Cireundeu sehingga Cireundeu diarahkan menjadi sebuah kawasan wisata. Melihat potensi dan keunikan Cireundeu Pemkot Cimahi menjadikan Cireundeu sebagai Desa Wisata Ketahanan Pangan. Cireundeu belum siap untuk dijadikan sebuah kawasan wisata, sehingga dibutuhkan program pembangunan dan pengembangan daerah untuk dijadikan kawasan wisata. Pemkot Cimahi melakukan perencanaan program kerja DEWITAPA yang kemudian diaplikasikan di Cireundeu.
Pembangunan Desa Wisata Ketahanan Pangan merupakan program kerja 3 tahun yang mulai dilakukan pada tahun 2010. Program DEWITAPA Cireundeu melibatkan beberapa pihak antara lain Pemkot Cimahi, UNPAD, UNJANI serta masyarakat Cireundeu. Pada pelaksanaanya, program kerja DEWITAPA terdapat beberapa program yang tidak terlaksana.
Setelah adanya pengembangan kawasan wisata, kini Cireundeu bisa menjadi salah satu alternatif untuk melakukan wisata budaya. Wisata budaya merupakan salah satu wisata yang cukup menarik, karena budaya dari setiap daerah memiliki ciri khas sendiri.Tabel 3 di bawah ini menunjukan desa wisata budaya berupa kampung adat di Jawa Barat.
Tabel 1.Wisata Kampung Adat di Jawa Barat No. Nama Kampung Adat Lokasi
1 Kampug Urug Kab. Bogor
2 Kampung Ciptagelar Kab. Sukabumi
3 Kampung Adat Mahmud Kab. Cipatik
4 Kampung Pulo Kab. Garut
5 Kampung Naga Kab. Tasik
6 Kampung Kuta Kab. Ciamis
7 Kampung Dukuh Kab. Garut
8 Kampung Gede Kasepuhan
Ciptagelar
Kab. Sukabumi
9 Kampung Adat Sirna Resmi Kab. Sukabumi
10 Kampung Adat Cireundeu Kab. Cimahi
Sumber: disparbud.jabarprov.go.id
Beragam kampung adat yang tersebar di Jawa Barat memiliki keunikan atau potensi sendiri. Beberapa diantaranya seperti Kampung Naga yang mempertahankan bentuk bangunan rumah yang terbuat dari kayu, bambu, atap dan ijuk serta mempertahankan salah satu tradisi yaitu Upacara Gusaran.2 Kampung Adat Ciptagelar yang masih mempertahankan tradisi terutama upacara adat pada saat menanam padi.3 Sedangkan Kampung Adat Cireundeu memiliki keunikan yaitu budaya masyarakat yang mengolah dan menjadikan
2 Maulana, Rizal. 2015. Keunikan Wisata Kampung Naga
di Tasikmalaya. log.viva.co.id (Diakses pada Maret 2015).
singkong sebagai makanan pokok serta masyarakatnya yang kental dengan budaya sunda.
Kampung Adat Cireundeu dikenal dengan budaya mengkonsumsi beras singkong (RASI) yang masih dipertahankan dan harus disebarluaskan pemanfaatannya. Selain Kampung Adat Cireundeu, beberapa Desa Wisata yang memiliki potensi dari segi pangan lokal antara lain dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 2. Desa Wisata yang Memiliki Potensi Pangan Lokal
Desa Wisata Lokasi Potensi
Pangan Pangan Olahan
Desa Wisata
Rumah Dome Sleman
Ketela pohon Brownies ketela, tape singkong, keripik belut daun singkong, dll Desa Wisata Pagergunung Ngablak Magelang Ketela, Jagung Balok ketela, marning jagung, ceriping ketela Desa Wisata Jelok Gunung Kidul Jantung pisang Gudeg jantung pisang
Sumber: Diolah Penulis (2015)
Program pengembangan DEWITAPA yang belum tunas pun akan berdampak pada kurang optimalnya pengembangan Cireundeu menjadi sebuah kawasan wisata. Sehinga akan diteliti lebih lanjut kendala pengembangan Cireundeu sebagai kawasan wisata yang dapat menjadi acuan untuk pembenahan Kampung Adat Cireundeu.
BAHAN DAN METODE
Penelitian ini dilaksanakan di Kampung Adat Cireundeu, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Barat. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dan teknik penelitian studi kasus.
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan alat bantu berupa panduan wawancara, observasi, dokumentasi, dan studi pustaka. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Tahapan Pembentukan DEWITAPA
Program DEWITAPA dilakukan sejak tahun 2010 dengan pelaksanaan program dibagi kedalam 3 tahapan. Kegiatan pada pelaksanaan tahun ke satu difokuskan pada kegiatan Pemberdayaan Masyarakat di beberapa bidang sebagai hasil dari identifikasi masalah yang diperoleh pada kegiatan Forum Grup Diskusi. Kegiatan utama yang dilakukan di kampung ini terutama menyangkut peningkatan nilai tambah ekonomi terhadap pangan pokok masyarakat, yaitu Rasi. Berikut merupakan tahapan program pembangunan DEWITAPA:
3 Anonim. 2012. Masya rakat Adat Desa Ciptagelar. wacananusantara.org (Diakses pada Maret 2012).
166
Gambar 1. Tahapan Program DEWITAPA Cireundeu
Program yang terlaksana maupun ada program yang tidak terlaksana. Dapat dilihat pada Tabel 15 program yang terlaksana dan program tidak terlaksana pada pelaksanaan pembangunan DEWITAPA Cireundeu:
Tabel 3. Status Program Pembangunan
DEWITAPA
No. Program Status
1. Sosialisasi dan FGD DEWITAPA Terlaksana 2. Peningkatan Kelembagaan Lokal Terlaksana
3. Penguatan nilai tambah produk
olahan dan kewirausahaan
Terlaksana
4. Pola Kemitraan Tidak
Terlaksana
5. Pemetaan Wilayah Tidak
Terlaksana
6. Penataan Seni Tidak
Terlaksana
7. Promosi dan Launching
DEWITAPA
Tidak Terlaksana
Sumber: Database Pemkot Cimahi (2015)
Program Terlaksana
1. Kegiatan Sosialisasi dan FGD
Kegiatan sosialisasi dan FGD ini dimaksudkan untuk memberikan penjelasan segala sesuatu
mengenai program Desa Ketahanan Pangan di Kampung Cireundeu. Hasil kegiatan Sosialisasi dan FGD menunjukan bahwa respon masyarakat cukup tinggi terhadap program DEWITAPA.
2. Peningkatan Kelembagaan Lokal untuk DEWITAPA Cireundeu
Dalam kegiatan ini dikembangkan kelompok- kelompok usaha yang terdiri dari kelompok pengolahan pangan, budidaya ikan, ternak, dan pertanian. Kelembagaan dalam bentuk kelompok lokal pada DEWITAPA diharapkan dapat melakukan aktivitas dengan menjalankan fungsi manajemen, sehingga tujuan kelompok dapat diraih. Jenis kegiatan yang dilakukan antara lain berupa pelatihan atau workshop dan pendampingan.
Peningkatan kelembagaan lokal bidang pangan memiliki tema Diversifikasi Pangan yang Berasal dari Rasi. Pelatihan pengolahan pangan berbahan Rasi diberikan dalam bentuk buku resep yang berisi resep produk yang dibuat dengan bahan dasar Rasi. Hasil nya ialah lebih dari 10 jenis produk inovasi telah dihasilkan dengan produk unggulan egg roll. Ada juga pelatihan pengemasan dilakukan untuk memperbaiki kemasan produk yang sudah ada dan membuat design yang lebih menarik.
Aktivitas yang dilakukan dalam peningkatan kelembagaan bidang peternakan antara lain ialah peningkatan pengetahuan dan kemampuan dalam bidang breeding, feeding, dan management budidaya kambing perah PE serta peningkatan hasil panen. Namun budidaya kambing perah PE tidak terlepas dari kendala, dimana kendala utamanya ialah soal pakan ternak.
Program peningkatan kelembagaan lokal khususnya bidang pangan melahirkan 1 kelompok unit usaha tambahan dan menciptakan beberapa inovasi produk olahan singkong. Sekitar 10 jenis produk inovasi telah dihasilkan dan Egg Roll kini menjadi produk unggulan di daerah ini. Program peningkatan kelembagaan lokal juga memberikan inovasi produk antara lain dendeng dari kulit singkong. Hal tersebut tentu memberikan nilai tambah singkong, sehingga semua bagian singkong kini bisa dimanfaatkan dan memberikan keuntungan tambahan.
Selain itu, dengan adanya pelatihan kemasan memberikan keuntungan kepada wirausaha masyarakat sekitar yang menjual produk olahan singkong. Dengan adanya design kemasan yang menarik, memberikan nilai tambah pada produk. Dengan adanya kemasan meningkatkan angka penjualan serta sebagai promosi produk olahan khas Cireundeu.
Program peningkatan kelembagaan lokal dinilai masyarakat sudah cukup baik. Hal tersebut dilihat dari manfaat yang telah dirasakan setelah TAHAP 1
Identifikasi Masalah Pembentukan Kelompok Transfer Tekhnologi Pola Kemitraan/ Jejaring Penguatan nilai tambah
produk olahan dan kewirausahaan
TAHAP 2
Pemetaan wilayah dan Site Plan kampung wisata Penguatan kepastian
hukum
Penataan seni-budaya Penyusunan Grand Design
DEWITAPA
Merancang Penyediaan Komponen Wisata TAHAP 3
Komersialisasi dan Promosi Home Industry
Promosi DEWITAPA Uji Coba Kunjungan Wisata
ke DEWITAPA
Perbaikan dan Perancangan Kesinambungan
DEWITAPA
Launching DEWITAPA PROGRAM