allah. Sangat mungkin bahwa beberapa dari keputusan mereka dipengaruhi oleh faktor-faktor kultural, oleh tendensi personal atau oleh prasangka, dll, jadi tidak berhubungan (sejalan) sepenuhnya dengan kehendak Allah. Tetapi bagaimana pun juga dalam situasi yang tidak perfek ini, dan, sebagaimana tidak berhubungan (tidak cocok) dengan kemauan mutlak Allah, adalah juga mungkin untuk mentaati Allah, yaitu melaksanakan kehendak-Nya. Oleh karena itu melaksanakan secara terikat dan dengan hati yang cerah apa yang sudah ditetapkan, kita tetap tinggal dalam peraturan hidup komuniter, kita mengikuti dan sampai pada kesejateraan umum, dan dalam arti ini kita melaksanakan kehendak Allah. Kesejahteraan / kebaikan yang diaktualisir, dengan penerimaan keputusan komuniter, biasanya adalah superior / lebih tinggi dari pada sesuatu yang dilaksanakan yang tidak perfek, yang pelaksanaannya dipengaruhi faktor-faktor kultur, tendensi pribadi dan prasangka, seperti disebut di atas. Dalam hal itu, walaupun tidak melakukan yang paling perfek secara absolut, tetapi berada dalam kondisi untuk menyingkapkan cinta Allah dan kesempurnaannya. Tetapi bagaimana pun kalau pelaksanaan kehendak Allah diambil dari sirkumstansi yang tidak mungkin atau sangat sulit, maka akan menjadi tepat obyeksi kesadaran, dan kalau juga obyeksi kesadaran itu dirintangi dan dipersulit secara keras, maka akan menjadi penting penebusan / penyelamatan ketidakadilan dalam kesaksian tertinggi iman dan dalam kemartiran.

1) Obyeksi Kesadaran

Obyeksi kesadaran adalah pengungkapan ketaatan kepada Allah ketika ketaatan itu menjadi konflik dengan ketaatan kepada manusia; obyeksi kesadaran adalah penuntutan (rivendikasi) kebebasan anak-anak (Allah) di hadapan hukum yang tidak mencukupi. Di hadapan Sanhedrin, St. Petrus mengungkapkan prinsipnya secara efficax: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia" (Kis 5,25). Sepanjang sejarah Gereja, khususnya pada abad-abad pertama, ada berbagai ragam bentuk obyeksi kesadaran, juga dalam modalitas tertinggi kemartiran. Tetapi lambat laun Gereja mempunyai struktur kekuasaan atau menjadi persekutuan, maka obyeksi kesadaran menjadi lebih jarang dan lebih sulit. Pada abad-abad terakhir ini moral kristen mengalami kesulitan untuk mengakui secara sah beberapa bentuk obyeksi kesadaran yang nampaknya muncul sebagai mewajibkan. Paus Pius XII, dalam suatu pidatonya, yang mempunyai suatu resonansi tertentu karena disampaikan bentuk-bentuk awal obyeksi kesadaran kepada para katolik yang ikut wajib militer, mengatakan: "Jadi kalau suatu perwakilan rakyat dan suatu pemerintahan ... dalam kepentingan yang mendesak, dengan sarana-sarana politik ekstern dan intern yang sah, menetapkan perlengkapan-perlengkapan pertahanan dan mengikuti disposisi seturut keputusan yang penting, mereka tidak bersikap immoral dalam hal itu, dan atas cara itu masyarakat katolik tidak dapat berpatokan pada kesadarannya sendiri untuk menolak memberi pelayanan (wajib militer) dan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang sudah ditentukan oleh hukum". Setelah 10 tahun sesudah pidato Paus Pius XII, Konsili memberi indikasi yang jelas sekitar kesahan obyeksi kesadaran bagi para wajib militer dengan mengundang pemerintah untuk menentukan aturan-aturan yang berhubungan dengan itu: "Nampaknya cocok dengan keadilan bahwa hukum bertindak secara human bagi kasus mereka yang, karena alasan kesadaran, menolak pemakaian senjata, sementara, bagaimanapun juga, menerima beberapa bentuk lain dari pelayanan komunitas human". Dewasa ini, hal ini telah menjadi sikap resmi dalam Gereja, bahwa para Uskup dan Gerakan-Gerakan resmi tidak mengalami kesulitan untuk menyarankan dan mengusulkan, misalnya, obyeksi fiskal untuk melawan dan menentang biaya pengeluaran militer.

Tetapi obyeksi kesadaran dianggap sah hanya kalau obyeksi itu mengungkapkan kesetiaan demi masa depan. Kalau tidak, maka obyeksi itu adalah pengungkapan interesse pribadi dan egoisme, yang merupakan bentuk kesetiaan pada masa lampau. Jadi, obyeksi kesadaran yang benar bukanlah suatu penolakan begitu saja, tetapi merupakan suatu kenabian dan indikasi suatu perjalanan.

2) Penebusan Ketidakadilan

terutama berupa eksemplar bagi kemampuan untuk menjadi keselamatkan bagi setiap peristiwa / kejadian. Yesus telah menghidupi kematian-Nya, yang kontras dengan proyek illahi, sebagai suatu ketidakadilan yang sangat berat, dan dengan penyerahan diri itu kepada Bapa Ia melaksanakan secara sempurna kehendak-Nya melalui pewartaan kerajaan dan rivelasi / penyingkapan belaskasih-Nya. Dalam tugas inilah terdapat ketaatan Yesus dan perwujudan iman-Nya: "Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya" (Ibr 5,8-9) dan dengan demikian menjadi "pemimpin kita dalam iman dan pembawa iman itu kepada kesempurnaan" (Ibr 12,2), yaitu pemimpin dan pembawa ketaatan kita kepada Allah. "Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama" (Ibr 2,8-9). Hidup teologal mengajarkan ketaatan kepada Allah dan mendidik untuk menghidupi seluruh situasi dengan selalu melaksanakan kehendak-Nya, yaitu merealisir nilai-nilai kerajaan-Nya dalam seluruh sirkumstansi eksistensi. Dalam prospektif ini, tak seorang pun dapat menghalangi pelaksanaan kehendak Allah, tak seorang pun dapat untuk tidak memungkinkan rivelasi Allah dalam daging human, kalau orang- orang yang terlibat di dalamnya telah mencapai suatu kematangan yang mencukupi dan sadar akan aksi illahi.

3) Komunitas Ketaatan

Komunitas-Komunitas dan Institusi-Institusi ekklesial merupakan tempat ketaatan, bukan ketika pilihan mereka sudah perfek atau hasil-hasil yang mereka capai sudah optimal, tetapi ketika iman menjadi kriteri hidup mereka. Untuk ini tone (tinggi rendahnya nada) / nada iman komunitas religius diberikan / ditentukan oleh gaya ketaatan mereka kepada Allah dalam kondisi hidup harian dan bukan oleh quantitas atau kemanjuran historis karya mereka.

b. KEMISKINAN SEBAGAI PERWUJUDAN KOMUNITER PENGHARAPAN

Kemiskinan adalah penjauhan diri dari harta benda yang memungkinkan untuk menanti akan anugerah illahi dan memberi peluang untuk masuk dalam penghayatan akan pengharapan teologal. Kemiskinan mengandaikan keyakinan bahwa bukan harta benda yang menguatkan dan menopang hidup, melainkan persembahan / tawaran diri Allah yang terus menerus, yang perlu dipelajari bagaimana menantikan dan mengharapkannya. Dengan demikian pengharapan teologal adalah penantian akan kedatangan Allah, yaitu kedatangan anugerah-Nya dalam setiap peristiwa / kejadian. Setiap situasi dapat diterima, dalam arti menerimanya sebagai tawaran vital, jadi dapat diprogramkan dan dihidupi dalam perspektif ini. Suatu struktur injili dihaturkan sedemikian sehingga membangkitkan penantian akan Allah yang datang, dan mendidik orang-orang untuk condong pada pengharapan teologal. Sebaliknya, banyak Institusi-Institusi religius distrukturkan pada ordo / tata hal-hal yang lain: pada sukses yang dicapai, pada pengakuan orang lain, pada persetujuan Superior, pada kekuasaan, dll. Barangsiapa tidak menantikan anugerah Allah, yang adalah hidup yang penuh, tidak akan dapat mengakui dan menerimanya. Banyak keputusan Institusi- Institusi tidak tepat karena tidak dibimbing oleh pengharapan (teologal) tetapi hanya oleh keinginan yang dirasa menarik.

Dewasa ini, refleksi ini mencapai titik puncaknya bagi iklim konsumerisme kultur kita. Sekarang ini dengan gampang diakui bahwa modalitas aktual kemajuan negara-negara industri, yang diusahakan demi tuntutan konsumerisme, tidak cocok dengan kesejahteraan riil human. Semakin bergandanya sekarang ini tuduhan-tuduhan sebagai penyebab hidup yang tidak sejahtera, menyingkapkan suatu tuntutan riil, yang harus dicari bagaimana menjawabnya. Komunitas-komunitas ekklesial dan struktur religius seharusnya menciptakan lingkungan untuk menemukan gaya hidup yang baru dan verifikasi akan keabsahan dari apa yang disarankan oleh yang lain. Kriteri yang dapat diikuti dapat ditunjukkan beberapa.

1) Ketidakcukupan Harta Benda

Kriteri pertama yang perlu diterima ialah ketidakcukupan harta benda, yang muncul dari model perkembangan puncak di dunia Barat dan dari dinamika keinginan yang dijelaskan oleh model itu. Kalau mulai ber-refleksi atas eksistensinya sendiri, manusia menemukan pada awal setiap gerakannya hal-hal (material), situasi, pribadi-pribadi yang berbeda dari dirinya sendiri. Ia bergerak karena ditarik atau dibangkitkan oleh yang lain, yang mengitarinya dalam petualangan hidup yang baru, yang mendorongnya untuk pergi lebih jauh dari dirinya sendiri dan memunculkan baginya pesona / daya tarik pandangan hidup yang belum diketahuinya. Penemuan ini membuka mata untuk melihat kejatuhan pada mimpi narcisistik, yaitu illusi yang melihat diri sendiri sebagai Allah, dan kejatuhan pada perasaan bahwa diri sendiri cukup untuk diri sendiri (tanpa orang lain). Tetapi sebelum atau sesudahnya, juga kalau pengalaman-pengalaman berhubungan dan sesuai dengan keinginan yang dipuaskan, manusia akan menerima ketidakcukupannya

sendiri dan ia akan terus maju lebih jauh lagi. Dari realitas yang sama itu, yang menjawab kebutuhan- kebutuhannya, manusia selalu diajak pergi ke mana-mana. Aksi sedemikian direalisir dengan berbagai cara. Bentuk yang pertama, yang paling gampang dan paling sering terjadi, ialah mengarahkan keinginan ke masa depan, dengan harapan akan penggandaan hal-hal yang diinginkan itu atau akan situasi yang dianggap akan definitif dan perfek. Tetapi illusi akan quantitas yang akan habis atau akan kesempurnaan yang definitif, diselesaikan dengan cepat. Dewasa ini, yang lebih mungkin dari pada hari kemarin, manusia mempunyai kemungkinan atau peluang untuk menggandakan harta benda dan untuk merealisir proyek-proyeknya, tapi justru untuk itu ia lebih gampang menemukan ketidakcukupannya. Kemudian dorongan vital habis, antusiasme padam, hidup diperlambat dengan meninggalkannya secara passif, dan jangan-jangan, seperti sering terjadi dewasa ini, sampai pada keputusasaan, pada kekosongan interior, pada pelarian pada drug (ganja, morfin, dll) atau bahkan pada kenekadan untuk bunuh diri.

Di bawah terang iman, pengalaman ini menunjukkan dan menjelaskan suatu kecenderungan fondamental: manusia tegang akan dan menantikan hal yang lebih besar dari dirinya sendiri. Ia hidup dengan program yang selalu melebihi dirinya sendiri. Yesus telah mengungkapkan kebenaran fondamental ini dengan rumusan yang sangat jelas: "sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu" (Lk 12,15); "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?" (Lk 9,25).

2) Pertumbuhan Pribadi

Kriteri kedua yang ditawarkan oleh pengalaman sebagai jawaban positif untuk problem pengharapan human yang otentik ialah usaha interioritas. Usaha yang susah payah untuk pertumbuhan personal mendorong manusia kepada interioritas. Umpan balik ini, tanpa menyingkirkan jawaban lain yang mungkin dan keputusan-keputusan yang diperbaharui akan tugas-tugas / ikatan-ikatan, menghantar untuk menemukan suatu tawaran vital yang mendalam yang terkandung dalam setiap situasi, ketika tawaran itu dihadapi dan dihidupi dengan sikap yang cocok. Lalu manusia menemukan bahwa solusi tidaklah terdapat dalam menggandakan pengalaman atau harta benda, tetapi dalam sikap yang harus ada agar dapat menghidupi setiap situasi secara positif. Seorang antropolog mengatakan: "Peneguhan yang benar dan heroik akan hidup sendiri harus ditempatkan melewati seks, di seberang yang lain, melewati batas-batas religi privat dan tipuan-tipuan lain secara umum yang merendahkan dan membatasinya, dengan membiarkannya kemudian berkeping-keping dalam ambiquitas (keterpecahan). Manusia mengalamai rasa inferioritas kalau dalam dirinya semakin berkurang nilai-nilai intim otentik pribadi, kalau terciut pada refleksi sederhana akan sesuatu yang ada dekat padanya, dan kemudian tidak lagi mempunyai keseimbangan ideal yang membuatnya stabil dan berpusat pada dirinya sendiri. Untuk mencapai stabilitas ini, setiap individu harus mendorong dan mengarahkan pandangannya melewati yang lain dan penghiburan-penghiburan mereka, dan melewati segala sesuatu yang ada di dunia ini". Kalau tercapai pada sasaran interioritas ini maka setiap aktus cinta tidak lagi berhenti pada harta benda yang ditawarkan, tetapi sampai pada Kebaikan, yang diberikan melalui harta benda itu, dan yang tetap tinggal siap-sedia, juga kalau tawaran itu nampaknya mempermiskin, atau juga kalau jawaban atau respond kepada yang lain habis. Karena itu ditemukan bahwa pemberian yang dinantikan itu tidak berasal hanya dari aktuasi keinginan atau dari realisasi konkrit proyek-proyek; juga bahwa kegagalan, ketidakadilan yang diderita, dan bahkan kematian dapat dihidupi sebagai pengalaman positif. Jadi dialami bahwa Hidup itu dapat lebih kaya dari keinginan kita, dan bahwa Hidup itu ditawarkan atas cara yang berbeda dengan yang dinantikan; dimengerti bahwa Kebaikan itu selalu lebih besar dari hati kita dan diingatkan sebagai desakan fundamental manusia: menemukan dimensi transenden hidup.

Manusia bertumbuh seturut tingkat cinta yang hidup, seturut tipe interioritas yang membutuhi. Yesus mengatakan dengan singkat: "di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada" (Lk 12,34).

Suatu spiritualitas yang ingin berkembang di dunia ini, harus mematangkan satu seri pertobagan (conversion) yang urgen. Pertobatan ini tidaklah hanya secara eksterior (lahiriah); pada prinsipnya harus mengena pada gaya Institusi-Institusi, sikap-sikap interior (batin) pribadi-pribadi, cara berpikir dan bersikap mereka di hadapan segala hal dan kejadian-kejadian / peristiwa-peristiwa.

c. KEMURNIAN SEBAGAI STRUKTUR CINTA OBLATIF

Kemurnian adalah pembenahan harmonis seksualitas seturut tingkat-tingkat usia dan seturut berbagai kondisi eksistensi. Seksualitas adalah kekuatan vital yang mendorong untuk men-stabil-kan hubungan (dengan orang lain) dan oleh karena itu mengembangkan kemampuan untuk mencinta seturut tuntutan setiap pribadi dalam pertumbuhan dan perkembangan. Untuk mengerti kaitan-kaitan ini perlu mengingat bahwa manusia adalah (dalam proses) "menjadi", bahwa hidup diberikan / ditawarkan kepada manusia itu secara progressif melalui hubungan-hubungan (dengan orang lain), bahwa dorongan untuk men-stabil-kan

hubungan itu berasal dari dinamika seksual, dan bahwa kondisi setiap tawaran / pemberian vital itu dibentuk oleh cinta yang memberi kebutuhan padanya. Anugerah / pemberian hidup tidak sampai pada seseorang kalau tidak melalui aksi yang penuh cinta dari orang-orang lain. Jadi, cinta, yang bukan demi penyebaran hidup, merupakan suatu urgensi untuk pertumbuhan pribadi. Dari sebab itu, maka belajar untuk mengurus dan membenahi seksualitas merupakan kondisi untuk men-stabil-kan hubungan harmonis, untuk merealisir perkembangan hidup, untuk memperoleh kemampuan mencinta dan akhirnya untuk mencapai identitas pribadi sendiri.

1) Struktur Oblatif

Karakteristik fundamental keadaan / lingkungan vital ialah "oblativitas" (pemberian diri), yaitu kemampuan pemberian (untuk memberi) diri tanpa menantikan (balasan), tanpa paksaan, dan tanpa syarat. Seandainya semua orang mencintai / mengasihi secara possessif (dengan maksud memiliki), maka hidup ini akan berhenti (stop) karena tak seorang pun akan memberikan hidup itu kepada orang lain. Oleh karena itu, hidup itu sendiri, agar dapat berlanjut / berkesinambungan dalam waktu, menuntut oblativitas dalam cinta. Jadi, hidup itu, agar tidak habis dan agar dapat menyebar, menuntut bahwa sekurang-kurangnya beberapa hendaknya sampai pada sikap oblatif, hendaknya sanggup untuk memberi diri secara bebas dan bukan karena interesse (pribadi). Kalau hubungan distabilkan dan dikembangkan dengan sikap oblatif, maka hubungan itu akan menciptakan (atau merupakan) dorongan untuk pertumbuhan pribadi-pribadi. Tetapi sebaliknya, kalau hubungan itu distabilkan hanya karena interesse (pribadi), karena kenikmatan, karena pemuasan instink sendiri atau kepentingan sendiri, maka hubungan itu tidak akan menciptakan keadaan atau lingkungan pertumbuhan yang mendalam, karena hubungan itu mengembangkan dinamika possessif (bersifat memiliki). Semua orang lahir dengan sifat possessif dan tidak sanggup untuk memberi diri (oblativitas), tetapi kepada semua orang, kematian menunut untuk menjadi sanggup untuk menyerahkan segalanya. Jadi, belajar untuk mengurus / membenahi seksualitas diri sendiri dengan maksud untuk sampai pada cinta oblatif, merupakan suatu sasaran yang disarankan oleh hidup bagi setiap orang yang berada secara human.

Tap tak seorang pun dapat sampai pada sasaran ini sendirian, semua memerlukan keadaan / lingkungan vital, yang pada kesempatan dan moment mereka tercipta oleh struktur komuniter hidup. Institusi-Institusi dan grup-grup sosial dapat menjadi tempat / lingkungan pertumbuhan personal hanya berkat hubungan

Dalam dokumen SPIRITUALITAS FUNDAMENTAL Diktat docx 1 (Halaman 97-103)