Panduan & Contoh-Contoh Pensyarahan Musabaqah Syarh Al-Qur’an (MSQ)
94
LPTQ Tingkat Provinsi Banten 2016
bahkan terbelakang. Karena itulah, topik khutbah Jum’at yang akan saya bawakan kali ini adalah Menjunjung Tinggi Harkat Kemanusian.
Dengan landasan QS. Al-Isra ayat 70:
“Dan sesungguhnya Kami telah muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rizki yang baik-baik. Dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan.”
Bila kita kaji, dalam ayat tersebut terdapat dua kalimat yang mengisyaratkan tentang tingginya martabat manusia, yaitu, “Kami telah memuliakan keturunan Adam atas makhluk-makhluk lainnya” dan “Kami mengunggulkan mereka dari makhluk-makhluk yang Kami cipta-kan, termasuk golongan jin dan hewan.” Dengan demikian, manusia
adalah makhluk yang paling mulia dan bermartabat dibandingkan makhluk Tuhan lainnya.
Namun sayangnya, betapa banyak manusia yang tidak me-nyadari keunggulan dirinya, sehingga tidak pandai memanfaat-kannya bahkan tidak jarang yang merelakan martabatnya sebagai manusia runtuh tiada guna. Bukankah kita memiliki paras yang ganteng dan cantik, sempurna, tidak kurang sesuatu apapun, sedangkan makhluk yang lain tidak? Bukankah kita berakal dan bisa berpikir sedangkan makhluk lain tidak? Bukankah kita punya hati, rasa dan potensi-potensi lain sebagai simbol luhurnya harkat manusia?
Jika kita menjunjung tinggi, menjaga dan melestarikannya, dengan mengolah, membangun dan mengembangkan potensi-potensi itu, maka akan sanggup mengantarkan kita menuju makhluk terhormat, tertinggi, terhebat, terbaik, dan patut dibangga kan. Sebaliknya, kalau kita mengabaikan, menyia-nyiakan, menyepele-kan, melecehkan apalagi menyalahgunakn potensi-potensi itu, kita akan tersungkur menjadi makhluk terhina, terjelek, terendah, ter-jahat bahkan bisa lebih rendah dari binatang. Hal ini telah disindir oleh Allah dalam surat At-Tin ayat 4-6 yang berbunyi: “Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia kepada kedudukan yang paling rendah, kecuali
orang-Menjunjung Tinggi Harkat dan Martabat Kemanusiaan
95
LPTQ Tingkat Provinsi Banten 2016
orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka pahala yang tidak terhitung.”
Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk dan raga yang begitu indah, namun kemudian Allah menjatuhkan manusia pada martabat yang paling rendah. Kehinaan ini akibat ulah manusia itu sendiri yang tidak pandai bersyukur kepada Allah, karena tidak memanfaatkan karunia Allah, tidak mau memfungsikan dan memberdayakan pemberian Allah. Sebalik nya yang dilakukan hanyalah pelanggaran-pelanggaran terhadap aturan Allah, yang diikuti hanyalah selera nafsunya, yang dimunculkan hanyalah sifat-sifat buruknya. Perilaku-perilaku ini yang akan mem bawa kehancuran bagi manusia. Namun tidak semua manusia akan mengalami kejatuhan martabat, sebab Allah memberikan pengecualian, “yaitu orang-orang yang beriman dan bertakwa, yakni mereka yang menselaraskan antara keimanan dan amal shaleh.”
Dengan demikian, orang yang akan mampu menjaga, me-lestari kan dan menjunjung tinggi harkat kemanusiaan adalah yang memiliki iman dan amal shaleh. Fungsi dari keimanan adalah sebagai landasan moral dan untuk mengimbangi otoritas intelektual. Sebab, walupun kita berotak cerdas, berwawasan luas, tapi jika tidak berhati emas, apalagi jika keimanan kita lepas, kita hanya akan tumbuh menjadi manusia hina, biadab, brutal, tidak bermoral, berakhlak bejat bahkan bisa lebih jahat dari binatang. Murthada Muthahari pernah memberikan sindiran, “Iptek yang ada pada orang yang tidak beriman bagaikan sebilah pisau di tangan orang gila, dia bisa menebaskannya ke mana dia mau.”
Maka orang yang berilmu tapi tidak beriman, maka ia bisa membunuh, menipu, merampok, membabat hutan, melakukan korupsi, bahkan menghancurkan negeri ini. Sebaliknya, bila iptek digenggam orang beriman, pekerjaan dilakukan orang beriman, jabatan dipikul orang beriman, saya yakin akan membawa ke-mashlahatan bukan kemadharatan, membawa kesejahteraan bukan kesengsaraan, membawa kemajuan bukan kehancuran, membawa ketentraman bukan kekacauan.
Panduan & Contoh-Contoh Pensyarahan Musabaqah Syarh Al-Qur’an (MSQ)
96
LPTQ Tingkat Provinsi Banten 2016
Selain iman, manusia pun harus melakukan amal shaleh atau dalam istilah kita adalah bekerja sebagai refleksi dari keimanan. Sebab, hanya dengan bekerja kita bisa berguna, hanya dengan bekerja kita bisa mengukir prestasi, hanya dengan berkarya kita bisa terhormat, hanya dengan berkarya kita bisa menjadi manusia unggul, prestatif dan patut dibanggakan, dan dengan berbuat kita bisa menjunjung tinggi harkat kemanusiaan kita.
Karena itulah, kita tidak boleh bersikap santai, lemah, bersikap
tamanni dan menanti, menangguhkan langkah, menunggu cuaca
cerah. Namun kita harus memompa semangat untuk bekerja dan berusaha, bermental optimis, kreatif, dan inovatif. Kita harus menampilkan semboyan bahwa, “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, hari esok harus lebih cerah dari hari sekarang”. Inilah yang
di-ajarkan rasul tentang watak umat Islam, yaitu:“Bila malam tak ubahnya seperi rahib, dan kalau siang sungguh bagaikan singa.” Maksudnya, kita
umat Islam harus pandai memadukan dua kekuatan ikhtiar, tubuh dan pikiran ini seratus persen, bersimbah peluh, berkuah keringat, mengerahkan segala potensi untuk bekerja dan berkarya. Rasulullah menegaskan: “Bekerjalah untuk duniamu seakan kau kan hidup selama nya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah kau akan mati esok hari”
Sabda Rasulullah itu memotivasi kita untuk bekerja me-negakkan kreatifisme, menghidupkan idealisme, mengembang kan optimisme, dan menyebarkan antusiasme. Sikap hidup seperti ini telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Qashshas ayat 77:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari duniawi, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.
Dalam ayat ini ada tiga sikap yang mesti kita miliki sebagai insan beriman, yaitu hidup seimbang dalam mengejar dunia dan akhirat, berkesinambungan dalam berbuat baik, dan tidak melakukan kerusakan dalam kehidupan. Sikap-sikap inilah yang
Menjunjung Tinggi Harkat dan Martabat Kemanusiaan
97
LPTQ Tingkat Provinsi Banten 2016
akan sanggup menjaga, melestarikan dan menjunjung tinggi harkat kemanusiaan kita.
Hadirin se bangsa dan se tanah air yang kami hormati
Dengan demikian, uraian tadi dapat disimpulkan, walaupun manusia dibentuk dalam rupa yang molek, dikaruniai potensi-potensi yang sempurna, namun akan terjungkir menjadi makhluk yang terendah, paling hina, paling buruk, apabila yang diikuti hanya hawa nafsunya, yang dilakukannya pelanggaran-pelanggaran, yang ditebarkannya sifat-sifat yang merusak. Karena itulah, kita harus menjunjung tinggi harkat dan martabat kita sebagai manusia dengan lebih menumbuhsuburkan keimanan, meningkatkan gairah ibadah dan selalu berkarya yang positif demi diri sendiri, masyarakat, lebih-lebih untuk bangsa dan negara yang kita cintai ini.
99
هتكا ب�و لهلا ةحمرو كميلع ملاسلا
لىعو ن ي�لسرلماو ءايبنألا ف ش�أ لىع ملاسلاو ةلاصلاو ن ي�لماعلا بر لهل دملحا
دعباما - ن ي�ع بحمأ هبصحو لهآ
Hadirin se bangsa dan se tanah air yang kami hormati
Keluarga adalah unit terkecil dalam kehidupan masyarakat. Begitu juga anak adalah bagian dari keluarga yang merupakan miniatur dari kehidupan yang akan datang. Oleh karena itu, anak sering menjadi kebanggan, harapan, dan tumpuan kedua orang tuanya.
Namun sayang, saat ini tidak sedikit anak yang menjadi bumerang bagi kedua orang tuanya. Sehingga dambaan orang tua kepada anaknya sebagai tsamratul qulub, si buah hati, belahan jantung,
penerus cerita, pelanjut sejarah hilang, lenyap tidak berbekas. Semua itu disebabkan karena anak tidak mau meng hormati, tidak peduli, enggan berbakti bahkan mengabaikan tugasnya sebagai seorang anak.
Muncul pertanyaan, apa tugas seorang anak dalam Islam itu? Sebagai jawabannya, Kewajiban Berbakti Kepada Orang Tua adalah tema
yang akan kami bahas dalam kesempatan kali ini, dengan landasan QS. Al-Isra ayat 23: